Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Disiplin di Lapangan Terbuka
Setelah insiden di tengah lapangan tadi, atmosfer di dalam GOR mendadak terasa berbeda. Justin berjalan menuju ring di ujung sebelah kanan, jauh dari posisi Liana. Ia melakukan shooting berkali-kali dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya, seolah-olah sedang berusaha mengusir sisa kehangatan yang tadi sempat singgah di dadanya saat Liana berada di pelukannya.
Liana sendiri masih berdiri terpaku di ring sebelah kiri. Jantungnya belum juga mau melambat. Ia mencoba mendribel bola, tapi pikirannya melayang. Gila, Liana. Lo baru aja jatuh di atas tubuh Kapten Basket paling dingin se-kampus!
"LIANA!"
Suara cempreng itu memecah lamunan Liana. Dhea berjalan masuk ke GOR dengan napas sedikit tersengal, tas ranselnya tersampir miring di bahu.
"Sori, sori! Tadi dari perpus nyari referensi buku Pak Bram, eh malah keasyikan baca komik di pojokan," seru Dhea sambil nyengir. Matanya kemudian tertuju pada sosok tinggi di ujung lapangan kanan. "Eh, ada Kak Justin! Rajin banget dia."
Dhea yang memang aslinya tidak punya urat malu itu langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi. "Sore, Kak Justin! Semangat latihannya!"
Justin menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh ke arah Dhea, memberikan anggukan singkat yang sangat formal, lalu kembali fokus pada ring di depannya. Tidak ada senyum, tidak ada kata-kata.
"Duh, irit banget ya itu orang kalau ngomong," bisik Dhea sambil mendekati Liana. "Yuk, kita latihan di sini aja. Lo kenapa mukanya merah gitu? Kepanasan ya?"
Liana gelagapan. "Eh? I-iya, gerah banget di dalem sini. Yuk, fokus latihan aja."
Tak lama kemudian, pintu ruang sekretariat olahraga terbuka. Raka melangkah keluar sambil meregangkan otot-otot tangannya. Ia bersiul kecil mengikuti irama lagu yang baru saja berganti di dalam sana. Ternyata, dialah sang "pelaku" yang memutar lagu Polaroid milik Jonas Blue tadi—meskipun sekarang lagunya sudah berganti menjadi beat yang lebih kencang untuk membakar semangat.
"Woi, Tin! Udah mulai panas ya?" seru Raka sambil menyambar bola basket lain dan bergabung dengan Justin di ring sebelah kanan.
Kini, GOR itu diisi oleh empat orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Di sebelah kanan, duet maut Justin dan Raka menunjukkan level permainan yang luar biasa. Duk. Duk. Swish! Hampir setiap bola yang dilempar Justin masuk tanpa cela. Di sebelah kiri, Liana dan Dhea mencoba mengimbangi dengan latihan passing dan shooting dasar.
Setelah hampir tiga puluh menit berlatih tanpa henti, Dhea akhirnya menyerah. "Aduh, Li... Napas gue mau putus. Istirahat bentar yuk!"
Liana mengangguk setuju. Peluh sudah membasahi dahi dan lehernya. Mereka berdua berjalan menuju pinggir lapangan, duduk di bawah tiang ring dengan botol minum di tangan. Dari posisi itu, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua senior mereka berlatih.
Justin sedang melakukan dunk. Ia berlari, melompat tinggi, dan menghantamkan bola ke dalam ring dengan kekuatan yang luar biasa. Kaus latihan hitamnya yang sudah basah kuyup oleh keringat menempel di punggungnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis.
"WOIII! KEREN BANGET KAK RAKA! KAK JUSTIN JUGA GOKIL!" teriak Dhea tiba-tiba, memberikan semangat dengan suara menggelegar.
Raka yang dasarnya memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi langit langsung berbalik, memberikan pose "V" dengan jarinya sambil mengedipkan sebelah mata. "Gue emang keren dari lahir, Dek! Makasih dukungannya!"
