Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 14
Aku tersentak hebat saat melihat Tomi berdiri di sana. Dengan gerakan panik, aku buru-buru menyeka air mataku dengan punggung tangan, berusaha mengatur napas yang masih tersengal.
"Eh... Tom. Kamu... kamu ngapain di sini?"
tanyaku dengan suara serak yang gagal menyembunyikan kesedihan.
Tomi berjongkok di depanku, matanya menatapku lurus dengan pancaran kekhawatiran yang tulus.
"Aku tadi lewat dan dengar suara orang nangis. Aku nggak nyangka itu kamu, Han. Kamu beneran nggak apa-apa? Ada masalah berat?"
"Nggak kok, Tom. Cuma... cuma kelilipan tadi, terus jadi perih banget matanya,"
jawabku berbohong, mencoba memberikan senyum tipis yang dipaksakan.
"Ayo masuk kelas, bentar lagi mulai kan?"
Aku berdiri dan berjalan mendahuluinya, tidak ingin Tomi melihat wajahku lebih lama lagi. Tidak mungkin aku menceritakan rahasia kelam tentang Wira dan bayiku pada laki-laki sebaik Tomi. Itu adalah bagian dari hidupku yang ingin kukubur selamanya.
Begitu kami melangkah masuk ke dalam kelas, Diva dan Dhea yang sedang asyik mengobrol langsung terdiam. Mereka menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan penuh selidik dan heran.
"Hana! Kamu kenapa? Kok berantakan gini?" seru Dhea sambil menghampiriku dan memegang pundakku.
"Mata kamu sembab banget, Han. Kamu habis nangis ya?"
Diva ikut mendekat, wajahnya tampak sangat khawatir.
"Iya, Han. Ada apa? Cerita sama kita."
Aku menggeleng pelan sambil tetap berusaha tersenyum.
"Nggak apa-apa kok, cuma kurang tidur aja semalam, makanya matanya perih."
Tiba-tiba pandangan Dhea beralih ke belakangku, tepat ke arah Tomi yang baru saja akan duduk.
"Woi, Tom! Lo apain temen kita? Lo bikin dia nangis ya?" todong Dhea dengan gaya blak-blakannya.
Tomi langsung mengangkat kedua tangannya, wajahnya tampak bingung sekaligus merasa bersalah meski dia tidak melakukan apa-apa.
"Eh, bukan gue! Sumpah, gue tadi cuma nemuin dia di belakang..."
"Nggak, Dhe! Tomi nggak ngapa-ngapain aku kok," aku segera memotong sebelum suasana makin kacau.
"Tomi justru tadi yang nemuin aku pas aku lagi... lagi kelilipan itu. Dia nggak salah apa-apa."
Dhea dan Diva saling berpandangan, mereka jelas tidak percaya dengan alasanku, tapi mereka memilih untuk tidak mendesakku lebih jauh di depan Tomi. Aku duduk di kursiku, membuka buku dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Di saku tas, aku bisa merasakan ponselku bergetar lagi.
Pesan masuk berkali-kali. Aku tahu itu Wira. Kepalaku mulai terasa pening kebahagiaan bersama orang tuaku semalam, kelembutan Tomi, dan tuntutan Wira yang penuh luka semuanya bertabrakan di kepalaku pagi ini.
Saat jam istirahat tiba, kebisingan teman-teman seolah berubah menjadi dengung yang menyakitkan di telingaku. Dhea dan Diva sudah bersiap-siap mengajakku ke kantin, tapi aku menahan tangan mereka.
"Kalian duluan aja ya, aku mau ke toilet bentar. Perutku agak nggak enak," ucapku beralasan.
"Beneran? Perlu ditemenin nggak, Han?" tanya Diva cemas.
"Nggak usah, aku aman kok. Duluan aja ya!"
Aku berjalan cepat menuju toilet di ujung lorong gedung.
Begitu sampai di dalam, aku segera masuk ke salah satu bilik dan mengunci pintunya rapat-rapat. Aku duduk di atas penutup kloset yang tertutup, menyandarkan kepala ke dinding porselen yang dingin.
Aku memejamkan mata, membiarkan keheningan toilet menyelimutiku.
Rasanya kepalaku hampir pecah.
Di dalam sana, terjadi peperangan hebat yang tidak diketahui siapa pun. Di satu sisi, hatiku menjerit menyebut nama Wira.
Bagaimanapun buruknya masa lalu itu, dia adalah laki-laki pertama yang membuatku mengerti arti cinta, laki-laki yang berbagi duka dan rahasia denganku, ayah dari bayi yang kini sudah di surga. Aku sangat mencintainya, dan mendengar suaranya tadi membangkitkan semua rasa yang selama ini kupaksa mati.
Tapi di sisi lain, bayangan Papa dan Mama yang tertawa mesra semalam terus membayang. Aku melihat perubahan besar pada mereka. Mereka sedang berusaha menjadi orang tua yang baik, dan aku sangat menghormati itu. Aku tidak mau menghancurkan kedamaian rumah kami yang baru saja terbangun dengan membawa kembali sosok yang paling mereka benci ke dalam hidupku.
"Kenapa harus sekarang, Wir?" bisikku lirih, air mataku menetes lagi tanpa bisa dicegah.
"Kenapa kamu harus kembali di saat aku baru saja punya alasan untuk tersenyum di rumah?"
...----------------...
Aku menyeret langkahku kembali ke ruang kelas. Rasanya seolah ada awan hitam yang menggantung tepat di atas kepalaku, membuat segalanya tampak kelam dan buram. Aku duduk di bangkuku, menatap kosong ke arah papan tulis yang masih bersih.
