Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu ruang keluarga Wirawan terasa hangat, mereka berkumpul dan bercengkrama bersama.
Ibunya duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya, sesekali memperhatikan Evan yang bermain di karpet dengan mobil-mobilan baru dari kakeknya. Ayahnya duduk di kursi favoritnya, kursi kulit coklat tua yang tidak boleh diganti meski ibunya sudah berkali-kali menyarankan yang baru. Televisi menyala dengan volume rendah.
Elena duduk di sofa dengan teh di tangannya. Suasana seperti itu yang ia rindukan tanpa pernah mengakuinya selama delapan tahun.
"Elena." Ayahnya meletakan ponselnya. "Kontrak dengan Claresta, kenapa kamu tanda tangan?"
Ibunya menatap Elena sebentar dari balik cangkir tehnya.
Elena meniup tehnya pelan. "Karena tidak ada salahnya."
"Tidak ada salahnya." Ayahnya mengulangi dengan nada yang jelas meminta penjelasan lebih.
"PT. Claresta sedang krisis, Yah." Elena meletakkan cangkirnya. "Sudah aku selidiki sebelum pertemuan itu. Arus kasnya bermasalah sejak dua kuartal lalu, beberapa klien besar mereka cabut kontrak. Clara butuh nama Wirawan untuk meyakinkan investornya bahwa perusahaannya masih layak dipercaya." Ia menatap ayahnya. "Dia yang butuh kita. Bukan sebaliknya."
"Lalu?"
"Kalau dia tidak bisa memenuhi kontrak sampai tenggat waktu yang sudah kita sepakati," Elena mengangkat bahunya sedikit, "manajemen PT. Claresta jatuh ke tangan Wirawan Group. Semua asetnya, semua kliennya, semua yang sudah dia bangun."
Ruangan itu hening sebentar.
Ayahnya menatap anaknya lama antara bangga dan tidak percaya bahwa ini anak yang sama yang delapan tahun lalu pergi tanpa membawa apapun demi lelaki yang tidak punya apa-apa.
"Kamu yakin dia tidak akan bisa memenuhi tenggat waktu itu?"
"Sangat yakin." Elena mengambil tehnya lagi. "Kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan. Kecuali ada keajaiban."
Ibunya meletakkan cangkirnya pelan. "Elena." Suaranya lembut. "Kamu baik-baik saja?"
Elena menatap ibunya.
"Baik-baik saja, Bu." Elena menjawab. "Benar-benar baik-baik saja."
Ibunya menatapnya sebentar lagi. Lalu mengangguk pelan.
"Nenek." Evan menghampiri neneknya dan memanjat sofa. "Mobilnya bisa ngebut tidak kalau di lantai sini?"
"Coba saja."
"Tapi nanti nabrak kaki meja."
"Itu masalah mobilnya." Ibunya menariknya duduk di sampingnya. "Bukan masalah nenek."
Ayahnya menghela napas dari balik ponselnya. "Itu namanya logika yang meragukan."
"Kakek tidak ditanya." Ibunya menjawab santai.
Elena hampir tersenyum. Evan bersandar ke neneknya dengan santai seperti ia sudah melakukan itu seumur hidupnya. Ibunya memeluknya dengan cara yang natural, cara seorang nenek yang sudah menunggu terlalu lama untuk bisa melakukan ini.
Elena menatap mereka berdua. Ada sesuatu yang hangat di dadanya.
Lalu pembantu mereka muncul dari arah pintu dengan tangan di depan perutnya.
"Maaf mengganggu, Pak. Bu. Ada tamu di depan. Seorang laki-laki. Katanya suaminya Nyonya Elena."
Ruangan itu hening seketika. Evan mendongak dari pangkuan neneknya. Matanya langsung mencari wajah ibunya.
Elena meletakkan cangkir tehnya pelan. Lalu berdiri.
"Aku yang keluar."
"Elena." Ayahnya bergerak dari kursinya.
"Ayah di sini saja." Elena memotong tenang. Ia menatap ayahnya.
Ayahnya duduk kembali. Rahangnya mengeras tapi ia duduk.
"Bu." Evan memanggil.
Elena menoleh.
Evan menatapnya dengan mata yang sudah tahu siapa tamu di luar itu bahkan sebelum diberitahu. "Ibu jangan lama-lama."
