NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bayangan di Balik Takhta (Pov:TPP)

Pintu ruang rapat tertutup dengan bunyi berat, mengasingkan ketegangan di dalamnya dari koridor istana yang sunyi. Namun, di balik kayu berukir itu, badai argumen baru saja dimulai.

Magister Valtor adalah yang pertama meledak, wajahnya masih merah oleh campuran rasa terhina dan ketakutan. "Ini gila! Kita baru saja memberikan kepercayaan buta pada sebuah kekuatan yang tidak kita pahami! Dia bisa menghancurkan kita semua kapan saja dia mau!"

Lord Kaelenor, meski lebih tenang, juga tampak gelisah. "Yang Mulia, saya setuju dengan kekhawatiran Magister. Memberinya kebebasan, bahkan terbatas, di dalam istana... itu seperti membiarkan naga tidur di gudang persenjataan. Kita tidak tahu kapan ia akan terbangun."

Namun, Duke Frostweaver, sang elf yang biasanya pendiam, kali ini justru menyela. Suaranya jernih dan penuh pertimbangan, memotong kegelisahan mereka. "Kalian hanya melihatnya sebagai senjata atau monster. Kalian tidak merasakan apa yang saya rasakan saat dia melakukan... itu." Dia menunjuk ke arah di mana Gwyneth tadi berdiri. "Tidak ada niat di sana. Tidak ada getaran sihir jahat, tidak ada ambisi kekuasaan yang biasa memancar dari para pemohon atau pemberontak di ruangan ini. Yang saya rasakan dari dirinya... adalah sebuah kehampaan. Sebuah samudra energi yang begitu luas dan dalam hingga tak terukur, namun tenang. Gelap, tapi bukan gelap kejahatan. Lebih seperti... kegelapan primordial sebelum terciptanya cahaya. Sebuah potensi murni yang belum dibentuk."

Dia memandang mereka satu per satu. "Jika dia benar-benar ingin menghancurkan kita, dia sudah bisa melakukannya. Dengan mudah. Dia bisa membangkitkan setiap jenazah di pemakaman kerajaan, setiap pahlawan yang gugur, dan mengirim mereka ke gerbang istana kita tanpa perlu mengucap satu kata pun. Tapi dia tidak. Dia bahkan merasa bersalah melakukannya pada wanita tua yang tidak punya keluarga itu. Menyebutnya 'buronan kelas kakap' sekarang terasa... tidak etis. Dia lebih seperti bencana alam yang memiliki kesadaran dan memilih untuk tidak menghancurkan."

Argumen Duke Frostweaver membuat beberapa orang terdiam, mempertimbangkannya. Tapi Lord Kaelenor masih ragu. "Itu bisa jadi tipu daya yang sangat canggih, Duke. Sebuah kamuflase untuk membuat kita lengah."

Duke Frostweaver menggeleng, matanya yang tajam penuh keyakinan. "Tidak. Saya telah hidup tiga ratus tahun. Saya telah melihat banyak tipu daya. Yang ini berbeda. Dia... dia seperti anak muda yang tersesat, namun membawa beban yang terlalu berat untuk dipikul siapa pun. Tatapannya pada revenant pertamanya, Eveline... ada kedekatan yang aneh di sana. Bukan nafsu, bukan obsesi. Tapi... kesepian, mungkin. Dan hiburan yang tanpa sadar dia ciptakan untuk dirinya sendiri." Dia berhenti sejenak, lalu dengan nada hampir malu, menambahkan, "Dan saya menyesal telah menertawakan preferensi kecantikannya. Bagi kita, revenant itu hampa dan pucat. Tapi bagi dia, dalam kesepiannya di dunia asing, mungkin kecantikan itu adalah sebuah kenangan akan sesuatu yang manusiawi yang dia rindukan."

Suasana berubah. Argumen Duke Frostweaver yang bersifat emosional dan spiritual ini, datang dari seorang elf tua yang biasanya sangat logis, memberikan perspektif baru.

