Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Gelombang Pembuka
Pembersihan di dalam tubuh Grup Kusuma berlangsung secepat kilat. Hanya dalam tempo kurang dari dua puluh empat jam semenjak pertemuan dewan itu, seluruh pengaruh Burhan dan Rina telah dicabut. Rekening mereka dibekukan atas tuduhan penggelapan yang diam-diam telah disusun oleh ayah Nadia dengan bukti-bukti tambahan yang diperoleh dari investigasi Emerald Group.
Darma Kusuma telah kembali duduk di singgasananya. Namun, beliau membuat sebuah keputusan mengejutkan di hari kedua. Seluruh operasi eksekutif harian tetap diserahkan kepada Nadia.
"Duniaku adalah kemarin," ujar Darma pada Nadia suatu senja di balkon kantor. "Dan hari ini serta esok adalah milikmu."
Nadia menerima tampuk kepemimpinan dengan beban ganda di bahunya, tetapi kini ada sedikit keringanan di hatinya. Bantuan misterius, hutang yang lenyap, musuh yang dijatuhkan; semuanya kini ia sadari merupakan buah tangan sosok yang kini berdiam di kediamannya. Suaminya.
Sementara itu, di halaman belakang kediaman Kusuma, Arya tampak sedang memangkas ranting-ranting pohon bonsai tua. Langkahnya tenang, gerakannya lambat tapi akurat. Tubuhnya kini menyatu sempurna dengan hembusan angin dan riak kolam. Kultivasinya telah memantul ke tingkat keempat dari Sembilan Transformasi Naga Langit. Namun, untuk menembus batas menuju tingkat selanjutnya, Arya butuh lebih dari sekedar embun pagi dan eliksir sederhana. Ia membutuhkan batu spiritual.
Han Shixiong, yang dihubungi melalui pesan singkat, segera merespons panggilannya.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti tanpa suara di belakang gerbang rumah. Sang Dewa Medis keluar dengan secarik kertas berukir lambang pedang bersilang, berjalan menghampiri Arya yang masih asyik dengan bonsainya.
"Hamba menghadap, Guru Besar," ucap Han, menunduk dalam.
"Tidak ada mata yang memperhatikanmu?" tanya Arya tanpa menoleh.
"Bersih, Guru. Namun hamba membawa kabar yang mungkin sedikit tidak menyenangkan. Keluarga Atmaja, menyusul diusirnya putra mereka tempo hari... tampaknya tidak menelan harga diri mereka begitu saja."
Arya menghentikan gerakannya. "Herman Atmaja bermain kotor?"
"Tepat," jawab Han, wajahnya tegang. "Mereka telah menyewa sebuah kelompok pembunuh bayaran elite yang dikenal dengan sebutan 'Gagak Hitam'. Target pertama mereka, menurut informan hamba, adalah Tuan sendiri. Mereka bermaksud menculik Anda untuk memaksa Keluarga Kusuma, sekaligus membongkar sumber kekuatan yang menghancurkan Mahendra."
Arya mengusap sisa daun dari tangannya, seulas senyum tipis, dingin, dan nyaris kejam terukir di wajahnya. "Gagak Hitam. Nama yang terlalu angkuh untuk burung pemakan bangkai. Biarkan mereka datang. Sepertinya pekarangan belakang ini membutuhkan lebih banyak pupuk buatan."
Han menunduk lebih dalam. "Hamba bisa mengirimkan pasukan Emerald untuk menyapu mereka sebelum mereka menampakkan diri."
"Tidak perlu," tolak Arya halus. "Pohon yang besar harus diuji oleh angin kencang. Jika aku selalu bergantung pada orang tuamu, pedangku akan berkarat."
Malam turun dengan cepat, mengusung hawa dingin yang tak biasa di atas langit Kota Emerald. Langit tak berbintang tertutup awan mendung, memberikan tirai yang sempurna bagi mereka yang bekerja di balik bayangan.
Tepat pukul sebelas malam, Nadia telah terlelap karena kelelahan, sementara Darma masih dalam pemulihan di rumah sakit. Kediaman Kusuma tertidur pulas, kecuali satu kamar kecil di ujung atas.
Arya duduk bersila di tengah ruangan gelap. Napasnya teratur.
Di luar, angin bertiup menerbangkan daun-daun kering. Lalu, berhentilah semua suara alam. Suara jangkrik lenyap.
Desiran pedang memotong angin.
Arya membuka matanya. Tiga titik bayangan meluncur menembus jendela kamar tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Mereka berpakaian hitam legam, memakai topeng dengan ukiran paruh burung—Gagak Hitam. Di tangan mereka, belati melengkung yang dilumuri racun berwarna kehijauan memantulkan cahaya jalan.
Tanpa basa-basi, ketiga pembunuh itu langsung menerjang ke arah ranjang, menusuk gundukan selimut di atasnya dengan kecepatan mematikan.
