NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah penawar

"Aku membutuhkannya untuk membantu kerajaanku agar lebih berkembang. Membuat bangsa siluman semakin kuat,"

Raja sengaja membual agar terhindar dari kecurigaan. Tapi ucapannya malah membangkitkan amarah seseorang,

"Dasar siluman licik! Berani-beraninya kamu memanfaatkan Bima."

"Raja, semuanya sudah siap." celetuk para kalong yang baru saja datang memberi kabar,

"Ternyata kita salah sangka. Ya sudah, lebih baik kita kembali, di sini terlalu bahaya!"

"Bagaimana kalau manusia itu mengamuk dan menyerang kita?" ajak Seri berbalik pergi.

Raja berhasil mengelabui mereka, meski harus terjebak dalam masalah lain. Dia terdiam sejenak mencari cara untuk membujuk Ratih,

Jangan sampai dia membuat ramuan aneh yang bisa membahayakan banyak nyawa.

"Terserah kamu menilaiku seperti apa. Tapi aku tidak pernah memaksa Sura...dia sendiri yang ingin tinggal dan mebantuku,"

"Bohong!" bentak Ratih semakin meledak,

"Itu, benar! Sura sangat senang tinggal disini." sanggah Kelelawar antusias,

"Kalau tidak percaya tanyakan sendiri." tawar Raja tak ragu menyodorkan tubuh pria yang digendongnya,

"Apa kamu gila? Mana mungkin aku bertanya pada orang sekarat," menggigit bibir bawah,

Ratih merasa kesal sekaligus terpuruk menatap keadaan pria yang begitu mengenaskan.

"Kamu benar. Karena itu, bantu aku untuk menyelamatkannya! Setelah Sura sadar... kamu bisa bertanya sendiri,"

"Kamu seorang tabib yang hebat."

"Kalau bisa membuat racun, kamu pasti bisa membuat penawarnya. Itu yang tadi Sura bisikkan kepadaku,"

"...?" Ratih tertegun sejenak, sulit mempercayai.

Namun perkataan tadi...hanya pria itu yang tahu. Jadi Raja tak mungkin berbohong,

"Antarkan aku kesana." lugas Ratih mengambil keputusan yang membuat Raja tersenyum girang,

"Kele, lawar antarkan dia. Bantu dia membuat penawar racunnya,"

Keesokan hari...

Dibalik jeruji besi tampak Ratih yang tengah duduk termenung, menatap jendela kecil di atas sana. Memperlihatkan langit biru,

Setelah berhasil membuat penawar, Ratih dikurung dengan ranjang keras dan makanan sederhana seperti tawanan pada umumnya.

Wajah Ratih tampak lesu, kerutan disekitar mata tampak lebih jelas, matanya memerah karena menangis.

Kelopaknya membengkak, dia sempat terlelap namun kembali terjaga, semalaman menunggu kabar dari luar.

"Penawarnya berhasil." celetuk Anubis menatap punggung,

"Dia sudah sadar...kamu berhasil menyelamatkannya,"

Ratih langsung menoleh girang, berharap untuk dipertemukan. Namun siluman itu hanya diam memandanginya dengan wajah iba,

"Kenapa? Menyerah saja, kalian tidak akan bertemu lagi."

"A-apa ini? Semalam Rajamu sendiri yang bilang---"

"Kalau kamu boleh menemuinya?" sontak Anubis menyela ucapan,

"Kasihan sekali. Semua manusia memang bodoh! Apa kamu pikir Raja akan menepati janji?" dusta Anubis sengaja memperkeruh,

Sebenarnya Raja memberi titah untuk membawa Ratih ke kamar Sura, supaya dia bisa menjenguk dan berbincang sendiri.

Tapi Anubis bertindak sesuka hati. Melihat betapa pedulinya wanita itu terhadap Sura, membuatnya tak tahan untuk segera menyingkirkan Sura dari sisi Raja,

"Raja kami terkenal sangat kejam dan licik. Aku kesini memang atas perintahnya,"

"Tapi bukan untuk mempertemukan kalian. Melainkan, membunuhmu!"

"Tapi...tapi semalam," Ratih menggeleng tak percaya.

"Kalian berdua sama-sama bodoh," Anubis terkekeh singkat,

"Apa kamu tahu, kenapa Raja sangat ingin menyelamatkan nyawa Sura?"

"Dia punya tubuh istimewa,"

"Jarang ada manusia sepertinya. Dia punya daya sihir dan kekuatan besar,"

"Dia adalah tumbal berharga bagi Raja. Setelah memakannya Raja akan bertambah kuat,"

"Dan tumbal itu harus dimakan secara hidup-hidup."

