Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Shafira, Vinna, dan Nita memulai usaha katering mereka dengan penuh semangat. 'Rasa Rindu Catering' nama usaha mereka, mulai dikenal banyak orang. Setiap harinya, mereka sibuk menerima pesanan, memasak, dan memastikan semua makanan diantar tepat waktu.
Shafira adalah jantung dapur, dengan keterampilannya menciptakan hidangan yang selalu menggugah selera. Vinna, dengan kecerdasan analitisnya, mengelola keuangan. Sementara itu, Nita, yang masih bekerja di sebuah perusahaan konveksi, membantu di akhir pekan dan sepulang dari kantor. Ia memanfaatkan keahliannya dalam desain untuk mempercantik kemasan.
"Kita harus terus menjaga kualitas," ujar Shafira sambil memeriksa bahan-bahan untuk pesanan esok hari.
"Betul, tapi jangan lupa kita juga butuh istirahat." ujar Vinna.
"Istirahat? Kayaknya kita lupa apa itu istirahat sejak memulai usaha ini." Nita tertawa diikuti kedua sahabatnya.
Mereka nyaris tidak mempunyai waktu istirahat, karna pesanan selalu ramai setiap hari. Meskipun mereka memiliki 4 karyawan yang membantu mereka. Mereka juga sering tidur diruko, dan untung saja ada satu kamar yang lumayan besar sebagai tempat mereka beristirahat.
Tapi meski begitu, mereka selalu menikmati saat-saat kebersamaan mereka, apalagi melihat respon pembeli yang suka dengan menu mereka yang ramah dikantong, tapi memiliki cita rasa yang enak. Membuat mereka semakin semangat dalam mengembangkan usaha kecil-kecilan mereka.
"Kalau pelanggan terus rame, nanti kita bisa menambah karyawan lagi. Terus kita bisa memperbesar usaha katering ini." ujar Vinna penuh semangat.
"Iya, berkat tangan ajaib Shafira yang selalu bisa menyulap makanan menjadi enak, pelanggan kita pasti terus berdatangan. Terima kasih ya besti lo udah mau ajakin gue gabung di usaha lo ini." ucap Nita memeluk Shafira.
"Lo ngomong apa sih, ini usaha kita bersama ya, bukan usaha gue aja. Gue juga gak akan bisa memulai ini semua tanpa kalian. Kalian berdua juga punya peran penting di usaha ini. Jadi jangan berterima kasih, kita harus terus kompak. Semoga usaha ini bisa tambah besar, syukur-syukur bisa sampai membuka cabang." ujar Shafira nyengir.
"Amiin.. kita pasti bisa. Semangat." pekik keduanya heroik.
Di tengah kesibukannya di perusahaan konveksi, Nita mendengar kabar bahwa perusahaan tempatnya bekerja akan mengadakan rapat besar. Dengan antusias, ia mengusulkan agar katering untuk acara tersebut dipesan dari 'Rasa Rindu Catering'
"Saya tahu katering yang pas," kata Nita kepada tim yang bertugas menangani konsumsi saat adanya rapat diperusahaan.
"Kamu yakin? Kita biasanya pakai vendor tetap." jawab seorang rekan kerja.
"Percayalah, makanannya enak dan pelayanannya top. Aku jamin kalian nggak akan kecewa."
Usulan Nita akhirnya diterima. Saat ia memberi tahu Shafira dan Vinna, keduanya terkejut sekaligus bersemangat.
"Ini pesanan besar, Nit. Kita harus ekstra persiapan," kata Shafira.
"Dan ini diperusahaan tempat lo kerja, dan lo yang merekomendasikan katering kita. Tekanannya pasti lebih besar," tambah Vinna.
"Aku percaya kalian. Lagipula, kalau sukses, ini bisa jadi peluang besar buat kita."
Hari yang dinantikan pun tiba. Shafira dan timnya datang lebih awal untuk memastikan semua makanan tersaji dengan sempurna.
