Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
"Aseton, Anya. Di mana Ragas menyimpan aseton?!"
Kaelan mengobrak-abrik laci kabinet di ruang tengah dengan panik. Kaus v-neck kuning cerahnya bergesekan dengan meja, sementara sepuluh jarinya yang berkuteks maroon bergerak cepat mencari cairan penghapus cat kuku. Sang Ketua Klan Obsidian itu benar-benar terlihat seperti sedang mencari penawar racun mematikan.
Anya yang sedang duduk bersandar di sofa, mengunyah apel merah dengan santai, hanya menatap suaminya dengan tatapan geli.
"Milo yang menyimpannya, Bos Es. Entah di mana. Mungkin di laci kamarmu, atau di dalam kulkas sebelah botol sirop stroberi," jawab Anya asal, sangat menikmati pemandangan langka ini.
Kaelan menggeram frustrasi. Ia baru saja akan melangkah menuju kamarnya ketika suara deru mesin speedboat terdengar merapat ke dermaga pulau.
Mata Kaelan membelalak. Waktunya habis. Rico dan Ragas sudah kembali.
"Sial," umpat Kaelan, buru-buru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendek putihnya dalam-dalam. Ia memasang wajah sedatar dan sedingin mungkin, berusaha memancarkan aura membunuh untuk menutupi penampilan anak ayamnya.
Dari arah dermaga, terdengar suara langkah kaki dan obrolan. Namun, ada yang aneh. Selain suara berat Rico dan Ragas, terdengar suara tawa melengking yang sangat ceria, seperti suara gemerincing lonceng di musim semi.
"Wah! Udaranya segar sekali! Ragas, apa pohon kelapa yang waktu itu masih ada?"
Kaelan membeku di tempatnya. Matanya menyipit tajam menatap ke arah pintu masuk vila. Suara itu... tidak mungkin.
Sedetik kemudian, sosok yang memiliki suara itu melompat masuk ke ruang tengah.
Seorang gadis muda, mungkin sekitar dua puluh tahun, dengan rambut sebahu yang dikepang dua, mengenakan dress selutut berwarna peach dan sneakers putih. Matanya bulat besar, pipinya sedikit chubby, dan senyumnya begitu lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. Ia benar-benar definisi dari kata 'imut' dan 'periang'.
Di belakangnya, Rico menyusul masuk membawa beberapa kantong belanjaan, diikuti oleh Ragas. Rico meringis penuh rasa bersalah saat melihat bosnya menatapnya dengan tatapan ingin-membunuh.
"Kaelan!" pekik gadis imut itu dengan sangat riang.
Tanpa rasa takut sedikit pun pada sang bos mafia yang sedang memasang wajah iblis, gadis itu berlari kencang dan menabrakkan tubuhnya, memeluk perut Kaelan dengan erat.
"Aku merindukanmu, Kak Kaelan! Kau berutang cerita padaku soal perang di kota!" oceh gadis itu sambil mendongak menatap wajah kaku Kaelan.
Anya, yang masih memegang apelnya di udara, melongo. Siapa gadis kecil pemberani yang berani memeluk kulkas dua pintu itu tanpa takut dibekukan? Dan tunggu... dia memanggil Kaelan dengan sebutan 'Kak'?
Kaelan menghela napas panjang, mencoba melepaskan pelukan gadis itu tanpa harus mengeluarkan tangannya dari dalam saku. "Lucia. Lepaskan aku. Dan Rico... kenapa kau membawa adikmu ke pulau ini?"
Lucia—adik kandung Rico—memanyunkan bibirnya, melepaskan pelukannya, lalu berkacak pinggang menatap Kaelan. "Hei! Jangan marahi Kak Rico! Aku yang memaksa ikut! Saat aku dengar dari markas kalau kau dan Milo ada di sini setelah membantai Paman Arthur, aku langsung mengemas koperku! Aku kan sudah lama tidak bertemu kalian berdua!"
Lucia adalah teman masa kecil Kaelan. Karena Rico selalu berada di sisi Kaelan sejak mereka remaja, Lucia yang sering dititipkan pada kakaknya itu tumbuh besar di sekitar sang mafia. Lucia adalah satu dari sedikit orang yang tahu tentang keberadaan Milo, dan ia sudah menganggap Kaelan serta Milo seperti kakak laki-lakinya sendiri.
Tiba-tiba, mata bulat Lucia memicing. Ia menatap penampilan Kaelan dari ujung rambut hingga kaki.
