Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Misi Penyelamatan Galon
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyebarkan cahaya keemasan yang menembus ventilasi Wisma Lavender. Bagi Arka, ini seharusnya adalah waktu produktif untuk membuka laptop, menyesap kopi saset, dan bergulat dengan algoritma skripsinya.
Namun, realita di Wisma Lavender memiliki rencana lain. Realita itu bernama Rara, dan dia sedang berdiri di depan pintu kamar Arka dengan pakaian olahraga ketat yang tampak sangat fungsional.
"Bangun, Arka! Ototmu bakal atrofi kalau cuma dipakai ngetik doang!" teriak Rara sambil melakukan gerakan stretching yang terlihat menyakitkan.
Arka membuka pintu dengan wajah bantal. "Ra, ini jam delapan pagi. Di dunia IT, ini masih jam tidur."
"Di dunia kesehatan, ini jamnya loading nutrisi dan hidrasi," jawab Rara tegas. Ia menunjuk ke arah tangga. "Stok air di lantai dua habis. Galon di dispenser dapur juga sudah kosong melompong. Dan tebak siapa yang biasanya harus gotong-gotong itu sendirian?"
Arka menghela napas, ia teringat poin 'Penugasan Darurat' di kontrak sepanjang dua meter milik Sari. "Oke, oke. Saya ganti baju dulu."
Sepuluh menit kemudian, Arka berdiri di area belakang dekat dapur. Di sana, empat galon air mineral kosong sudah berbaris rapi seperti prajurit yang menunggu instruksi. Di sampingnya, sebuah truk pengantar air baru saja menurunkan empat galon penuh yang masih tersegel plastik biru.
"Biasanya aku angkat satu-satu," ucap Rara sambil melipat tangan di dada, matanya menatap Arka dengan tatapan menantang. "Tapi karena sekarang kita punya 'tenaga kerja pria', aku mau lihat efisiensinya. Lu sanggup bawa berapa sekaligus?"
Arka menelan ludah. Galon penuh itu masing-masing beratnya sekitar 19 kilogram. Membawa satu ke lantai dua yang tangganya melingkar saja sudah cukup membuat pinggang protes.
"Dua?" tawar Arka ragu.
Rara tertawa remeh. "Dua itu standar anak SMA. Coba empat sekaligus. Dua di tangan, dua... entahlah, lu pikirin caranya. Aku mau lihat core strength mahasiswa Teknik Informatika."
"Ra, itu tujuh puluh enam kilo totalnya. Tangga kita itu kayu, kalau patah gimana?" pembelaan Arka terdengar lemah di telinganya sendiri.
"Tenang, kayunya jati asli, lebih kuat dari niat lu buat lulus," sahut Rara pendek.
Tiba-tiba, area dapur mulai ramai. Gendis muncul dengan botol minum estetiknya, menunggu air diisi. Lulu lewat dengan kalkulator di tangan, siap mencatat berapa galon yang dikonsumsi bulan ini. Bahkan Oma Rosa muncul dengan ponsel yang sudah di posisi landscape.
"Ayo, Arka! Ini bakal jadi konten 'Physical 100' versi kearifan lokal!" seru Oma Rosa antusias.
Terpojok oleh harga diri laki-laki yang tersisa dan kamera Oma Rosa yang sudah merekam, Arka mengambil napas panjang. Ia mencoba mengangkat dua galon di masing-masing tangannya. Beratnya luar biasa. Otot lengannya langsung menegang, urat-urat di lehernya mulai menonjol.
"Tunggu, Arka. Biar lebih efisien, lu pakai teknik farmer's carry," Rara mulai memberikan instruksi teknis seolah ia adalah pelatih pribadi di pusat kebugaran mahal. "Jaga punggung tetap lurus, kunci perut, dan jangan lewatkan satu anak tangga pun. Kalau jatuh, airnya tumpah, lu yang pel."
Arka mulai melangkah. Anak tangga pertama dilewati dengan sukses, meskipun lututnya mengeluarkan suara gemeretak yang mencemaskan. Galon-galon itu terasa seperti bongkahan timah yang berusaha menarik lengannya lepas dari bahu.
