Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Lestari membanting pintu kamarnya dengan kasar. Wajahnya yang semula sinis dan puas karena berhasil membuat Laras jengkel, kini berubah panik. Ia mondar-mandir di dalam kamar, menggigit kuku jarinya yang sudah pendek.
"Gawat! Kalau perusahaan Kak Daffa benar-benar bangkrut... aku... aku nggak bakal dapat uang jajan lagi! Nggak ada skincare, nggak ada kopi mahal, nggak ada jalan-jalan!"
Ketakutan itu menghantam Lestari seperti tsunami. Selama ini, ia memang sering bersikap sinis dan menyebalkan, tapi semua fasilitas dan kenyamanan hidup yang diberikan Kakaknya adalah hal yang tak bisa ia lepaskan.
Dengan cepat, Lestari keluar dari kamar dan berlari menuju kamar ibunya. Ia membuka pintu tanpa mengetuk.
"Bu! Ini gawat! Kak Daffa katanya bangkrut! Aku nggak mau hidup miskin, Bu!"
Bu Rina yang sedang duduk termenung langsung menatap putrinya dengan cemas. Wajahnya memucat. "Apa kamu serius, Tari?"
"Tadi aku dengar mereka berantem! Kak Laras bilang kalau perusahaan bangkrut, dia bakal ninggalin Kak Daffa! Aku nggak bisa hidup susah, Bu. Aku nggak biasa makan tempe tiap hari!"
Bu Rina terdiam sejenak. Lalu, matanya menyipit seperti sedang mengingat sesuatu. Detik berikutnya, ia berdiri dan meraih tangan Lestari.
"Cepat, kita harus bicara dengan Daffa. Ada satu cara... mungkin bisa menolong kita semua."
Lestari menatap ibunya bingung. "Apa maksudnya, Bu?"
"Sudah ikut saja dulu!"
Tak lama kemudian, di ruang tamu, Daffa dan Laras duduk di sofa. Wajah Daffa terlihat lelah dan murung, sementara Laras menyilangkan tangan di dada, masih memasang ekspresi dingin dan penuh kecurigaan. Lestari berdiri di belakang ibunya dengan raut bingung. Ia belum tahu rencana apa yang hendak dibicarakan ibunya.
"Daffa," ucap Bu Rina pelan tapi tegas. "Ibu tahu, keadaan perusahaan kamu sedang tidak baik. Dan Ibu... punya satu usul."
Daffa mengangguk lemah. "Apa, Bu?"
"Pak Yandris... dia masih sering menghubungi Ibu. Kamu tahu sendiri, dia punya banyak uang, dan sedang mencari proyek untuk diinvestasikan."
Daffa menatap ibunya. "Maksud Ibu... mau minta bantuan ke Pak Yandris?"
Bu Rina mengangguk pelan. "Tapi tidak dengan cuma-cuma. Kamu tahu kan, dulu dia pernah tertarik dengan Lestari. Kalau Lestari bersedia menikah dengannya... kita bisa dapatkan kembali dana untuk menyelamatkan perusahaan."
"APA?!" suara Lestari langsung melengking. Ia melangkah maju, berdiri di samping ibunya. "Bu, Ibu gila?! Pak Yandris itu tua! Dia itu kayak Om-om! Mana mungkin aku mau nikah sama dia?!"
Bu Rina menatap putrinya tajam. "Lestari, ini demi keluarga kita. Kamu tahu kan, hidup kita bergantung pada keberhasilan proyek Daffa. Kalau semua hancur, kita akan jatuh miskin. Nggak ada rumah besar lagi, nggak ada tas branded lagi, nggak ada kemewahan. Kamu sanggup hidup seperti itu?"
Lestari menggeleng cepat. "Tapi Bu... aku masih muda! Masa depanku masih panjang! Kenapa harus aku yang dikorbankan?!"
Daffa menunduk. Ia merasa bersalah, tapi juga tahu betapa gentingnya situasi mereka.
"Tari... aku juga nggak mau kamu terseret dalam masalah ini. Tapi hanya itu satu-satunya cara cepat yang bisa menyelamatkan semuanya. Setidaknya... pikirkan dulu," ucap Daffa pelan.
Laras yang sejak tadi diam, tersenyum sinis. Ia bersandar santai di sofa. "Hmm... biasanya kamu suka banget main perintah-perintah orang, Tari. Sekarang rasain tuh kalau kamu yang harus dikorbankan demi keluarga. Seru juga ya, nonton kamu panik kayak begini."
"LARAS!" bentak Lestari. "Kamu senang ya lihat aku menderita?!"