Maharani yang selama ini diam, akhirnya berbicara. "Jadi, pendapat terpecah. Ada yang ingin menyingkirkannya, ada yang melihatnya sebagai fenomena netral. Pertanyaannya sekarang: apa yang kita lakukan besok? Apakah kita 'mengembalikan' dia ke pulau itu dengan permintaan maaf? Atau kita membiarkannya tinggal di sini, di bawah pengawasan kita?"

"Jangan biarkan dia pergi!" sahut Magister Valtor cepat. "Kekuatan seperti itu harus dipelajari, dikendalikan! Kita harus menemukan kelemahannya, sumber energinya! Bayangkan jika kita bisa mereplikasi—"

"Itu sama saja mencari perkara, Valtor!" potong Duke Frostweaver dengan nada tegas. "Yang Mulia sudah memberikan janji perlindungan. Mencoba 'mempelajari' dia dengan paksa adalah pengkhianatan terhadap kata-kata penguasa kita sendiri, dan lebih dari itu, itu adalah provokasi yang bodoh terhadap kekuatan yang belum kita pahami!"

"Tapi kita tidak bisa membiarkan ancaman seperti ini berkeliaran bebas!" bantah seorang jenderal lain yang hadir.

Debat memanas. Argumen tentang keamanan, etika, janji, dan ketakutan saling bertabrakan. Suara-suara terdengar meninggi, saling memotong. Maharani hanya duduk, mendengarkan dengan ekspresi netral, membiarkan mereka melelahkan diri sendiri dengan kekhawatiran mereka.

Setelah cukup lama, saat debat mulai mereda karena kelelahan, barulah Maharani berbicara lagi. "Cukup. Saya telah mendengar semua. Keputusan saya tetap. Janji perlindungan saya kepadanya berlaku. Namun," dia menekankan, "dia akan tetap berada di dalam istana, di bawah pengawasan yang sangat ketat. Dan sementara dia di sini, kita akan mencoba untuk memahami kekuatannya—bukan dengan paksa atau eksperimen berbahaya, tetapi dengan pengamatan dan, jika dia bersedia, percakapan. Energi yang dia miliki adalah fenomena arkanum yang belum pernah tercatat. Mengabaikannya sama bodohnya dengan mencoba memenjarakannya dengan kasar."

Magister Valtor dan yang sealiran tampak puas dengan bagian 'mempelajari', meski caranya berbeda dari yang mereka harapkan. Duke Frostweaver mengerutkan kening, tidak sepenuhnya setuju.

"Saya khawatir, Yang Mulia," ucap Duke Frostweaver, "'Mempelajari' bisa dengan mudah berubah menjadi 'mengorek' di tangan mereka yang haus akan kekuatan seperti itu. Saya lebih memilih dia dikembalikan ke pulau itu dan kita lupakan saja keberadaannya. Lebih baik dia jauh dari pusat keramaian dan ambisi ini."

"Itu tidak realistis, Duke," jawab Maharani. "Dunia sudah tahu tentang 'Pembangkit', setidaknya melalui desas-desus dari para perompak yang selamat. Menyembunyikannya sekarang sudah terlambat. Lebih baik kita yang mengontrol narasinya dan memahami apa yang kita hadapi."

Duke Frostweaver menarik napas dalam, lalu berdiri. "Kalau begitu, dengan segala hormat, Yang Mulia, saya minta izin untuk menarik diri dari proyek 'pengamatan' ini. Saya tidak ingin menjadi bagian dari sesuatu yang nantinya mungkin akan menyiksa seorang pemuda yang hanya ingin pulang ke rumahnya." Langkahnya mantap meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan yang canggung.

Maharani tidak menghentikannya. Dia memandang yang tersisa. "Rapat ini selesai. Ingat, apa yang kalian saksikan hari ini adalah rahasia tertinggi kerajaan. Tidak ada kebocoran. Jika kata tentang 'Pembangkit' yang bisa memulihkan usia menyebar... kekacauan yang akan timbul jauh lebih mengerikan daripada ancaman perang mana pun."

