Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Suasana kelas Sastra Inggris pagi itu terasa membosankan bagi Zendaya. Guru di depan sedang sibuk membedah noda darah dalam drama Macbeth, namun pikiran Zendaya masih tertinggal di aspal panas Knightsbridge. Bayangan wajah Lucas Leiva yang dingin dan tatapan menyelidik Rex Hernandez terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Zendaya melirik ke arah Cristin dan Blora yang sedang sibuk memoles kuku di bawah meja. Ia berdeham kecil, memecah konsentrasi dangkal kedua sahabatnya.
"Apa kalian mengenal seseorang bernama Lucas Leiva?" tanya Zendaya dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin.
Detik itu juga, Cristin hampir menjatuhkan botol cat kuku mahalnya, sementara Blora tersedak udara. Keduanya menoleh serentak dengan mata membelalak seolah Zendaya baru saja menanyakan apakah matahari itu panas.
"WHAT?!" Cristin berteriak histeris, membuat seisi kelas menoleh. Guru di depan berdeham memberi peringatan, memaksa mereka merunduk lebih dalam. "Kau bertemu dengan Lucas? Oh tidak, Zendaya. Siapa di London ini yang tidak mengenalnya?"
Zendaya mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik. "Aku melihatnya bersama Rex pagi tadi. Di jalanan. Kenapa mereka terlihat sangat akrab?"
Blora menutup mulutnya dengan tangan, ekspresinya dramatis. "Kau belum tahu, Zendaya? Ratu kita ternyata sedang tertinggal informasi. Mereka itu sahabat sejak orok! Keluarga Hernandez dan keluarga Leiva itu sekutu lama di dunia bisnis gelap dan legal. Mereka memang selalu bersama, bahkan sering kumpul di markas."
"Markas?" Zendaya menyerngit. Istilah itu terdengar sangat... jalanan. "Markas apa?"
Cristin terkekeh, ada binar kekaguman yang aneh di matanya. "Ratu kisa—maksudku, Ratu kita ternyata benar-benar hanya fokus pada kekuasaannya sendiri. Zendaya, Rex dan Lucas itu punya kelompok tongkrongan elit. Namanya The Void. Itu bukan sekadar kumpulan anak kaya, tapi gabungan antara elit sekolah kita dan kumpulan 'begajulan kaya' dari sekolah sebelah."
"Bukan cuma satu atau dua orang, tapi banyak," tambah Blora dengan suara berbisik yang bersemangat. "Alistair dan George juga masuk dalam lingkaran itu. Tapi, ada satu fakta yang paling gila..."
Zendaya mencondongkan tubuh, merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam tatanan hierarki yang selama ini ia pahami. "Apa?"
"Bukan Rex dari sekolah kita yang memimpin tongkrongan itu," ucap Cristin dengan nada serius. "Tapi Lucas Leiva. Dia adalah 'alpha' sesungguhnya di luar gerbang sekolah. Si laki-laki paling dingin dan tidak bisa disentuh di seluruh London."
"Tidak bisa disentuh?" Zendaya tertawa sinis. "Apa dia terbuat dari kaca?"
"Bukan itu maksudnya, Zen," Blora mengoreksi dengan wajah ngeri. "Rumornya, Lucas punya semacam trauma atau fobia aneh. Dia benar-benar tidak bisa disentuh oleh wanita. Jika ada yang sengaja atau tidak sengaja menyentuh kulitnya, dia dikabarkan langsung mual parah bahkan sampai muntah. Dia alergi pada lawan jenis."
Zendaya terdiam. Ia teringat kejadian tadi pagi. Lucas Leiva memang terlihat menjaga jarak di dalam mobil sport itu, namun ada sesuatu yang mengganjal di ingatan Zendaya.
"Dingin dan tak tersentuh?" gumam Zendaya pelan. "Tapi tadi pagi... dia menjawab pertanyaanku. Dia bahkan memberitahukan namanya padaku tanpa diminta lebih jauh. Padahal aku bersikap sangat kasar padanya."
Cristin dan Blora saling berpandangan dengan tatapan tak percaya. "Dia bicara padamu? Sendiri? Tanpa diminta Rex atau Alistair?"
Zendaya mengangguk pelan. "Dia bahkan menatapku langsung. Tidak terlihat seperti orang yang ingin muntah."
"Ini aneh..." Cristin menggigit bibirnya. "Biasanya, Lucas akan menyuruh Alistair atau siapa pun untuk mengusir wanita yang mendekat. Dia tidak pernah memperkenalkan diri secara sukarela. Bahkan putri bangsawan dari Belgia tahun lalu mencoba mendekatinya dan Lucas langsung pergi begitu saja tanpa menoleh."
Zendaya menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Informasi ini merubah segalanya. Selama ini ia menganggap Rex Hernandez adalah lawan terbesarnya, namun ternyata Rex hanyalah bagian dari sebuah mesin yang lebih besar yang dikemudikan oleh pria begajulan berjaket kulit bernama Lucas Leiva.
Dan fakta bahwa pria 'anti-sentuh' itu meresponsnya di tengah jalanan tadi pagi menimbulkan sebuah gejolak aneh di dada Zendaya. Apakah Lucas mengenalnya? Ataukah ada alasan lain kenapa pria itu menunjukkan eksistensinya di depan Zendaya?
"Zendaya, dengarkan aku," Blora memegang tangan sahabatnya dengan cemas. "Jangan cari masalah dengan Lucas. Dia bukan seperti Rex yang masih terikat aturan sekolah kakeknya. Lucas adalah hukum di jalanan. Jika dia merasa terganggu, dia tidak akan peduli kau itu anak Manafe atau bukan."
Zendaya hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung tantangan tersembunyi. "Semakin kalian bilang dia berbahaya, semakin aku ingin tahu sekuat apa dia bertahan saat 'Manafe' ini berada di dekatnya."
Zendaya melirik ke arah jendela kelas. Di kejauhan, ia melihat mobil Aston Martin yang sama dengan pagi tadi terparkir di area belakang sekolah—area yang sebenarnya terlarang bagi kendaraan murid. Di sana, Rex dan Lucas tampak berdiri bersandar di kap mobil, sedang merokok dengan santai seolah mereka memiliki seluruh tempat itu.
Zendaya memperhatikan bagaimana Lucas Leiva mengembuskan asap rokoknya ke udara, wajahnya yang kaku tetap terlihat setajam elang.
Dingin dan tak tersentuh, ya? batin Zendaya. Kita lihat saja, Lucas. Apakah kau akan mual jika aku yang menyentuh duniamu, atau kau justru akan memohon untuk tidak kulepaskan.
Tanpa sadar, Zendaya mulai merencanakan sesuatu. Ia harus masuk ke dalam lingkaran The Void.
Bukan hanya untuk menjatuhkan Rex, tapi untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun pria di London yang bisa menolak daya tarik seorang Zendaya Manafe-Batistuta—termasuk sang penguasa jalanan yang konon alergi pada wanita.
🌷🌷🌷