Nita, yang sibuk dengan tugas kantor, tak sempat membantu di lokasi.
Ketika Shafira tengah merapikan susunan kotak makanan, seorang pria tinggi dengan setelah jas mahal mendekat.
"Katering dari Rasa Rindu, ya?"
Shafira mendongak, dan wajahnya langsung berubah. Itu Kenzo, pemilik perusahaan, pria yang sebelumnya pernah bertemu dengannya secara kebetulan.
"Pak Kenzo?" gumam Shafira, terkejut.
Kenzo juga tak kalah terkejut, tidak menyangka bertemu lagi dengan wanita yang diam-diam ia sukai ini.
"Mbak Shafira? Kita bertemu lagi, sepertinya takdir sering mempertemukan kita." ujar Kenzo berusaha menutupi rasa gugupnya.
Shafira hanya tersenyum malu, sementara Kenzo memanfaatkan momen itu untuk berbicara lebih banyak.
"Makanan kateringmu terlihat enak. Kamu benar-benar berbakat mbak Shafira." puji Kenzo.
"Terima kasih, tapi jangan panggil mbak, panggil Shafira saja Pak." ucap Shafira sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Oh, oke Shafira." ujar Kenzo salah tingkah.
Setelah pertemuan itu, Kenzo semakin sering memesan makanan dari kateringnya, entah itu untuk acara rapat atau sekedar untuk makan siangnya sendiri. Ia juga mulai mencari alasan untuk datang langsung, meskipun sebenarnya ia bisa saja menyuruh stafnya.
Vinna, yang selalu jeli membaca situasi, selalu menggoda Shafira.
"Kayaknya ada seseorang yang tertarik lebih dari sekadar makanannya deh." goda Vinna menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih?" Shafira pura-pura tak paham, tapi pipinya memerah.
"Pepet terus Ra, jangan kasih kendor. Ini CEO loh, pemilik perusahaan besar. Jauh dari si Aris, kelihatannya juga pak Kenzo orangnya baik.
Pokoknya aku dukung kamu kalau sama pak Kenzo deh." ujar Vinna menggoda Shafira.
"Aku juga setuju sama Vinna, pak Kenzo itu orangnya baik. Walau pemilik perusahaan besar, tapi gak angkuh dan judes sama para karyawannya.
"Kalian ngomong apa sih, gue belum ada kepikiran kearah sana. Masa iddah gue juga masih dua bulan lagi. Jadi belum pantes kalau harus ngomongin soal pasangan lagi." ujar Shafira yang masih takut untuk membuka hatinya kembali, ia tidak ingin salah pilih dan berakhir gagal seperti pernikahan pertamanya. Orang-orang pasti mengira dialah yang bermasalah kalau sampai pernikahan keduanya juga berakhir sama.
Malam harinya seperti biasa, pak Agus akan beralasan pergi ngeronda pada istrinya, dan akan pulang larut malam. Padahal pak Agus hanya sebentar ikut ngeronda, bisa dibilang hanya setor muka. Waktunya ia habiskan dirumah Siska, sang janda kampung sebelah.
"Saya duluan ya, mau keliling-keliling dulu." ujar pak Agus pada teman-temannya yang ikut ngeronda.
"Ngopi-ngopi dulu aja pak Agus, nanti kelilingnya bareng-bareng aja." sahut Dudung.
"Saya udah ngopi dirumah, duluan ya." pak Agus langsung berjalan sebelum teman-temannya bertanya lebih banyak. Sedari tadi Siska tidak berhenti menghubunginya untuk cepet datang kerumahnya.
Diperjalanan pak Agus sempat melamun, kepalanya pening memikirkan bagaimana caranya memberi tahu istrinya tentang hubungannya dengan Siska, karna Siska mengancam akan memberi tahu istrinya kalau ia tidak segera dinikahi. Siska ingin segera dinikahi sebelum perutnya semakin membesar, ia tidak mau orang-orang tahu kalau ia hamil tanpa suami.
