NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MATA-MATA DARI IBU KOTA

Dua minggu setelah pesanan dari Naga Emas Trading dikirim...

Wei Chen duduk di kantornya, memeriksa laporan pengiriman. 500 lampu qi dan 200 tungku hemat sudah sampai di ibu kota dengan selamat. Pembayaran lunas — 3.000 koin emas masuk ke kas Garuda Trading.

Tapi dia tidak senang.

Setiap kali memikirkan Hartono, ada rasa tidak nyaman di dadanya. Seperti ada duri yang menusuk pelan-pelan.

Dia pasti sudah mulai mencari tahu tentang aku.

Pintu kantor terbuka. Budi — kepala cabang utara — masuk dengan wajah tegang.

"Tuan Wei, ada yang ingin kusampaikan."

Wei Chen mengangkat alis. "Apa?"

"Beberapa hari ini, ada orang asing di wilayah utara. Bertanya-tanya tentang Garuda Trading." Budi duduk di kursi seberang. "Dia bilang pedagang dari ibu kota, mau cari peluang bisnis. Tapi caranya bertanya... aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Dia tanya tentang pemilik Garuda. Tentang asal-usulmu. Tentang teknologi yang kau buat." Budi mengerutkan kening. "Bukan pertanyaan pedagang biasa. Lebih seperti... penyelidikan."

Wei Chen diam. Matanya menyipit.

"Orang itu masih di utara?"

"Sudah pergi. Tapi sebelum pergi, dia sempat beli beberapa produk kita. Mungkin untuk diteliti."

Wei Chen mengangguk. "Kalau dia kembali, kabari aku segera."

Budi mengangguk. Lalu pergi.

Wei Chen duduk diam. Pikirannya bekerja cepat.

Hartono. Pasti Hartono.

 

Sore harinya, Joko dari cabang selatan juga datang dengan kabar serupa.

"Tuan, ada orang asing di selatan. Bertanya tentang Tuan." Joko tampak cemas. "Aku tidak suka caranya. Matanya... seperti ular."

"Orang yang sama?"

"Mungkin. Rambut hitam, jenggot tipis, bicara halus tapi matanya dingin." Joko menggambarkan. "Dia bilang utusan dari Naga Emas Trading. Mau jalin hubungan baik."

Wei Chen mengangguk. "Kalau dia kembali, awasi. Tapi jangan bertindak dulu."

"Baik, Tuan."

Setelah Joko pergi, Wei Chen memanggil Lim Xiu.

Lim Xiu masuk dengan senyum khasnya. "Ada apa, Wei?"

"Kau kenal orang kepercayaan Hartono?"

Lim Xiu mengerutkan kening. "Hartono? Maksudmu pemilik Naga Emas?"

"Iya."

"Tidak terlalu. Tapi aku dengar dia punya asisten — Surya namanya. Orang kepercayaan. Selalu diutus untuk urusan penting." Lim Xiu menatapnya. "Kenapa?"

"Orang itu ada di utara dan selatan. Menyelidiki kita."

Lim Xiu diam. Lalu, "Kau curiga Hartono?"

"Aku tahu Hartono."

Lim Xiu mengangkat alis. "Kau kenal dia?"

Wei Chen diam sejenak. Lalu memutuskan untuk tidak berbohong.

"Di kehidupan lampau, dia mitraku. Dia yang bunuh aku."

Lim Xiu membeku. Matanya melebar.

"Apa?"

"Cerita panjang." Wei Chen menghela napas. "Intinya, dia musuhku. Dan sekarang dia mulai mendekat."

Lim Xiu diam lama. Mencerna informasi itu.

"Jadi... kau bukan orang biasa?"

"Aku tidak pernah bilang aku biasa."

Lim Xiu tersenyum tipis. "Kau benar-benar penuh kejutan, Wei Chen." Dia duduk. "Kalau begitu, kita harus antisipasi."

"Apa saranmu?"

"Kita pasang mata-mata balik. Di ibu kota. Cari tahu apa yang Hartono rencanakan."

Wei Chen mengangguk. "Kau kenal orang di sana?"

"Ada. Teman lamaku." Lim Xiu tersenyum misterius. "Dia bisa diandalkan."

 

Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.

Langit mendung. Tidak ada bintang. Angin dingin berembus.

Mei Ling merapatkan selimut. "Chen, kau kelihatan gelisah."

"Aku gelisah."

"Karena Hartono?"

