NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: ARRINRA TANPA KELAPARAN

Matahari baru saja naik sepenggalah di ufuk timur Kekaisaran Ser. Cahayanya menyiram ladang-ladang gandum dan hamparan sawah yang hijau royo-royo, membentang sejauh mata memandang di wilayah yang luasnya mencapai 2.001.103 Km^2. Angin semilir membawa aroma tanah basah dan bulir padi yang mulai berisi. Di sebuah gubuk sederhana di tengah sawah distrik Selatan, Serena Arrinra duduk bersila, menyesap teh tawar panas dari cangkir tanah liat.

Ia tidak mengenakan sutra. Hari ini, sang penguasa mengenakan kebaya katun kusam dan kain sarung, persis seperti petani wanita pada umumnya. Di sampingnya, Anton Firmansyah sedang sibuk mengasah cangkul bersama seorang petani tua bernama Pak Kumis.

"Pak Kumis," panggil Serena lembut. "Bagaimana hasil panen musim ini setelah kita membagi tanah milik Adipati Subroto kemarin?"

Pak Kumis mendongak, matanya yang keriput berbinar haru. "Ampun, Yang Mulia—maksud saya, Nak Rara. Seumur hidup saya, baru kali ini saya memegang gabah yang benar-benar milik saya sendiri. Dulu, tujuh puluh persen diambil tuan tanah. Sekarang? Anak saya bisa makan tiga kali sehari dengan lauk ikan. Tidak ada lagi suara perut keroncongan di desa ini saat malam tiba."

Anton menepuk bahu Pak Kumis. "Itu tujuannya, Pak. Tanah ini bukan punya istana, tanah ini punya Tuhan yang dipinjamkan kepada mereka yang mau mengucurkan keringat di atasnya."

Perang Melawan Mafia Pangan

Kembali ke Ibukota, suasana tidak setenang di desa. Di dalam ruang rapat kabinet yang kini disebut sebagai "Balai Rakyat", Serena menghadapi para tengkulak besar dan sisa-sisa bangsawan yang meradang karena hak istimewa mereka atas tanah dicabut melalui Dekrit Agraria Arrinra.

"Yang Mulia!" seru seorang pria tambun bernama Saudagar Karta. "Anda tidak bisa melakukan ini! Mencabut hak kepemilikan tanah kami yang sudah turun-temurun selama seratus tahun adalah tindakan pencurian! Pasar akan kacau jika distribusi pangan tidak dikelola oleh kami yang berpengalaman!"

Serena meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan dentuman pelan, namun percikan listrik biru keluar dari dasarnya, membuat meja kayu itu bergetar. "Pencurian, katamu? Karta, menurut catatan intelijen Paman Bram, kau menimbun dua puluh ribu ton beras di gudang bawah tanahmu saat rakyat di Utara mati kelaparan dua tahun lalu. Kau menaikkan harga hingga sepuluh kali lipat. Siapa pencuri yang sebenarnya di sini?"

"Itu... itu adalah strategi bisnis!" bela Karta dengan keringat dingin mengucur.

"Bisnis yang memakan nyawa manusia bukan bisnis, itu adalah pembunuhan," sahut Anton yang duduk di sebelah Serena. "Karta, aku pernah jadi kuli yang memanggul karung berasmu. Aku tahu kau mengganti timbanganmu agar petani menerima uang lebih sedikit. Jangan bicara soal pengalaman kepadaku. Pengalamanmu adalah menghisap darah."

Serena berdiri, suaranya menggelegar memenuhi aula. "Mulai hari ini, Kekaisaran Ser memberlakukan swasembada total. Tidak ada satu butir beras pun yang boleh diekspor sebelum setiap perut rakyat di pelosok desa kenyang. Gudang-gudang penimbun akan disita dan dijadikan lumbung desa yang dikelola oleh koperasi rakyat."

"Anda akan menghancurkan ekonomi kita!" teriak menteri lain.

"Aku akan membangun ekonomi yang berlandaskan kemanusiaan, bukan ketamakan," balas Serena dingin. "Paman Bram, segel semua gudang milik Karta dan rekan-rekannya malam ini juga."

Teknologi Petir untuk Pertanian

Inovasi Serena tidak hanya berhenti pada pembagian tanah. Di sebuah bengkel kerja di pinggiran kota, Serena dan Anton sedang meninjau sebuah alat aneh. Alat itu berupa kincir air besar yang dihubungkan dengan serangkaian kawat tembaga dan kristal energi Ijen.