Elena menatap anaknya sebentar. Mengangguk sekali. Lalu berjalan ke pintu.
Adrian berdiri di teras depan dengan tangan di saku celananya.
Masih memakai kemeja yang sama dari tadi siang, namun terlihat kusut sekarang, dasi sudah dilonggarkan. Rambutnya tidak serapi tadi. Ia terlihat seperti orang yang sudah lama berdiri di luar sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk.
Elena membuka pintu dan berdiri di ambangnya. Ia tidak mempersilakan masuk.
Adrian menatapnya. Sesuatu di wajahny berubah saat melihat Elena yang keluar sendiri dan bukan orang tua nya.
"Dari mana kamu tahu alamat ini?" Elena bertanya langsung.
"Elena, aku ke sini karena mau ketemu Evan." Adrian tidak menjawab pertanyaannya. "Dia anakku. Aku kangen sama dia."
"Dari mana kamu tahu alamat ini?" Elena mengulang. Sama persis dengan nada yang sama.
Adrian menggeser pandangannya. "Aku cari tahu sendiri."
Elena menatapnya langsung. "Karena ini properti pribadi. Datang ke sini tanpa izin bisa jadi masalah hukum."
Adrian menghela napas. "Elena, aku tidak kesini untuk ribut. Aku cuma mau ketemu Evan. Lima menit saja. Itu tidak berlebihan kan? Dia anakku."
"Malam-malam."
"Iya malam-malam, memangnya kenapa?" Nada Adrian naik sedikit. "Aku bekerja seharian, ini satu-satunya waktu yang aku punya. Aku ini ayahnya, Elena. Bukan orang asing."
Elena menatapnya sebentar.
"Evan sudah mau tidur."
"Lima menit saja." Adrian mengangkat tangannya. "Aku janji tidak lama. Aku cuma mau lihat dia, memastikan dia baik-baik saja. Itu wajar kan untuk seorang ayah?"
"Wajar." Elena mengangguk pelan. "Tapi kamu baru ingat bahwa kamu ayahnya setelah tahu aku Elena Wirawan."
Adrian terdiam.
Elena melanjutkan dengan nada yang datar. "Selama ini kamu kemana saja? kamu tidak pernah tanya Evan makan apa, tidur dimana, sekolah atau tidak. Tidak satu kali pun kamu telepon untuk tanya kabarnya." Ia menatap Adrian langsung. "Jadi jangan berdiri di sini dan bicara soal wajar untuk seorang ayah."
"Aku tahu aku salah soal itu." Adrian tidak mundur. "Aku menyesal. Tapi itu bukan alasan untuk memisahkan aku dari anakku sekarang."
"Kamu datang ke sini bukan untuk Evan." Elena memotong pelan.
"Aku—"
"Kamu datang ke sini untuk aku." Elena melanjutkan dengan cara yang tidak menuduh tapi sangat tenang dan sangat yakin. "Evan itu alasanmu untuk berdiri di depan pintu ini. Karena kamu tahu kalau kamu datang dan bilang mau ketemu aku aku tidak akan keluar."
Adrian membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi.
"Jadi katakan yang sebenarnya." Elena berkata. "Kamu mau apa?"
Adrian diam sebentar. Lalu seperti orang yang memutuskan untuk mengganti strategi ia menghela napas panjang dan menatap Elena dengan ekspresi yang berubah, lebih lunak, lebih seperti orang yang menyerah daripada orang yang berdebat.
"Aku mau bicara soal kita." Suaranya berubah, lebih pelan. "Soal perceraian itu. Elena, kamu sudah pikir matang-matang? Bukan untuk aku tapi untuk Evan. Dia butuh keluarga yang utuh. Anak laki-laki butuh ayahnya, El. Kamu mau dia tumbuh tanpa figur ayah?"
"Dia sudah tumbuh tanpa figur ayah." Elena menjawab. "Satu tahun lebih. Dan dia baik-baik saja."
"Baik-baik saja sekarang." Adrian mengangkat alisnya. "Tapi nanti? Waktu dia remaja, waktu dia butuh sosok ayah untuk bicara soal hal-hal yang tidak bisa dia cerita ke ibunya? Kamu sudah pikir sampai sana?"
