Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pintu kamar berderit pelan. Bibi masuk membawa segelas susu hangat, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat Kinan sudah tidak lagi berada di ranjang.
Ia mendapati Kinan yang sedang berdiri lemas sambil menyandarkan tubuhnya pada meja kayu sambil terisak di depan foto almarhumah ibu Adnan.
"Astaghfirullah, Nona! Jangan bangkit dulu, Nona masih lemah," seru Bibi dengan raut wajah yang cemas
Ia segera meletakkan gelas di meja terdekat dan menghampiri Kinan, merangkul bahunya yang bergetar hebat.
"Ayo, Nona, tiduran lagi. Nanti infusnya bisa bengkak kalau Nona banyak bergerak seperti ini."
Bibi dengan telaten membimbing Kinan kembali ke arah ranjang. Namun, Kinan menahan langkahnya.
Ia menoleh ke arah Bibi dengan mata yang sembab dan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Bi, Saya ini kotor. Saya berasal dari tempat yang paling menjijikkan. Apa Bibi tidak jijik menyentuh saya?"
Bibi tertegun sejenak saat mendengar perkataan dari Kinan.
Ia menatap Kinan dalam-dalam, lalu tersenyum sangat lembut, sebuah senyuman yang mengingatkan Kinan pada kehangatan seorang ibu.
Bibi tidak melepaskan rangkulannya, justru ia mengusap punggung tangan Kinan yang tidak terpasang infus.
"Nona, dengarkan Bibi. Bibi sudah puluhan tahun ikut almarhumah Ibu Ustadz Adnan. Beliau selalu mengajarkan, bahwa yang kotor itu bukan manusianya, tapi perbuatannya. Jika seseorang sudah berniat meninggalkan lumpur, maka dia sudah bersih di mata Allah."
Bibi membantu Kinan duduk kembali di tepi ranjang.
"Bibi tidak merasa jijik sedikit pun. Bibi justru bersyukur, karena jam tangan kesayangan almarhumah kembali melalui tangan orang yang hatinya masih punya kejujuran. Kalau Nona kotor, Nona tidak akan mungkin mengembalikan jam itu ke masjid semalam. Nona orang baik yang sedang tersesat, dan sekarang Nona sudah sampai di rumah."
Kinan menunduk, air matanya jatuh semakin deras mendengar ketulusan Bibi.
Di dunia malam, ia selalu diperlakukan sebagai objek, namun di sini, bahkan seorang pelayan pun memperlakukannya dengan penuh hormat.
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Sekarang istirahatlah. Ustadz Adnan pasti sedih kalau melihat istrinya makin sakit karena banyak pikiran. Bibi akan di sini menemani Nona."
Kinan menganggukkan kepalanya dan kembali merebahkan tubuhnya.
Jam dinding di selasar pondok berdentang sembilan kali, menandakan waktu istirahat bagi para santri.
Suasana yang tadinya riuh dengan suara hafalan kitab kini berubah menjadi sunyi yang menenangkan.
Adnan melangkah perlahan menuju kamarnya. Beban setelah menghadapi perdebatan di aula tadi seolah luruh saat ia memegang gagang pintu.
Ketika pintu terbuka, ia melihat Bibi sedang mengusap punggung Kinan, sementara istrinya itu masih terisak pelan di tepi ranjang.
Adnan memberikan isyarat mata kepada Bibi agar membiarkannya berdua dengan Kinan.
Setelah Bibi keluar dengan sopan, Adnan mendekati istrinya.
Ia duduk di sisi ranjang, menatap wajah Kinan yang sembab namun tampak lebih bersih di bawah cahaya lampu kamar.
"Kemarilah istriku, jangan menangis lagi," ucap Adnan dengan suara rendah yang meneduhkan.
Ia menarik lembut kepala Kinan agar bersandar di bahunya, memberikan tempat perlindungan yang paling aman bagi wanita itu.
Adnan mengusap air mata di pipi Kinan dengan jemarinya, lalu bertanya dengan nada sedikit menggoda untuk mencairkan suasana
"Apa dari dulu kamu memang secengeng ini?"
Kinan tertegun sejenak, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya dengan tulus.
"Dulu, aku menangis karena merasa tidak punya siapa-siapa di dunia ini, Mas," bisik Kinan di sela sisa isaknya.
"Tapi hari ini, aku menangis karena tidak percaya ada orang seperti Mas dan Bibi yang mau menerimaku."
Adnan tersenyum tipis, tangannya mengelus kepala Kinan yang tertutup kerudung.
"Menangis karena haru itu boleh, tapi jangan biarkan ia menguras tenagamu. Kamu harus cepat sembuh agar Mas bisa mulai mengajarimu banyak hal. Sekarang, waktunya istirahat."
Adnan kemudian membimbing Kinan untuk kembali berbaring.
Ia tidak beranjak, melainkan mengambil sebuah kitab kecil dan mulai membacakan ayat-ayat suci dengan nada yang sangat pelan di samping telinga Kinan, sebagai nina bobo bagi jiwa yang baru saja menemukan jalan pulangnya.
Adnan duduk di tepi tempat tidur, menatap Kinan dengan tatapan yang dalam dan penuh pengertian.
Suasana kamar begitu tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah menghitung waktu baru dalam hidup mereka.
"Kinan," panggil Adnan lembut, memecah kesunyian.
