NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STRATEGI FARID

Matahari baru saja naik sepenggalah, namun suasana di kediaman Kyai Abdullah sudah terasa panas. Deru mesin mobil sedan mewah berwarna putih menggilas kerikil di halaman masjid dengan angkuh.

Gus Farid turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Di belakangnya, seorang sopir berseragam safari membawa tas jinjing kulit.

Hafiz, yang sedang menyapu sisa-sisa dahan patah akibat badai semalam, hanya menatap datar. Ia tahu, ketenangan pagi ini hanyalah pembukaan dari serangan yang lebih besar.

Farid berjalan melintasi halaman tanpa menyapa Hafiz sedikit pun. Baginya, Hafiz hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatu mahalnya.

"Assalamu’alaikum, Kyai!" suara Farid menggelegar penuh percaya diri saat memasuki teras rumah.

Kyai Abdullah keluar dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Beliau masih teringat pemandangan semalam, pemandangan Hafiz yang berjuang mengeja ayat Tuhan di tengah dinginnya malam.

"Wa’alaikumsalam, Gus. Mari, silakan masuk," sambut Kyai Abdullah pelan.

Farid duduk dengan kaki bersilang, menunjukkan dominasi. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk meletakkan tas jinjing itu di atas meja kayu Kyai.

"Saya tidak suka basa-basi, Kyai," ucap Farid sambil membuka tas tersebut. "Di dalam sini ada dana segar lima ratus juta rupiah. Tunai."

Mata Kyai Abdullah membelalak sesaat melihat tumpukan uang berwarna merah yang tersusun rapi itu. Baginya yang mengelola pesantren kecil, jumlah itu adalah angka impian.

"Ini bukan sedekah biasa, Kyai. Saya ingin membangun kompleks pesantren modern tepat di sebelah masjid ini," lanjut Farid dengan nada menggebu-gebu.

"Gedung asrama tiga lantai, laboratorium komputer, dan aula serbaguna. Semuanya akan saya tanggung secara pribadi."

Kyai Abdullah terdiam, jemarinya yang keriput mengusap tasbih dengan lebih cepat. Tawaran ini adalah solusi bagi mimpi-mimpinya selama dua puluh tahun terakhir.

"Tentu saja, pembangunan ini butuh pengelolaan yang serius," Farid menatap tajam ke arah Kyai Abdullah.

"Saya ingin pesantren ini dikelola oleh keluarga yang sevisi. Dan saya pikir, tidak ada yang lebih pas selain jika kita menyatukan keluarga besar kita."

Skakmat. Kyai Abdullah mengerti arah pembicaraan ini bukan lagi soal pendidikan, tapi soal Zahra.

Farid tersenyum tipis melihat keraguan di wajah Kyai. Ia mengeluarkan selembar berkas legal dari sakunya dan meletakkannya di samping tumpukan uang.

"Ayah saya sudah merestui. Beliau ingin Zahra menjadi menantunya, pendamping saya untuk memimpin imperium dakwah ini."

"Tapi Gus, Zahra masih..." Kyai Abdullah mencoba menyela, namun Farid mengangkat tangannya dengan sopan tapi tegas.

"Zahra butuh kepastian, Kyai. Dia butuh pendamping yang jelas masa depannya, jelas nasabnya, dan jelas kemampuannya menafkahi."

Farid melirik ke arah luar jendela, ke arah Hafiz yang masih terlihat sibuk bekerja kasar di bawah terik matahari.

Kyai Abdullah mendesah panjang. Beliau menatap tumpukan uang itu.

Di matanya, Farid memang sosok yang nyaris sempurna. Pintar, kaya, anak seorang ulama besar, dan punya visi besar untuk agama.

"Kyai tidak perlu menjawab sekarang," ucap Farid sambil berdiri, merapikan kemejanya yang tidak kusut sedikit pun.

"Tapi ingat, para tukang dan kontraktor saya sudah siap bergerak besok lusa. Dana ini juga hanya tersedia jika kita sudah satu kesepahaman."

Farid berpamitan kemudian berjalan keluar dengan langkah kemenangan. Ia berhenti sejenak tepat di depan Hafiz yang sedang memikul tumpukan kayu lapuk.

