ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT III
Gorden biru gelap bergoyang-goyang pelan saat semilir angin berembus masuk melalui celah kecil pada jendela. Bahannya amat tipis, memungkinkan cahaya matahari dapat menerabas masuk sehingga satu dari puluhan lariknya menerpa wajah sang tamu, menciptakan semburat halus pada permukaan pipinya di bawah temaram lampu.
“Apa hari ini kau akan mengikuti rapat pertemuan dengan kelas 12?” tanya Riyan sembari menatap sekilas lawan bicaranya, sementara jari-jarinya tetap bekerja menyortir berkas yang dipilahnya.
“Ya, ada banyak hal yang perlu kusampaikan pada mereka. Guru-guru lain pasti juga begitu,” jawab Bu Kaila.
“Tentu, malam ini akan sedikit lebih panjang dari sebelumnya.”
Di bawah meja, Bu Kaila menyalakan ponselnya. Jam digital yang tertera di halaman depan layarnya menunjukkan pukul enam sore, menandakan bahwa jam bekerjanya telah selesai. “...Pak Riyan, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Gerak kakinya hendak bangkit mendadak urung, kembali membuka topik obrolan.
“Silakan.”
“Tahun ini aku mendapat giliran menjadi wali kelas 11-5. Suatu kebetulan karena sebelumnya aku juga menjadi wali kelas di 10-5.”
“Benarkah? Apa selama di sana kau mengalami kesulitan? Jika ya, berdiskusilah denganku.”
“Ah, tidak. Aku baik-baik saja dengan mereka. Hanya saja ... Karinn.”
Tersebut nama keponakannya dari mulut Bu Kaila, Riyan yang sedang berkutat pandangannya dengan setumpuk berkas lantas menoleh.
“Kurasa dibandingkan dengan siswi lain, Karinn bisa terbilang cukup baik. Dia tidak seperti kebanyakan teman-teman sekelasnya yang sulit diatur dan lebih berani untuk mengungkapkan keinginannya walau dengan memberontak.” Melalui kontak mata mereka, Bu Kaila mendapatkan semburat kebingungan di wajah lawan bicaranya. Maka ia pun melanjutkan sambil mengabsen dengan jari-jarinya, “Bolos di jam pelajaran, tidur di jam pelajaran, makan diam-diam di jam pelajaran, membawa rokok elektrik, mencontek walau sudah ditegur berkali-kali, berpakaian tidak rapi, memalsukan alasan tidak masuk sekolah, dan lain sebagainya.”
Tanpa menggubris, Riyan mengangguk sekali sambil tersenyum tipis—membatin bahwa apa yang dikatakan Bu Kaila tentang keponakannya memang benar adanya. Gadis itu menghabiskan waktu lebih lama di tingkat kelas teratas, jauh sebelum sistem pembagian tingkat kelas berubah beberapa tahun ini.
“Karena itu aku selalu bertanya-tanya alasan yang membuatnya turun tingkat kelas. Bolehkah aku mengetahuinya, pak?”
“...Kenapa kau penasaran tentang itu?”
“Bukan apa-apa. Hanya saja ... aku tidak memahaminya.”
Dua bulan lalu, Bu Kaila datang berkunjung ke gedung asrama. Dia mampir ke Fe-Mart seperti yang biasa dilakukannya jika ada waktu luang. Dia membeli mi instan dan menikmatinya selagi cuaca dingin mengukung seluruh area di perbukitan. Selain itu, ia juga melambaikan tangan pada Karinn agar bergabung dengannya di meja makan.
Di sinilah kemudian terjadi perbincangan tentang impian Karinn. Karinn menyebutkan bahwa ia masuk ke Sekolah Endley adalah untuk mempelajari lebih dalam ilmu Sains. Walau kala itu belum sempat terpikir akan cita-citanya, ia berterus terang pada Bu Kaila bahwa dirinya tertarik dengan Sains bermula dari sang ibu yang berprofesi sebagai ahli toksikologi.
“Pasti banyak kisah yang diceritakan oleh ibumu, ya? Kau sampai ingin mengikuti jejaknya.”
Tidak ada yang salah dengan ucapan Bu Kaila, justru karena itu benar adanya yang membuat Karinn jadi tertunduk sedih. “Sekarang itu hanya bagian dari masa lalu, tidak lebih dan tidak kurang.”