Sreett!
Selimut robek, namun tak ada darah yang menetes. Hanya bantal dan guling yang hancur.
"Mencari seseorang?"
Suara itu datang dari arah pintu. Arya berdiri bersandar di kusen pintu kamarnya, lengannya terlipat di depan dada. Senyum santai terukir di wajahnya.
Ketiga pembunuh itu terkesiap, mata di balik topeng mereka menyipit. Mereka adalah elit, terlatih untuk tidak pernah meleset. Bagaimana mungkin seorang pemuda biasa bisa menghindari serangan mematikan tanpa mereka sadari dan kini berada di belakang mereka?
Salah satu pembunuh—tampaknya sang pemimpin—memberi isyarat tangan. Dalam hitungan detik, ketiganya melompat, mengepung Arya dalam formasi segitiga yang mematikan.
"Arya Kusuma. Nyawamu telah dibeli oleh keluarga Atmaja. Ikut dengan kami tanpa melawan, atau kami akan memotong anggota tubuhmu satu per satu," ucap si pemimpin dengan suara parau yang dimodifikasi.
Arya menghela napas panjang, seakan ia hanyalah seorang guru yang lelah menghadapi murid yang bandel.
"Kau salah soal dua hal," ucap Arya tenang, seraya melangkahkan kaki perlahan mendekati si pemimpin. "Pertama, nyawaku bukan untuk dibeli oleh cecunguk mana pun di dunia ini. Dan kedua... kau salah melangkah ke dalam wilayah Sang Naga."
Sang pemimpin mendengus. "Habisi dia!"
Ketiganya melesat secara bersamaan. Belati beracun itu menebas dari sudut yang tidak mungkin dihindari manusia biasa: atas, bawah, dan samping kiri. Ini adalah formasi maut dari Gagak Hitam yang telah merenggut ratusan nyawa konglomerat.
Namun, di mata Arya, gerakan mereka tidak lebih dari sebuah tarian lambat di dalam air.
Langkah Angin Bayangan.
Arya hanya bergeser sedikit ke kanan. Begitu santainya, hingga salah satu belati hanya berjarak satu milimeter dari ujung rambutnya. Dengan cepat, tangan kiri Arya melesat layaknya kilat, mencengkeram pergelangan tangan pembunuh pertama.
Krek!
Suara tulang patah terdengar renyah di tengah malam. Sang pembunuh tak sempat berteriak ketika Arya menarik lengannya, menggunakan tubuh pria itu sebagai perisai dari tusukan pembunuh kedua.
Jleb!
Belati beracun pembunuh kedua menancap tepat di dada rekannya sendiri. Mata si pembunuh kedua melebar dalam kengerian, tak percaya pada apa yang baru saja ia lakukan.
"Satu," gumam Arya.
Sebelum pembunuh kedua sempat menarik belatinya, Arya mengangkat kakinya dan melepaskan tendangan lurus yang berisi sepuluh persen energi spiritualnya.
Brak!
Tendangan itu menghantam dada si pembunuh kedua dengan kekuatan setara truk melaju kencang. Tubuh pria berbaju hitam itu terpelanting ke belakang, menghancurkan kaca jendela, dan jatuh terjerembap ke pekarangan bawah. Tulang rusuknya remuk total.
"Dua."
Kini, hanya tersisa sang pemimpin. Tangan pria itu gemetar, belatinya hampir terlepas. Dia telah melihat banyak monster di dunia bawah, tapi pemuda di hadapannya ini... dia bukan manusia. Dia adalah dewa kematian.
Sang pemimpin berbalik, berniat melarikan diri lewat jendela.
Tapi Arya lebih cepat. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di ambang jendela, menghalangi rute pelarian. Tangan kanannya terulur dan langsung mencekik leher si pemimpin, mengangkatnya ke udara hingga kakinya meronta-ronta di ambang jendela.
"K-kau... apa kau ini?!" pria itu tersedak.
"Aku adalah mimpi buruk yang baru saja dibangunkan oleh Herman Atmaja," bisik Arya, matanya berubah sedingin dasar lautan es. "Kembalilah pada majikanmu. Katakan padanya, jangan kirimkan burung pipit untuk memancing Naga."
Dengan sekali hempasan kuat, Arya melempar tubuh pembunuh itu ke luar jendela. Pria itu jatuh terjerembap di atas rerumputan dengan kaki patah, mengerang kesakitan, sebelum diseret menjauh ke dalam kegelapan oleh ketakutan yang mengalahkan rasa sakitnya.
Di kamar yang kini kacau balau, Arya kembali menatap tangannya.
"Tubuh ini masih terlalu lemah," gumamnya tak puas. "Keluarga Atmaja, sepertinya kalian benar-benar tidak sabar untuk dicoret dari peta kota ini."