NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.Makan Malam Di Restoran

Lonceng di atas pintu Ren’s Cuisine berdenting halus, mengiringi hembusan angin malam Kota Karasu yang menyebarkan aroma garam laut dan bunga kamboja dari taman tepi jalan. Di dalam, kayu ek tua yang menghiasi dinding dan langit-langit memantulkan cahaya dari lampu gantung dengan warna kuning keemasan—suasana yang seharusnya menenangkan, namun tidak mampu menyembunyikan getaran tegang yang melayang di antara empat sosok yang duduk di meja panjang sudut ruangan.

Rin, sang perancang tak terduga dari pertemuan ini, duduk dengan wajah yang bersinar seperti anak kecil yang baru saja berhasil menyusun puzzle rumit. Matanya berbinar saat ia menata sumpit dan garpu di atas alas piring dengan teliti, setiap gerakan penuh kegembiraan. Ia telah melakukan sesuatu yang bahkan pemilik restoran sendiri tidak berani bayangkan: mengajak Hana, Yuki, dan Bu Keiko untuk berkumpul di meja yang sama pada malam yang sama.

"Terima kasih sudah mau datang, semua orang! Tadi pagi aku lihat Kak Ren terus menggerutu sendiri sambil mengatur buku catatan resep—kayaknya ada masalah dengan urusan sekolah. Jadi aku dan Ayah sepakat, daripada dia terus menyendiri di dapur, lebih baik kita ajak teman-temannya makan malam bareng!" Suaranya ceria, namun ada nada cerdas di balik kata-katanya saat ia menyorot Ren yang baru saja muncul dari belakang tirai dapur.

Ren mengenakan apron hitam bergambar pola bunga sakura yang sudah aus akibat sering dicuci, tangan kirinya masih sedikit berlumuran tepung. Ia membawa nampan besar yang terbuat dari kayu jati, di atasnya tertata rapi piring-piring porselen putih dengan pola garis tipis. Langkahnya stabil saat menghampiri meja, namun pundaknya sedikit mencekung seolah mencoba menyembunyikan diri.

Di sisi meja yang berlawanan, Hana duduk dengan badan sedikit menekuk ke depan, tas sekolah ranselnya masih terpasang di bahunya seperti perisai. Ia tidak berani melihat ke arah Yuki yang duduk tepat di hadapannya—wanita itu duduk dengan sikap yang anggun dan tenang, jari jemari yang ramping perlahan mengusap pinggiran gelas teh hijau hijau pekat, gerakannya lembut seperti menyentuh kain sutra. Di ujung meja, Bu Keiko duduk dengan punggung lurus, matanya tetap fokus pada cangkir teh di depannya meskipun aroma tumisan bawang merah dan jahe dari dapur sudah mulai merusak ketegasan yang biasanya ia tunjukkan di kelas.

"Ini hidangan pembuka dulu—gyoza isi ayam dan udang, dengan saus cuka hitam yang aku buat sendiri dari cuka beras berkualitas tinggi." Ren meletakkan piring di tengah meja dengan hati-hati, gerakan tangannya presisi tanpa sedikit pun goyah meskipun nampannya cukup berat. Ia menekuk jari jemari yang sedikit kaku setelah menyimpan nampan, dan Hana menyaksikannya dengan mata terpaku. Ada kekerasan di otot lengan Ren yang jarang terlihat saat di sekolah—di sana, ia hanya tampak sebagai siswa yang selalu cuek dan suka menyendiri. Tapi di sini, di restoran yang jadi rumah kedua nya, ada kebanggaan yang terpancar dari setiap gerakannya.

"Aromanya seimbang banget—jahe yang sedikit pedas bercampur dengan aroma minyak wijen yang tidak terlalu kuat." Yuki mengambil satu buah gyoza dengan penjepit kayu, gerakannya lambat dan penuh perhatian. Kulitnya yang krispi di bagian bawah dan lembut di sisi lain terlihat sempurna, tanpa sedikit pun sobek. "Rasanya sama seperti dulu, Ren. Kamu selalu tahu cara mengolah kulit pangsit agar tetap lembut meskipun digoreng sampai kecoklatan."

