---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Us
---
Pukul 20.30, Chaeyoung sudah duduk manis di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangan. Rambutnya baru saja dikeringkan, wajahnya sudah dibersihkan dari sisa makeup, dan ia mengenakan piyama favorit—kaos oblong longgar bergambar koala yang dikirim Leon setahun lalu.
Di layar ponsel, aplikasi WhatsApp terbuka dengan chat terakhir dari Leon: "Almost home. Will call you in 15 mins. Can't wait to see you."
Chaeyoung tersenyum membaca pesan itu. Meski baru seminggu Leon kembali ke Australia setelah kunjungan dua minggu, rindu sudah menumpuk begitu dalam. Ia membuka galeri foto, melihat-lihat momen-momen selama Leon di sini. Foto mereka berdua saat barbekyu di halaman belakang. Foto Leon yang sedang antusias mencoba sate padang. Foto selfie dengan latar belakang kompleks Griya Asri.
"Chae!"
Suara dari luar membuatnya menoleh. Irene berdiri di balik pagar, melambai-lambaikan sesuatu.
Chaeyoung berjalan ke luar. "Mba Irene? Ada apa?"
"Ini, aku bawain camilan. Tahu isi buatan sendiri." Irene menyodorkan sebuah wadah plastik. "Buat temen video call-an sama Leon."
Chaeyoung tertawa. "Mba Irene ini, tahu aja."
"Ya iyalah. Tiap jam segini kamu pasti on call sama doi. Jadi aku bawain camilan biar makin asyik." Irene tersenyum. "Leon kabarnya gimana?"
"Baik. Udah sampai rumah katanya. Bentar lagi nelpon."
"Nah, sana siap-siap. Aku balik dulu, Rafa udah nunggu." Irene melambai, lalu berjalan ke rumahnya.
Chaeyoung masuk kembali, meletakkan tahu isi di meja. Tepat saat ia duduk, ponselnya berdering. Panggilan video dari Leon.
"Finally!" Chaeyoung menerima panggilan, dan wajah Leon muncul di layar. Pria itu tersenyum lebar, rambut pirangnya masih sedikit basah—mungkin baru selesai mandi.
"Hey, baby!" sapa Leon dengan antusias.
"Hey, kamu! Udah sampai rumah?"
"Just arrived ten minutes ago. Long drive from the airport." Leon menghela napas. "I miss you already."
"Baru seminggu, Leon."
"I know. But I miss you." Leon menatap layar dengan mata berbinar. "You look beautiful tonight."
Chaeyoung tersipu. "Dasar. Padahal lagi pake piyama jelek."
"It's not ugly. It's the koala shirt I gave you. Looks cute on you."
Mereka tertawa bersama. Percakapan mengalir seperti biasa: Leon bercerita tentang perjalanannya, tentang keluarganya yang menanyakan kabar Chaeyoung, tentang pekerjaannya yang akan mulai besok. Chaeyoung bercerita tentang kegiatannya hari ini, tentang rencana kumpul dengan teman-teman besok, tentang tahu isi pemberian Irene.
"Oh, Irene sent snacks? That's so nice of her."
"Iya. Dia tahu kita bakal video call, jadi sengaja bawain camilan."
"I love your friends, Chae. They're like family to you."
"They ARE family." Chaeyoung tersenyum. "Keluarga pilihan."
Leon mengangguk. "I'm glad you have them. So I don't have to worry about you being lonely."
"Aku nggak pernah kesepian, kok. Tapi..." Chaeyoung menunduk sebentar. "Tetep aja kangen kamu."
Leon tersenyum lembut. "I know, baby. I miss you too. But we only have to wait a few more months, right? Then I'll be there for good."
"Iya. Empat bulan lagi." Chaeyoung menghela napas. "Rasanya lama banget."
"It'll pass. And when I'm there, we'll never be apart again."
Mereka berbincang selama satu jam, sampai mata Chaeyoung mulai berat. Leon menyadarinya.
"You're sleepy. Go to bed."