"Apakah ini akan berhasil, Serena?" tanya Anton, mengelap tangan yang terkena oli.

"Ilmu Petir Langitku bisa digunakan untuk lebih dari sekadar berperang, Anton," Serena meletakkan tangannya pada kristal utama. Ia memejamkan mata, menyalurkan energi listrik dalam frekuensi rendah yang stabil.

Seketika, kincir itu berputar dengan kecepatan konstan, memompa air dari sungai bawah tanah menuju kanal-kanal irigasi di dataran tinggi yang selama ini gersang.

"Luar biasa," gumam Anton. "Selama ini petani di dataran tinggi hanya bisa menanam sekali setahun saat hujan turun. Dengan pompa listrik bertenaga batin ini, mereka bisa menanam sepanjang tahun!"

"Dan aku sudah memerintahkan Arya untuk mempelajari skema ini," tambah Serena. "Aku ingin anak-anak kita mengerti bahwa kekuatan terbesar adalah kekuatan yang bisa memberi kehidupan. Arya sudah mendesain model kincir yang lebih kecil agar setiap desa bisa membuatnya sendiri tanpa harus bergantung padaku."

Dialog di Sela Panen Raya

Beberapa bulan kemudian, panen raya digelar di seluruh negeri. Kekaisaran Ser merayakan keberhasilan swasembada pangan. Serena dan Anton menghadiri festival di sebuah desa terpencil yang dulu merupakan pusat kemiskinan.

"Ibu Ratu! Ayah Anton!" teriak sekelompok anak kecil yang berlarian membawa jagung bakar.

Serena berjongkok, menyambut pelukan anak-anak itu. "Bagaimana? Apakah kalian sudah kenyang hari ini?"

"Sangat kenyang, Bu! Tadi Ibu masak sayur lodeh dan ayam goreng!" jawab seorang anak dengan pipi tembem.

Anton tertawa, ia mengambil jagung bakar dan ikut makan bersama rakyat di atas tikar pandan. "Serena, lihat mereka. Tidak ada lagi mata yang cekung karena lapar. Ini adalah pemandangan paling indah di dunia, melebihi permata apa pun di dalam gudang harta kita."

"Kau benar," bisik Serena. "Tapi tantangannya sekarang adalah menjaga kestabilan ini. Para spekulan di luar negeri mulai marah karena kita tidak lagi mengimpor gandum dari mereka. Mereka akan mencoba merusak harga pasar."

"Biarkan mereka mencoba," sahut Anton sambil mengunyah jagung. "Rakyat yang kenyang adalah rakyat yang setia. Jika mereka mencoba menyentuh lumbung pangan kita, mereka akan berhadapan dengan jutaan petani yang memegang cangkul dan satu ratu yang memegang kilat."

Penyamaran di Pasar Malam

Malam harinya, Serena dan Anton menyelinap keluar istana tanpa pengawalan ketat, hanya ditemani Paman Bram yang menyamar sebagai tukang becak. Mereka berjalan di pasar malam yang sangat ramai. Bau sate ayam dan martabak memenuhi udara.

"Lihat harganya, Serena," Anton menunjuk ke papan harga di sebuah kedai. "Beras stabil di harga tiga keping per kilo. Dulu harganya bisa mencapai lima belas keping saat paceklik."

Serena tersenyum puas. Namun, matanya menangkap sesuatu yang menarik. Di pojok pasar, ada sekelompok pemuda yang sedang berdiskusi dengan serius di depan sebuah poster besar bertuliskan: Majelis Rakyat Distrik Timur.

"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Serena penasaran.

Mereka mendekat secara diam-diam. Ternyata para pemuda itu sedang merancang sistem distribusi pupuk agar tidak dikuasai oleh satu orang kepala desa saja.

"Kita harus pakai sistem pemilihan," ujar salah satu pemuda. "Jangan sampai pupuk ini cuma dikasih ke saudara-saudaranya Pak Lurah. Kita semua punya hak yang sama!"

Serena menyenggol lengan Anton. "Lihat itu? Mereka tidak hanya bicara soal perut, mereka mulai bicara soal keadilan dan organisasi. Visi demokrasimu mulai meresap, Anton."

"Itu karena perut mereka sudah kenyang, Serena," jawab Anton bijak. "Manusia tidak bisa berpikir soal filsafat atau keadilan jika perutnya melilit karena lapar. Sekarang mereka sudah cukup kuat untuk mulai memikirkan cara mengelola hidup mereka sendiri."

