Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyelidikan
Sugeng terus menunggu pembakaran barang bukti itu, ia sangat berhati hati jangan sampai tersisa sedikitpun.
Sebelum meninggalkan rumah itu Sugeng sedikit berpikir dan mengulas kembali adakah hal yang masih tertinggal? Ia tidak mau membuat kesalahan yang membuat dia berakhir di jeruji besi, sedetail dan sekecil apapun itu ia akan berusaha sebersih mungkin. Ia tak pernah meremehkan kesalahan sekecil apapun.
"Kurasa sudah tak ada celah kesalahan, polisi tidak mungkin menemukan barang bukti apapun, mbah Suro juga belum memberitahu Budi tentang dirinya yang hendak menyelidiki diriku, polisi tak akan menemukan sidik jariku, hanya gorden yang aku pegang dan sudah aku bakar. Setahu polisi mbah Suro tewas karena terkena bekas jeratan tali tambang itu yang membekas di lehernya....
Budi pasti panik ketika mendengar berita kematian ayahnya, dia pasti teringat dengan ancamanku yang hendak membunuh anaknya, dia pasti akan meninggalkan desa ini sesegera mungkin. Dan kemungkinan besar Budi tidak akan berani menjelaskan masalah ini kepada polisi atau siapapun, ia pasti akan lebih mementingkan nyawa keluarganya. Karena dia sudah melihat kematian ayahnya yang tak wajar, hmm kurasa aku bersih."
Setelah merasa semua hal aman terkendali dan tak ada suatu hal yang terlewati, ia kemudian bergegas pulang. Di rumah Sugeng tak dapat tidur, tangannya masih sedikit tremor.
Ingin rasanya ia berkumpul di pos ronda bersama beberapa warga, tetapi ia melihat punggung tangannya yang masih mengecap bekas tali tambang. Ya jeratan tali tambang itu sangat kuat hingga membekas di tangannya.
"Mungkin besok sudah hilang, untuk saat ini aku tidak perlu keluar rumah." Batin Sugeng.
Pagi harinya Sugeng termenung di belakang rumah, tampak raut wajah kegelisahan dan kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Ia begitu mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur.
Ia melihat telapak tangan dan punggung tangannya yang sudah tidak membekas jeratan tali tambang..
Niuuu... niuuuu.... niiuuuuu....
Terdengar sirine mobil polisi memecah keheningan pagi.
"Cepet amat mereka tau kalau mbah Suro udah mati? Kan dia tinggal sendirian?" Batin Sugeng.
"Wei Geng!!! Lihat yuk kesana! Ada tragedi pembunuhan!" Teriak Fatur dari atas sepeda motornya dari jalan samping rumahnya.
"Pembunuhan?" Tanya Sugeng berpura pura.
"Iya ada yang mati di bunuh di desa sebelah. Mbah Suro geng, di kebun karet itu. Rame Geng ayok kesana lihat lihat, aku bonceng."
"Oke... oke..." Sugeng langsung memakai sandal dan ikut dengan Fatur.
"Kamu tau dari siapa Tur?" Tanya Sugeng.
"Dari grup fb."
"Lah? Kapan di bunuhnya? Di rampok apa gimana Tur, kronologinya?"
"Ngga tau, kayaknya ngga di rampok, ngga ada apa apa di rumah itu Geng, pagi tadi yang kerja nderes kebun karet itu yang nemuin mbah suro pertama kali mati terbunuh. Kan dia nderes getah karet pagi habis subuh, selesai nderes karet dia lihat pintu belakang rumah mbah Suro kebuka, ya dia kan biasa masuk rumah mbah Suro ya dia masuk masuk aja, ceritanya kayak begitu makanya dia yang pertama lihat Mbah Suro meninggal."
"Oh brati mobil polisi tadi mau kesana ya Tur?"
Roda dua motor matic Fatur melaju menerobos jalanan desa berbatu. Fatur tidak sabar melihat tragedi itu. Tak lama kemudian mereka sampai, ratusan warga sudah mengelilingi rumah tersebut. Tampak garis kuning polisi membentang mengelilingi rumah tersebut.
Di sana Fatur dan Sugeng bertemu dengan Pak RT di desa mereka..
"Mayatnya di mana Pak?" Tanya Fatur..
"Lagi di bawa ke RSUD, mau di autopsi katanya, siang baru di anterin lagi buat pemakaman." Jawab Pak RT.
"Lah terus kalian berdua ngapain di sini?"
"Ya itu nonton polisi lagi menyelidiki, mungkin ada barang bukti..."
"Terlihat dua polisi memperhatikan tali tambang jemuran yang putus.
"Mungkin dengan tambang ini dia menjerat leher korban." Ucap Salah satu polisi.
"Benar, pola tambang dan ketebalannya sama persis dengan yang membekas di leher korban."
"Kita ngga ada barang bukti pasti, dia membuang barang bukti itu.. hmm ngga ada petunjuk, hanya bekas telapak sendal yang ada ukuran... di lihat dari ukurannya adalah laki-laki dewasa, ini jenis telapak sendal jepit.. ini ngga bisa di jadikan barang bukti, banyak orang di desa ini yang memakai sendal jepit jenis ini. Lalu apa motif pelaku membunuh korban? Tak ada keterangan sama sekali dati pihak keluarga."
"Korban di kenal sebagai orang pintar, mungkin korban memiliki banyak musuh.. atau ada orang yang pernah di rugikan olehnya. Jelas ini motif balas dendam." Sahut rekan polisi lainnya.
"Pak ada laporan dari warga sekitar, bahwa jam setengah tujuh malam korban kedatangan tamu seorang pria yang membawa mobil." Sahut rekan lainnya yang baru datang menghampiri.
"Cari orang itu, dan tanyakan apa maksud kedatangannya!"
"Yang datang adalah Pak Wanto, pak."
"Pak Wanto?"
"Pemilik warung tenda deket pasar itu pak, yang katanya semua uangnya hilang di curi babi ngepet."
"Oh.. iya iya.. ayo kita kerumahnya."
Beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam mobil dan meluncur kerumah Wanto. Saat itu Wanto masih di rumah, ia sudah menduga akan kedatangan polisi karena ia sudah tau berita kematian mbah Suro.
Di ruang tamu Wanto dan beberapa polisi duduk mengobrol di temani kopi.
"Jadi gini Pak Wanto, kami mau bertanya kepada anda.. emm.. apakah semalam anda pergi kerumah Mbah Suro yang ada di desa pener?"
"Iya bener pak."
"Jam berapa anda kesana?"
"Abis maghrib."
"Ada keperluan apa anda kesana?"
"Saya hanya ingin meminta bantuan soal kasus saya sendiri yang kehilangan uang. Hanya itu saja tidak lebih."
"Hmm... anda ngga melihat ada orang lain yang datang kerumah itu selain anda?"
"Emm... setelah saya pulang saya papasan sama laki-laki seumuran saya di halaman rumah mbah Suro pak, dia bawa dua anak kecil dan bawa motor. Habis itu ya saya ngga tau, saya keluar dari rumah itu sekotar jam tujuh." Jelas Wanto.
Para petugas kepolisian saling pandang.
"Anda kenal siapa yang datang itu?"
"Nggak pak, mungkin dari desa sana. Kalau dari sekitaran sini ya saya pasti kenal."
"Sepeda motornya merek apa Pak?"
"Saya ngga paham merek, motornya kayak motor sawah gitu jelek ngga bagus yang biasa di pakai buat ngarit (cari rumput). Emm oh iya... motor itu ngga ada lampunya, dia pakai senter kepala gitu pak buat penerangan jalannya."