Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9. Luka yang tidak bisa disangkal
Hujan turun perlahan di luar jendela apartemen Rafael, meninggalkan jejak air yang mengalir seperti perasaan Sakira malam itu—tak menentu, bercampur antara lega dan sakit. Pengakuan Rafael di bab sebelumnya masih terngiang jelas di kepalanya, seolah kata-kata itu terpatri di setiap sudut ruang.
“Aku mencintaimu, Sakira. Sejak lama.”
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya menghancurkan benteng yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
Sakira berdiri membelakangi Rafael, memandangi kota yang diselimuti lampu malam. Tangannya gemetar saat ia menggenggam ponsel, berusaha menenangkan diri. Ia ingin percaya, sungguh.
Namun luka masa lalu dan kontrak yang menjadi awal segalanya membuat hatinya ragu.
“Kenapa sekarang?” tanya Sakira akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
“Kenapa kamu baru jujur setelah semuanya terlanjur rumit?”
Rafael melangkah mendekat, namun berhenti ketika jarak mereka tinggal satu langkah. Ia tahu, satu langkah lagi bisa membuat Sakira menjauh selamanya.
“Karena aku takut,” jawab Rafael jujur. “Aku takut kehilanganmu sebelum aku sempat mengakui perasaanku. Dan sekarang… aku tetap takut, tapi lebih takut kalau aku terus berbohong.”
Sakira menoleh. Matanya berkaca-kaca, namun sorotnya tegas.
“Kontrak ini sejak awal sudah salah, Rafael. Kita memulainya dengan kebohongan. Kamu CEO yang butuh citra, aku perempuan yang butuh uang. Semua jelas, tanpa perasaan.”
Rafael menghela napas panjang. “Aku tahu. Tapi perasaan tidak pernah mengikuti aturan, Sakira.”
Diam kembali menyelimuti mereka. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar. Sakira melangkah menjauh, duduk di tepi sofa, memeluk lututnya sendiri.
“Kamu tahu rasanya jatuh cinta pada orang yang salah?” tanya Sakira lirih.
“Rasanya seperti percaya pada janji yang akhirnya mengkhianati.”
Rafael menatapnya dengan mata penuh penyesalan. Ia duduk berhadapan, menjaga jarak, memberi ruang bagi Sakira untuk bernapas.
“Aku tidak menjanjikan apa pun malam ini,” ucap Rafael pelan. “Aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya. Entah kamu memilih pergi atau bertahan, itu hakmu.”
Sakira tertawa kecil, pahit. “Kamu selalu terlihat tenang, Rafael. Bahkan saat hidup orang lain berantakan karena keputusanmu.”
Ucapan itu menusuk, dan Rafael menerimanya tanpa membela diri.
“Aku pantas mendengarnya.”
Keesokan paginya, Sakira terbangun di kamar tamu apartemen Rafael. Semalaman ia hampir tak tidur, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Saat ia keluar kamar, aroma kopi menyambutnya.
Rafael sudah siap bekerja, mengenakan setelan jas gelap. Wajahnya tampak lelah, namun tetap rapi dan dingin seperti biasa.
“Aku akan ke kantor,” ucap Rafael singkat. “Kamu bisa tinggal di sini, atau pergi kalau mau.”
Nada suaranya datar, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa. Sikap itu justru membuat hati Sakira semakin sesak.
“Kita ini apa sekarang?” tanya Sakira tiba-tiba.
Rafael berhenti melangkah. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar tidak tahu.”
Sakira menelan ludah. Ia membenci ketidakpastian, tapi lebih membenci kepastian palsu.
“Aku butuh waktu,” katanya akhirnya.
“Bukan untuk pergi… tapi untuk berpikir.”
Rafael mengangguk. “Ambil waktu sebanyak yang kamu mau.”
Pintu apartemen tertutup perlahan, meninggalkan Sakira sendirian dengan pikirannya.
Di kantor Rafael, suasana tak kalah tegang. Rapat direksi berjalan dingin, dan Rafael tampak lebih diam dari biasanya. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada Sakira.
“Pak Rafael,” suara sekretarisnya memecah lamunan. “Ada tamu yang ingin bertemu. Katanya penting.”
“Siapa?”
“Clara.”
Nama itu membuat rahang Rafael mengeras.
Clara—wanita dari masa lalunya, yang hubungannya penuh ambisi dan luka, kini kembali di saat segalanya sudah rumit.
“Suruh masuk,” ucap Rafael akhirnya.
Clara masuk dengan senyum percaya diri. Gaunnya elegan, langkahnya anggun.
“Kamu kelihatan berbeda,” katanya sambil duduk. “Kurang dingin.”
“Apa yang kamu mau?” Rafael tak membuang waktu.
Clara tersenyum tipis. “Aku dengar kamu menikah kontrak. Menarik sekali.”
Rafael menatapnya tajam. “Jangan campur urusan pribadiku.”
“Oh, Rafael,” Clara terkekeh. “Kamu tahu, hidupmu selalu jadi urusan publik. Apalagi dengan posisimu sekarang.”
Rafael bangkit berdiri. “Kalau itu saja, pertemuan ini selesai.”
Clara ikut berdiri. “Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan ulangi kesalahanmu—mencampur perasaan dengan bisnis.”
Ucapan itu menggema di kepala Rafael lama setelah Clara pergi.
Sementara itu, Sakira memutuskan pulang ke rumah kontrakan kecilnya. Tempat sederhana itu selalu memberinya rasa aman, jauh dari dunia Rafael yang megah namun menyesakkan.
Ia duduk di lantai, membuka album foto lama. Foto ibunya tersenyum hangat, seolah berkata bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan diserahkan pada rasa takut.