Semua membungkuk patuh, lalu satu per satu meninggalkan ruangan dengan pikiran yang berat.

Beberapa jam kemudian, di ruang kerja pribadi Maharani, hanya ditemani oleh Lady Seraphine, tangan kanannya yang paling dipercaya, suasana lebih tenang.

"Yang Mulia," bisik Lady Seraphine, membawa sebuah laporan kulit. "Ada informasi dari sumber terpercaya di Kadipaten Lindenroth, dari keluarga van der Linden yang sudah hampir punah. Seorang paman dari pihak ibu, Alaric, memberikan kesaksian."

Maharani mengangkat alis. "Tentang Eveline?"

"Tentang Rian Saputra," koreksi Seraphine. "Alaric mengonfirmasi bahwa Rian membangkitkan istrinya yang telah meninggal karena sakit lama. Namun... Rian melakukannya hanya setelah diminta, dan setelah Alaric sendiri mengikhlaskan. Dan yang lebih menarik, setelah beberapa waktu, Alaric menyatakan penyesalan yang mendalam. Dia memohon pada Rian untuk... 'mengembalikan' istrinya ke peristirahatan. Dan Rian melakukannya. Dia membubarkan revenant itu, mengembalikannya menjadi jasad tak bernyawa, dengan tenang dan tanpa protes."

Maharani terdiam, memproses informasi itu. Jadi, dia tidak hanya bisa membangkitkan. Dia juga bisa membatalkannya. Dan dia melakukannya atas permintaan keluarga, menghormati duka mereka. Itu konsisten dengan pria yang menolak membangkitkan Gwyneth tanpa 'izin'.

"Rahasiakan ini, Seraphine," perintah Maharani akhirnya. "Hanya kita berdua yang tahu."

"Ya, Yang Mulia."

Maharani berdiri, memandang ke jendela yang menghadap ke taman istana yang gelap. Pikirannya berputar pada sosok pemuda asing yang kini berada di sayap istana yang jauh. Dia bukan monster. Bukan senjata. Dia adalah sebuah paradigma berjalan. Sebuah kekuatan yang bisa memberi hidup dan mengambilnya kembali, namun terikat oleh moralitas pribadi yang anehnya lebih kuat daripada ambisi mana pun.

Dengan keputusan yang tiba-tiba, Maharani berbalik. "Seraphine, siapkan pengawal minimal. Saya akan mengunjungi tamu kita. Sekarang."

Naluri sebagai penguasa dan rasa penasaran sebagai seorang sarjana memaksanya untuk melihat lebih dekat. Untuk berbicara langsung, tanpa filter para penasihat yang penuh ketakutan. Dia perlu tahu: siapa sebenarnya Rian Saputra, dan apa yang sebenarnya dia inginkan di dunia yang bukan miliknya ini.

 Dengan hanya ditemani oleh dua pengawal pribadi yang paling dipercaya dan Lady Seraphine, Maharani Aurelia berjalan menyusuri koridor istana yang sepi menuju sayap barat daya. Di tangannya, Seraphine membawa sebuah nampan perak berisi makanan: potongan daging burung pheasant panggang dengan saus buah beri, roti gandum hangat, keju lembut, dan buah-buahan segar. Makanan yang enak, sederhana namun lezat, dan yang pasti tidak mengandung alkohol atau daging binatang yang diharamkan dalam keyakinan tertentu—sebuah pertimbangan kecil yang muncul begitu saja dalam pikirannya setelah mendengar Rian menyebut 'Tuhan' dalam percakapan sebelumnya.

Ruang yang disediakan untuk Rian bukanlah sel tahanan. Itu adalah kamar tamu bangsawan tingkat menengah. Masih mewah dengan standar mana pun: permadani tebal, tempat tidur berkelambu, meja tulis, dan perapian kecil. Tapi bagi seorang yang bisa membangkitkan orang mati, kamar ini mungkin terasa seperti sangkar yang indah.