"Nggak juga. Aku cuma... menikmati karmamu. Dulu kamu bilang aku cuma numpang hidup di rumah ini. Sekarang lihat... ternyata kamu yang harus jual diri demi rumah ini tetap berdiri."
"Cukup!" teriak Bu Rina. "Kalian berdua berhenti saling menghina! Ini bukan waktunya!"
Lestari menangis. Ia memeluk ibunya. "Bu, jangan paksa aku. Aku nggak bisa... aku nggak mau..."
Bu Rina mengelus rambut putrinya. "Ibu tahu, Sayang. Tapi kamu juga harus tahu, hidup ini kadang butuh pengorbanan. Kita semua sedang di ujung tanduk."
Semua terdiam. Hanya suara isakan kecil Lestari yang terdengar, dan tatapan dingin Laras yang masih belum puas melihat adik iparnya terpojok. Dia duduk dengan kaki disilangkan, senyumnya sinis mengarah pada Lestari yang berdiri di belakang Bu Rina, wajahnya memerah menahan marah.
"Terima saja keputusan itu, Tari. Kau itu harus sadar diri. Mau sampai kapan jadi pembantu terus di rumah ini? Lagian kalau berhasil jadi nyonya Yandris, kau bisa punya apa pun yang kau mau. Mobil? Berlian? Rumah mewah? Semua bisa," ujar Laras dengan nada menyindir.
Lestari mengepal tangannya. "Aku bukan barang dagangan! Aku nggak mau menikah sama lelaki tua itu!"
"Kau pikir kita semua mau dalam posisi ini?" sela Bu Rina cepat, wajahnya keras. "Kalau bukan karena keadaan, aku nggak akan memaksa. Tapi sekarang ini bukan waktu untuk keras kepala. Daffa butuh bantuan. Kita semua butuh pertolongan. Dan cuma Pak Yandris yang bisa menyelamatkan perusahaan."
Daffa masih diam, tapi tatapannya tertuju pada adiknya, penuh harap dan tekanan yang tak terucap. Ia tahu ini bukan keputusan mudah, tapi situasi sudah genting.
Lestari menatap mereka satu per satu, napasnya memburu. "Aku... Aku tetap nggak mau! Dia tua! Jauh lebih tua dari aku! Dia itu cocoknya jadi Om, bukan suami!"
Laras kembali menimpali dengan nada mengejek, "Kalau kau memang punya harga diri, buktikan! Korbankan sedikit untuk keluarga ini. Atau jangan-jangan... kau sebenarnya sudah cukup enak jadi pembantu di rumah ini?"
"Cukup, Laras!" bentak Lestari, matanya berkaca-kaca. "Kau memang dari dulu nggak pernah suka aku. Sekarang kau senang, ya? Senang lihat aku didesak begini?"
Bu Rina menatap Lestari dengan tajam, "Suka atau tidak, aku akan tetap hubungi Pak Yandris. Kau hanya perlu bersiap-siap bertemu dengannya."
"Ibu! Jangan!" Lestari menjerit, tapi suaranya kalah cepat. Bu Rina sudah menekan beberapa nomor.
Daffa mencoba menenangkan, "Tari... tolong mengertilah. Ini demi kebaikan bersama. Aku janji, aku akan pastikan kau bahagia kalau kau menikah dengannya."
"Bahagia? Menikah dengan pria tua demi menyelamatkan perusahaan? Itu bukan bahagia, Kak, itu menjual diri!" bentak Lestari.
Tanpa berkata lagi, Lestari berbalik dan melangkah cepat ke kamarnya. Ia membanting pintu dengan keras. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia merasa sendirian, tidak ada yang memihaknya. Dunia terasa runtuh, bukan karena bangkrut, tapi karena keluarganya sendiri rela menjualnya demi bertahan hidup.
Lestari duduk di atas tempat tidurnya, memeluk bantal dengan wajah kusut dan mata yang mulai berkaca-kaca. Suasana kamar yang sunyi hanya dipenuhi suara napasnya yang berat. Di tengah kekacauan pikirannya, tiba-tiba bayangan seseorang muncul dalam benaknya, Raya. Nama itu muncul begitu saja, menyelinap ke pikirannya, menggugah perasaan bersalah yang selama ini ia tekan dalam-dalam.
"Kak Raya..." bisiknya pelan.
Entah kenapa, kenangan tentang kakak iparnya itu begitu kuat. Dulu, dia begitu membenci Raya. Menganggapnya hanya beban, wanita tak berguna yang hanya menempel pada Daffa. Tapi sekarang, saat dia sendiri merasa tak punya siapa-siapa, dia justru merindukan sosok itu.