"Nggak mau. Masih pengen ngobrol."
"Chae, we can talk tomorrow. You need rest."
Chaeyoung menghela napas. "Iya, deh. Kamu juga istirahat. Capek habis perjalanan."
"I will. Good night, baby. Sweet dreams."
"Good night, Leon. Miss you."
"Miss you more."
Mereka mengirim ciuman virtual, lalu panggilan berakhir. Chaeyoung merebahkan diri di sofa, menatap langit-langit. Empat bulan. Rasanya seperti empat tahun.
---
Pagi harinya, Chaeyoung terbangun dengan perasaan sedikit hampa. Biasanya, saat Leon di sini, ia bangun dengan suara Leon yang sudah sibuk di dapur, membuat sarapan ala Australia. Sekarang, hanya ada sunyi.
Ia mengambil ponsel, membaca pesan selamat pagi dari Leon yang masuk sejam lalu. "Good morning, baby. Hope you slept well. I'm off to work now. Thinking of you."
Chaeyoung membalas dengan stiker ciuman, lalu bangun untuk memulai hari.
Di luar, ia melihat Jisoo dan Amora sedang berjalan ke arah rumah Jane. Amora melambai-lambaikan tangan.
"Tante Chae! Tante Chae!"
Chaeyoung keluar, membuka pagar. "Hei, Amora! Mau ke mana?"
"Mau ke rumah Tante Jane! Mau liat perut Tante Jane yang besar!"
Chaeyoung tertawa. "Wah, seru dong. Tante ikut, yuk!"
Mereka berjalan bersama ke rumah nomor 7. Jane sedang duduk di teras, membaca buku tentang kehamilan. Begitu melihat mereka, ia tersenyum lebar.
"Wah, ramai-ramai!" sapa Jane.
"Tante Jane! Amora mau liat!" Amora langsung menghambur ke pangkuan Jane, mengelus-elus perut yang mulai membuncit.
"Pelan-pelan, Sayang," Jisoo mengingatkan.
"Nggak apa-apa." Jane meraih tangan Amora, menempelkannya di perut. "Coba rasakan. Adiknya lagi gerak, nggak?"
Amora mengernyitkan dahi, konsentrasi. "Amora nggak rasa, Tante."
"Nanti kalau udah besar, gerakannya lebih keras. Amora bisa rasain."
Asik mengobrol, Irene datang dengan Rafa, disusul Soo Young dengan sekeranjang sayuran segar dari kebunnya.
"Lengkap sudah," ucap Irene. "Geng istri komplit."
"Kecuali Chaeyoung yang belum jadi istri," goda Soo Young.
Chaeyoung cemberut. "Tante Soo Young!"
Semua tertawa. Jane menepuk tempat di sampingnya. "Sini, Chae. Cerita, semalem video call-an sama Leon?"
Chaeyoung duduk, menghela napas. "Iya. Dia udah sampai rumah. Kerja lagi mulai hari ini."
"Kok keliatan kurang semangat?" tanya Irene jeli.
Chaeyoung diam sejenak. "Aku... kadang ngerasa capek, Mba. LDR ini berat. Apalagi pas Leon udah balik, rasanya rumah jadi sepi banget."
Mereka saling pandang. Jisoo meraih tangan Chaeyoung.
"Chae, kita ngerti kok rasanya. Waktu almarhum Dika dinas luar kota berbulan-bulan, aku juga ngerasa gitu."
"Tapi kalian selalu ada buat aku," ucap Chaeyoung lirih. "Makasih, ya."
"Eh, jangan nangis dulu," Irene menggelitik pinggang Chaeyoung. "Nanti Amora tanya lagi kenapa nangis."
Chaeyoung tertawa, mengusap matanya yang sedikit basah. "Iya, iya."
Amora yang sedari tadi asik memainkan boneka, tiba-tiba berkata, "Tante Chae, Om Leon orangnya baik. Amora suka. Kapan Om Leon main lagi?"
"Empat bulan lagi, Sayang."
"Lama banget. Tapi Amora tungguin, ya!"