Justin, di sisi lain, hanya melirik sekilas ke arah bangku tempat mereka duduk. Matanya sempat tertuju pada Liana. Namun, begitu mata mereka bertemu, Liana langsung membuang muka ke arah lain, berpura-pura sangat sibuk memeriksa tali sepatunya. Rasa malu akibat kejadian jatuh tadi masih menghantuinya.
Justin tidak peduli. Ia kembali berbalik dan melanjutkan latihannya seolah tidak terjadi apa-apa. Baginya, disiplin adalah segalanya, dan perasaan canggung tidak boleh mengganggu performanya di lapangan.
Jam di dinding GOR menunjukkan pukul empat sore tepat. Suara peluit panjang terdengar dari arah lapangan terbuka di depan gedung fakultas. Itu adalah tanda bahwa latihan perdana secara resmi dimulai.
Liana dan Dhea segera merapikan barang-barang mereka dan bergegas menuju lapangan luar. Di sana, sudah ada sekitar tiga puluh mahasiswa baru yang lolos seleksi. Mereka berbaris rapi dalam beberapa barisan.
Di depan barisan, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian olahraga lengkap—beliau adalah Pak Heru, dosen olahraga sekaligus pembina UKM. Dan di sampingnya, berdiri sang Ketua UKM sekaligus pelatih lapangan sore ini: Justin Adhinata.
Wajah Justin saat ini jauh lebih serius daripada saat di dalam GOR tadi. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menyapu seluruh barisan maba dengan tajam. Aura kepemimpinannya begitu terasa, membuat suasana lapangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
"Selamat sore semuanya," suara Pak Heru membuka sesi. "Hari ini adalah latihan perdana kalian. Saya harap kalian tidak kaget dengan porsi latihan yang akan diberikan. Untuk teknis lapangan, sepenuhnya saya serahkan kepada Kapten kalian, Justin."
Justin melangkah maju satu tindak. Suaranya yang berat bergema di lapangan terbuka tersebut.
"Selamat bergabung di UKM Basket Ekonomi. Di sini, kita nggak cuma cari orang yang bisa main basket, tapi orang yang punya mental juara. Siapa pun yang merasa ini cuma buat gaya-gayaan, pintu keluar masih terbuka lebar," ucap Justin tegas.
Liana berdiri di barisan tengah, menatap punggung tegap Justin. Ia bisa melihat bagaimana semua orang menatap Justin dengan rasa kagum sekaligus takut.
"Pemanasan dimulai dengan lari keliling lapangan sepuluh kali. Jangan ada yang jalan. Yang jalan, tambah dua putaran. Raka, pimpin!" perintah Justin dingin.
"Siap, Kapten!" sahut Raka semangat.
Latihan perdana dimulai dengan sangat keras. Liana harus berjuang menahan rasa perih di paru-parunya saat berlari di bawah sinar matahari sore yang masih cukup terik. Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia melihat Justin berdiri di pinggir lapangan, mengamati setiap maba dengan teliti.
Beberapa kali Liana merasa pandangan Justin berhenti padanya. Bukan pandangan meremehkan, tapi pandangan yang menuntutnya untuk terus bergerak. Liana mengepalkan tangannya, memacu kakinya lebih cepat. Ia tidak mau dianggap lemah, apalagi di depan pria yang diam-diam telah mencuri detak jantungnya itu.
Di lapangan terbuka itu, di bawah instruksi tegas Justin dan tawa renyah Raka, Liana menyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Ini bukan lagi soal jatuh secara tidak sengaja, tapi soal bagaimana ia bisa berdiri tegak dan bertahan di dunia yang sama dengan Justin.
Latihan terus berlanjut hingga keringat bercucuran, diiringi suara pantulan bola yang kini memenuhi lapangan fakultas. Dan di antara ribuan detik yang terlewati sore itu, Liana tahu, tatapan Justin adalah motivasi terbesarnya.