"Bisa-bisa aku diamuk sama Ratna kalau tahu aku selingkuh sama Siska." gumam pak Agus bergidik membayangkan bagaimana istrinya yang galak itu akan mengamuk kalau ia bicara jujur.
"Kenapa juga Siska bisa sampai hamil, padahal niatnya cuma main-main doang. Jadi ribet gini kan." keluhnya, ada rasa menyesal karna ia bisa sampai tergoda dengan rayuan Siska.
Padahal aslinya pak Agus orangnya tidak pernah neko-neko. Tapi karna Siska yang terus datang kesawah ketika ia bekerja, dan sering mengantarkan makanan untuknya membuat pak Agus akhirnya luluh. Dulu pak Agus hanya berani mengajak Siska sekedar nongkrong diwarung, tapi karna Siska yang terus merayu dan menggodanya membuat pak Agus memberanikan diri main kerumahnya, dan sampailah Siska yang sekarang mengandung anaknya.
Ditengah lamunannya, pak Agus sampai tidak sadar ada orang yang memergokinya datang kerumah Siska.
"Loh pak, itu bukannya pak Agus ya, tapi kenapa malam-malam datang kerumah si Siska ya? Sendirian lagi." ujar bu Yanti tetangga sebelah rumah Siska, yang kebetulan baru pulang bersama suaminya.
"Eh iya, itu beneran pak Agus." ucap suami bu Yanti yang ingin memanggil pak Agus, tapi segera ditahan oleh istrinya.
"Jangan dipanggil pak, kita gak tahu pak Agus mau apa datang kerumah si Siska. Jangan-jangan mereka punya hubungan lagi, kita intip aja yuk." ajak bu Yanti yang kepo sambil menyeret tangan suaminya.
"Hubungan apa sih bu, ibu jangan bikin gosip ah, nanti kedengeran orang bisa bahaya. Pak Agus itu orangnya baik kok." ujar pak Dani, suami bu Yanti menggeleng kepalanya melihat tingkah istrinya. Ia memang kenal dengan pak Agus, karna pak Dani juga bekerja disawah milik orang bersama pak Agus.
"Ya mau apa coba pak Agus malam-malam main kerumah seorang janda kalau mereka gak ada apa-apa. Udah ayo, kita intip mereka."
Pak Dani akhirnya pasrah tangannya ditarik oleh sang istri, mereka mengendap-endap menuju pintu rumah Siska. Bu Yanti menempelkan telinganya berusaha menangkap suara yang berasal dari dalam rumah Siska.
"Kapan dong akang mau nikahi Siska, janji-janji terus. Keburu perut Siska makin besar ini." ujar Siska merajuk.
"Akang lagi cari cara dulu supaya bisa ngomong sama Ratna, adek sabar dulu ya. Secepatnya akang akan nikahi adek."
"Ngomong aja langsung kang, ngapain takut-takut sama nenek peyot itu, akang jangan mau diatur-atur sama dia."
"Bukan gitu maksud akang, adek kan tahu akang punya dua anak yang sudah besar-besar, akang gak mau kalau sampai anak-anak akang benci sama akang gara-gara akang selingkuh." ujar pak Agus yang masih memikirkan bagaimana tanggapan kedua anaknya kalau sampai mereka tahu bapaknya berselingkuh sampai menghamili perempuan lain. Pak Agus juga takut diamuk oleh istrinya yang galak itu.
"Akang tenang aja, adek pasti bisa buat anak-anak akang nerima adek sebagai mama baru mere.... "
Brakk...
Ucapan Siska terpotong dengan suara dobrakan pintu, disusul dengan munculnya beberapa warga yang menerosbos masuk.
Deg...
Keduanya terdiam membeku melihat para warga yang sudah berkumpul didepan rumah.
"Kalian sedang berbuat mesum ya." teriak salah satu warga yang melihat Siska sedang bergelayut manja dilengan pak Agus dengan pakaian yang seksi dan ketat.