NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Pembagian Nasi Kotak

Senja merangkak rendah, menyisakan bias lembayung yang menyelinap melalui celah ventilasi ruang tengah panti asuhan. Fahmi mulai membuka plastik besar di atas meja, tangannya bergerak cekatan mengeluarkan kotak nasi satu per satu dengan hati-hati.

Setiap kotak itu seolah membawa harapan baru dengan aroma gurih yang menggoda, sebuah kemewahan yang jarang dinikmati anak-anak di meja makan mereka. Nayla segera membantu menyiapkan alas duduk berupa tikar plastik hijau yang sudah mulai menipis di lantai ruang tengah yang dingin.

"Ayo, Bay, bantu anak-anak ke sini. Kasihan mereka pasti sudah lapar nunggu buka puasa tadi hanya dengan menu seadanya," ujar Nayla sembari membentangkan tikar dengan gerakan yang lincah.

Bayu segera melangkah menuju deretan kamar anak-anak untuk membangunkan mereka sebelum waktu tadarus. Di lorong remang itu, ia berhenti di depan pintu kayu yang catnya mengelupas parah dan mulai lapuk dimakan usia.

Ia mengetuk pintu dengan pelan, seolah takut mengusik mimpi indah anak-anak di dalamnya. "Ayo bangun semuanya, ada kejutan nasi kotak dari Kak Fahmi di ruang tengah," seru Bayu dengan nada yang sengaja dibuat ceria.

Satu per satu anak-anak panti keluar dari kamar mereka dengan wajah yang masih nampak mengantuk dan rambut yang sedikit acak-acakan. Ada sembilan belas anak yang tersisa di dalam panti saat ini, karena Haikal masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah operasinya.

Gemini berkata

Bayu berdiri di pinggir lorong, mengarahkan anak-anak agar tertib berjalan menuju ruang tengah. "Satu-satu ya, jangan lari-lari nanti tersandung," tegur Bayu lembut saat melihat dua anak terkecil mulai saling kejar.

Nayla menyambut mereka dengan senyum lebar, seolah beban penyitaan lahan hilang sejenak. Ia membantu Bayu mengatur posisi duduk anak-anak membentuk lingkaran besar di atas tikar plastik yang sudah tergelar.

"Kak Bayu, ini nasi kotak ya? Isinya apa?" tanya Zaki sambil menarik ujung kemeja Bayu yang masih lembap bekas cuci piring.

Bayu berjongkok agar sejajar dengan Zaki, lalu mengacak rambut bocah itu dengan sayang. "Isinya enak pokoknya. Nanti kamu lihat sendiri ya, tapi duduk yang rapi dulu."

Anak-anak itu pun duduk melingkar dengan tertib, mata mereka berbinar menatap tumpukan kotak putih yang nampak begitu menggoda di atas meja. Fahmi yang sudah selesai menata kotak-kotak tersebut kemudian berjalan mendekat ke arah lingkaran anak-anak dengan wajah yang tetap berseri-seri.

Fahmi membagikan kotak nasi sambil menyebut nama setiap anak tanpa terlewat. "Ini buat Zaki, ini Fatimah, dan ini buat Doni. Jangan lupa baca doa dulu ya sebelum makan," ucapnya hangat.

Bayu memperhatikan betapa fasihnya Fahmi menghafal nama sembilan belas anak di hadapannya. Ia menyadari kedekatan itu bukan sekadar pencitraan, melainkan ikatan batin yang tulus dan sudah terjalin lama.

"Satu ... dua ... sembilan belas. Pas ya, Nay?" tanya Fahmi setelah kotak terakhir ia serahkan kepada seorang anak perempuan yang paling pemalu di panti itu.

Nayla mengangguk cepat sembari membantu anak-anak membuka tutup kotak nasi mereka yang ternyata berisi nasi putih, ayam goreng, sambal, dan irisan timun segar. "Pas, Mi. Terima kasih banyak ya, anak-anak pasti seneng banget bisa makan ayam goreng enak malam ini."

Suasana ruang tengah yang tadinya sunyi kini berubah menjadi riuh dengan suara denting sendok plastik dan gumaman syukur dari mulut-mulut mungil anak-anak panti. Bayu memutuskan untuk tidak ikut duduk di dalam lingkaran tersebut, ia memilih untuk mundur perlahan dan duduk di sebuah pojok ruangan yang agak gelap.

