NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhitungan yang Tenang

Dua hari setelah insiden di lobby, suasana kantor Hartono Group kembali sibuk seperti biasa.

Namun bagi orang yang mengenal Rania dengan baik, ada sesuatu yang berubah.

Arsen menyadarinya sejak pagi.

Rania bekerja seperti biasa.

Rapat.

Menandatangani dokumen.

Membahas strategi perusahaan.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Dan itu justru membuat Arsen merasa tidak nyaman.

Ketika rapat terakhir selesai, Arsen akhirnya berkata,

“Kau merencanakan sesuatu.”

Rania menutup map di depannya.

“Bukankah kita selalu merencanakan sesuatu?”

Arsen menyilangkan tangan.

“Bukan tentang bisnis.”

Ia menatapnya tajam.

“Ini tentang Adrian.”

Rania tidak langsung menjawab.

Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela.

Langit sore terlihat pucat.

Mobil-mobil kecil bergerak seperti titik-titik di jalan raya jauh di bawah.

Beberapa detik berlalu.

Lalu Rania berkata pelan,

“Ada utang yang belum dibayar.”

Arsen menghela napas kecil.

“Aku tahu.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi kau yakin ingin melakukannya sekarang?”

Rania menoleh.

“Kenapa tidak?”

“Karena kita sedang menghadapi Darmawan.”

Rania tersenyum tipis.

“Justru karena itu.”

Arsen mengerutkan kening.

Rania melanjutkan,

“Jika Adrian ingin berdiri di sisiku melawan Darmawan…”

Ia berhenti sebentar.

“…maka dia harus tahu apa yang sebenarnya dia hancurkan tiga tahun lalu.”

Arsen terdiam.

Ia tidak bisa membantah itu.

Rania kembali duduk di kursinya.

“Ada rapat dengan Adrian Group sore ini, kan?”

Arsen mengangguk.

“Ya.”

“Bagus.”

Rania mengambil pena dari meja.

“Kita mulai dari sana.”

Ruang rapat di lantai tiga puluh terasa sunyi ketika Adrian masuk.

Beberapa eksekutif dari kedua perusahaan sudah duduk di tempat masing-masing.

Arsen berada di sisi kanan meja.

Rania duduk di ujung meja dengan ekspresi tenang.

Adrian berjalan ke kursinya di sisi berlawanan.

Beberapa orang menatap mereka berdua dengan hati-hati.

Hubungan antara dua pemimpin perusahaan itu selalu terasa… rumit.

Rapat dimulai seperti biasa.

Laporan proyek.

Analisis pasar.

Strategi investasi.

Namun setelah hampir satu jam, Rania tiba-tiba berkata,

“Ada satu hal lagi yang ingin saya bahas.”

Semua orang menoleh padanya.

Rania membuka sebuah map tipis.

“Ini bukan tentang proyek.”

Arsen langsung mengerti.

Ia menatap Rania sebentar.

Namun tidak mengatakan apa-apa.

Rania melanjutkan dengan tenang,

“Saya ingin membicarakan masalah reputasi.”

Seorang direktur dari Adrian Group berkata,

“Apakah ini tentang penyelidikan proyek lama?”

Rania menggeleng pelan.

“Bukan.”

Ia menatap Adrian langsung.

“Ini tentang masa lalu.”

Suasana ruangan langsung berubah.

Beberapa orang mulai merasa tidak nyaman.

Adrian berkata pelan,

“Rania..”

Namun Rania memotongnya.

“Tiga tahun lalu saya diusir dari keluarga Adrian.”

Beberapa eksekutif langsung saling menatap.

Mereka tidak menyangka topik ini akan muncul di ruang rapat resmi.

Rania melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

“Peristiwa itu menjadi berita besar minggu ini.”

Ia menutup map di depannya.

“Dan reputasi perusahaan kita sekarang saling terhubung.”

Adrian mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Rania menjawab tanpa emosi,

“Maksud saya sederhana.”

Ia menatap semua orang di ruangan itu.

“Jika kita ingin bekerja sama, masa lalu harus jelas.”

Seorang direktur dari Adrian Group terlihat gelisah.

“Apakah ini benar-benar perlu dibahas di sini?”

Rania menjawab dengan dingin,

“Sangat perlu.”

Ia kembali menatap Adrian.

“Karena orang-orang di ruangan ini berhak tahu bagaimana keputusan bisnis dibuat tiga tahun lalu.”

Adrian menatapnya dalam diam.

Rania melanjutkan,

“Ketika keluarga Adrian mengusir saya…”

Ia berhenti sebentar.

“…CEO Adrian Group saat itu tidak mengatakan satu kata pun.”

Semua mata kini tertuju pada Adrian.

Suasana ruangan terasa berat.

Adrian akhirnya berkata,

“Kita sudah membicarakan ini.”

Rania tersenyum tipis.

“Belum.”

Ia menatapnya lurus.

“Kita hanya membicarakannya secara pribadi.”

Ia berhenti sebentar.

“Sekarang aku ingin membicarakannya secara terbuka.”

Arsen melihat ekspresi beberapa eksekutif di ruangan itu.

Beberapa terlihat tidak nyaman.

Beberapa justru terlihat penasaran.

Rania melanjutkan dengan suara yang tetap datar.

“Karena keputusan diam itu…”

Ia mengetuk meja pelan.

“…menghancurkan reputasi saya selama tiga tahun.”

Adrian menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Namun Rania belum selesai.

“Jadi saya ingin menanyakan sesuatu di depan semua orang.”

Ia berhenti sebentar.

“Jika situasi itu terjadi lagi…”

Rania menatap Adrian dalam-dalam.

“…apakah Anda akan membuat keputusan yang sama?”

Ruangan itu benar-benar sunyi.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang berbicara.

Semua orang menunggu jawaban Adrian.

Adrian akhirnya menarik napas panjang.

Ia menatap Rania beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan,

“Tidak.”

Jawaban itu membuat beberapa orang sedikit terkejut.

Namun Rania hanya tersenyum tipis.

“Sayangnya jawaban itu datang tiga tahun terlambat.”

Kalimat itu jatuh seperti batu di air tenang.

Adrian tidak menjawab.

Rania akhirnya berdiri.

“Rapat selesai.”

Semua orang perlahan mulai bangkit dari kursi mereka.

Suasana masih terasa canggung.

Arsen berjalan mendekati Rania ketika ruangan mulai kosong.

Ia berkata pelan,

“Ini baru permulaan, kan?”

Rania mengambil tasnya.

“Ya.”

Arsen menatapnya.

“Kau benar-benar ingin membuatnya menyesal.”

Rania berhenti sebentar.

Lalu ia berkata dengan suara yang sangat tenang,

“Bukan.”

Arsen mengerutkan kening.

“Lalu?”

Rania menatap pintu ruang rapat, tempat Adrian masih berdiri sendirian.

“Dia harus mengerti.”

Ia melanjutkan dengan dingin,

“Seberapa mahal harga dari satu keputusan diam.”

Di dalam ruang rapat itu Adrian masih berdiri di tempatnya.

Ia melihat kursi yang tadi diduduki Rania.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama ia merasakan sesuatu yang berat di dadanya.

Sesuatu yang belum pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya.

Penyesalan.

Namun Rania belum selesai.

Dan Adrian baru saja mulai merasakannya.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!