"Ayo, Kak Arka! Semangat!" teriak Fanya dari balkon lantai dua, memberikan dukungan moral yang sebenarnya tidak mengurangi beban gravitasi sedikit pun.
Saat mencapai tengah tangga, Arka merasa oksigen di sekitarnya mulai menipis. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Di saat itulah, Manda—si mahasiswa kedokteran yang linglung—tiba-tiba berjalan turun dengan mata terpaku pada buku anatomi tebal.
"Eh, ada galon berjalan," gumam Manda datar, hampir saja menabrak Arka jika Arka tidak segera menghentikan langkahnya dengan sisa tenaga yang ada.
"Manda... minggir... berat..." rintih Arka dengan suara yang nyaris hilang.
"Oh, maaf. Kamu lagi simulasi jadi semut ya?" Manda bergeser sedikit, lalu lanjut membaca tanpa merasa ada yang salah.
Setelah perjuangan yang terasa seperti mendaki puncak Everest, Arka akhirnya sampai di lantai dua. Ia meletakkan keempat galon itu di depan dispenser dengan suara dentuman yang cukup keras hingga membuat kucing peliharaan rahasia Maya mengeong kaget dari kejauhan.
Arka jatuh terduduk di lantai, napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi kaos oblongnya. Tangannya gemetar hebat, rasanya jari-jarinya kaku dan tidak bisa dikepalkan.
Rara naik dengan langkah ringan, tampak tidak terkesan namun ada secercah rasa hormat di matanya. "Tujuh menit, empat puluh detik. Lambat, tapi setidaknya lu nggak pingsan."
Ia menyodorkan sebuah botol air dingin ke arah Arka. "Nih, minum. Hadiah buat penyelamatan hidrasi masal hari ini."
Arka menerima botol itu, tapi tangannya terlalu gemetar bahkan hanya untuk memutar tutupnya. Melihat itu, Rara mengambil kembali botolnya, membukanya dengan satu putaran mudah, dan memberikannya lagi pada Arka.
"Makasih," bisik Arka getir. Ia merasa maskulinitasnya baru saja dihancurkan sekaligus dibangun kembali di waktu yang bersamaan.
"Besok kita coba latihan beban beneran ya," ucap Rara sambil menepuk bahu Arka yang pegal. "Wisma Lavender nggak butuh cowok lembek. Kalau ada gempa atau kebakaran, lu yang harus gendong Oma Rosa keluar."
Lulu mendekat dengan catatan kecilnya. "Arka, karena kamu yang angkat, biaya jasa angkut galon lima ribu rupiah dari kas kos bakal dialokasikan ke pulsa WiFi kamu bulan depan. Tapi ingat, jangan boros listrik buat main game."
Arka hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dinding dingin koridor. Di balik rasa lelah yang luar biasa, ia melihat Gendis memujinya di kolom komentar live Oma Rosa, dan Sari yang lewat memberikan anggukan kecil tanda apresiasi (atau mungkin hanya menandai bahwa tugas 'Penugasan Darurat' telah dilaksanakan).
Siang itu, Arka tidak sanggup mengetik satu baris kode pun. Jarinya terlalu kaku untuk menyentuh keyboard. Namun, saat ia melihat para gadis di kos itu bisa mengambil minum dengan mudah tanpa harus berteriak memanggil tukang air, ada rasa puas yang aneh di hatinya.
"Mungkin ini yang dimaksud 'Penjaga Hati'," gumam Arka sambil menatap langit-langit kamar. "Bukan jaga perasaan mereka, tapi jaga supaya jantung mereka nggak copot gara-gara urusan rumah tangga yang berantakan."
Baru saja ia hendak memejamkan mata untuk tidur siang singkat, terdengar teriakan dari kamar sebelah.
"ARKAAAA! ADA LABA-LABA RAKSASA DI PLAFON KAMAR GUE!"
Arka mengerang, menutup wajahnya dengan bantal. Misi penyelamatan galon baru saja selesai, dan misi penyelamatan dari serangga baru saja dimulai. Selamat datang di hari kedua di neraka merah muda yang nyaman ini.