Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Goresan tinta hitam dari pena di tangan Felysha Anindhita berhenti tepat di atas kolom tanda tangan selembar kertas bermaterai. Ia tidak langsung mengangkat mata penanya, membiarkan ujung logam itu sedikit menekan permukaan kertas hingga menciptakan cekungan kecil yang nyaris tak terlihat. Di ruangan yang biasanya terasa hangat dengan aroma masakan rumah, kini hanya ada bau apek dari tumpukan kardus yang mulai disusun di sudut ruang tamu. Felysha bisa mendengar napas ibunya yang pendek dan tersengal-sengal di seberang meja kayu jati ini.
Ibunya duduk dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuan, meremas-remas ujung kain daster batiknya yang sudah agak pudar warnanya. Sesekali, wanita itu menyeka sudut matanya dengan tisu yang sudah basah dan menggumpal. Tidak ada suara televisi yang biasanya menyala di latar belakang, hanya ada detak jam dinding kuno yang suaranya terasa memukul-mukul gendang telinga Felysha dengan irama yang menyiksa.
"Hanya Julian yang datang saat semua orang menjauh, Fely," suara ibunya terdengar sangat tipis, seolah-olah pita suaranya baru saja terkikis habis oleh tangisan berjam-jam.
Felysha menarik napas panjang, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa sangat berat dan dingin. Ia melihat ke arah tumpukan map cokelat yang tersebar di atas meja. Di sana ada surat peringatan ketiga dari bank, daftar utang vendor tekstil perusahaan ayahnya, hingga rincian tunggakan gaji karyawan yang belum terbayar selama tiga bulan terakhir. Ayahnya pergi meninggalkan lubang yang begitu dalam, dan Felysha adalah satu-satunya orang yang diminta untuk menutup lubang itu dengan tubuhnya sendiri.
"Ibu tahu ini tidak adil untukmu. Ibu benar-benar tahu," lanjut ibunya, kali ini dengan isak yang lebih dalam. "Tapi kalau minggu depan kita tidak mengosongkan rumah ini, Ibu tidak tahu harus membawa adikmu ke mana. Tabungan Ibu sudah tidak ada, Fely. Semuanya sudah tersedot untuk biaya rumah sakit Papa kemarin."
Felysha akhirnya melepaskan tekanan penanya dari kertas. Ia menatap namanya sendiri yang tertulis di sana, bersebelahan dengan nama Julian. Cek senilai miliaran rupiah yang diletakkan Julian di atas meja ini tadi pagi seolah-olah sedang menatap balik ke arahnya, mengejek ketidakberdayaannya. Uang itu sanggup melunasi semua kekacauan yang ditinggalkan ayahnya, namun harga yang harus dibayar adalah kebebasannya.
Ia bangkit dari kursi kayunya yang sedikit berderit. Langkah kakinya yang tidak beralas kaki menyentuh lantai marmer yang terasa sedingin es. Felysha berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Di sana, rumput liar mulai tumbuh tinggi di antara tanaman mawar kesayangan ayahnya yang sudah mulai layu karena tidak terawat. Pagar besi rumah mereka yang biasanya kokoh, kini terlihat kusam di bawah langit Jakarta yang mendung.
Julian tidak datang sendiri sore ini untuk mengambil surat yang sudah ditandatangani. Pria itu mengirimkan asisten pribadinya, seorang pria paruh baya mengenakan setelan safari yang sejak tadi menunggu dengan sabar di teras depan. Julian selalu melakukan segalanya dengan jarak, seolah-olah menyentuh langsung kesedihan keluarga Felysha adalah sesuatu yang berada di bawah level sosialnya.
"Julian bilang, dia sudah menyiapkan semuanya di Paris," ibunya kembali berbicara, kali ini sambil berdiri dan menghampiri Felysha. "Sekolah desain yang kamu idamkan, tempat tinggal yang aman, semuanya. Dia bilang, dia ingin kamu mendapatkan pendidikan terbaik agar suatu hari nanti kamu bisa mandiri."
Felysha menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang lebih mirip sebuah luka. Mandiri di bawah pengawasan Julian adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Ia tahu persis bagaimana Julian menatapnya selama ini. Bukan tatapan seorang pria yang jatuh cinta, melainkan tatapan seorang kolektor yang baru saja mendapatkan barang antik langka yang sedang terhimpit masalah keuangan.