Ancaman Sabotase Hama

Namun, di tengah kesuksesan itu, sebuah bencana melanda wilayah Barat. Laporan datang bahwa ribuan hektar sawah diserang oleh hama wereng yang tidak biasa. Wereng-wereng itu berukuran lebih besar dan tampak kebal terhadap pestisida alami apa pun.

"Ini bukan hama biasa, Serena," lapor Paman Bram dengan wajah tegang. "Bangkai wereng ini mengeluarkan bau belerang dan energi hitam. Ini adalah kiriman ilmu hitam dari para penyihir yang beraliansi dengan bangsawan buangan di perbatasan."

"Mereka ingin menghancurkan swasembada kita dengan menciptakan kelaparan buatan," desis Serena.

"Anton, siapkan pasukan logistik. Kita harus membawa stok pangan darurat dari gudang pusat ke wilayah Barat agar rakyat tidak panik. Aku akan pergi ke sana sekarang juga."

Dalam satu kedipan mata, Serena melesat. Di wilayah Barat, ia melihat jutaan serangga hitam yang menutupi tanaman padi seperti awan gelap. Rakyat menangis di pinggir sawah, pasrah melihat mata pencaharian mereka lenyap dalam semalam.

Serena berdiri di tengah sawah yang diserang. Ia menarik pedang Raijin. "Kalian yang bersembunyi di balik kegelapan... kalian berani menyentuh makanan rakyatku?"

Serena tidak menebas. Ia mengangkat pedangnya ke langit. "Wahai Langit, murnikan tanah ini!"

Ia melepaskan gelombang listrik dengan frekuensi ultrasonik. Gelombang itu merambat melalui tanah dan udara, menghancurkan sistem saraf serangga-serangga gaib tersebut. Jutaan wereng jatuh berjatuhan ke tanah, hancur menjadi abu hitam yang kemudian terserap ke tanah sebagai pupuk.

Rakyat yang melihat itu bersorak, "RATU KILAT! RATU KILAT!"

Serena jatuh berlutut, kelelahan. Menggunakan energi sebesar itu untuk memurnikan ribuan hektar tanah menguras batinnya. Anton yang baru tiba dengan kereta logistik segera berlari menghampirinya.

"Serena! Kau tidak apa-apa?"

"Aku lelah, Anton... tapi sawahnya terselamatkan," bisik Serena.

Anton memeluknya erat di tengah sawah. "Kau sudah melakukan tugasmu. Sekarang biarkan logistik dan rakyat yang bekerja sisanya. Kita akan pastikan benih baru segera ditanam."

Arrinra Tanpa Kelaparan: Sebuah Kenyataan

Setahun setelah kejadian hama itu, Kekaisaran Ser secara resmi dinyatakan bebas dari kelaparan. Tidak ada lagi laporan kematian karena kekurangan gizi. Angka harapan hidup melonjak drastis. Rakyat kini memiliki tenaga untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah yang didirikan Serena di Bab sebelumnya.

Di meja makan istana, Serena, Anton, dan kelima anak mereka makan bersama. Kali ini bukan lagi soal diplomasi, melainkan perayaan sederhana.

"Ibu," panggil Arya. "Tadi aku di sekolah membantu teman yang ayahnya sakit. Aku memberikan sedikit tabunganku agar mereka bisa membeli bibit baru. Tapi temanku bilang, dia ingin membalasnya dengan membantu kita memperbaiki pagar sekolah yang rusak."

Serena tersenyum bangga. "Itulah Arrinra yang Ibu impikan, Arya. Sebuah negeri di mana tidak ada lagi tangan yang berada di bawah karena terpaksa, tapi tangan-tangan yang saling menggenggam karena rasa syukur."

Anton mengangkat gelas tehnya. "Untuk Arrinra tanpa kelaparan. Dan untuk ratuku yang lebih hebat daripada legenda mana pun."

"Dan untuk suamiku, kuli bangunan yang mengajariku bahwa fondasi sebuah negara bukan dari batu, tapi dari isi piring rakyatnya," balas Serena.

Bab 18 ditutup dengan kedamaian yang mendalam. Kemiskinan ekstrem telah hilang, dan reformasi agraria telah memberikan kedaulatan kepada rakyat jelata. Serena menyadari bahwa masanya hampir selesai. Ia telah memenuhi perut rakyatnya, kini saatnya ia menyerahkan masa depan itu sepenuhnya ke tangan mereka melalui referendum besar yang sedang ia rancang.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!