NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sepeda Jengki

Kuah soto kikil sapi kuning kental itu mengepulkan asap panas di atas meja bambu.

Sukma menata mangkuk seng dengan cekatan, menuangkan kaldu panas yang langsung mematangkan irisan daun bawang di atasnya, menciptakan paduan aroma gurih yang membuat cacing di perut meronta kegirangan.

Syaiful sudah duduk manis di lincak kayu, kakinya yang pendek berayun-ayun tak sabar menunggu jatah sotonya agak dingin.

Ketukan ragu-ragu terdengar dari bingkai pintu depan.

Mak Karman dan Bik Pon berdiri canggung di ambang pintu. Tangan mereka meremas ujung daster pudar masing-masing, mata mereka mencuri pandang ke arah kepulan asap dari dapur.

"Ayo masuk, Mak Karman, Bik Pon." Sukma melambaikan centong sayurnya riang.

Mak Karman melangkah masuk perlahan. "Ya ampun, Mbakyu. Kita ini maju mundur mau ke sini dari tadi. Ndak enak hati. Kita ndak ada bawa apa-apa ke sini."

Bik Pon ikut tertawa sumbang di belakangnya, wajahnya memerah menahan malu.

"Makan." Sukma menyodorkan mangkuk seng itu tegak lurus ke arah mereka.

"Aku butuh bantuan tenaga kalian besok. Jangan nolak."

Dua perempuan itu saling pandang. Sendok seng yang baru saja mereka angkat terhenti di udara.

"Bantuan opo to, Mbakyu?" tanya Mak Karman penuh selidik.

"Ladang belakang kan wes bersih dari sisa panen. Aku mau bikin pagar bambu keliling biar ayam kampung tetangga ndak masuk ngerusak bibit sayurku nanti. Bik Pon, suamimu, Kang Parman, iso bantu potong bambu besok sore?"

Bik Pon langsung mengangguk cepat. Sotonya diseruput nikmat tanpa ragu lagi.

"Jangankan Kang Parman, aku sama Mak Karman yo siap bantu tebang bambu, Mbakyu! Pokoke beres kabeh!"

"Ndak usah bayar-bayaran! Koen wes ngasih soto mewah ngene, masa kita itung-itungan tenaga!" tambah Mak Karman dengan mulut penuh urat kikil empuk.

Sukma tersenyum puas. Jaringan ibu-ibu desa ini jauh lebih bisa diandalkan daripada keluarga mertuanya sendiri.

Tepat saat itu, Sigit dan Gito muncul dari pintu depan dengan napas terengah-engah. Tugas rahasia mereka mengantar rantang ke gubuk Arman tuntas.

"Cuci tangan. Cepat makan jatah kalian sebelum dingin," perintah Sukma sambil menunjuk sisa mangkuk di atas meja.

Pagi buta keesokan harinya, udara desa masih menggigit tulang.

Sukma merapikan tunik katunnya, lalu menuntun Syaiful yang masih setengah mengantuk menuju rumah peninggalan mertuanya. Balita itu memeluk leher ibunya erat, enggan diturunkan.

"Titip sebentar ya, Wat." Sukma menyerahkan balita itu ke pelukan Wati yang sudah menunggu di teras.

Agendanya padat merayap hari ini. Rumah gubuk orang tuanya di desa seberang harus segera direnovasi sebelum badai musim hujan datang menghancurkan atap rumbianya.

Wati mengangguk cepat. "Nggih, Mbakyu. Ati-ati di jalan. Syaiful biar main sama Toni di dalam."

Sukma melangkah cepat meninggalkan perbatasan desa. Jalanan tanah berbatu masih sepi, hanya ada beberapa petani yang berangkat ke sawah di kejauhan.

Di balik rimbunnya rumpun bambu yang tersembunyi dari pandangan jalan, Sukma berhenti melangkah. Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya.

Satu kedipan mata, dimensi ajaibnya terbuka.

Ruang spasial ini adalah anugerah tak masuk akal yang menyatu dengan jiwanya tepat setelah benturan maut pertama yang mengambil serta rahimnya. Stok masa depannya tersimpan utuh. Tangannya bergerak menarik sebuah sepeda jengki biru laut merek Phoenix yang masih terbungkus plastik pelindung di bagian sadelnya. Barang koleksi yang ia beli dipasar antik jakarta waktu itu, kini menjadi kendaraan paling mewah di zamannya ini.

Sukma merobek plastiknya, melompat ke atas sadel, lalu mengayuh sepeda itu.

Angin pagi menerpa wajahnya. Kebebasan mutlak mengalir di setiap putaran roda menuju ibu kota kecamatan.

Pabrik bata merah kecamatan riuh oleh suara mesin pres dan teriakan buruh kasar. Debu tanah liat beterbangan ke udara, menempel di kulit-kulit legam yang berkeringat.

Sukma memarkir sepeda birunya di bawah pohon asem. Tunik katun rapi dan celana kain yang ia kenakan membuatnya mencolok di tengah kepungan buruh laki-laki bertelanjang dada. Sepatu tepleknya melangkah pasti melewati deretan lori pengangkut tanah.

"Wih, ono bidadari nyasar!"

"Mbak e, mau cari bata opo cari suami?"

Siulan nakal dan tawa sumbang bersahutan dari arah para kuli yang sedang mengangkut bata. Sukma hanya menatap mereka datar. Ia kelewat malas meladeni godaan murahan macam itu.

"Kerja yang bener! Jangan ganggu tamu!"

Seorang pria paruh baya berkemeja rapi muncul dari balik tumpukan bata.