"Dunia ini milik mereka yang punya kuasa, bukan yang punya air mata."

Hafiz hanya diam, otot lehernya menegang menahan amarah yang hampir meledak. Ia menatap punggung Farid yang berjalan menjauh menuju mobil mewahnya.

Dari balik jendela, Zahra berdiri mematung. Air matanya menetes mendengar ayahnya tidak langsung menolak tawaran lamaran itu.

Zahra tahu ayahnya sedang goyah. Logika sang Kyai mulai dikalahkan oleh kebutuhan pesantren yang sudah hampir bangkrut.

Hafiz melihat Zahra dari kejauhan. Tatapan mereka bertemu, penuh dengan rasa sakit yang sama namun tak terucapkan.

Hafiz meletakkan kayunya dengan keras ke tanah. Insting CEO-nya berteriak bahwa ia sedang berada di titik nadir.

Jika ia tidak melakukan sesuatu yang spektakuler dalam 48 jam ke depan, ia akan kehilangan Zahra selamanya.

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju gudang belakang. Di sana, kotak-kotak ulat kandangnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang masif.

"Kalian harus jadi emas sekarang juga," desis Hafiz sambil menyemprotkan air ke media ulatnya.

Ia mengambil ponsel jadulnya dan mencari satu nomor yang selama ini ia hindari—nomor mantan asisten kepercayaannya di kota.

Hafiz tahu ia melanggar janjinya untuk tidak berhubungan dengan masa lalunya, tapi ini keadaan darurat militer.

"Halo, Anton? Ini aku," ucap Hafiz saat sambungan terhubung. "Cari tahu pembeli ulat kandang terbesar di Jawa Barat. Aku butuh ekspor, bukan eceran."

Di ujung telepon, Anton terdengar kaget sekaligus senang mendengar suara bosnya kembali. "Siap, Bos! Tapi untuk apa?"

"Untuk membeli kembali harga diriku," jawab Hafiz singkat sebelum mematikan telepon.

Hafiz tidak tahu bahwa Kyai Abdullah baru saja keluar dari rumah dan berjalan menuju ke arahnya.

Kyai Abdullah menatap Hafiz dengan pandangan yang sulit diartikan—antara kasihan dan tuntutan realita.

"Hafiz, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Kyai dengan nada yang sangat berat.

Hafiz berbalik, hatinya berdegup kencang. Ia tahu pembicaraan ini akan menentukan hidup dan matinya di desa ini.

"Tentang tawaran Gus Farid tadi..." Kyai Abdullah menggantung kalimatnya, menatap ke arah masjid yang atapnya mulai bocor.

"Aku merasa... mungkin memang sudah saatnya Zahra memiliki imam yang bisa melindunginya secara lahir dan batin."

Dunia Hafiz seolah runtuh mendengarnya. "Kyai, saya baru mulai. Beri saya waktu dua minggu seperti janji saya."

Kyai Abdullah menggeleng lemah. "Masalahnya, dua hari lagi keluarga besar Farid akan datang untuk acara resmi. Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi."

Dua hari. Waktu Hafiz dipangkas habis dari dua minggu menjadi hanya empat puluh delapan jam.

Ini bukan lagi persaingan, ini adalah eksekusi mati bagi perasaannya.

"Dua hari, Kyai? Itu mustahil," bisik Hafiz dengan suara yang bergetar.

"Tidak ada yang mustahil bagi Allah, tapi realita juga harus kita hadapi, Nak," balas Kyai sebelum berjalan pergi meninggalkan Hafiz yang terpaku.

Hafiz mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia menatap ke arah gudang, lalu ke arah rumah Kyai.

Ia tidak punya waktu untuk menangis. Ia harus memutar otak secepat kilat.

Tiba-tiba, seorang pria datang mencari Hafiz, pria pernah bertemu Hafiz di pasar saat Hafiz mencari sisa-sisa sayur. "Mas Hafiz, ada kolektor burung kicau dari Jakarta. Dia butuh pakan ulat kualitas tinggi dalam jumlah besar sore ini untuk dibawa ke Jakarta. Dia berani bayar tinggi"

Mata Hafiz berkilat. Ini adalah celah kecil yang diberikan Tuhan di tengah kepungan musuh.

Tapi masalahnya,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!