"Boleh Mas tanya sesuatu?"
Kinan mendongak pelan, matanya masih terlihat sisa-sisa kemerahan.
"Iya, Mas?"
"Selama ini, apa kamu pernah belajar sholat? Atau mungkin, mengaji?" tanya Adnan dengan nada hati-hati, tak ingin menyinggung perasaan istrinya.
Kinan terdiam. Ia menunduk dalam, jemarinya meremas ujung selimut putih yang menutupi kakinya.
Sebuah rahasia besar tentang masa lalunya yang kelam dan membingungkan kini harus ia sampaikan.
"Aku tidak tahu caranya, Mas. Aku tidak bisa sholat, apalagi mengaji," bisik Kinan.
Adnan tertegun sejenak, namun ia tidak menunjukkan gurat kekecewaan.
Ia justru semakin mendekat, memberikan ruang agar Kinan merasa nyaman untuk bercerita lebih jauh.
"Dulu, Ayahku seorang Muslim, tapi Ibuku beragama lain," lanjut Kinan dengan air mata yang mulai menggenang kembali.
"Mereka tidak pernah benar-benar mengajariku tentang agama. Di rumah, kami merayakan semuanya tapi tidak menjalankan apa-apa. Sejak mereka meninggal, aku hidup di jalanan dan berakhir di tempat itu. Aku... aku bahkan tidak tahu aku ini beragama apa sebenarnya."
Kinan menatap Adnan dengan tatapan ketakutan, seolah-olah pengakuannya ini akan membuat Adnan mengusirnya saat itu juga.
"Apa Mas menyesal menikahiku? Aku bahkan tidak tahu cara bersujud kepada Tuhan yang Mas sembah setiap hari."
Adnan menarik napas panjang, lalu tersenyum—sebuah senyum yang lebih hangat dari cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela.
Kemudian ia meraih tangan Kinan yang dingin dan menggenggamnya erat.
"Kinan, dengarkan Mas. Keyakinan itu bukan hanya tentang warisan dari orang tua, tapi tentang perjalanan hati. Jika semalam Allah menggerakkan kakimu ke masjid untuk mengembalikan jam itu, artinya Dia sendiri yang memilihmu untuk menjadi Muslimah yang sejati."
Adnan mengusap punggung tangan Kinan yang sedih.
"Jangan merasa malu karena tidak tahu. Kita akan mulai dari nol. Mas tidak akan memintamu langsung hafal Al-Qur'an. Kita mulai dari mengenal siapa Tuhanmu, bagaimana cara menyapa-Nya dalam sholat, dan bagaimana mencintai-Nya. Tugas Mas bukan hanya menjadi suamimu, tapi menjadi guru yang akan menuntunmu pulang."
Kinan merasakan beban berat di dadanya sedikit terangkat.
Ia tidak menyangka jika pria di depannya ini tidak menghakimi kekosongan jiwanya, melainkan menawarkan diri untuk mengisinya.
Adnan mengusap lembut kepala Kinan, mencoba meredam segala kecemasan yang terpancar dari wajah istrinya.
Ia tahu, pengakuan Kinan tentang asal-usulnya bukanlah hal yang mudah untuk diutarakan, namun bagi Adnan, itu adalah awal dari lembaran putih yang baru.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang kembalilah istirahat. Tubuhmu butuh pulih sepenuhnya," ucap Adnan dengan suara yang menenangkan.
Kinan kembali merebahkan dirinya, ditariknya selimut hingga sebatas dada. Matanya menatap Adnan yang masih setia duduk di sampingnya.
"Nanti sore, kalau keadaanmu sudah lebih baik, kita jalan-jalan keluar," lanjut Adnan. "Kita beli mukena untukmu, baju yang pantas, dan kamu bebas mau beli apa saja. Katakan saja pada Mas, ya?"
Mata Kinan sedikit membulat. "Beli... mukena? Mas benar-benar mau mengajariku?"
Adnan terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus di telinga Kinan.
"Tentu saja. Mukena itu akan jadi pakaian tercantik yang pernah kamu kenakan. Mas ingin kamu merasa nyaman saat pertama kali kita bersujud bersama nanti."
"Dan selain itu, Mas akan membelikan semua keperluan pribadimu. Mas ingin kamu merasa betah di sini, di rumahmu yang baru."
Kinan menganggukkan kepalanya perlahan, sebuah senyum tipis akhirnya terbit di bibirnya yang pucat.
Tawaran sederhana itu terasa seperti kemewahan yang luar biasa baginya.
Bukan karena barang-barang yang akan dibeli, melainkan karena perhatian dan pengakuan yang diberikan Adnan.
"Terima kasih, Mas," bisik Kinan.
"Sama-sama. Sekarang pejamkan matamu. Mas ada beberapa urusan di kantor pondok sebentar, tapi Mas akan kembali sebelum ashar untuk menjemputmu," ucap Adnan sembari berdiri dan merapikan letak bantal Kinan.
Adnan melangkah keluar kamar dengan hati yang lebih ringan, meskipun ia tahu di luar sana,
Fauziah dan beberapa pengurus pondok mungkin masih akan menatapnya dengan penuh tanya. Namun, tekadnya sudah bulat kalau ia akan menjadikan Kinan bukti nyata bahwa hidayah bisa menjemput siapa saja, di mana saja.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