"Kalau saja... kalau saja waktu itu aku bisa lebih baik pada Kak Raya," ucapnya lirih, air mata menetes membasahi pipinya.
Dia teringat bagaimana Raya selalu bersikap lembut, bahkan saat dirinya bersikap ketus. Raya tidak pernah membalas. Dia teringat ketika dulu pernah menangis karena dimarahi ibunya, dan satu-satunya orang yang mendatanginya dan menyodorkan saputangan adalah Raya. Tapi apa yang dia balas? Cacian dan hinaan.
"Kak Raya pasti bakal belain aku kalau dia masih di sini," katanya dengan suara parau.
Perasaannya semakin campur aduk saat dia membandingkan Raya dengan Laras. Wanita itu istri Daffa sekarang hanya mementingkan diri sendiri. Tidak pernah benar-benar peduli, bahkan dalam situasi sesulit ini, Laras justru menikmati penderitaan orang lain. Lestari menyadari satu hal, bahwa kebenciannya dulu pada Raya bukan karena kesalahan Raya, tapi karena egonya sendiri.
Lestari mengusap wajahnya yang basah. Dia takut. Takut jika dirinya akan bernasib sama seperti Raya terusir, sendirian, dan tak punya arah. Dia masih ingat betul bagaimana hari itu Raya diusir dari rumah. Dengan perut yang mulai membesar dan mata yang penuh luka, Raya berjalan keluar tanpa ada satu pun dari mereka yang menahan. Bahkan dia... Lestari... ikut mencemooh dan menutup pintu tanpa perasaan.
Tiba-tiba, dia berdiri dan melangkah menuju ruang tengah. Ibunya dan Daffa masih duduk di sana, membicarakan rencana konyol mereka.
"Aku nggak mau diusir!" teriaknya tiba-tiba.
Daffa dan Bu Rina menoleh kaget.
"Apa maksudmu, Tari? Siapa yang mengusirmu?" tanya Bu Rina.
"Aku nggak mau kayak Kak Raya! Kalian dulu usir dia, sekarang kalian mau paksa aku nikah sama orang tua demi uang? Kalian pikir aku nggak punya harga diri?"
Daffa berdiri, mencoba menenangkan. "Tari, ini semua demi kebaikan kita. Kamu tahu sendiri kondisi perusahaan sekarang..."
"Dan itu salah siapa? Kenapa harus aku yang dikorbanin? Aku ini juga anakmu, Bu! Aku adikmu Kak Daffa! Kenapa kalian nggak pernah mikir apa yang aku rasain?"
Bu Rina menghela napas panjang. "Tari... kamu harus realistis. Kalau kamu nikah sama Pak Yandris, hidup kita semua aman. Kamu bisa hidup nyaman, nggak perlu takut miskin."
"Aku lebih baik miskin daripada jadi istri tua dari lelaki yang umurnya dua kali lipat dariku!"
"Yakin mau hidup miskin?" Tanya Laras Dengan senyum sinis. Lestari terdiam, sebab dia pun juga tidak yakin bisa hidup miskin.
"Ck, udalah Tari. Kamu tinggal menikah doang. Kita butuh uang sedang Pak Yandris butuh belain dan pelayananmu. Cukup adil bukan?"
Lestari menatap Laras tajam, lalu kembali menatap Daffa dan ibunya dengan mata berair. "Aku nggak mau jadi korban. Kalian udah cukup menyakiti satu orang, jangan ulangi ke aku."
Laras kembali menyela, "Kalau kita mengulangi kesalahan dulu. Kamu kita usir seperti Raya. Tapi kami masih punya hati. Kami bahkan ingin membuatmu hidup bergelimang harta, kamu sendiri yang gak mau. Lagian kamu tadi seperti begitu menikmati kebangkrutan Kakakmu. Kenapa sekarang terbalik? Hahahaha."
"Laras Kau---"
"Tari cukup!" Seru Daffa. "Dengarkan aku, setelah perusahaan membaik dan bisa lepas dari tangan Pak Yandris, kau boleh bercerai darinya. Bahkan saat kau cerai nanti kau akan mendapatkan sebagian dari hartanya," ucap Daffa.
"Apalagi kalau kau mengandung anaknya," tambah Laras.
"LARAS!" Lestari menatap tajam kearah Laras.
Dia pun berlari meninggalkan ruang tengah, masuk kembali ke kamarnya, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Di balik pintu, tangisnya pecah. Untuk pertama kalinya, Lestari benar-benar merasa sendirian. Dan dalam sepinya, dia sadar... betapa berharganya sosok Raya yang dulu mereka sia-siakan.