“Ya, tentu. Kau bebas menggambar apa saja di kertasmu. Kaulah yang menentukan lukisanmu nanti akan jadi seperti apa. Yang terpenting, yakinlah pada dirimu sendiri. Kau hidup untuk hidup, jadi jangan biarkan hidupmu mati karena kau hanya ada satu di dunia.” Bu Kaila tersenyum, menunjukkan garis melengkung di kelopak matanya. Pikirnya kata-kata hangatnya akan ampuh untuk mengusir semburat sedih di wajah Karinn, namun tampaknya itu tidak berhasil dengan mudah. “Ada sesuatu yang mengganjal? Jika bersedia, biarkan ibu mendengarkanmu.”
Karinn mengangkat kepalanya, mempertemukan sepasang mata Bu Kaila yang juga sedang menatapnya. “Sebelumnya terima kasih atas kata-kata semangatmu, bu.” Ia menyendok habis suapan terakhirnya, lalu menegak minumannya sampai tak tersisa. Kerongkongannya pun terasa lega dan ia siap untuk bercerita.
Sepuluh tahun lalu, di waktu yang bersamaan dengan terjadinya kecelakaan beruntun, kematian Keisha membawa kabar lain selain tubuhnya yang hangus terbakar oleh api. Dalam investigasi polisi secara bertahap, ditemukan dua botol obat yang diduga merupakan bukti terkait kasus pembunuhan pasien lansia; yakni obat penenang dan pelemas otot.
“Ibuku adalah seorang ahli toksikologi, mustahil dia punya akses keluar-masuk ke ruang penyimpanan obat sedangkan kasus pembunuhan itu sudah termasuk pembunuhan berantai,” ujar Karinn.
Maksudnya, untuk menjalankan aksinya si pelaku tentunya harus mencuri lebih banyak obat. Dan kamera pengawas terbukti tidak menangkap wajah Keisha, sehingga tim kepolisian menyimpulkan bahwa justru Dokter Keisha-lah yang terancam bahaya karena kemungkinan ia sempat bertemu dengan si pelaku di hari kecelakaannya. Namun entah bagaimana obat itu bisa ada di dalam mobilnya, sampai sekarang masih jadi misteri yang belum terpecahkan. Ditambah tidak ditemukannya bukti atau petunjuk baru, jadi penyelidikan tidak bisa dibuka secara resmi. Maka itu Karinn yang masih duduk di bangku SD bertekad untuk masuk ke akademi kepolisian demi menyelidiki kejanggalan dari kematian ibunya.
“Aku tak pernah tahu kau cukup dekat dengan Karinn.” Riyan tersenyum tipis, lega setelah sejenak merasa risau karena tidak biasanya si keponakannya itu dapat terbuka dengan orang lain. Beruntunglah sebab itu berarti Bu Kaila adalah orang yang spesial baginya. “Tingkat kelasnya tidak turun karena dia mengubur impiannya. Dia hanya mengalami sedikit kesulitan dengan penyakitnya sehingga memutuskan untuk belajar tidak terlalu keras. Tentang itu juga, Karinn sendirilah yang datang ke ruanganku dan memintaku untuk merahasiakannya. Sepertinya dia agak malu teman-temannya mengetahuinya.”
“Penyakit yang kau maksud, apakah alerginya terhadap keju, pak?” tanya Bu Kaila lagi.
“Kau mengetahuinya, bu?” Kelopak mata Riyan terbuka agak lebar dari sebelumnya, menunjukkan reaksi terkejut. “Apa Karinn juga bercerita padamu?”
Bu Kaila menggeleng. “Aku sering mengunjungi gedung asrama untuk bertemu para gadis. Dari sanalah aku belajar mengenali mereka tanpa perlu berkontak langsung, termasuk Karinn.”
Drrt..! Permukaan meja bergetar pelan, ponsel Riyan berdering memecah keheningan. Buru-buru dia memeriksa panggilan tersebut. Dari nama kontak yang tertera pada layar, dia amat tahu keperluan nomor tersebut menghubunginya.
“Terima kasih telah memberiku jawaban, pak.” Bu Kaila bangkit dari kursinya, beranjak undur diri.
“Ah, ya, silakan. Terima kasih juga telah menjadi seperti yang dikagumi Karinn.”
Keduanya sama-sama merespons dengan satu anggukan kepala, baru kemudian perbincangan mereka berakhir dengan masing-masing melanjutkan kegiatan.
