Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Solmara
Sunyi.
Benar-benar sunyi. Detak jantung pun tak diizinkan terdengar pada saat itu.
Jawaban Onad membuat Dewa Kegelapan dan Khelgar terdiam. Ucapannya menghantam mereka seperti anak panah yang menancap di tenggorokan.
Untuk sesaat, keduanya seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berbicara.
Beberapa detik berlalu. Dewa Kegelapan menatap Onad dengan sorot mata yang dalam dan sarat murka, cukup untuk membunuh siapa pun hanya dengan satu lirikan.
Tiba-tiba, aura mengerikan memancar dari tubuh Dewa Kegelapan dan Khelgar.
BANG!
Niat membunuh yang tak terbayangkan memenuhi udara di sekeliling mereka, menjalar hingga puluhan kilometer. Berlian pun akan hancur menjadi serpihan halus di bawah tekanan seperti itu.
Onad, yang berdiri tepat di pusatnya, gemetar hebat. Wujud jiwanya berkedip-kedip, seakan terhapus dari keberadaan lalu dipulihkan kembali berulang kali.
Bagi Onad, rasanya seperti mati ribuan kali. Tekanan itu menghancurkan wujudnya dalam sekejap, lalu membangunnya kembali dalam sepersekian detik, hanya untuk mengulang proses yang sama tanpa henti.
Satu menit berlalu dalam siksaan yang terasa meremukkan hati. Akhirnya, Dewa Kegelapan dan Khelgar menarik kembali niat membunuh mereka dan menatap Onad.
Ia bahkan tak sempat membuka mulut untuk menjerit. Tepatnya, dalam satu menit itu ia memang sudah mati ribuan kali. Namun ada kekuatan tak dikenal yang terus mengembalikannya ke kondisi semula.
Onad punya dugaan tentang apa itu. Pasti Dewa Kegelapan yang menggunakan kekuatannya setelah ia menjawab dengan sangat kasar dan tidak sopan.
Dewa Kegelapan mengalihkan tatapannya. Sorot matanya kini jauh lebih redup dibanding sebelumnya. Ia menguasai Kematian dan kegelapan. Tanpa Batas. Ia adalah Dewa Sejati yang mengendalikan salah satu aspek realitas.
Kemudian ia kembali menatap Onad, kali ini dengan kekecewaan yang jelas terlihat.
“Aku belum pernah melihat manusia sebodoh dan seceroboh ini. Bahkan para dewa lain pun tak berani berbicara padaku dengan cara sehina itu. Katakan padaku, manusia fana. Apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan menghapusmu dari keberadaan atau menyiksamu sampai akhir waktu?”
Onad, yang akhirnya bisa menguasai kesadarannya, menatap balik tanpa gentar.
“Terus kenapa enggak lo lakuin aja? Apa lo kira gue pingin hidup? Udahin aja sekalian. Bunuh gue sekarang!”
Jawabannya kembali membuat Dewa Kegelapan dan Khelgar terdiam.
Apakah upaya mereka untuk menundukkannya dengan membuatnya merasakan kematian ribuan kali justru membuatnya kehilangan akal?
Atau rasa sakit dan penderitaan itu telah menghancurkan kewarasannya hingga ia berubah menjadi orang yang ingin mati?
Khelgar, yang sejak Onad berkata kasar pada tuannya sudah kehilangan kata-kata, menatap Dewa Kegelapan seperti seseorang yang baru saja melihat mainan kesayangannya rusak.
“Tuanku, apa Anda yakin tidak sengaja menghancurkan kesadarannya sepenuhnya?” tanya Khelgar hati-hati.
Dewa Kegelapan tampak tersentak. Ia menggerakkan tangannya pelan, menepis dugaan itu.
“Oi, lo nunggu apa lagi? Bunuh gue sekarang juga! Gue muak lihat muka jelek kalian Anjing!” gerutu Onad dengan nada tak puas.
“Jelek apaan, jelek emak lo peang!” sahut Dewa Kegelapan dan Khelgar bersamaan.
Keduanya menatap Onad seperti dia baru saja membunuh anjing kesayangan mereka.
Onad sendiri tercengang. Tadi mereka membunuhnya ribuan kali hanya karena dia dianggap tidak sopan.
Sekarang dua raksasa aneh itu malah membalas dengan hinaan cuma gara-gara dibilang jelek, kenapa tingkah mereka seperti anak kecil?
Apa sebenarnya yang terjadi?
Dia cuma ingin mati lagi dan selesai.
Sesaat kemudian, Dewa Kegelapan menghentikan sandiwara itu dan kembali serius.
“Kenapa kau tidak ingin hidup lagi? Apa karena pengalaman di kehidupanmu sebelumnya?” tanyanya.