Saat pintu dibuka, Maharani melihat Rian sedang berdiri di depan jendela, menatap taman malam istana yang diterangi obor. Posturnya tidak terlihat murung atau marah, hanya... kontemplatif. Saat mendengar pintu terbuka, dia berbalik. Matanya, yang sebelumnya kosong, langsung fokus padanya. Dan tanpa ragu, tubuhnya menjadi tegap, tangan kanannya terangkat cepat ke pelipis dalam hormat militer yang sama seperti di ruang takhta.

Sekali lagi, gestur yang tidak biasa itu membuat Maharani tersenyum kecil, campur antara hiburan dan sesuatu yang mirip kelembutan. "Sudah, Rian. Santai saja. Tidak perlu tegang di sini."

Dia melangkah masuk, memberi isyarat pada Seraphine untuk meletakkan nampan di meja. Para pengawal tetap di luar, pintu dibiarkan terbuka sedikit.

"Saya membawakan makanan. Semoga sesuai dengan selera... atau setidaknya, tidak melanggar keyakinanmu," ucap Maharani, duduk di salah satu kursi di dekat meja.

Rian mengangguk, perlahan mendekat namun tidak langsung duduk. "Terima kasih, Yang Mulia. Ini... lebih dari cukup."

"Silakan duduk. Mari kita bicara."

Rian akhirnya duduk di seberangnya, posturnya masih agak kaku. Maharani memutuskan untuk langsung ke inti.

"Saya akan jujur padamu, Rian. Hasil rapat tidak bulat. Banyak yang masih takut padamu. Mereka ingin menahammu, mempelajarimu, bahkan mencari kelemahanmu." Dia mengamati reaksinya. Tidak ada kemarahan, hanya penerimaan yang tenang. "Karena itu, untuk sementara waktu, kamu akan tetap berada di istana. Ini untuk keamananmu sendiri, dan... untuk ketenangan para penasihat saya. Waktunya belum bisa ditentukan."

"Jika itu yang terbaik untuk mencegah kekacauan, saya mengerti," jawab Rian, suaranya datar. "Saya tidak akan mencari masalah."

"Bagus. Selain itu," lanjut Maharani, mencoba memilih kata-kata yang tepat, "kami—saya dan beberapa ahli sihir terpercaya—ingin... memahami kekuatanmu. Bukan untuk menyalin atau mencurinya, tapi untuk mengetahui sifatnya. Apakah ini sihir? Energi lain? Dari mana asalnya? Ini murni untuk pengetahuan."

Rian mengerutkan kening. "Ini... bukan eksperimen bedah-membedah, kan? Atau... memaksa saya menggunakan kekuatan?"

"Tidak, tidak sama sekali," Maharani segera meyakinkan, suaranya tegas. "Tidak akan ada paksaan. Hanya pengamatan, pengukuran energi, dan mungkin pertanyaan. Kamu bisa menolak kapan saja. Saya sendiri yang akan mengawasi prosesnya."

Rian menghela napas, tampak lega namun masih waspada. "Saya... sudah takut dengan kekuatan ini sendiri. Diteliti... rasanya semakin aneh. Tapi jika Yang Mulia yang menjamin..."

"Saya menjamin," ucap Maharani, menatapnya langsung. "Kata-kataku sebagai Maharani masih memiliki arti di istana ini."

Diam sejenak. Lalu, Maharani menarik napas, merasa perlu mengakui sesuatu. "Dan... tentang kata-kataku tadi. Di ruang rapat. 'Munafik yang nyaman'. Itu... keluar dari kekesalan dan kebingungan saya sendiri. Maafkan saya. Itu tidak pantas."

Dia mengira Rian akan marah, atau setidaknya tersinggung. Tapi reaksinya justru membuatnya bingung. Rian hanya memandangnya, ekspresinya tidak berubah, seolah kata-kata itu tidak meninggalkan bekas sama sekali. Kemudian, dengan suara datar, dia berkata, "Tidak masalah."