Begitu juga dengan Riyan, dia menggeser ikon menerima panggilan, lalu meletakkan ponselnya di sebelah laptop sementara ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Jari-jarinya sibuk menekan tombol pada papan ketik dan menggeser tetikus, sementara daun telinganya bergoyang pelan mendengarkan panggilan tersebut. Lima menit, tidak ada reaksi apa-apa. Sepuluh menit, ekor matanya mulai melirik. Lima belas menit, tetap tak acuh memberi balasan. Pada menit berikutnya, dia mengembuskan napas berat. Panggilan telah berakhir.
Riyan meninggalkan pekerjaannya sejenak, kemudian memutar kursinya menghadap ke belakang, berhadapan dengan gorden jendela. Dia mencari nomor lain pada kontak ponselnya, meminta panggilan dengan seorang kenalannya di kepolisian.
Krieet..! Daun pintu bergerak terbuka pelan, tak terdengar suara ketukan lebih dulu. Tampak bayangan hitam bergerak merambat pada permukaan dinding, hati-hati melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Aku juga tidak tahu! Lakukan saja secepatnya dan jangan lupa kalian melapor padaku malam ini.” Suara Riyan meledak tiba-tiba, menggelegar memenuhi segala sudut.
Di ujung sana, wajah Karinn memerah padam. Jari kakinya yang hanya terbalut oleh kaus kaki terantuk lemari, menciptakan sensasi bagai tersetrum.
“Bodoh! Tentu tidak perlu! Bukankah kalian masih menyimpan data para gadis yang sudah kuberikan sebelumnya? Gunakanlah untuk membedakan antara gadis pindahan dan yang bukan!”
Panggilan terputus. Riyan mengambil tiga lembar tisu, menyeka peluh di wajahnya.
“Paman,”
“Waaakhhh!!” Riyan menjerit, ponsel yang sedang digenggamnya nyaris terbang bebas di udara. Ada yang mencolek pinggulnya dari arah belakang, namun dia lebih terkejut lagi saat membalikkan tubuhnya, mendapati Karinn tengah berdiri di belakang sana dan menatap ke arahnya dengan tersenyum lebar—menakutkan. “Astaga, Rinn!”
Karinn terkekeh, puas melihat reaksi sang paman. “Aku tidak melakukan apa-apa, lho.”
“Sejak kapan kau tiba di sini?”
“Aku baru datang.”
“Kau mendengar pembicaraanku di telepon?”
“Sedikit.”
Raut wajah Riyan tetap datar, membatin bahwa mana bisa anak itu dipercaya. 'Sedikit' yang dikatakannya jelas bermakna sebaliknya.
“Paman, kali ini pun kau melakukannya lagi? Ayolah, apa kau tidak memikirkan bagaimana jika banyak yang akan mulai merasa curiga?” Karinn menarik kursi, duduk berhadapan di meja Riyan.
“Ayahmu yang menyuruhku.”
“Ayah?”
“Tidak lama sebelum kau kemari, dia menghubungiku. Dia menyuruhku untuk kembali mewawancarai para gadis. Maka itu setelah selesai para polisi mewawancarai, mereka akan memeriksa atap dan melanjutkan penyelidikan di area gedung sekolah.”
Karinn melipat kedua tangannya ke dada, tidak menggubris.
“Mungkin ayahmu melakukannya karena Drama, tetapi dia menyebutkan satu alasan.”
“Apa itu?”
“Beberapa hari lagi ... cepat atau lambat hari itu akan tiba.”
Karinn tertegun, lantas menyadari bahwa hari yang dimaksud sang paman adalah hari di mana tirai teater akan tertutup—Drama berakhir.
“Polisi akan segera datang dan wawancara diperkirakan akan dimulai pukul lima—”
“Oh, iya! Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, paman.” sela Karinn.
“Apa?”
“Irene, teman sekamarku. Apa kau mengenalnya?”
“Kau selalu seenaknya saja mengubah topik.”
“Ah, itu tidak penting. Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Jadi, apa jawabanmu?”
Riyan melemparkan tatapan sinisnya, sebelum kemudian lanjut mengetik berkas yang diperlukan untuk kebutuhan seminar kelas 12. “Kenapa kau bertanya? Kau juga mengenalnya, kan?”
