NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pasar Hantu dan Pedang Kilat

Malam semakin larut di Sekte Awan Hijau.

Sementara sebagian besar murid tidur kelelahan atau bermeditasi di kamar mereka, ada kehidupan lain yang berdenyut di balik bayangan gunung.

Di sebuah celah sempit di belakang Puncak Hukuman, terdapat gua alami yang dijaga oleh beberapa murid senior bertopeng. Ini adalah "Pasar Hantu" (Ghost Market). Tempat di mana aturan sekte menjadi samar, barang curian dijual bebas, dan identitas adalah rahasia.

Lin Xuan berjalan mendekati pintu masuk gua. Dia mengenakan jubah hitam lebar yang menutupi seluruh tubuhnya, dan wajahnya disembunyikan di balik topeng kayu polos bergambar rubah.

"Satu Batu Roh untuk masuk," geram penjaga bertopeng tengkorak.

Lin Xuan menjentikkan batu bersinar itu tanpa kata.

Dia melangkah masuk. Gua itu luas, diterangi oleh lumut bercahaya hijau yang memberikan nuansa mengerikan. Ratusan kultivator bertopeng berkerumun di depan lapak-lapak darurat yang digelar di atas kain kotor.

Tidak ada tawar-menawar yang berisik. Transaksi dilakukan dengan bisikan dan isyarat jari.

"Tempat ini bau darah," komentar Gu Tianxie di kepalanya. "Aku suka."

Lin Xuan mengabaikan komentar itu. Dia punya tujuan jelas: Menjual hasil panen dari Lembah Kabut Beracun dan membeli teknik pedang. Tinju kosong memang kuat, tapi Tulang Asura terlalu mencolok. Dia butuh kedok.

Dia mendekati sebuah lapak di sudut gelap yang memajang berbagai organ binatang buas. Penjualnya adalah seorang pria bungkuk dengan aura Qi Condensation Lapisan 6.

Lin Xuan meletakkan bungkusan kulit di meja.

"Kantung Racun Ular Kabut. Sepuluh Inti Serigala Gigi Baja. Dan..." Lin Xuan mengeluarkan benda terakhir dengan hati-hati. "...Inti Laba-laba Muka Manusia."

Mata penjual itu membelalak di balik topengnya. Dia mengambil inti monster yang terakhir. Warnanya ungu pekat, berdenyut dengan energi korosif.

"Ini barang panas," bisik penjual itu, suaranya serak. "Laba-laba Muka Manusia jarang ada di sekitar sini. Apalagi yang intinya sudah bermutasi seperti ini."

"Berapa?" tanya Lin Xuan singkat.

"Untuk semuanya... 300 Batu Roh."

"Lima ratus," tawar Lin Xuan. "Inti itu bisa dipakai untuk meracuni sumur satu desa. Kau tahu nilainya."

Penjual itu terkekeh pelan. "Kau kejam, Nak. Aku suka. 450. Itu tawaran terakhir."

"Sepakat."

Transaksi selesai. Lin Xuan kini mengantongi total hampir 700 Batu Roh (ditambah sisa uang sebelumnya). Jumlah yang fantastis untuk seorang Murid Luar baru.

Dia segera bergerak ke bagian lain pasar: Lapak Teknik dan Gulungan (Scrolls).

Ada banyak gulungan teknik yang dipajang. Kebanyakan adalah salinan bajakan atau teknik tingkat rendah yang cacat.

Teknik Telapak Api, Langkah Seribu Bayangan, Tinju Penghancur Batu... Lin Xuan memindai semuanya dengan cepat.

"Cari teknik pedang," kata Gu. "Tapi jangan yang membutuhkan Qi elemen spesifik. Cari yang fokus pada kecepatan dan niat membunuh (Killing Intent). Itu cocok dengan instingmu."

Mata Lin Xuan tertuju pada sebuah gulungan bambu tua yang berdebu di pojok meja.

