Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Plak.
“Akh!” sentak Jenny, dengan tangan memegang pipinya yang baru aja di tampar Joseph.
‘Barusan mas Jo menampar ku? Dia membela wanita lain? Jadi benar kata Serli dan apa yang aku lihat barusan? Ini bukan mimpi?’ pikir Jenny, mencerna apa yang baru aja terjadi dengannya.
Karin meringis, dengan lirih, “Ihss pasti sakit!”
Namun tidak dengan hatinya, Karin mengumpat Jenny penuh kemenangan, ‘Mampus lu! Dasar jal4ng!’
“Aku berhak menghukum mu, Jen! Karena istri ku gak bisa menjaga ucapannya! Kamu sadar kan! Kamu itu baru saja menghina ku, Jen!
Bisa bisanya kamu menjatuhkan harga diri suami mu di depan wanita lain! Di mana bakti mu sebagai seorang istri, Jen?” bentak Joseph dengan emosi meluap luap, hilang sudah batas kesabarannya.
Jenny terkekeh mengejek, melirik sekilas Karin, “Aku menjatuhkan harga diri mu, mas? Kamu mempertanyakan bakti ku sebagai istri? Lalu di mana aku di mata mu? Aku masih istri mu, dan kamu berani bermain di belakang ku? Di perusahaan kita, mas?”
Joseph menggaruk kepalanya frustasi, ‘Aaah sial4n! Aku harus menah4n diri! Setidaknya sampai kekuasaan di perusahaan sepenuh nya ada di tangan ku!!’
Karin angkat suara dengan, menatap bangga Joseph, “Kamu memang istrinya, Jen! Tapi di hati dan pikiran mas Joseph, hanya ada aku! Aku satu satunya wanita yang di cintai mas Joseph! Bukan kamu!”
Grap.
Joseph menyangkal, ia menyeret paksa Karin dalam rangkulannya ke luar dari ruangannya. Namun tatapannya fokus pada Jenny dengan nada meyakinkan.
“Kami ada hubungan bisnis, sayang! A- aku serius! Karin ini cuma asal bicara! Gak ada orang ketiga di antara rumah tangga kita! Aku hanya mencintai mu, aku cinta mati sama kamu, sayang! Mana mungkin aku mencintai wanita lain selain diri mu!”
Karin memberontak, berusaha bertahan untuk tetap tinggal di ruang kebesaran Joseph, “Mas! Apa apaan sih kamu, mas! Aku gak mau ke luar, mas!”
Jenny mengerutkan keningnya, menyelami sandiwara yang tengah di mainkan suaminya, “Sandiwara apa lagi yang hendak kalian mainkan di depan ku? Otak ku masih mampu mencerna dengan apa yang baru saja kalian lakukan di ruangan ini, mas!”
“A- aku gak lagi sandiwara, sayang! Kamu pasti salah mengartikan apa yang kamu lihat! Karin tadi cuma sedang membantu resleting celana ku yang macet! Itu saja! Kami gak melakukan hal lebih!” dusta Joseph.
Karin membola, berusaha melepaskan diri dari rangkulan Joseph, “Dia gak salah lihat, mas! Jelas tadi kita!”
Joseph menggeleng, penuh penekanan pada Karin, “Jangan sekarang! Kamu pergi dulu!”
“Mas! Biarkan istri mu tau yang sebenarnya! Aku ini jelas kekasih mu, mas! Dia yang merusak hubungan kita, mas!” bantah Karin.
“Tolong Karin! Patuh lah pada ku! Bukan saatnya Jenny mengetahui hubungan kita sekarang! Kamu pasti gak ingin melihat ku hancur kan? Nanti aku akan menghubungi mu! Setelah semua masalah mereda!” bisik Joseph, meyakinkan Karin.
Joseph meraih handle pintu, hendak membukanya. Seakan siap mengusir Karin sementara waktu dari kekacauan harinya saat itu. Namun suara Jenny menghentikan aksi tarik menarik di antara Karin dan Joseph.
“Berhenti, mas! Jangan seret wanita itu ke luar! Aku ingin masalah kita selesai hari ini! Tanpa ada penyangkalan! Tanpa ada dusta! Aku mau kejujuran mu, mas!” terang Jenny, dengan suara bergetar.
Jenny mengepalkan tangannya, hatinya menjerit, ‘Aku gak sanggup terus kamu bohongi, mas! Hidup dengan pria, yang entah sudah sebanyak apa dusta yang kamu beri pada ku, mas!’
Karin menghempaskan tangannya dari Joseph! Membenarkan rambut dan pakaiannya.
“Istri sah mu jauh lebih bijak, mas! Sudah saatnya aku bantu kamu terbebas dari hubungan menyakitkan ini!” Karin mengerlingkan matanya pada Joseph, sebelum kembali melangkah masuk lebih dalam. Berniat menghampiri Jenny, yang kini memilih duduk di sofa tamu, yang ada di ruang kebesaran Joseph.
“Jangan macam macam kamu! Jika gak ingin melihat kita berdua hancur!” bisik Joseph, sebelum mendahului Karin.
Karin mengerutkan keningnya dalam, ‘Kenapa lagi dengan mas Joseph? Seharusnya dia bersyukur, sebentar lagi dia gak akan ada hubungan pernikahan dengan Jenny, si anak manja yang cuma buat hidupnya menderita.’.
Joseph langsung duduk di sofa yang sama dengan Jenny. Menggenggam tangan Jenny dengan paksa, dengan tatapan meyakinkan.