Wei Chen mengangguk.

Mei Ling meraih tangannya. "Cerita."

Wei Chen diam. Lalu, pelan-pelan, dia bercerita. Tentang Surya. Tentang penyelidikan. Tentang Hartono yang mulai mendekat.

Mei Ling mendengar dengan seksama. Tangannya tetap menggenggam.

"Chen... kau takut?"

"Aku tidak takut mati." Wei Chen menatap langit gelap. "Tapi aku takut kehilangan kau."

Mei Ling memeluknya.

"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku di sini."

Mereka berpelukan. Hangat di tengah dingin.

 

Tiga hari kemudian, kabar dari ibu kota datang.

Lim Xiu masuk dengan wajah serius. "Wei, ada informasi."

Wei Chen mengangkat kepala dari dokumen.

"Teman aku di ibu kota berhasil dapat informasi." Lim Xiu duduk. "Hartono sedang mengumpulkan informasi tentang teknologi kita. Dia juga mulai mendekati klan-klan besar di timur — termasuk Klan Naga Hitam dan Klan Bunga Naga."

Wei Chen mengerutkan kening. "Dia mau apa?"

"Teman aku curiga, dia mau kuasai jalur perdagangan di timur. Dan Garuda Trading adalah penghalang terbesarnya."

Wei Chen diam. Ini lebih cepat dari dugaannya.

"Dia tahu aku di sini?"

"Belum. Tapi sebentar lagi pasti tahu." Lim Xiu menatapnya. "Kita harus siap."

"Kita siap."

Lim Xiu mengangkat alis. "Kita? Dengan apa? Karyawan kita kebanyakan petani, bukan kultivator."

"Bukan karyawan yang kumaksud." Wei Chen tersenyum tipis. "Tapi klan-klan mitra kita."

Lim Xiu mengerutkan kening. "Kau mau libatkan mereka?"

"Kalau Hartono ancam kepentingan mereka, mereka akan ikut."

"Tapi Hartono belum ancam mereka."

"Belum." Wei Chen menatapnya. "Tapi dia akan. Orang seperti Hartono tidak pernah puas. Dia akan ambil semuanya."

Lim Xiu diam. Lalu mengangguk.

"Baik. Aku siap."

 

Seminggu kemudian, Surya datang ke Desa Qinghe.

Wei Chen sedang di kantor ketika Budi masuk dengan tergesa-gesa.

"Tuan, orang itu datang."

"Siapa?"

"Surya. Dari Naga Emas."

Wei Chen mengangguk. "Suruh masuk."

Surya masuk dengan senyum ramah. Pria itu sekitar 35 tahun, berjenggot tipis, berpakaian rapi. Matanya — dingin, penuh perhitungan — mengamati ruangan sekilas sebelum akhirnya tertuju pada Wei Chen.

"Tuan Wei Chen." Dia membungkuk hormat. "Saya Surya, utusan dari Naga Emas Trading. Senang akhirnya bisa bertemu langsung."

Wei Chen menunjuk kursi. "Duduk."

Surya duduk. "Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih atas pengiriman pesanan sebelumnya. Tuan Hartono sangat puas."

"Syukurlah."

"Kedua, Tuan Hartono ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan Garuda Trading." Surya mengeluarkan dokumen. "Dia mengusulkan kerja sama eksklusif. Naga Emas jadi mitra utama di ibu kota. Sebagai gantinya, dia akan buka akses ke pasar-pasar besar di sana."

Wei Chen membaca dokumen itu. Eksklusif. Sama seperti tawaran klan-klan dulu.

"Ini tawaran menarik," katanya. "Tapi aku perlu waktu pikir."

"Tentu." Surya tersenyum. "Saya akan tinggal beberapa hari di sini. Tuan bisa kasih jawaban kapan pun."

Wei Chen mengangguk. "Budi, antar tamu kita ke penginapan."

Budi mengangguk. Surya berdiri, membungkuk lagi, lalu pergi.

Setelah Surya keluar, Lim Xiu masuk dari ruang belakang. "Dia licin."

"Licin sekali."

"Kau curiga dia tahu sesuatu?"

"Pasti. Dia datang bukan cuma untuk tawaran." Wei Chen menatap pintu. "Dia datang untuk menyelidiki."

 

Malam harinya, Surya berjalan-jalan di Desa Qinghe.

Pura-pura menikmati pemandangan. Padahal matanya mengamati segala sesuatu.