Chaeyoung tersenyum. "Makasih, Amora."
---
Sore harinya, setelah acara kumpul selesai, Chaeyoung pulang ke rumah sendiri. Rumah yang terasa begitu luas dan sunyi. Ia duduk di sofa, menyalakan televisi hanya sebagai pengisi suara.
Ponselnya berdering. Bukan video call, tapi pesan teks dari Leon.
"I have a surprise for you. Check your email."
Chaeyoung mengerutkan dahi, membuka email. Ada satu pesan baru dari maskapai penerbangan dengan subjek: "Your Flight Itinerary"
Ia membukanya, matanya membelalak.
Tiket pesawat pulang-pergi Jakarta-Sydney. Atas nama Park Chaeyoung. Untuk bulan depan.
"What is this?!" balas Chaeyoung cepat.
Panggilan telepon masuk dari Leon. Ia menerimanya.
"CHAEEEE!" teriak Leon di ujung telepon. "You're coming to Australia!"
"Leon, apa-apaan ini? Tiket mahal!"
"I don't care. I want you to meet my family. And I want to show you my world." Suara Leon lembut. "I know LDR is hard. So I want to make it a little easier. You come here next month, spend two weeks with me. I'll take you around Sydney. Meet my parents, my sister, my friends."
Chaeyoung menangis. Bukan sedih, tapi haru.
"Leon... kamu ini..."
"Don't cry, baby. This is supposed to make you happy."
"Aku happy. Aku happy banget." Chaeyoung tertawa lewat isak tangisnya. "Makasih, Leon. Makasih banyak."
"Anything for you. You know that."
Mereka berbicara lama, merencanakan perjalanan itu. Leon dengan antusias menyebutkan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi: Opera House, Bondi Beach, Blue Mountains. Chaeyoung mendengarkan dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya.
Setelah telepon berakhir, Chaeyoung langsung berlari ke rumah Irene.
"Mba Irene! Mba Irene!"
Irene membuka pintu dengan kaget. "Chae? Kenapa? Ada apa?"
"Aku mau ke Australia! Bulan depan! Leon kasih tiket!"
Irene terbelalak, lalu berteriak, "ELGI! RAF! KELUAR! ADA KABAR GEMBIRA!"
Tak lama, Elgi dan Rafa keluar. Irene menyebarkan kabar dengan cepat. Dalam hitungan menit, berita itu sampai ke semua rumah. Jane dan Mario datang. Soo Young dan Endy datang. Jisoo dan Amora datang. Semua berkumpul di teras rumah Irene, merayakan kabar gembira Chaeyoung.
"Wah, Chae, kamu bakal ketemu keluarga Leon!" seru Jane.
"Iya, nggak nyangka banget."
"Bawa oleh-oleh banyak-banyak!" goda Soo Young.
"Pasti! Khas Indonesia semua!"
Amora menarik tangan Chaeyoung. "Tante Chae, nanti Amora titip boneka koala, ya!"
Semua tertawa. Chaeyoung menggendong Amora. "Iya, Sayang. Nanti Tante beliin koala besar buat Amora."
"Asik!"
Malam itu, di teras rumah Irene, mereka merayakan dengan sederhana: minum teh hangat dan makan camilan sisa arisan. Tapi bagi Chaeyoung, ini adalah perayaan terindah. Dikelilingi oleh orang-orang yang peduli, yang selalu ada, yang ikut bahagia atas kebahagiaannya.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Leon: "Tell your friends thank you for taking care of you. I can't wait to have you here."
Chaeyoung membalas: "They say thank you too. And I can't wait to be there."
Di langit, bintang-bintang mulai terlihat samar. Chaeyoung menatapnya, tersenyum. Jarak mungkin memisahkan, tapi cinta dan sahabat sejati akan selalu menemukan cara untuk mendekatkan.
Empat bulan terasa lama. Tapi dengan kejutan seperti ini, dan dengan sahabat seperti mereka, Chaeyoung yakin ia bisa melewatinya.
---