raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sumpah sang ayah di tengah maut
Matahari baru saja mengintip dari balik cakrawala Aethelgard, membiaskan cahaya keemasan yang menembus kabut pagi. Ferdi sudah berdiri di halaman belakang, otot-ototnya meregang saat ia mempersiapkan peralatan.
Semangatnya berkobar lebih panas dari api neraka mana pun; kabar kehamilan Vani telah mengubah darahnya menjadi energi murni yang tak kenal lelah.
Kapak lama Ferdi telah hancur saat ia membangun pagar minggu lalu. Dengan ketenangan seorang pengrajin, ia mengambil bongkahan batu granit hitam yang sangat keras dan mulai mengasahnya dengan teknik kuno. Ia mengikatkan batu tajam itu pada gagang kayu jati dengan akar pohon purba yang tak bisa putus. Kapak batu baru itu berkilau dingin.
"Aku butuh kayu terkuat di hutan ini. Kayu Inti Besi hanya tumbuh di jantung hutan terdalam," gumam Ferdi pada dirinya sendiri.
Ia melilitkan tas kulit kecil di pinggangnya untuk menyimpan biji-bijian, lalu menyandang busur panah serta belati perak di punggungnya. Sebelum berangkat, ia mengintip dari balik jendela kamar.
Vani masih tertidur lelap dengan posisi tangan memeluk perutnya yang masih rata. Ferdi tersenyum lembut.
"Aku akan kembali sebelum kau bangun, Ratu-ku," bisiknya pelan, lalu menghilang ke dalam rimbunnya hutan berbahaya yang mengelilingi lembah.
Hutan Aethelgard bukanlah hutan biasa. Di sini, hukum alam ditentukan oleh mereka yang paling lapar. Ferdi sedang memanggul tiga balok kayu raksasa yang baru saja ia tebang ketika tanah di bawah kakinya bergetar.
ROAAAAAARRRR!
Sebuah auman yang mampu merontokkan dedaunan mengguncang hutan. Dari balik semak belukar raksasa, muncul seekor Singa Purba. Tingginya mencapai enam meter, dengan taring sepanjang lengan manusia yang melengkung tajam dan mata kuning yang haus darah.
Ferdi menjatuhkan kayunya. Ia tidak menggunakan sihir hitamnya karena ia ingin membangun rumah ini dengan keringat murni manusia demi keselamatan bayinya. Namun, singa itu menyerang lebih cepat dari kilat.
SRAKK!
Cakar singa itu menyambar punggung Ferdi hingga bajunya sobek dan kulitnya robek. Belum sempat ia berbalik, singa itu menerjang lagi, mencakar perutnya. Darah merembes deras, namun Ferdi tidak tumbang. Ia justru menerjang maju,
menangkap rahang atas dan bawah sang singa dengan tangan kosong saat monster itu hendak mengatupkan mulutnya di kepala Ferdi.
"Kau... tidak akan... membunuhku hari ini!" geram Ferdi. Otot-otot lengannya membengkak hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon. Ia menahan kekuatan rahang singa itu dengan kekuatan fisik murni.
Namun, singa itu menggunakan kaki belakangnya untuk mencakar perut Ferdi lagi. Ferdi terlempar mundur, napasnya tersengal. Darah menetes di tanah. Ia menyadari jika hanya mengandalkan otot, ia mungkin akan mati, dan ia tidak boleh mati sekarang. Ia harus menjadi ayah.
Ferdi mulai beradaptasi. Ia mundur perlahan menuju arah tebing curam di ujung hutan. Di bawah tebing itu, mengalir sungai keruh yang dihuni oleh buaya raksasa prasejarah yang jauh lebih mengerikan.
"Kemarilah, kucing besar!" tantang Ferdi.
Singa itu melompat dengan mulut terbuka lebar. Ferdi tidak menghindar dengan lari, melainkan mengambil sebuah balok kayu Inti Besi yang tadi ia tebang. Saat singa itu berada di udara, Ferdi mengayunkan balok kayu itu seperti pemukul raksasa tepat ke kepala sang singa.
DUAAAKK!
Singa itu sempoyongan di udara. Ferdi langsung berguling ke arah kanan tepat saat kaki singa itu menyentuh tanah yang licin di tepi jurang. Karena momentumnya terlalu besar, singa setinggi enam meter itu tidak bisa mengerem. Ia meluncur jatuh ke dalam jurang, masuk ke dalam sungai yang seketika berubah menjadi merah saat puluhan buaya raksasa menerkamnya.