“Sayang! Aku kan sudah jelaskan! Kamu salah lihat! Gak ada hubungan spesial antara aku dan Karin! Kamu harus percaya pada suami mu ya! Aku sangat mencintai mu, sayang!”
“Duduk!” titah Jenny pada Karin, dengan sorot mata tajam.
“Seorang istri itu harus percaya pada suaminya, harus mendengarkan setiap perkataan suaminya, ingat itu sayang! Aku kepala keluarga! Aku yang berhak mengambil keputusan! Keputusan mu ini salah membiar kan Karin tetap tinggal di antara kita!” cerocos Joseph, menegaskan posisinya.
“Apa aku juga harus meniru apa yang kalian lakukan berdua, mas? Membiarkan pria lain memperbaiki resleting gaun ku yang macet? Membiarkannya meny3ntuh ku?” tanya Jenny balik.
Joseph mendorong bahu Jenny saking kesalnya, "Jangan gila kamu, Jen! Kamu itu sudah bersuami! Sudah menjadi kewajiban mu untuk menjaga diri dari sentuhan pria lain! Dengan kamu membiarkan di s3ntuh pria lain, itu sama saja dengan kamu merendahkan harga diri mu, Jen!"
Jenny berseringai, ia terkekeh mengejek, "Benar kah? Lalu kamu sudah merendahkan harga diri mu sendiri, mas! Membiarkan diri mu di s3ntuh wanita lain!"
"I- itu berbeda, sayang! Aku ini pria! Gak ada salahnya membiarkan Karin membantu ku, kami sudah saling kenal jauh sebelum aku mengenal mu!" seru Joseph tanpa saringan.
"Bukan hanya itu, suami mu bah kan jelas lebih mengetahui setiap lekuk tubuh ku dari pada diri mu yang gak menarik di matanya! Bukan begitu, mas?" timpal Karin dengan senyum kemenangan.
'Benar apa kata Serli, mereka jelas punya hubungan. Tapi mas Jo belum mau mengakuinya!' pikir Jenny.
Jenny mengepalkan tangannya, mati matian menah4n kesal, "Untuk saat ini aku memang belum punya bukti yang kuat atas perselingkuhan mu, mas!"
Joseph dengan wajah merah padam, "Gak akan ada bukti! Aku gak selingkuh! Kamu jangan terus menyudutkan ku dengan tuduhan mu yang gak jelas itu, Jen!"
'Aku akan cari bukti perselingkuhan mu, mas! Rumah yang kamu beli untuk Karin! Kamu hancurkan hati ku, aku juga bisa menghancur kan hati mu!' jerit batin Jenny.
Jenny beranjak dari duduknya, menatap kecewa Joseph, "Aku kan sudah bilang, aku butuh kejujuran mu, mas! Bukan dusta mu!"
Joseph ikut beranjak, keduanya saling berhadapan dengan wajah tegang Joseph yang sangat nyata.
"Kejujuran apa lagi yang kamu tunggu dari ku, Jen? Karin itu rekan bisnis ku! Apa semua rekan bisnis wanita ku akan kamu anggap selingkuhan ku? Itu namanya kamu gila, Jen!" teriak Joseph, menunjuk nunjuk bahu Jenny dengan ujung jari telunjuknya.
'Cinta itu gak pernah ada di mata mu untuk ku, mas!' batin Jenny.
"Istri mu ini bukan hanya gila, mas! Tapi dia ini sedang melempar kesalahan, yang jelas kesalahan itu ada pada dirinya! Wanita yang gak bisa apa apa! Menyenangkan suaminya aja gak bisa! Wajar aja sih, kalo kamu bisa bermain dengan wanita di belakangnya!" timpal Karin.
Jenny menghembuskan nafasnya kasar, "Kamu benar! Kamu begitu menginginkan mas Jo kan?"
"Ambil lah! Aku tidak butuh suami pendusta sepertinya! Aku tunggu surat cerai dari mu, mas!" imbuh Jenny, menatap dalam Joseph sebelum meninggalkan ruang kebesaran suaminya itu.
Jenny menggigit bibir bawahnya, men4han tangis dengan mata mengembun, 'Aku kuat! Aku bisa tanpa mu, mas!'
Joseph terpaku, "Apa aku gak salah dengar?" tanya nya pada Karin.
Karin menggeleng, menarik tangan Joseph hingga membuat pria itu ada di atasnya.
Brugh.
"Rasanya aneh untuk seorang istri yang merelakan suaminya untuk wanita lain. Aku rasa, Jenny gak mencintai mu, sayang! Kita bisa melanjutkan yang tertunda kan?" tanya Karin dengan nada manja, tangannya bermain pada kancing kemeja yang memb4lut tubuh Joseph.
Sementara di depan ruang kebesaran.
"Kalian semua sedang apa di sini?" tanya Jenny, melihat Boni, Lia dan Serli berdiri di depan ruangan dengan wajah cemas.
"A- anu bu, saya di suruh Non Lia buat nangkep kecoa. Tapi kan mustahil ya, di riangan bersih kaya gini ada kecoa!" celetuk Boni asal bicara.
"I- ibu baik baik aja kan?" sela Serli.
Lia menunjuk pipi Jenny yang merah, "Pipi ibu kenapa?"
"Kecoanya ada di dalam ruangan, bapak! Kamu bersihkan aja! Saya duluan ya!" beo Jenny sebelum berlalu dari ketiganya.
Lia menyusul Jenny, "Saya temani ibu sampai ke mobil ya!" beo Lia satu langkah di belakang Jenny.
Bersambung …