Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kopi, Kertas, dan Kecupan di Pagi Hari
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama, memantul di atas permukaan lantai marmer dan jatuh tepat di ujung hidung Nika. Ia mengerang pelan, mencoba menarik selimutnya lebih tinggi, namun ia merasakan sebuah beban hangat yang melingkar di pinggangnya. Nika membuka matanya sedikit, mendapati wajah Devan yang masih terlelap hanya beberapa sentimeter darinya. Rambut suaminya yang biasanya tertata rapi dengan pomade kini berantakan, jatuh ke dahi, membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda dan jauh lebih manusiawi daripada sosok CEO yang dingin di kantor.
Nika tersenyum, jemarinya terangkat untuk menyingkirkan sehelai rambut itu dengan sangat hati-hati, seolah Devan adalah porselen retak yang baru saja ia rekatkan kembali. Penemuan rahasia besar kemarin tentang kebusukan ayahnya memang meninggalkan luka, namun di sisi lain, hal itu justru menjadi perekat yang luar biasa bagi mereka berdua. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi akting. Hanya ada dua orang yang sedang berusaha saling menyembuhkan.
"Mas... bangun. Katanya ada rapat jam sembilan," bisik Nika, suaranya serak khas bangun tidur.
Devan hanya bergumam tidak jelas, justru semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nika. "Lima menit lagi, Ni. Kasurnya terlalu posesif pagi ini."
Nika tertawa kecil, suara tawanya yang renyah memenuhi kamar yang sunyi itu. "Bukannya kasurnya yang posesif, tapi kamunya yang manja. Mana Devan Adiguna yang katanya 'disiplin adalah kunci kesuksesan' itu?"
Devan mendongak, matanya yang masih mengantuk menatap Nika dengan binar jenaka. "Dia sedang cuti. Hari ini yang ada hanya Devan yang ingin sarapan nasi goreng buatan istrinya, meskipun risikonya dapur meledak lagi."
"Enak saja! Aku sudah lulus kursus kilat dari Mama Sofia, tahu!" Nika mencubit hidung Devan gemas sebelum bangkit dari tempat tidur.
Pagi itu, suasana di dapur terasa sangat berbeda. Jika dulu dapur adalah zona perang dingin, kini tempat itu dipenuhi dengan tawa. Nika sedang sibuk memotong bawang—kali ini dengan kacamata renang milik Devan agar matanya tidak perih—sementara Devan berdiri di sampingnya, menyesap kopi sambil memperhatikan tingkah konyol istrinya.
"Nika, kamu terlihat seperti alien yang sedang belajar memasak," goda Devan, hampir tersedak kopinya saat melihat Nika dengan serius memotong bawang sambil memakai kacamata renang besar berwarna biru.
"Jangan tertawa! Ini teknik tingkat tinggi, Mas Bos. Daripada aku menangis bombay dan kamu mengira aku sedang menyesali pernikahan kita lagi, mending pakai ini, kan?" jawab Nika sambil mengacungkan pisaunya ke arah Devan.
"Iya, iya. Sangat jenius," Devan mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Nika dari belakang, mengabaikan fakta bahwa Nika sedang memegang pisau. Ia meletakkan dagunya di bahu Nika. "Tapi tahu tidak apa yang kurang dari teknikmu?"
"Apa?"
"Bumbu cinta," bisik Devan rendah tepat di telinga Nika, sebelum mengecup pipi istrinya dengan lembut.
Pipi Nika merona merah, lebih merah daripada cabai yang ada di atas talenan. "Mas, berhenti menggoda! Nasi gorengnya nanti gosong!"
Setelah drama kacamata renang berakhir, mereka duduk di meja makan. Nika menyajikan nasi gorengnya dengan penuh percaya diri. Devan menyuap satu sendok, mengunyahnya dengan ekspresi yang sangat serius seolah sedang mengevaluasi laporan keuangan tahunan.
"Bagaimana? Kurang garam?" tanya Nika was-was.
Devan menelan makanannya, lalu menatap Nika dalam-dalam. "Kurang... kurang banyak porsinya. Ini enak, Ni. Benar-benar enak."