Ferdi terduduk, memegangi perut dan punggungnya yang luka. Ia tertawa kecil di tengah rasa sakit.
"Hampir saja... anakku hampir kehilangan ayahnya sebelum melihat dunia."
Sore harinya, Ferdi sampai di rumah dengan menyeret tujuh balok kayu raksasa dan membawa tas penuh biji bunga serta buah liar. Vani sedang menyiram kebun dengan wajah berseri-seri, menantikan suaminya.
"Ferdi! Kau kembali! Lihat, stroberi yang kau tanam sudah—" Kalimat Vani terhenti. Matanya tertuju pada baju Ferdi yang hancur dan darah kering yang menutupi punggung serta perut suaminya.
"Ferdi... Apa lagi ini?" suara Vani bergetar, nadanya mulai naik.
"Hanya... ada sedikit masalah di hutan, Sayang. Tapi lihat, kayu-kayu ini sangat kuat untuk kamar anak kita," ujar Ferdi mencoba mengalihkan perhatian.
"PERSETAN DENGAN KAYU ITU!" meledaklah amarah Vani. Ia melempar alat penyiram bunganya. "Kau berdarah-darah lagi! Masuk! Duduk sekarang!"
Di dalam rumah, saat Vani membuka baju Ferdi untuk mengobatinya, ia melihat luka cakar yang sangat lebar. "Ceritakan padaku, apa yang menyerangmu? Ini bukan tikus hutan!"
Ferdi menghela napas. "Singa Purba, Vani. Tingginya enam meter. Aku hampir digigit, tapi aku berhasil menjatuhkannya ke jurang buaya."
Mendengar itu, Vani langsung duduk lemas di kursi kayu. Wajahnya pucat pasi. Ia memegangi perutnya yang mulai terasa mual lagi karena stres. Ia tidak marah berteriak kali ini, suaranya pelan namun penuh ketakutan.
Vani: (Suaranya bergetar) "Enam meter... Kau bertarung dengan monster setinggi enam meter dengan tangan kosong saat aku sedang mengandung anakmu?"
Ferdi: "Vani, aku menang. Aku di sini sekarang."
Vani: (Menangis kencang) "TAPI KAU HAMPIR MATI! Ferdi, kau egois! Kau pikir kau melakukan ini untuk kami? Jika kau mati di hutan itu, kayu-kayu ini tidak akan ada gunanya! Anak ini tidak butuh rumah besar, dia butuh ayahnya!"
Ferdi: "Aku ingin dia bangga, Vani. Aku ingin dia lahir di tempat yang paling indah dan aman."
Vani: "Tempat paling aman adalah di pelukanmu, bodoh! Bukan di rumah kayu inti besi! Dengar ya, Ferdi... Aku bersumpah, jika kau melakukan hal gila seperti ini lagi, aku akan membawa anak ini pergi ke tempat Irfan agar kau tidak bisa menemukan kami! Aku tidak mau anakku lahir dan langsung menjadi yatim karena ayahnya sok keren melawan singa!"
Ferdi: (Meraih tangan Vani dan menciumnya) "Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat. Aku berjanji, mulai besok aku akan bekerja di sekitar rumah saja. Aku sudah punya cukup kayu untuk pondasi."
Vani: "Kau tidak boleh bekerja besok! Kau harus diam! Aku tidak mau dengar alasan! Kau tahu betapa jantungku mau copot melihat darah ini? Aku sedang hamil, Ferdi! Hormonku sedang kacau, jangan buat aku terkena serangan jantung!"
Vani terus berbicara, mengomel tanpa henti selama dua jam sambil mengobati luka Ferdi.
Meskipun mulutnya pedas, tangannya sangat lembut mengoleskan ramuan. Ferdi hanya diam mendengarkan, ia tahu di balik setiap omelan itu, ada cinta yang begitu besar dan kekhawatiran yang mendalam bagi keluarga kecil mereka.
"Besok," bisik Ferdi saat Vani akhirnya tenang, "aku akan mulai menggali kolam ikan di sini saja, di sampingmu. Aku tidak akan pergi ke hutan lagi."
Vani hanya mendengus, namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Ferdi, membiarkan suaminya tahu bahwa meski ia marah, ia sangat lega suaminya kembali pulang.