[Seni Pedang Kilat Hantu (Ghost Flash Sword Art)] Tingkat: Kuning - Puncak (Yellow Tier - Peak) Satu serangan, satu nyawa. Mengorbankan pertahanan demi kecepatan ekstrem. Membutuhkan refleks tubuh di atas rata-rata. Harga: 400 Batu Roh.

"Itu," kata Gu. "Teknik itu cacat karena terlalu membebani otot lengan. Tapi tulangmu bukan tulang manusia biasa. Kau bisa menggunakannya tanpa takut tanganmu putus."

Lin Xuan menunjuk gulungan itu. "Aku ambil ini."

Penjual gulungan, seorang wanita tua, menatapnya aneh. "Anak muda, teknik itu sudah mematahkan lengan tiga murid sebelumnya. Kau yakin?"

Lin Xuan melempar kantung uang berisi 400 batu. "Itu urusanku."

Dia mengambil gulungan itu dan berbalik pergi.

Tepat saat dia hendak meninggalkan area pasar, hidungnya menangkap aroma yang sangat harum.

Bukan aroma biasa. Ini aroma bunga, tapi ada jejak manis yang memuakkan di baliknya. Seperti bau bunga bangkai yang mekar di tengah darah.

"Berhenti," perintah Gu tiba-tiba. "Lihat ke kanan."

Lin Xuan menoleh.

Di sebuah lapak perhiasan kuno, berdiri seorang wanita. Dia mengenakan jubah merah darah yang menyala di tengah keremangan gua hijau. Wajahnya tertutup cadar sutra tipis, hanya memperlihatkan sepasang mata yang indah namun dingin seperti mata kucing yang sedang bermain dengan tikus.

Meskipun auranya ditekan, Lin Xuan bisa merasakan tekanan yang menyesakkan dada.

Qi Condensation Lapisan 8... atau mungkin 9? batin Lin Xuan waspada.

Wanita itu sedang memegang sebuah tusuk konde perak yang ujungnya runcing seperti jarum. Dia sepertinya merasakan tatapan Lin Xuan.

Kepalanya menoleh perlahan.

Mata mereka bertemu.

Seketika, Lin Xuan merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Tatapan wanita itu bukan tatapan biasa. Itu adalah tatapan seorang predator yang mengenali predator lain.

Wanita itu meletakkan tusuk konde itu, lalu berjalan mendekati Lin Xuan dengan langkah gemulai namun mematikan. Kerumunan pasar seolah menyingkir sendiri memberinya jalan.

"Kau punya bau yang menarik, Tuan Bertopeng," suaranya lembut, seperti lonceng angin, tapi membuat bulu kuduk berdiri.

Lin Xuan mundur selangkah. "Aku tidak cari masalah."

"Oh? Tapi masalah yang mencarimu," wanita itu terkekeh pelan. Dia berdiri dua langkah di depan Lin Xuan. "Di tubuhmu... ada sisa bau racun Laba-laba Muka Manusia. Dan bukan sembarang laba-laba. Itu spesimen yang sedang dicari seseorang."

Jantung Lin Xuan berdegup kencang. Dia tahu soal itu?

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," kata Lin Xuan datar, bersiap meledakkan tenaga kakinya untuk lari.

"Jangan buru-buru," wanita itu mengibaskan tangannya. Aroma manis semakin kuat. "Namaku... anggap saja Bai. Aku butuh inti dari laba-laba itu. Tapi sepertinya kau baru saja menjualnya ke si bungkuk di sana."

"Kalau begitu urusanmu dengan dia, bukan denganku."

"Benar. Tapi..." Bai Qing'er (wanita itu) memiringkan kepalanya. "Inti itu hanyalah wadah. Yang aku inginkan adalah informasi. Di mana kau membunuhnya? Dan apa yang kau temukan di dalam perutnya selain inti itu?"

Pertanyaan jebakan.

Jika Lin Xuan menjawab, dia mengakui dia membunuhnya. Jika dia mengaku menemukan "Token", dia bisa dibunuh di sini.

"Aku membelinya dari mayat murid lain di hutan," bohong Lin Xuan tenang. "Aku hanya pemulung."