Pak Bima, kepala pabrik itu, menghampiri dengan wajah tegas memegang papan dada kayu. Para kuli langsung kicep dan kembali mengangkat lori mereka.

"Maaf, Ibu. Kuli di sini memang mulutnya susah dijaga," sapa Pak Bima sopan.

"Ada yang bisa dibantu? Mau cari bata atau genteng?"

Sukma membalas sapaan itu dengan anggukan. "Saya mau pesan bata merah lima ribu biji, sekalian genteng untuk bangun rumah, Pak."

Pak Bima mengerutkan dahi, jarinya mengetuk-ngetuk papan dada. "Wah, kalau jumlah segitu antrean bata sedang panjang, Bu. Pesanan dari desa-desa lain juga masih menumpuk. Paling cepat baru bisa dikirim bulan depan. Maaf, nama Ibu siapa? Dari desa mana?"

"Saya Sukma Ayu. Istri prajurit Sutrisno, dari desa sebelah."

Mata Pak Bima membelalak. Papan dada di tangannya nyaris tergelincir.

Istri prajurit. Sukma Ayu. Namanya persis seperti cerita istrinya, Dokter Ratih.

Perempuan desa yang nekat melabrak kakak iparnya yang rakus di rumah sakit, menyelamatkan karier dan martabat istrinya dari pemerasan memalukan.

"Bu Sukma?" Suara Pak Bima mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, sangat ramah dan hangat.

"Ya ampun, Bu Sukma. Kenapa ndak bilang dari tadi."

Sukma menaikkan sebelah alisnya bingung.

Pak Bima tersenyum lebar. "Saya Bima, suaminya Dokter Ratih. Istri saya banyak cerita soal kebaikan Ibu di rumah sakit kemarin. Dia sampai nangis terharu ada yang berani belain dia."

"Gusti... ternyata Bapak suaminya Dokter Ratih." Sukma menggeleng tak percaya.

"Kalau gitu tolong dicatat saja dulu alamat pengirimannya ya, Pak. Ke rumah Pak Purnomo di desa seberang. Saya butuh batanya secepatnya."

"Siap, Bu. Minggu ini bata dan gentengnya saya pastikan sampai di lokasi." Pak Bima mengangguk mantap.

Keluar dari pabrik bata dengan hati plong, Sukma mengayuh sepedanya menuju kantor pos kecamatan.

Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal berisi surat tulisan tangan dan foto-foto studio hitam putih mereka kemarin.

Uang prangko kilat diserahkan ke petugas loket. Surat itu harus segera sampai ke tangan Sutrisno di pos penjagaan sebelum ia berangkat ke perbatasan.

Surat ini senjata pamungkasnya untuk mengamankan posisi di keluarga ini, jadi tak boleh terlambat satu hari pun.

Selesai urusan di kota, Sukma sengaja membeli pita merah besar dari pasar.

Diikatkannya pita itu melingkar di setang sepeda jengkinya. Ia tahu kepulangannya membawa sepeda baru pasti memicu gunjingan di desa.

Daripada ditutup-tutupi, lebih baik ia pamerkan sekalian untuk memutus nyali Lasmi dan komplotannya.

Kayuhan sepedanya membelah jalanan desa tepat saat jam istirahat siang para petani.

Di petak sawah pinggir jalan raya, Jamilah menghentikan ayunan cangkulnya. Keringat membasahi lehernya.

Matanya langsung membelalak menatap sepeda biru mengkilat dengan pita merah yang dikayuh santai oleh Sukma.

"Sepeda anyar?!" Jamilah memekik tertahan. Sabit di tangannya nyaris terlepas.

Beberapa ibu-ibu yang sedang mencabut gulma ikut berdiri meluruskan pinggang.

"Walah, Mbak Sukma beli sepeda! Apik tenan sepedane!" puji Mak Karman dari kejauhan, sengaja mengeraskan suara untuk memanas-manasi keluarga Priyanto.

Otak licik Jamilah langsung berputar cepat mengarang skenario. Joko kan nanti pasti direkomendasikan jadi pegawai honorer balai desa oleh Mas Trisno.

Nah pasti uang sepeda itu dikirim Mas Trisno khusus untuk Joko bekerja! Sukma hanya disuruh membelikannya di kota!

"Halah, paling yo Mas Trisno sing ngirim duit buat suamiku," gumam Jamilah sombong, membusungkan dadanya menantang tatapan ibu-ibu desa.

"Mas Joko kan bakalan dadi aparat desa. Masa iya berangkat jalan kaki? Iku mesti sepeda buat Joko!"

Ningsih yang kebetulan berada di petak sawah sebelahnya mencibir sinis. Kulitnya yang hitam legam makin mengkerut menahan dengki.

"Koen yakin iku sepeda buat bojomu? Mbakyu Sukma iku pelit pol! Wes pisah KK, masa iya de'e gelem ngasih barang mewah ngono ke Joko?" sindir Ningsih, dendamnya pada keluarga itu belum padam usai insiden gigitan Sigit yang membuat lengannya diperban berhari-hari.

"Kowe ndak usah iri, Ningsih!" Jamilah melotot tajam.

"Suamiku kan calon orang penting! Kowe cuma kuli, jadi mending meneng ae!"

Jamilah segera mencuci tangannya di parit yang mengalirkan air keruh.

Ia tak sabar ingin pulang. Ia harus segera menemui Joko dan Lasmi untuk mengamankan sepeda biru itu sebelum perempuan pelit itu mengklaimnya sebagai milik pribadi.

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!