Hana mendorong gelas air mineral di depannya hingga bersentuhan dengan piring, membuat suara "klink" yang cukup terdengar. "Di sekolah, Ren biasanya hanya makan roti isi coklat atau selai kacang yang kubawa buat dia. Aku tidak pernah menyangka dia punya waktu untuk membuat sesuatu yang butuh banyak usaha kayak gini." Suaranya sedikit tinggi, seolah ingin memastikan bahwa dirinya juga mengenal sisi lain dari Ren yang tidak diketahui orang lain.

Bu Keiko menyesap tehnya dengan perlahan, kemudian menaruh cangkirnya dengan hati-hati di atas alasnya. Matanya yang tajam menatap Ren dari balik kacamata bundar. "Setiap lipatan di gyoza ini memiliki jarak yang sama persis—sekitar tiga milimeter antar lipatan. Itu bukan hanya kebetulan, karena jarak yang sama akan memastikan panas meresap dengan merata saat digoreng dan dikukus." Ia sedikit tersenyum, ekspresi wajahnya yang biasanya serius sedikit melunak. "Kamu tidak hanya memasak, kamu sedang menciptakan sesuatu yang terkontrol dengan baik."

Ren mengangkat bahu dengan cuek, lalu mengeluarkan suara mendengus yang hampir seperti tawa kecil. "Saya tidak suka hal-hal yang tidak teratur. Kalau sesuatu bisa diatur dengan baik, kenapa tidak?" Ia berbalik untuk kembali ke dapur, namun sebelum melangkah jauh, ia menyembak mata ke arah setiap orang di meja—seolah sedang mengevaluasi sesuatu tanpa mereka sadari.

Setelah beberapa saat, Ren kembali membawa hidangan utama dengan nampan yang lebih besar. "Beef Semur Deconstruct—resep keluarga yang aku modifikasi." Daging sapi potong dadu besar dimasak perlahan hingga benar-benar empuk, warna coklat gelapnya bercampur dengan kilau saus yang kaya akan rempah pala dan cengkeh. Di sampingnya, puree kentang putih bersih terlihat selembut sutra, dan potongan wortel glasir berkilau seperti permata kecil. Ia menyajikannya dengan hati-hati di depan masing-masing orang, dan kali ini, tangannya tidak lagi kaku.

Saat mereka mulai mengambil makanan dengan sendok dan garpu, keheningan perlahan menyelimuti meja. Bukan keheningan yang membuat canggung, melainkan keheningan yang penuh rasa hormat—setiap orang fokus pada rasa yang menyentuh lidahnya, seolah tidak ingin melewatkan satu pun detail dari hidangan yang ada di depan mata.

"Enak..." Hana bisik tanpa sadar, matanya sedikit memerah saat rasa manis dan gurih dari daging menyebar di lidahnya. Ada rasa hangat yang menyebar dari perutnya ke seluruh tubuhnya—rasa yang mengingatkannya pada makanan yang dibuat ibunya sebelum ia pindah ke Kota Karasu, namun dengan sentuhan halus yang membuatnya terasa lebih istimewa. Ia mengangkat kepala dan menatap Ren yang berdiri di dekat konter dapur, tangan nya sedang membersihkan permukaan meja dengan kain bersih. "Ren, ini... benar-benar kamu yang bikin semuanya sendiri?"

"Tentu saja! Kak Ren bangun jam empat pagi lho untuk merendam daging dan menyiapkan semua bumbunya dari awal! Bahkan cabai merah untuk sausnya dia potong sendiri satu per satu!" Rin menjawab dengan semangat, lalu mengambil satu suap puree kentang dan menutup matanya dengan senang hati.

Yuki meletakkan garpunya dengan hati-hati di atas alas piring. Ia menatap potongan daging di depannya dengan ekspresi yang penuh rasa nostalgia, matanya sedikit berkaca-kaca. "Dulu, saat aku masih kecil dan sering bermain di belakang dapur ini, aku selalu mencoba meniru resep masakan ibumu, Ren. Aku menghabiskan berbulan-bulan mencoba menemukan kombinasi rempah yang tepat, tapi selalu gagal." Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap Ren dengan pandangan yang penuh kagum. "Sekarang, setelah lima tahun tidak bertemu... kamu sudah tidak hanya meniru rasa itu. Di dalam saus ini, aku bisa merasakan sesuatu yang lain—rasa seperti kehilangan yang sudah lama berlalu, dan harapan untuk masa depan yang belum tentu jelas."