Elena menatapnya.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Adrian berbicara, cara ia berpindah dari satu argumen ke argumen lain dengan sangat cepat setiap kali argumen sebelumnya tidak berhasil. Seperti orang yang sedang mencoba kunci-kunci berbeda di satu pintu yang sama.
"Kamu bicara soal Evan." Elena berkata. "Tapi tadi di parkiran kamu bicara soal cinta. Sebelumnya kamu bicara soal merasa dibohongi. Kamu tidak konsisten, Adrian."
"Karena aku punya banyak alasan."
"Atau karena kamu tidak tahu alasan yang sebenarnya." Elena memotong. "Dan kamu mencoba semuanya sampai ada yang berhasil."
Adrian terdiam.
"Evan tidak akan keluar malam ini." Elena berkata akhirnya. "Kalau kamu benar-benar mau ketemu dia, hubungi pengacara dan atur jadwal kunjungan yang proper. Itu caranya."
"Pengacara?" Adrian mengulang kata itu dengan nada yang tidak menyembunyikan perasaannya. "Jadi kita harus pakai pengacara sekarang? Untuk ketemu anak sendiri? Elena ini aku, ayahnya. Bukan orang asing."
"Kita sudah jadi orang asing, Adrian." Elena berkata pelan. "Sejak lama."
"Karena kamu yang memilih itu, Elena."
"Aku?" Elena memiringkan kepalanya sedikit. Satu kata itu keluar dengan cara yang membuat Adrian berhenti bicara. "Aku yang memilih?"
Adrian tidak menjawab.
"Baik, aku akan membenarkan ucapmu. Karena aku yang memilih kita jadi orang asing." Elena mengambil pegangan pintu. "Selamat malam."
"Elena tunggu." Adrian melangkah maju satu langkah. "Aku mohon. Kita bisa bicara baik-baik. Tanpa pengacara, tanpa surat cerai, tanpa semua ini. Hanya kita berdua seperti dulu. Ingat tidak waktu kita dulu bisa ngobrol sampai tengah malam tentang apapun? Kamu selalu bisa cerita apapun ke aku, El. Kenangan itu tidak mungkin hilang begitu saja..."
"Adrian."
"Aku masih orang yang sama yang kamu pilih dulu, aku tahu aku membuat kesalahan besar tapi sekarang aku benar-benar menyesal."
"Adrian." Elena mengulang namanya. Lebih pelan. Lebih jelas.
Adrian berhenti.
"Orang yang aku pilih dulu..." Elena menatapnya langsung, "tidak akan membiarkan anaknya mati."
Hening. Hening yang sangat panjang dan sangat berat.
Adrian berdiri di sana dengan mulut yang terbuka sedikit dan mata yang bergerak-gerak, mata orang yang mencari sesuatu untuk dikatakan tapi tidak menemukan apapun.
Elena melepaskan pegangan pintu dari sisi luar dan menggantinya dari sisi dalam.
"Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan." Suaranya datar. "Lain kali aku akan menyuruh satpam mengusirmu."
Pintu pun tertutup. Elena berdiri di balik pintu itu sebentar, sebentar, cukup untuk satu napas panjang. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang keluarga.
Ayahnya masih di kursinya. Ibunya masih di sofa. Evan di pangkuan neneknya.
Saat Elena masuk Evan langsung mendongak. "Sudah pergi?"
"Sudah."
Evan mengangguk pelan. Lalu mengambil kembali mobil-mobilannya dan memainkannya dengan cara anak yang berusaha terlihat tidak peduli tapi sebenarnya memperhatikan semuanya sejak tadi.
Ayahnya menatap Elena. Elena menggeleng sedikit. Cukup bagi Hendra Wirawan untuk mengerti bahwa semuanya sudah beres.
Elena duduk kembali. Mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin.
Ibunya menyentuh tangannya pelan tanpa berkata apapun. Elena pun membalas sentuhan itu, seolah mengatakan dia baik-baik saja.
Dan ruang keluarga itu kembali hangat, televisi dengan volume rendah, teh yang sudah dingin, Evan yang bermain di pangkuan neneknya, ayahnya yang kembali membuka poselnya. Seperti tidak ada yang terjadi.