Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi ini, Jakarta diselimuti mendung tipis, seolah ikut merasakan abu-abu di hatiku. Aku berdiri di depan cermin, memulas wajahku dengan riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya. Kantung mata akibat tangisan semalam harus tertutup sempurna. Tak ada yang boleh tahu—terutama Harva dan Bang Haris—bahwa tembok esku sempat retak di apartemen sempit itu.
Aku memutuskan untuk merahasiakan kondisi Arlan. Bukan karena aku ingin melindunginya, tapi karena aku tidak ingin dikasihani. Aku tidak ingin orang-orang berpikir bahwa aku masih peduli padanya. Biarlah Arlan dengan rasa sakitnya, dan aku dengan kerasku.
Suara klakson mobil mewah terdengar dari lobi apartemen. Harva sudah sampai.
"Selamat pagi, Rania," sapa Harva begitu aku masuk ke dalam mobilnya. Ia tampak segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Kamu kelihatan... sedikit pucat. Kurang tidur karena memikirkan proyek kita?"
Aku memaksakan senyum tipis yang profesional. "Hanya sedikit lembur menyiapkan data untukmu, Harva."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin partner bisnisku tumbang sebelum proyek ini selesai," Harva meraih tanganku sejenak, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya sebelum mulai melajukan mobil.
Sepanjang sarapan di sebuah kafe eksklusif, pikiranku melayang. Harva sedang membicarakan soal ekspansi vendor, tapi di kepalaku justru terngiang suara batuk Arlan yang berat semalam. Bayangan dia yang bertumpu pada dinding agar tidak jatuh terus mengejarku.
Begitu tiba di kantor, suasana terasa berbeda. Saat aku berjalan menuju ruanganku, aku melewati kubikel Arlan. Kursinya kosong. Meja kerjanya rapi, hanya ada tumpukan dokumen yang aku berikan kemarin.
"Bu Rania," sekretarisku, Maya, mendekat dengan wajah ragu. "Pak Arlan tadi izin datang agak terlambat. Katanya ada urusan administrasi yang harus diselesaikan dulu."
Aku tahu "urusan administrasi" itu adalah rumah sakit.
"Baik. Beritahu dia, begitu sampai, langsung temui saya," jawabku datar.
Beberapa jam kemudian, pintu ruanganku diketuk. Arlan masuk dengan langkah yang sangat pelan. Ia mengenakan masker, namun kulit di sekitar matanya yang pucat kekuningan tidak bisa menyembunyikan kondisinya.
"Bu Rania memanggil saya?" suaranya sengaja dibuat tegas, namun getarannya tetap terasa.
Aku menatapnya lurus. Ada dorongan kuat untuk bertanya, "Sudah cuci darah tadi?" atau "Gimana hasil labmu?". Tapi aku menahannya. Aku menutup map di depanku dengan suara keras.
"Arlan, performamu menurun. Kamu terlambat dan koordinasi data pagi ini jadi terhambat," ucapku tanpa amarah, hanya nada dingin yang menghakimi.
Arlan menunduk. "Maaf, Bu. Saya akan lembur malam ini untuk mengejarnya."
"Tidak perlu lembur. Pulanglah tepat waktu," kataku cepat. Aku tidak ingin dia pingsan di kantor dan membuat semua orang tahu rahasianya. "Dan satu lagi... jangan pernah bawa urusan pribadi atau fisikmu ke dalam pekerjaan ini. Saya butuh orang yang kompeten, bukan orang yang memaksakan diri."
Arlan terdiam lama. Ia menatapku dari balik maskernya, tatapan yang penuh luka namun juga pengertian. "Terima kasih, Bu Rania. Saya mengerti."
Saat ia berbalik pergi, Harva tiba-tiba muncul di ambang pintu kantorku tanpa mengetuk.
"Rania, ada apa dengan bawahanmu ini? Dia kelihatan seperti orang yang habis melihat hantu," sindir Harva sambil menatap Arlan dengan tatapan menyelidik.
Jantungku berdegup kencang. Aku harus menjaga rahasia ini agar Harva tidak menggunakan kelemahan Arlan untuk menghancurkannya lebih jauh.
"Dia hanya kelelahan karena debu di proyek Tangerang kemarin, Harva. Bukan masalah besar," jawabku cepat, mencoba mengalihkan perhatian Harva.
Arlan segera berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Di ruanganku, Harva duduk di kursi tamu, matanya masih menatap pintu yang tertutup. "Kenapa aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku soal dia, Ran?"