Bukan 'saya memaafkan', bukan 'lupakan saja'. Hanya 'tidak masalah'. Seolah masalahnya bukan pada penghinaannya, tapi pada sesuatu yang lebih besar yang membuat penghinaan kecil seperti itu jadi tidak relevan.

Sebelum Maharani bisa menanggapi, Rian melanjutkan, suaranya lebih rendah, hampir seperti berbisik namun terdengar jelas di kamar yang sunyi. "Sebagai ganti permintaan maaf, Yang Mulia... boleh saya memberi saran? Atau lebih tepatnya, peringatan?"

Maharani mengangguk, penuh perhatian. "Katakanlah."

"Hati-hatilah dengan para pejabat di sekeliling Yang Mulia," ucap Rian, matanya yang biasanya tampak jujur kini berisi sesuatu yang gelap—bukan ancaman, tapi firasat. "Saya tidak tahu siapa, dan saya tidak bisa membuktikannya. Tapi... saya merasakannya. Aura di ruang rapat tadi... tidak semuanya tulus dalam mendukung Yang Mulia. Ada yang berpura-pura setuju, tapi di dalam... ada ketamakan yang dingin. Seperti mereka melihat saya bukan sebagai ancaman, tapi sebagai peluang. Peluang untuk sesuatu yang bisa digunakan melawan Yang Mulia sendiri suatu hari nanti."

Dia berhenti, memastikan kata-katanya terserap. "Saya mungkin orang asing di sini. Tapi saya sudah cukup lama melihat bagaimana orang bermain politik di dunia saya. Wajah bisa tersenyum, tapi niat bisa berbisa. Dan kekuatan saya... dalam tangan yang salah, bisa menjadi alat untuk kudeta, atau pemerasan, atau sesuatu yang lebih buruk. Tolong, waspadalah."

Kata-kata itu menggantung di udara, lebih berat daripada ancaman langsung mana pun. Rian tidak menyebut nama. Dia hanya memberikan peringatan berdasarkan 'perasaannya'. Tapi setelah apa yang Maharani saksikan hari ini—kemampuannya merasakan dan memanipulasi esensi kehidupan—apakah 'perasaan' seperti itu bisa diremehkan?

Lady Seraphine, yang diam di samping, menegakkan posturnya, wajahnya berkerut khawatir. Maharani sendiri merasa dingin menyusuri tulang punggungnya. Dia tahu persaingan dan persekongkolan di istananya. Dia selalu waspada. Tapi mendengarnya dari mulut seorang 'tahanan' yang seharusnya hanya memikirkan keselamatannya sendiri... itu memberikan perspektif yang mengerikan.

Dia mengangguk perlahan, ekspresinya serius. "Peringatanmu didengar, Rian Saputra. Dan dihargai." Dia berdiri. "Istirahatlah. Makanlah. Besok, kita akan mulai dengan percakapan yang lebih ringan. Tentang duniamu, mungkin."

Dia berbalik untuk pergi, pikiran dipenuhi oleh bayangan wajah-wajah para penasihatnya, masing-masing dianalisis ulang dengan kecurigaan baru. Di ambang pintu, dia menoleh sekali lagi. Rian masih duduk di sana, menatap nampan makanan, tetapi tampak seperti tidak benar-benar melihatnya. Seorang pemuda yang terjebak di antara dua dunia, membawa kekuatan yang bisa mengubah segalanya, namun hanya meminta satu hal: untuk pulang, dan untuk tidak ada yang terluka dalam prosesnya.

Maharani Aurelia Theodora van Aethelgard meninggalkan kamar itu dengan beban yang lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena kekuatan Rian, tetapi karena kemungkinan bahwa ancaman terbesar terhadap takhtanya mungkin bukan berasal dari si penyihir asing, tetapi dari bayangan-bayangan setia yang selama ini berdiri di sisinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!