Bu Keiko mengeluarkan serbet kertas dari saku roknya dan membersihkan sudut bibirnya dengan hati-hati. Ia melihat ke arah Hana dan Yuki, melihat bagaimana kedua gadis muda itu menatap Ren dengan pandangan yang berbeda namun sama-sama mendalam. Sebagai satu-satunya orang dewasa di sana, ia bisa merasakan bagaimana benang-benang hubungan yang tadinya terpisah mulai saling terjalin, satu sama lain.

"Akira-san." Suara Bu Keiko terdengar resmi, membuat Ren menoleh dan memperhatikannya. "Besok pagi, sekolah akan mengumumkan pembentukan tim resmi untuk mengikuti ajang Pesta Rasa Nusantara tahun ini. Kepala sekolah dan Sakura-sensei sudah membahasnya dengan saya, dan mereka telah memutuskan untuk memberikan posisi kapten tim pada kamu."

Ren terdiam sejenak, sendok yang sedang ia genggam untuk membersihkan loyang di konter hampir terjatuh. Ia melihat ke arah tirai dapur, di mana ayahnya—Kudo—sedang mengintip keluar dengan senyum lebar, lalu mengacungkan jempol sebagai bentuk dukungan.

"Dan saya," lanjut Bu Keiko dengan nada yang sedikit lebih lembut, bahkan ada sentuhan kehangatan di dalamnya, "akan menjadi pendamping akademik untuk tim kalian. Kita tidak hanya akan bersaing dengan sekolah-sekolah lain di kota ini. Ada sekolah Asuka Jaya yang baru saja membuka cabang restoran di sebelah jalan ini—mereka sudah mulai mengumpulkan siswa berbakat dengan fasilitas yang sangat lengkap. Kita harus bersiap dengan baik."

Hana langsung mengepalkan tangannya di atas meja, pakaian lengan sekolahnya sedikit mengerut akibat gerakan itu. "Aku akan ikut tim! Aku bisa membantu urusan logistik—mulai dari mencari bahan baku hingga mengatur jadwal latihan. Atau kalau perlu, aku bisa jadi asisten masak juga. Aku tidak akan biarin Ren harus berjuang sendirian untuk ini!" Suaranya penuh tekad, matanya menyala saat menatap Ren.

Yuki mengangguk perlahan, kemudian tersenyum dengan ekspresi yang lebih hangat dari biasanya. Matanya berkilat dengan keyakinan. "Aku juga akan bergabung. Kemampuanku untuk merasakan setiap detail rasa dalam makanan bisa membantu menyempurnakan kreasi Ren. Selain itu, aku tahu banyak tentang sejarah dan variasi masakan nusantara dari buku-buku yang kubaca."

Ren melihat satu per satu wajah mereka—guru yang selalu melihat potensi di dirinya, teman masa kecil yang mengenalnya jauh sebelum ia menjadi siswa yang tertutup diri, dan gadis yang selalu ada di sisinya dengan bungkusan makanan atau catatan kuis yang sudah dicatat rapi. Meja makan yang tadinya terasa seperti tempat bertemu yang penuh ketegangan, kini perlahan berubah menjadi dasar bagi sesuatu yang lebih besar.

"Makanannya akan dingin kalau kalian terus bicara saja tanpa makan." Kata Ren dengan nada yang terdengar datar seperti biasa, namun telinganya yang sedikit memerah mengungkapkan perasaan yang ia coba sembunyikan. Ia mengambil gelas air dan meneguknya dalam satu tegukan, lalu menatap semua orang dengan pandangan yang lebih hangat. "Habiskan semua makanan dulu. Besok kita akan mulai membicarakan detail timnya—ada banyak hal yang harus kita siapkan dari sekarang."

Rin tertawa kecil saat melihat kakaknya yang mencoba tetap tampak cuek padahal wajahnya sudah mulai memerah. Ia mengambil satu suap lagi daging semur dan mengangguk dengan puas. Malam itu, suara percakapan mereka mulai terdengar lebih riang di antara aroma makanan dan cahaya hangat restoran. Di luar jendela, bintang-bintang Kota Karasu bersinar dengan terang, seolah menyaksikan janji tanpa kata yang telah terbentuk di atas meja makan sederhana itu.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!