Nika bernapas lega. Di tengah kehangatan itu, ia teringat berkas yang ia bawa dari rumah ayahnya kemarin. Ia meletakkannya di atas meja setelah mereka selesai makan. "Mas, soal perusahaan Papa... aku sudah memutuskan. Aku akan masuk ke sana. Bukan sebagai anak yang patuh, tapi sebagai pemegang saham mayoritas yang kamu berikan."
Devan meletakkan sendoknya, raut wajahnya berubah serius namun tetap mendukung. "Kamu yakin? Kamu tahu paman-pamanmu bukan orang yang mudah dihadapi. Mereka sudah terlalu lama 'bermain' di sana."
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka terus merusak namamu dan merugikan Adiguna Group. Aku ingin membersihkan sampah-sampah itu agar pernikahan kita tidak lagi dibayang-bayangi oleh utang budi atau sabotase," ucap Nika mantap. "Tapi... aku butuh mentor. Kamu mau mengajariku?"
Devan tersenyum bangga. Ia meraih tangan Nika, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Tentu. Tapi biayanya mahal, Nyonya Adiguna."
"Mahal? Berapa?"
"Satu ciuman setiap kali kamu berhasil memahami satu istilah teknik sipil yang benar," canda Devan.
"Deal!" jawab Nika cepat, sebelum kemudian tersadar. "Eh, tunggu. Berarti kalau aku bilang 'shrimp' lagi, aku kena denda?"
"Kalau itu, dendanya lebih berat. Kamu harus menemaniku lembur di kantor sambil memakai kacamata renang itu lagi," Devan tertawa lepas, sebuah suara yang membuat hati Nika terasa penuh.
Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Devan bergetar. Sebuah pesan dari asisten lapangannya di Bali. Wajah Devan mengeras seketika saat membaca isinya. Ada laporan bahwa beberapa alat berat di lokasi proyek dirusak secara sengaja semalam, dan ada provokasi yang dilakukan kepada warga lokal untuk menghentikan pembangunan.
Nika melihat perubahan ekspresi itu. Ia tahu, ayahnya tidak akan tinggal diam setelah kejadian kemarin. Perang dingin dengan keluarga Batubara baru saja dimulai.
"Ada masalah di Bali?" tanya Nika pelan.
Devan mengangguk, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. "Hanya kerikil kecil, Ni. Jangan dipikirkan."
Nika menggeleng, ia berdiri dan memutari meja, lalu memeluk leher Devan dari belakang. "Jangan sembunyikan apa pun lagi dariku, Mas. Kita adalah tim sekarang. Kalau ada yang mau merusak proyekmu, mereka harus berhadapan denganku dulu. Ingat, aku sekarang pemegang saham yang galak."
Devan menarik tangan Nika ke depan dadanya, mencium jemari istrinya. "Terima kasih, Sayang. Tapi untuk hari ini, mari kita lupakan Bali sebentar. Aku ingin menikmati sisa kopi ini bersamamu sebelum kita benar-benar 'berperang' di kantor masing-masing."
Mereka menghabiskan waktu beberapa menit lagi dalam diam yang nyaman, hanya suara burung di halaman belakang dan denting cangkir. Nika menyadari bahwa perjuangan untuk mengambil hati Devan mungkin sudah berhasil, namun perjuangan untuk mempertahankan kebahagiaan mereka baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ayahnya sendiri, merusak pondasi yang sudah susah payah mereka bangun kembali dengan air mata dan ikan asin.
"Mas," panggil Nika saat Devan hendak berdiri untuk berangkat.
"Ya?"
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maaf karena aku butuh waktu begitu lama untuk mengatakannya," bisik Nika tulus.
Devan tertegun. Ia menarik Nika ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat seolah takut wanita itu akan menghilang. "Aku sudah menanti kata-kata itu selama setahun, Ni. Dan percayalah, mendengarnya sekarang jauh lebih indah daripada yang pernah aku bayangkan."
Maka, dengan hati yang penuh dan tekad yang kuat, mereka berangkat menuju dunia luar. Dunia yang mungkin penuh dengan intrik dan sabotase, namun bagi Nika, selama ia punya Devan sebagai kompasnya, ia tidak akan pernah tersesat lagi.