"Tunggu dulu..." Lucia menyentuh kaus v-neck kuning yang dikenakan Kaelan. Senyum jahil mulai mengembang di wajah imutnya. "Baju kuning cerah? Celana pendek linen? Jangan bilang..."
Sebelum Kaelan sempat menghindar, Lucia dengan gerakan kilat menarik paksa tangan kanan Kaelan keluar dari saku celananya.
Sepuluh jari berkuteks maroon gelap itu terpampang nyata di bawah cahaya lampu ruang tengah.
Hening sejenak.
"BWAHAHAHAHA!" Tawa Lucia meledak seketika, menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Gadis itu memegangi perutnya, menunjuk-nunjuk jari Kaelan dengan heboh. "Astaga naga! Kuku maroon?! Milo benar-benar menguasaimu, ya?! Kaelan sang Bos Obsidian yang ditakuti musuh, memakai kuteks maroon janda?!"
Wajah Kaelan memerah padam, urat di pelipisnya menonjol. "Lucia. Diam. Atau kulempar kau ke laut sekarang juga."
"Aduh, perutku sakit!" Lucia menyeka air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. "Milo memang punya selera fashion yang luar biasa!"
Perhatian Lucia kemudian beralih ke arah sofa. Matanya menangkap sosok Anya yang sejak tadi hanya menonton komedi gratis itu dalam diam.
Mata Lucia langsung berbinar seribu watt. Ia berlari menghampiri sofa dan menatap Anya dengan kekaguman yang luar biasa.
"Ya ampun! Kau pasti Anya!" seru Lucia antusias, langsung meraih kedua tangan Anya dan mengguncangnya dengan semangat. "Aku Lucia, adiknya Kak Rico! Ya Tuhan, kau jauh lebih keren dari yang diceritakan Milo di telepon! Rambut wolf-cut-mu ini benar-benar sangat tangguh! Kau preman pasar yang membuat Paman Arthur jantungan itu, kan?!"
Anya sedikit terkejut dengan energi luar biasa yang dipancarkan gadis ini. Ia melirik Kaelan yang sedang memijat pangkal hidungnya dengan tangan ber kuteks, lalu menatap senyum tulus Lucia. Gadis ini sama sekali tidak memancarkan aura permusuhan.
"Eh, hai, Lucia," balas Anya, canggung namun ikut tersenyum. "Iya, aku Anya. Dan... kau sering mengobrol dengan Milo?"
"Tentu saja! Milo itu sahabat curhatku!" Lucia duduk di sebelah Anya, langsung menempel seperti lem. Matanya kemudian tertuju pada kuku tangan Anya. "Wah! Kuku maroon! Kalian berdua couple nails dengan Kaelan?! Astaga, ini relationship goals sekali!"
"LUCIA!" bentak Kaelan, suaranya benar-benar menunjukkan batas akhir kesabarannya. "Ragas, cari aseton. Sekarang."
Ragas yang sejak tadi hanya menahan senyum di ambang pintu, segera membungkuk. "Baik, Tuan Kaelan. Saya akan segera mencarinya."
Rico melangkah mendekat, membungkuk penuh rasa bersalah. "Maafkan saya, Tuan. Lucia menyusup ke dalam speedboat saat kami sedang memuat barang. Saya tidak tega membuangnya ke tengah laut."diarahkan
Kaelan menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya di single sofa yang agak jauh dari dua wanita itu. Ia memejamkan mata. Rencananya untuk menghabiskan malam romantis dengan Anya, melampiaskan kerinduannya setelah tujuh hari "tertidur", hancur berantakan oleh kedatangan bocah cerewet ini.
Di sofa seberang, Lucia sudah sibuk mengoceh dengan Anya.
"Anya, kau harus tahu rahasia memalukan Kaelan waktu remaja! Dulu, Milo pernah diam-diam mendandaninya saat dia tidur, dan Kaelan terbangun dengan eyeshadow biru menyala saat harus menghadiri rapat klan!" cerita Lucia dengan semangat berapi-api, sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh Kaelan yang padanya.
Anya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. "Serius?! Sayang sekali tidak ada ponsel berkamera waktu itu!"
Kaelan hanya bisa membuang muka menatap ke arah laut malam. Sangkar emasnya kini telah disusupi oleh sekutu baru Anya. Ia tahu, mulai malam ini, liburannya di pulau ini tidak akan pernah tenang lagi. Antara preman pasar yang tengil dan adik kelas yang cerewet... umur sang mafia es mungkin akan berkurang sepuluh tahun lebih cepat.