"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kantor yang Terlalu Bersih
Sejak kejadian di kampus, Nirbi benar-benar "dikarantina" untuk fokus kuliah. Pagi-pagi sekali dia sudah diantar sopir pribadi Calvin. Kantor Weinstein Group kembali ke setelan pabrik: sunyi, dingin, dan sangat membosankan.
Calvin duduk di kursinya, menatap meja asisten di luar ruangannya yang kosong melompong. Tidak ada plastik bakwan yang berminyak, tidak ada suara tawa yang cempreng, dan tidak ada aroma stroberi yang biasanya memenuhi ruangan.
Calvin mengambil pulpennya, lalu meletakkannya lagi. Ia menghela napas. "Terlalu tenang. Ini tidak sehat untuk produktivitas," gumamnya pada diri sendiri.
Ia melirik jam. Baru pukul 10.00 pagi. Nirbi pasti sedang ada di kelas Hukum Bisnis. Calvin meraih ponselnya.
Telepon Darurat Pertama: Masalah Font
Drrtt... Drrtt...
Nirbi yang sedang serius mencatat penjelasan dosen terlonjak saat ponselnya bergetar. Ia mengintip di bawah meja. Pak Bos Posesif Calling.
"Halo?" bisik Nirbi pelan.
"Nirbita, kamu di mana?" suara Calvin terdengar sangat mendesak.
"Lagi di kelas, Kak! Kan tadi Kakak sendiri yang nganter ke depan gerbang," jawab Nirbi gemas. "Ada apa? Penting banget?"
"Sangat penting. Laporan audit yang kamu ketik kemarin... kenapa line spacing-nya 1.45? Saya minta 1.5. Ini sangat mengganggu simetri mata saya."
Nirbi melongo. "Hah?! Kak, beda 0.05 doang! Tinggal Kakak blok terus ganti sendiri kan bisa!"
"Saya tidak mau menyentuh dokumen yang sudah 'terkontaminasi' kesalahan teknis. Cepat kirimkan revisinya lewat email sekarang juga."
"Kak, aku lagi di tengah kuliah! Nanti ya pas istirahat!" Klik. Nirbi mematikan teleponnya.
Telepon Darurat Kedua: Kehilangan Benda Vital
Tiga puluh menit kemudian, ponsel Nirbi bergetar lagi.
"Apa lagi, Kak Calvin?" tanya Nirbi, kali ini suaranya mulai naik.
"Nirbita, di mana kamu menaruh klip kertas warna perak yang ada di laci kanan atas saya? Sekarang di sana hanya ada klip warna hitam. Kamu tahu saya benci warna yang tidak seragam."
Nirbi memijat pelipisnya. "Di laci bawah, Kak! Aku pindahin karena kemarin laci atas kepenuhan. Ya ampun, cuma masalah klip doang?!"
"Kertas penting tidak bisa disatukan dengan klip hitam, itu terlihat seperti berkabung. Kamu harus kembali ke kantor sekarang untuk merapikannya."
"GAK MAU! Kakak yang bilang aku nggak boleh bolos! Udah ya, dosennya udah ngeliatin aku terus!"
Puncaknya: Insiden "Kuman" di Ruangan
Saat jam makan siang, Calvin sudah tidak tahan lagi. Ia merasa seisi kantor ini kotor karena tidak ada Nirbi yang bisa ia omeli. Ia kembali menelepon.
"Nirbita."
"Apalagi sih, Pak Bos?! Aku lagi makan kantin sama temen-temen!"
Suara Calvin mendadak berubah menjadi sangat serius dan agak parau. "Ada masalah besar di ruangan saya. Sepertinya ada serangga... atau mungkin kuman jenis baru yang hinggap di sofa. Saya tidak bisa duduk. Saya butuh kamu untuk memeriksa ini."
Nirbi panik. "Hah? Serangga apa? Kecoa? Kakak kan paling takut kecoa!"
"Entahlah. Bentuknya kecil, berwarna cokelat, dan sangat mencurigakan. Cepat ke sini."
Nirbi yang merasa khawatir (dan merasa bersalah karena meninggalkan Calvin sendirian dengan ketakutannya pada kuman), akhirnya minta izin pada dosen dan berlari menuju kantor dengan taksi.
Begitu ia sampai di ruangan Calvin dengan napas tersengal-sengal, ia mendapati Calvin sedang duduk tenang sambil menyesap kopi, menatap jendela.
"Mana? Mana serangganya?!" seru Nirbi panik, siap menghajar apa pun dengan tasnya.
Calvin menoleh pelan, lalu menunjuk ke sebuah remah kecil di ujung sofa yang bahkan hampir tak terlihat. "Itu. Sepertinya itu remah biskuitmu yang tertinggal dari tiga hari lalu. Saya baru melihatnya."
Nirbi terdiam. Ia menatap remah itu, lalu menatap Calvin yang wajahnya sangat lempeng. "Kak... Kakak nyuruh aku bolos jam terakhir cuma buat liat remah biskuit yang udah kering kerontang ini?!"
"Saya merasa... tidak fokus bekerja jika remah itu ada di sana," jawab Calvin tenang, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia terus menatap Nirbi dengan binar yang lega.
Nirbi langsung menjatuhkan tasnya di sofa dan berkacak pinggang. "Bilang aja Kakak kangen sama aku! Bilang aja Kakak kesepian nggak ada yang diberantakin!"
Calvin berdehem, wajahnya sedikit merona tapi ia tetap menjaga wibawa. "Kangen? Itu kata yang sangat tidak ilmiah. Saya hanya butuh asisten saya berada di posisinya agar ekosistem kantor ini kembali normal."
"Halah! Bohong banget!" Nirbi mendekati Calvin, menyipitkan mata. "Tuan Higienis ternyata nggak bisa hidup tanpa si Kuman Cantik ini ya?"
Calvin menarik tangan Nirbi, membuat gadis itu berdiri tepat di antara kedua kakinya. "Mungkin. Karena ternyata, ruangan yang terlalu bersih itu rasanya... dingin jika tidak ada kamu yang mengotorinya sedikit."
Nirbi tertegun, wajahnya mendadak panas. "Ih... Kak Calvin pinter gombal sekarang ya. Belajar dari mana?"
"Dari asisten saya yang tidak tahu diri," bisik Calvin sambil menarik Nirbi ke dalam pelukannya, menghirup aroma stroberi yang akhirnya kembali "mensterilkan" harinya yang hampa.