"Dia sudah membayar semuanya, Bu. Termasuk hidupku," bisik Felysha pelan.
Ibunya memeluk bahu Felysha dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak putrinya itu. "Anggap ini kesempatan, Nak. Di luar sana banyak orang yang ingin kuliah ke Paris tapi tidak mampu. Julian memberikannya padamu karena dia sayang padamu."
Felysha tidak membantah. Ia membiarkan ibunya percaya pada kebohongan manis itu. Baginya, setiap rupiah yang dikeluarkan Julian adalah satu jengkal jeruji yang akan mengurungnya di masa depan. Ia melepaskan diri dari pelukan ibunya, lalu berjalan kembali ke meja jengki dan mengambil kertas yang sudah ia tanda tangani.
Ia berjalan menuju pintu depan, membukanya perlahan hingga angin sore yang membawa aroma aspal basah masuk menyapa wajahnya. Asisten Julian segera berdiri dari kursi teras, merapikan jas safarinya, dan membungkuk sopan saat Felysha menyerahkan map itu.
"Terima kasih, Nona Felysha. Tuan Julian sudah memesankan tiket penerbangan Anda untuk lusa pagi. Supir akan menjemput Anda jam lima tepat," ucap pria itu dengan nada yang sangat profesional dan tanpa emosi.
Felysha hanya mengangguk tipis. Ia menunggu sampai mobil sedan hitam milik asisten itu menghilang di balik gerbang, baru kemudian ia menutup pintu kembali. Ia menyandarkan punggungnya pada permukaan kayu pintu yang keras, memejamkan mata, dan mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.
Malam itu, Felysha menghabiskan waktu di kamarnya yang sudah mulai kosong. Ia memilah pakaian-pakaiannya, memasukkannya ke dalam koper besar yang baru saja dibelikan oleh Julian lewat kurir tadi siang. Ia memegang selembar kaos oblong lamanya, kaos yang sering ia pakai saat menemani ayahnya bekerja di gudang kain dulu. Ia mencium aroma kaos itu—ada sisa-sisa bau debu kain dan parfum ayahnya yang samar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi kain kaos di tangannya.
Ia merogoh saku celananya saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Julian: Aku sudah menerima berkasnya. Terima kasih sudah mengerti, Fely. Jangan bawa terlalu banyak barang lama dari sana. Aku sudah menyiapkan lemari pakaian baru untukmu di Paris. Belajarlah dengan rajin.
Felysha melempar ponselnya ke atas kasur tanpa berniat membalas. Ia berjalan menuju meja belajarnya, mengambil sebuah buku sketsa yang sampulnya sudah agak lecek. Ia membolak-balik halaman demi halaman yang berisi gambar-gambar rancangan gaun yang ia buat dengan penuh harapan beberapa bulan lalu. Saat itu, Paris adalah sebuah mimpi yang indah. Sekarang, Paris adalah sebuah keharusan yang mencekik.
Ia mengambil sebuah bingkai foto kecil yang diletakkan di rak buku. Foto ayahnya yang sedang tertawa lebar. Felysha mengusap permukaan kaca bingkai itu dengan ibu jarinya. "Aku akan pergi, Pa. Aku akan melakukan apa yang Papa inginkan. Aku akan menjaga Ibu dan adik," bisiknya di tengah kesunyian kamar yang hanya diterangi lampu meja yang remang-remang.
Ia mematikan lampu kamarnya, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya sepenuhnya. Felysha berbaring di atas tempat tidur yang sudah terasa asing. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana rupa kota Paris di tengah malam nanti. Apakah seindah yang ada di brosur-brosur wisata, ataukah sesejuk penjara yang baru saja ia setujui untuk ia tempati?
Di luar, suara hujan mulai turun kembali, menghantam atap rumah dengan bunyi yang gaduh. Felysha menarik selimutnya hingga ke dagu, mencoba mencari kehangatan yang tidak ia temukan di hatinya sendiri. Ia tahu, mulai malam ini, tidurnya tidak akan pernah benar-benar nyenyak lagi. Ia adalah jaminan atas utang yang sangat besar, dan ia sedang bersiap untuk menjalani perannya sebagai mahasiswi beruntung di mata dunia, sementara di dalam jiwanya, ia hanyalah seorang tawanan yang sedang menunggu waktu keberangkatan.