"Tidak! Sialan!" pekik Ratih mengguncang pagar besi,

Wajahnya memerah dibuat kesetanan mendengar bualan Anubis yang terus menjelek-jelekkan Raja.

"Beraninya---beraninya, siluman itu membohongiku! Argh!!"

"Hust! Berhenti berteriak, jangan sampai Raja tahu kalau kamu masih hidup." bisik Anubis langsung menenangkan,

"Tenang saja, aku pasti membantumu keluar dari sini..."

Ratih tertegun menyipitkan mata, kewaspadaannya meningkat.

"Apa maumu? Kenapa kamu membantuku,"

Tak ingin dibohongi lagi, kali ini dia menagih penjelasan logis. Apa sebenarnya yang ada di kepala Anubis?

"Aku ingin kamu menjauhkan pria itu dari Raja." memasang wajah datar,

"Raja sudah sangat kuat, jika Raja mendapat kekuatan lain...entah apa yang akan terjadi,"

"Bangsa siluman takut, Raja bertindak semena-mena lalu menghancurkan bangsanya sendiri!"

"Itulah kenapa, aku ingin dia pergi dari sini." imbuh Anubis begitu lihai merangkai kata,

"Tapi, tidak mudah kabur dari sini. Penjagaan diluar pasti sudah diperketat," Ratih bergumam sendiri.

"Biar aku siapkan kuda untukmu. Bawalah pergi sejauh mungkin!"

Anubis tak kenal henti, terus menjejali ide buruk, matanya menunjukkan keyakinan yang berhasil menipu Ratih.

Seakan ada tangan mulia yang hendak menuntun, dengan polos Ratih mendekatkan telinga pada jeruji besi dan menerima setiap bisikan dari mulut Anubis.

"Ikuti semua ucapanku. Kalau tidak, Sura takkan mau pergi bersamamu..." imbuhnya memutar kunci pada gembok penjara.

"Baiklah," Ratih mengangguk tanpa ragu melangkah keluar.

Kakinya berjalan cepat, menoleh singkat memberi senyuman pada siluman yang masih berdiri disana.

"Terima kasih,"

"Sama-sama...Hh!" lugas Anubis menerbitkan senyum licik,

Menatap punggung wanita yang telah menghilang dari pandangan.

Tawanya semakin lebar, kegirangan membayangkan satu-persatu rencananya berjalan mulus.

"Setelah ini, tidak akan ada lalat yang hinggap di sekitar Raja."

Disisi lain...

Di bawah terik mentari, tampak Sura tengah berdiri menyirami bunga-bunga bermekaran di kebun miliknya.

"HACIM!! Ah...gatal sekali," cicit Sura menggosok cepat bawah hidungnya.

Lanjut mengambil gunting tajam yang terselip di sela celana. Tubuhnya berjongkok dan memangkas batang serta daun yang telah mengering,

"Selamat pagi, Sura..."

Sura menoleh, membalas dengan senyuman pada 3 pelayan langganan yang selalu melihatnya setiap pagi.

"Apa wajahku semakin tampan?" batin Sura, menepuk bergantian pipi kanan dan kirinya.

Terheran melihat angka-angka di atas kepala mereka. Entah apa yang membuat rasa suka pelayan meningkat menjadi 100%,

Mata mereka membulat, memancarkan binar cemas ke arah Sura.

"Seluruh istana lagi heboh soal penyusup yang ditangkap semalam. Kata pengawal kamu hampir mati karena racun milik penyusup itu,"

"...?" Sura berjalan menghampiri,

"Tidak kusangka, berita semalam akan menyebar secepat ini." batinnya menggaruk kepala yang tak gatal,

"Bagaimana kondisimu sekarang?"

Seperti teman akrab, wajah mereka tampak risau meraih lengan pria yang berdiri di depannya.

"Hehe...aku baik-baik saja," Sura tertawa ringan.

"Aku sangat khawatir, syukurlah kamu selamat."

"Aku juga. Tapi aku percaya kalau kamu tidak akan mati," imbuh yang lain memberi tatapan manja sembari membelai lengan kekar Sura.

"EHHH?!" Sura memekik dalam hati,

"Iya, benar. Dilihat-lihat tubuhmu keras juga, bahkan dadamu lebih besar dari pengawal istana..."

"Tu-tunggu, a---apa yang sedang kalian lakukan?" ucap Sura terbata-bata, berusaha menepis sentuhan yang menggerayangi tubuh.

Dibuat tersentak sebab 3 wanita yang merangkulnya. Mereka tak ragu menempelkan tubuh seakan ingin menggoda Sura,

Tubuh Sura mematung saat ketiganya menggosokkan kepala, bersandar manja seperti hewan jinak kepada pemiliknya.

"Mm, sebenarnya..."

"Kami juga sudah dengar soal pertandingan kemarin."

1
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Anonymous
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!