Tak lama kemudian, Tomi masuk. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Di tangannya ada sebuah kantong plastik berisi roti dan minuman cokelat kesukaanku.
"Hai, Han,"
sapanya lembut, menarik kursi di sampingku.
"Tadi aku tanya Diva sama Dhea, katanya kamu nggak ke kantin. Karena aku tahu kamu nggak bisa mikir kalau perut kosong, jadi aku bawain ini."
Aku menoleh, mencoba memaksakan senyum
"Makasih ya, Tom. Repot-repot banget."
"Nggak repot sama sekali buat teman yang lagi 'kelilipan' dari pagi," godanya sambil mengedipkan mata, mencoba memecah kekakuan di antara kami.
Dia mulai bercerita tentang persiapan wisuda kita yang tinggal seminggu lagi.
"Tadi aku sudah cek vendor foto, Han. Pokoknya nanti pas kita lempar toga, kamu harus ada di sebelah aku ya. Biar kalau aku nangis karena terharu lulus, ada kamu yang ngetawain."
Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Mana mungkin kamu nangis, Tom. Kamu kan paling tegar di kelas."
"Wah, jangan salah. Cowok keren juga punya kelenjar air mata," jawabnya jenaka yang sukses membuat beban di dadaku sedikit terangkat.
"Nanti orang tua kamu datang, kan? Aku pengen banget ketemu mereka, mau bilang terima kasih karena sudah kasih izin anaknya buat temenan sama orang sekeren aku."
Aku tersenyum, tapi jauh di dalam hati, kata "orang tua" kembali memicu rasa cemas tentang Wira. Tomi tampaknya menyadari perubahan raut wajahku. Dia menghentikan candaannya, lalu mencondongkan tubuhnya, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam dan serius.
"Han..." suaranya merendah. "Aku tahu kamu lagi coba buat kelihatan baik-baik saja. Tapi dari mata kamu, aku bisa lihat ada badai yang lagi kamu tahan."
Aku terdiam, jari-jariku meremas pinggiran meja.
"Kamu nggak usah pendam semua masalah kamu sendiri, Han," lanjutnya dengan nada yang sangat tulus.
"Kamu butuh bercerita biar perasaanmu lega. Aku nggak maksa kamu cerita sekarang, tapi kalau kamu butuh telinga buat dengerin, atau bahu buat bersandar... aku ada di sini. Jangan biarkan dirimu hancur sendirian."
Kata-katanya seperti air sejuk yang menyiram luka bakar di hatiku. Untuk sesaat, aku merasa sangat ingin menumpahkan semuanya pada Tomi. Ingin menceritakan tentang Wira, tentang bayi itu, dan tentang rasa takutku pada Papa. Namun, lidahku masih terasa kelu.
"Makasih, Tom. Itu... berarti banget buat aku," bisikku lirih.
Di tengah dadaku yang sesak, Tomi justru mulai beraksi dengan tingkah konyolnya. Dia mengambil botol minuman cokelat tadi, lalu berpura-pura menjadikannya mikrofon.
"Oke, pemirsa! Kembali lagi bersama Tomi, sang ahli penghilang awan mendung di wajah Hana," ucapnya dengan suara berat ala presenter berita.
"Hana, kamu tahu nggak bedanya kamu sama skripsi?"
Aku menopang dagu, mencoba menahan tawa.
"Apa tuh? Jangan bilang yang receh ya, Tom."
"Bedanya... kalau skripsi itu harus disidang biar selesai, kalau kamu itu harus disayang biar bahagia," jawabnya sambil menaik-turunkan alisnya dengan ekspresi yang sangat konyol.
"Aduh, Tom! Garing banget sumpah!" aku tertawa sambil memukul lengannya pelan.
"Garing-garing gini tapi kamu ketawa, kan? Berarti misinya berhasil," Tomi menyengir lebar, lalu ia mengambil dua buah sedotan dari kantong plastiknya dan meletakkannya di atas bibir seperti kumis walrus.
"Coba liat aku, Han. Aku udah mirip belum sama Pak Bambang dosen statistik kalau lagi marah?"
Aku tertawa lepas melihat wajahnya yang dibuat-buat galak dengan kumis sedotan itu.
"Persis! Tinggal ditambah kacamata melorot sama suara batuk-batuk kecilnya, udah dapet banget!"
"Nah, gitu dong. Ketawa," ucapnya kembali normal, lalu menatapku dengan binar jenaka.
"Lagian kamu kalau cemberut mulu, nanti pas wisuda fotonya jadi estetik... estetik penderitaan. Nanti orang-orang nanya, 'Ini Hana wisuda atau lagi nunggu hasil tes DNA?'. Kan nggak lucu."
"Sembarangan kamu!" balasku sambil melemparkan tisu bekas roti ke arahnya.
Kami terus bersenda gurau.
Tomi menceritakan pengalamannya yang salah masuk kelas semester lalu sampai duduk manis dengerin materi jurusan Kehutanan selama satu jam penuh.
Ceritanya yang ekspresif benar-benar membuatku melupakan sejenak beban berat yang menghimpit.
"Makasih ya, Tom. Kamu emang paling bisa buat aku ketawa di saat aku sendiri ngerasa nggak sanggup buat senyum," ucapku tulus setelah tawa kami mereda.
"Santai aja, Han. Selama ada Tomi, stok receh di dunia ini nggak akan habis buat kamu," jawabnya sambil tersenyum hangat, sebuah senyum yang membuatku merasa sangat terlindungi.