“Yah, tapi tidak banyak yang kutahu tentangnya. Kita bahkan tidak bertegur sapa, apalagi berbasa basi.”
“Apa yang mau kau tahu darinya?”
“Gadis itu ... Kudengar tingkat kelasnya turun ke 2 saat SMA.”
“Benar. Bahkan awalnya aku ingin menurunkannya saat dia kelas 9 SMP.”
Jauh beberapa tahun ke belakang saat Riyan masih bekerja di kantor Yayasan Pendidikan sebagai supervisi, dia sering melakukan kunjungan ke Sekolah Endley untuk memantau implementasi program pendidikan dan memberikan bimbingan kepada guru-guru. Jadi sudah pasti dia bertemu dengan banyak siswi dalam kegiatan sekolah. Terlebih kala itu sistem pembagian tingkat kelas disusun berdasarkan prestasi akademik, tentunya dia akan cepat hafal wajah-wajah gadis kecil yang sudah banyak menyumbang penghargaan selama bertahun-tahun—Irene salah satunya.
Dahulu, Riyan mengenalnya sebagai sosok yang positif, aktif, dan cerah seperti matahari pagi. Walau banyak yang mengatakan dia sebenarnya agak pendiam, tapi kepribadiannya cukup hangat karena wajahnya selalu memiliki kesan menyenangkan.
Lembut, mungkin kata itulah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana si gadis kecil itu berpenampilan polos dengan rambut hitamnya yang panjang sampai ke pinggang. Yah, berbeda sangat jauh dengan Irene yang sekarang—Irene yang selalu mendapatkan hukuman, Irene yang dikenal sebagai beruang laser, dan Irene yang akhirnya menjadi pribadi yang menutup diri.
“Kudengar dia melanjutkan jenjang pendidikan dengan beasiswa, dan bermimpi berkuliah di universitas terbaik. Aku hanya tidak memahaminya. Dia membiarkan dirinya sendiri masuk ke dalam masalah ... masalah yang justru melenyapkan semua impiannya itu.”
...• • • • •...
Suara derap sepatu terdengar menggema di sepanjang koridor. Villy berlari memasuki gedung sekolah dan menaiki tangga sampai ke lantai dua. Napasnya terengah-engah, sementara kepalanya celingukan ke kanan dan kiri untuk memastikan kondisi di sekitarnya sepi. Setelah dirasa sudah aman, barulah dia mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku roknya.
[Berhentilah melarikan diri, Viona.]
Genggaman tangannya berangsur melemah, menjatuhkan kertas tersebut. Surat anonim itu ... datang lagi.
Sejak gedung baru dialihkan menjadi gedung SMP dan para siswi kelas 10 (dua tahun lalu) dipindahkan kembali ke gedung lama, beberapa kali surat itu ditemukan di loker klub memanah. Sudah banyak cara yang dilakukannya untuk mengetahui siapa pengirimnya, namun usahanya selalu berakhir nihil. Si pengirim surat sudah tahu tentang adanya kamera pengawas, jadi dia memanfaatkan titik buta untuk menyembunyikan wajahnya yang tersorot.
“Ternyata kau di sini.”
Tubuh Villy tersentak, terkejut melihat orang lain sudah ada di depan matanya.
“Apa yang kau lakukan? Aku mencarimu ke mana-mana.”
Tanpa menggubris, Villy membungkukkan badan dan mengambil secarik surat tadi, menyimpannya kembali ke dalam saku.
Ariana berjalan menghampirinya, mendekatkan jarak di antara mereka. “Aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau?”
“Aku tidak bisa. Aku harus menghadiri pertemuan dengan guru.”
“Aku tahu, aku juga harus datang. Tapi sekarang aku sedang menghadapi suatu masalah yang tidak bisa kutangani sendiri. Villy, bisakah kau memberiku sedikit bantuan?”
“Aku tidak bisa.”
“Kau pandai dalam melakukannya. Kau adalah orang yang tepat untuk—”
“Kubilang tidak bisa!”
Mencegah Villy pergi, Ariana menggenggam pergelangan tangannya. “Kau selalu menolak setiap kali kuminta bantuan. Tidak bisakah kau bersikap lebih baik?”
Villy mengalihkan kontak mata, tidak menggubris.
“Kau bilang kalungku cantik, kan?”