Mata Bai Qing'er menyipit, membentuk bulan sabit yang cantik. "Pemulung? Dengan otot sepadat itu? Dan aura pembunuh yang kau sembunyikan rapat-rapat?"

Tiba-tiba, tangan Bai Qing'er bergerak.

Cepat. Sangat cepat.

Lengan baju merahnya berdesir, sebuah jarum perak melesat ke arah leher Lin Xuan.

Ini bukan serangan mematikan, tapi ujian.

Refleks Lin Xuan, yang diperkuat Tulang Asura dan kewaspadaan tinggi, bereaksi. Dia tidak menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya untuk menangkis.

TING!

Jarum itu menghantam lengan bawah Lin Xuan.

Seharusnya, jarum itu menembus daging dan tulang. Tapi jarum itu justru terpental seperti menabrak pelat besi, hanya meninggalkan goresan kecil di jubah Lin Xuan.

Mata Bai Qing'er membelalak kaget.

"Tulang Besi?" gumamnya pelan. "Kau kultivator tubuh (Body Cultivator)?"

Suasana tegang. Beberapa orang di pasar mulai menoleh.

"Cukup main-mainnya," kata Lin Xuan dingin. Dia melepaskan Niat Membunuh murni aura haus darah yang dia dapat dari ratusan kematian di dasar jurang langsung ke arah Bai Qing'er.

Bai Qing'er mundur setengah langkah, terkejut dengan intensitas kebencian dalam aura pemuda yang levelnya jelas di bawahnya itu.

"Menarik..." Bai Qing'er tersenyum di balik cadarnya. Senyum yang tulus kali ini. "Sangat jarang menemukan pria menarik di sekte membosankan ini."

Dia menurunkan tangannya, aura membunuhnya lenyap seketika, digantikan aura menggoda yang berbahaya.

"Simpan rahasiamu, Tuan Pemulung. Untuk saat ini."

Dia melangkah maju, mendekatkan bibirnya (yang tertutup cadar) ke telinga Lin Xuan.

"Tapi hati-hati. Mereka sedang mencari laba-laba itu. Jika kau ketahuan memegang barang bukti itu, kau akan berharap mati di tanganku daripada di tangan mereka."

Bai Qing'er menyelipkan sesuatu ke dalam saku jubah Lin Xuan dengan gerakan secepat kilat.

"Hadiah perkenalan. Sampai jumpa lagi."

Wanita merah itu berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan pasar secepat hantu, meninggalkan aroma bunga beracun yang tertinggal di udara.

Lin Xuan berdiri mematung sejenak, menetralkan detak jantungnya.

"Wanita gila," desisnya.

"Wanita berbahaya," koreksi Gu Tianxie. "Dia dari Sekte Iblis. Teknik gerakannya tadi adalah Tarian Bunga Darah. Apa yang dia berikan padamu?"

Lin Xuan merogoh sakunya.

Sebuah botol kecil berisi cairan bening. Dan secarik kertas kecil.

Tulisan di kertas itu rapi dan elegan:

"Penawar Racun Miasma Tingkat 3. Kau akan membutuhkannya jika ingin kembali ke Lembah itu."

Lin Xuan meremas kertas itu hingga hancur.

Dia tahu. Wanita itu tahu dia menyembunyikan Token. Tapi kenapa dia tidak merebutnya? Kenapa dia malah memberi penawar racun?

"Dia sedang bermain catur," kata Gu. "Dan kau baru saja dijadikan bidak di papan permainannya."

Lin Xuan menyimpan botol itu. Matanya kembali dingin.

"Bidak bisa berubah menjadi Menteri jika mencapai ujung papan," gumam Lin Xuan. "Akan kulihat siapa yang memakan siapa nanti."

Lin Xuan meninggalkan Pasar Hantu, membawa gulungan pedang, uang banyak, dan benih konflik baru dengan wanita iblis yang mematikan.

Malam ini, dia harus segera menguasai Pedang Kilat Hantu. Karena dia merasa, badai akan segera datang ke asrama murid luar.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!