“Bu,” bisik Sakira. “Aku capek.”
Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rafael.
Aku harap kamu baik-baik saja. Jangan merasa tertekan. Aku menunggumu, tanpa memaksa.
Sakira menatap layar lama, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas.
Malam itu, hujan kembali turun. Sakira berdiri di depan jendela, mengingat setiap momen bersama Rafael—perhatian kecilnya, sikap dinginnya yang perlahan mencair, dan pengakuan jujurnya yang datang terlambat.
Ia sadar, luka ini bukan hanya milik Rafael atau kontrak, tapi juga miliknya sendiri. Ia terlalu lama berpura-pura kuat, terlalu takut berharap.
Aku tidak bisa terus lari,” gumamnya.
Keputusan mulai terbentuk di hatinya, meski konsekuensinya belum jelas.
Di apartemennya, Rafael duduk sendirian dengan segelas minuman di tangan. Ia jarang minum, tapi malam itu pikirannya terlalu bising.
Untuk pertama kalinya, CEO Rafael merasa benar-benar kehilangan kendali—bukan atas perusahaan, tapi atas hatinya sendiri.
“Aku mencintainya,” ucapnya lirih.
“Dan aku siap kehilangan segalanya… asal tidak kehilangan dia tanpa berjuang.”
Tatapannya mengeras, tekad mulai mengalahkan rasa takut.
Di luar, hujan mulai reda. Di dua tempat berbeda, dua hati yang sama-sama terluka mulai menyadari satu hal:
Kontrak mungkin punya batas waktu.
Namun perasaan—tak pernah mengenal kata selesai.
Malam semakin larut ketika Sakira akhirnya duduk di ranjang kecil kamarnya. Lampu temaram menggantung di langit-langit, menerangi wajahnya yang pucat dan mata sembab. Ia menarik selimut hingga ke dada, tapi dingin tetap merayap—bukan dari udara, melainkan dari hatinya sendiri.
Ia menutup mata, namun bayangan Rafael kembali muncul. Tatapan matanya saat mengaku. Suaranya yang tidak lagi dingin. Kejujuran yang terlambat, tapi terlalu tulus untuk diabaikan.
“Kenapa harus kamu…” gumam Sakira pelan.
Malam semakin larut ketika Sakira akhirnya duduk di ranjang kecil kamarnya. Lampu temaram menggantung di langit-langit, menerangi wajahnya yang pucat dan mata sembab. Ia menarik selimut hingga ke dada, tapi dingin tetap merayap—bukan dari udara, melainkan dari hatinya sendiri.
Ia menutup mata, namun bayangan Rafael kembali muncul. Tatapan matanya saat mengaku. Suaranya yang tidak lagi dingin. Kejujuran yang terlambat, tapi terlalu tulus untuk diabaikan.
“Kenapa harus kamu…” gumam Sakira pelan.
Ia membenci dirinya sendiri karena merindukan seseorang yang seharusnya hanya bagian dari kontrak. Seharusnya mudah—selesai kontrak, lalu pergi. Tapi kenyataannya, perasaannya telah terjerat jauh sebelum ia menyadarinya.
Ponsel di samping bantal kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan.
Nama Rafael tertera di layar.
Jantung Sakira berdegup kencang. Ia ragu, jarinya bergetar di atas layar. Ingin menolak, tapi lebih besar keinginannya untuk mendengar suara itu.
Ia mengangkat panggilan tanpa bicara.
“Aku tahu kamu mungkin tidak ingin bicara,” suara Rafael terdengar berat. “Kalau kamu ingin memutuskan sambungan ini, aku mengerti.”
Sakira memejamkan mata. “Kenapa kamu menelepon?”
Hening sejenak di seberang sana. “Karena aku takut malam ini kamu merasa sendirian.”
Kalimat itu membuat napas Sakira tercekat. Tangannya menggenggam selimut erat-erat.
“Aku yang seharusnya merasa sendirian,” balas Sakira lirih. “Aku yang terjebak di perasaan yang tidak seharusnya ada.”
“Aku tidak pernah bermaksud menjebakmu,” jawab Rafael cepat. “Perasaanku tumbuh di luar rencanaku.”
“Itu masalahnya, Rafael,” suara Sakira bergetar. “Kamu selalu punya kendali. Atas perusahaanmu. Atas orang-orang. Bahkan atas hidupku lewat kontrak itu. Tapi sekarang… aku yang kehilangan kendali.”
Rafael terdiam lama. Ia tahu, setiap kata Sakira adalah kebenaran yang pahit.
“Kalau aku bisa memutar waktu,” ucapnya pelan, “aku akan tetap memilih bertemu denganmu. Tapi aku akan lebih jujur sejak awal.”
Air mata Sakira akhirnya jatuh. “Kejujuranmu datang saat aku sudah terlalu dalam.”
“Kalau begitu biarkan aku menunggumu di kedalaman itu,” balas Rafael. “Aku tidak akan memaksamu naik ke permukaanku.”
Hening kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda—lebih hangat, meski penuh luka.
“Aku tidak menjanjikan apa pun,” kata Sakira akhirnya.
“Aku hanya… tidak ingin membencimu.”
“Itu sudah lebih dari cukup,” jawab Rafael. “Selamat malam, Sakira.”
“Selamat malam, Rafael.”
Panggilan terputus, tapi perasaan itu tidak ikut hilang.
Sakira menatap langit-langit, dadanya terasa sesak namun hangat bersamaan. Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, ia sadar—yang paling berbahaya bukan perpisahan, melainkan harapan.
Dan harapan itu kini hidup, perlahan, di antara dua hati yang sama-sama terluka
Bersambung..