“Iya. Siapa yang mau dikasih kesempatan kedua cuma buat diperalat orang lagi? Apa pun yang lo mau gue lakuin, pasti ada harganya, dan jelas enggak bakal menguntungkan buat gue. Terus kenapa gue harus percaya sama omongan lo? Mending enggak usah ribet. Balikin gue jadi mati dan cari orang lain yang emang pingin hidup.”
Wajah Onad tampak bosan.
Dewa Kegelapan dan Khelgar kembali terdiam. Khelgar yang tadinya menahan diri akhirnya ikut bicara.
“Jadi kau benar-benar tidak ingin hidup lagi, manusia fana? Apa kau tidak mengerti kesempatan apa yang Tuanku tawarkan? Tidak semua orang mendapat keajaiban seperti ini.”
“Kalian berdua bego apa gimana? Dari tadi kan gue udah bilang. Biarin gue mati, bangsat! Cari orang lain. Ngapain juga nanya-nanya gue, langsung kirim balik aja!”
“Aku … aku tidak bisa,” akhirnya Dewa Kegelapan angkat suara. Ia menggeleng pelan, berusaha menghindari tatapan Onad.
“Kekuatanku memungkinkanku mengendalikan kematian dan segala sesuatu yang tak memiliki tempat dalam keberadaannya. Aku lahir dari aspek realitas itu sendiri di dunia kami. Paling jauh, aku hanya bisa memanggil jiwa-jiwa mati dari dunia lain sepertimu ke dalam Batas Dunia ini, dan hanya mempertahankan satu jiwa saja. Jiwa-jiwa dari dunia lain terikat pada hukum realitas dunia mereka masing-masing. Bahkan mempertahankan satu jiwa di sini pun menguras kekuatanku dalam jumlah besar.”
Onad menatapnya seakan sedang melihat pembohong. Ia sama sekali tidak puas dengan penjelasan itu. Namun saat ia melirik Khelgar di samping takhta, ekspresi makhluk itu menunjukkan bahwa semua yang dikatakan tadi memang benar.
“Terus kalau gue nolak ngerjain apa pun yang lo mau, lo bakal bunuh gue kan?” tanya Onad dengan nada penuh harap.
“Tidak!” seru Dewa Kegelapan dan Khelgar bersamaan.
“Kenapa?” Onad mengernyit.
“Karena sekarang hanya kau yang bisa kami andalkan. Dan aku tidak bisa lagi memanggil siapa pun selama beberapa ribu tahun ke depan,” jawab Dewa Kegelapan.
“Terus kenapa gue harus peduli? Dari kelihatannya sih ini kerjaan mustahil buat pegawai kantoran biasa kayak gue. Gue enggak pernah hidup dengan keajaiban atau jadi pahlawan. Kenapa justru gue yang lo pilih, dari sekian banyak orang yang bisa lo ambil?”
Pertanyaan itu benar-benar mengganjal. Dewa Kegelapan bisa saja memanggil seseorang yang jauh lebih kuat dan berpengalaman.
Jadi kenapa harus dia?
Dewa Kegelapan terdiam cukup lama, lalu menghela napas berat.
“Karena tugas yang akan kami berikan menuntut seseorang yang sangat waspada dan tidak mudah percaya pada siapa pun. Saat ini, semua perwakilanku dan siapa pun yang pernah bersekutu denganku telah ditandai untuk dibunuh di seluruh dunia Solmara. Termasuk mereka yang dulu melayaniku atau menyembahku melalui Kultus, Kuil, dan Gereja.”
Nada suaranya terdengar lelah dan pahit.
“Aku bahkan seharusnya tidak memanggilmu sendiri. Biasanya, ketika seseorang terpilih dibawa dari dunia lain ke dunia kami, mereka dipanggil oleh Gereja atau Kekaisaran yang menyembah Dewa tertentu dan mengikuti ajaran-ajaran mereka dengan melibatkan ratusan penyihir yang bekerja bersama. Namun semua pengikutku dan siapa pun yang pernah menyembahku telah dimusnahkan lebih dari dua ratus tahun lalu. Sekarang tak ada lagi yang tahu bahwa aku masih ada. Namaku tak lebih dari sekadar mitos di dunia ini,” jelas Dewa Kegelapan.
Onad menatap dua makhluk di hadapannya dengan curiga. Ia masih belum yakin.
“Jadi apa maunya lo? Bangun gereja dan kuil buat lo, nyebarin ajaran lo ke orang-orang, terus balikin kejayaan lo? Maaf aja, gue bukan orang religius.”
Dewa Kegelapan dan Khelgar saling melirik sebelum kembali memandang Onad bersamaan.
“Tidak. Kami tidak akan memintamu melakukan sesuatu yang seribet dan seberat itu. Kami hanya ingin kau membunuh Dewa Iblis,” ucap Dewa Kegelapan dengan nada canggung.
Onad terpaku, seakan disambar ribuan petir sekaligus. Ia tak bergerak dan tak berkata apa-apa. Setengah menit kemudian, amarahnya meledak.
“ANJING LAH KALIAN BERDUA!”