Ucapannya barusan sukses membawa atensi Villy tertuju pada lehernya, di mana liontin berbentuk kelopak bunga berwarna merah muda menyelip di tengah-tengah tulang selangka.
“Apa hari ini kau bertemu dengannya?”
“Siapa?”
“Penyihir itu.”
Ariana tersenyum.
Sementara Villy yang masih lekat berkontak mata, mendadak berubah ekspresi wajahnya. Dahinya yang berkerut dan memberi kesan kedua alisnya nyaris saling bertaut, lenyap dalam sekejap. Matanya yang terpicing tajam layaknya predator buas pun langsung kembali ke bentuknya semula dalam sekali kedip—bentuk matanya yang mirip kacang almond. “Kita bertemu lagi,” katanya sembari membalas balik senyuman si lawan bicara.
“Apa katamu?”
“Wah, tampaknya kau makin mempesona dengan kalung itu. Pasti—”
“Apa yang baru saja kau katakan, Villy?”
Villy tertawa kecil. “Kenapa? Aku menakutimu?”
Belum sempat Ariana berpikir lebih banyak tentang perubahan Villy yang mendadak itu, tiba-tiba dari arah yang tidak diketahui, Ayaa muncul. Dia menarik tubuh Villy supaya menjauh, lalu berdiri di depannya seolah menjadi garda terdepan kalau-kalau terjadi sesuatu.
“Tenanglah, kau harus hadapi dengan kepala dingin.” Villy menepuk bahu Ayaa, tersenyum.
Namun alih-alih lega karena sobatnya tampak baik-baik saja, ia malah merasa ngeri. Maka tanpa lagi menyalak, ia mundur dua langkah ke belakang Villy, membiarkannya untuk maju menyelesaikan Ariana.
“Ariana.” Sembari memanggil nama gadis itu, Villy tersenyum lagi—entah sudah berapa kali ia melakukannya. Dia berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. “Apa masih ada yang mau kau katakan padaku?”
Ariana diam sejenak. Tidak bertanya juga tidak dapat memahami apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Tanpa menggubris, ia pun membalikkan badannya, berlalu dari dua gadis yang masih melemparkan tatapan sinis kepadanya.
“Kau..” Villy beralih bertatap muka dengan Ayaa. “jangan terlalu galak, atau nanti akan banyak yang takut padamu.”
Ayaa mengeluarkan sebuah benda yang masih tersegel di dalam kemasan, menunjukkannya ke depan wajah Villy. “Butuh bantuanku?”
Sebelum Ayaa menyobek kemasan suntikan itu, Villy lebih dulu menggelengkan kepala, lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
“Ternyata tidak sulit.” Ayaa tersenyum menyeringai, lalu memasukkan kembali suntikan tersebut ke dalam saku roknya.
“Ke mana dia?” tanya Villy, kepalanya menengok ke kanan dan kiri mencari Ariana yang beberapa saat lalu sedang berbincang dengan dirinya.
“Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku di sini.” Setelah membantu Villy bangkit, Ayaa merangkul pundaknya sembari berjalan melewati koridor. “Sebelum ke pertemuan kelas 12, ayo kita pergi beli bakpao. Kita harus mengenyangkan perut untuk hari ini.”
“Sepertinya kaulah yang makan paling banyak baik saat istirahat pertama maupun kedua. Kau masih lapar? Oi, apa lambungmu sebesar kepalamu?”
Ayaa memicingkan mata. “Kau mau mati?”
Jdakk..! Tubuhnya tumbang ke belakang tepat setelah mulutnya melontarkan kata-kata ancaman. Luput dari kesadarannya akibat hanya berfokus melototi orang di sebelahnya, ia berjalan dengan tak melihat ke arah depan sehingga terjadi tabrakan tak terduga dengan seseorang yang kebetulan sedang keluar dari suatu ruangan.
“Akkh..” Karinn terduduk di lantai, meringis sakit sambil memegangi kepalanya.
“Karinn?” Di seberangnya, Ayaa yang juga sama-sama terjatuh akibat tabrakan, berkontak mata dengan si pemilik nama. Ia lebih merasa terkejut karena melihat si salah satu anggota kamarnya itu ada di sana padahal sebelumnya ia yakin tidak melihat siapa-siapa di sepanjang koridor tempatnya berjalan. “Apa kau makhluk halus? Bagaimana bisa kau tahu-tahu muncul begini?”