Berapa banyak karyawan. Di mana bengkel produksi. Bagaimana sistem keamanan.

Dia juga bertanya pada penduduk desa — dengan cara halus, tidak mencolok.

"Oh, Tuan Wei? Orang baik. Dia yang bangun toko itu."

"Dia dari mana? Entah, datang tiba-tiba beberapa tahun lalu."

"Teknologinya? Ajaib. Tidak tahu dari mana belajar."

Surya mencatat semua dalam ingatannya.

Di ujung desa, dia bertemu Kakek Tio.

Pria tua itu sedang duduk di beranda, mengunyah sirih. Matanya — tua tapi tajam — menatap Surya.

"Mencari sesuatu, Nak?" tanyanya.

Surya tersenyum. "Hanya berjalan-jalan, Kek."

Kakek Tio mengangguk. "Jalan-jalan boleh. Tapi hati-hati. Jalan di desa ini gelap kalau malam."

"Terima kasih, Kek."

Surya melanjutkan jalan. Tapi dia merasa — ada yang mengawasinya.

 

Esok harinya, Surya kembali ke kantor Wei Chen.

"Tuan Wei, saya sudah bicara dengan atasan saya." Dia tersenyum. "Tuan Hartono bersedia menaikkan tawaran. 40% bagi hasil untuk Garuda, 60% untuk Naga Emas."

Wei Chen diam. Menghitung.

40% dari pasar ibu kota? Itu jumlah besar. Tapi eksklusif berarti dia tidak bisa jual ke pedagang lain di sana.

"Tawaran ini sangat bagus," katanya. "Tapi aku tetap butuh waktu."

Surya mengangguk. "Tentu. Saya akan kembali ke ibu kota besok. Tuan bisa kirim jawaban lewat surat."

Setelah Surya pergi, Lim Xiu masuk.

"Dia pergi besok?"

"Iya."

"Kau curiga dia sudah dapat informasi?"

"Pasti." Wei Chen menatapnya. "Tapi tidak apa-apa. Biarkan dia lapor ke Hartono."

"Kau tidak takut Hartono tahu?"

"Sebaliknya." Wei Chen tersenyum tipis. "Aku ingin dia tahu."

"Maksudmu?"

"Aku ingin dia datang sendiri ke sini."

Lim Xiu mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena kalau dia datang, aku bisa lihat matanya. Aku bisa baca gerak-geriknya." Wei Chen mengepalkan tangan. "Di bumi, dia bunuh aku dari belakang. Di sini, aku ingin lihat wajahnya saat dia tahu aku masih hidup."

Lim Xiu diam. Lalu mengangguk.

"Kau benar-benar pendendam."

"Bukan pendendam." Wei Chen menggeleng. "Tapi aku tidak pernah lupa."

 

Surya kembali ke ibu kota dengan laporan lengkap.

Hartono membaca dengan seksama. Wajahnya tidak terbaca.

"Jadi... Wei Chen datang tiba-tiba beberapa tahun lalu. Tidak ada yang tahu asalnya. Teknologinya ajaib." Dia menghela napas. "Menarik."

Surya menunggu.

"Ada yang aneh?" tanya Hartono.

"Satu hal, Tuan." Surya ragu. "Matanya."

"Matanya?"

"Saat saya sebut nama Tuan, matanya... berubah. Sebentar. Tapi saya lihat." Surya menatap Hartono. "Seperti dia kenal Tuan."

Hartono diam. Lalu tersenyum.

"Terima kasih, Surya. Kau boleh pergi."

Setelah Surya keluar, Hartono duduk diam.

Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke bumi. Ke seorang pria yang pernah dia bunuh.

Wei Chen... Wei Chen...

Tiba-tiba, dia teringat.

Di bumi, nama asli pria itu bukan Wei Chen. Tapi...

Dia tersenyum. Senyum lebar.

"Jadi kau di sini," bisiknya. "Menarik."

 

Di Desa Qinghe, Wei Chen tiba-tiba merasa dingin.

Bukan dingin udara. Tapi dingin di tulang.

Dia menengok ke selatan, ke arah ibu kota.

Dia tahu.

Mei Ling masuk. "Chen, makan malam."

Wei Chen mengangguk. Tapi sebelum pergi, dia berkata, "Mei Ling, mulai besok, jangan pergi sendirian."

Mei Ling mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena badai akan datang."

 

Chapter 18 END.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!