Dari posisinya itu, ia bisa dengan jelas memperhatikan interaksi yang sangat akrab dan penuh cinta antara Fahmi, Nayla, dan anak-anak panti tersebut. Ia melihat Fahmi sedang sibuk membantu seorang anak kecil yang kesulitan memisahkan daging ayam dari tulangnya dengan telaten dan penuh kesabaran.

"Sini, biar Kak Fahmi bantu. Pegangnya pelan-pelan saja, dagingnya empuk kok," ujar Fahmi sembari tersenyum menenangkan kepada anak tersebut.

Nayla di sisi lain sedang sibuk membagikan air mineral gelas kepada setiap anak, memastikan tidak ada satupun dari mereka yang tersedak saat sedang makan besar. Bayu merasa dadanya sesak melihat pemandangan ini, sebuah potret keluarga besar yang begitu harmonis meski sedang berada di bawah ancaman pengusiran.

"Gue selama ini ke mana aja ya? Kenapa gue bisa sebego itu nganggep mereka cuma beban?" batin Bayu dengan rasa penyesalan yang kembali menusuk ulu hatinya.

Ia teringat kembali pada masa kejayaannya di Jakarta, di mana ia sering menghamburkan uang jutaan rupiah untuk makan malam yang mewah namun tidak meninggalkan rasa syukur sehebat ini. Di sini, hanya dengan sekotak nasi dan ayam goreng, ia bisa melihat kebahagiaan yang begitu murni terpancar dari wajah-wajah polos yang tidak berdosa.

Fahmi kemudian menoleh ke arah Bayu dan melambaikan tangannya, mengajaknya untuk bergabung namun Bayu memberikan isyarat bahwa ia ingin tetap di sana. "Bay! Ayo sini makan bareng! Masih ada sisa satu kotak lagi di meja buat lo kalau mau!" teriak Fahmi di tengah keriuhan.

"Duluan aja, Mi! Gue masih kenyang kok, tadi sudah makan di belakang!" jawab Bayu berbohong, padahal perutnya saat ini sedang terasa sangat perih dan melilit.

Nayla melirik ke arah Bayu dengan tatapan yang seolah tahu bahwa pria itu sedang berbohong demi mengutamakan kepentingan orang lain di panti ini. Nayla mendekati Bayu sebentar, membawa sebotol air mineral yang belum dibuka lalu meletakkannya di samping tangan Bayu tanpa berkata apa-apa.

"Diminum, Bay. Muka kamu pucet," bisik Nayla pelan agar tidak terdengar oleh anak-anak yang lain, lalu ia segera kembali ke lingkaran anak-anak untuk mengawasi mereka makan.

Bayu meraih botol air tersebut dan meneguknya perlahan, membiarkan air dingin itu membasahi kerongkongannya yang kering dan memberikan sedikit tenaga tambahan bagi tubuhnya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu soal apa yang masuk ke perut sendiri, melainkan apa yang bisa kita berikan untuk mengisi perut orang lain.

Sembilan belas pasang mata anak-anak itu nampak sangat bahagia, mereka makan dengan lahap seolah hari ini adalah perayaan besar yang paling dinanti-nantikan sepanjang tahun. Bayu merasa tersentuh saat melihat seorang anak memberikan potongan timunnya kepada temannya yang nampak sangat menyukai lalapan tersebut tanpa ada paksaan.

"Ini buat kamu aja, aku tahu kamu suka timun," ujar anak itu polos, membuat Bayu harus memalingkan wajahnya sejenak karena matanya mulai terasa panas menahan haru.

Fahmi kini sudah selesai membagikan makanan dan ia duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga ruang tengah, menatap anak-anak itu dengan pandangan yang sangat teduh. Ia menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan, nampak sangat puas melihat keriuhan yang ia ciptakan setelah lelah berkeliling mencari donatur seharian penuh.

"Mi, lo beneran nggak makan?" tanya Bayu dengan nada suara yang sedikit lebih keras agar terdengar sampai ke posisi Fahmi.

Fahmi menoleh dan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis yang sangat bersahaja. "Gue nanti aja di rumah sama Ibu, Bay. Liat mereka makan kenyang begini aja rasa lapernya gue udah ilang entah ke mana."

Bayu terdiam, ia merasa ilmu tentang kehidupan yang ia pelajari di Jakarta sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan filosofi hidup sederhana yang dijalani Fahmi. Fahmi mengajarkannya tentang arti kepuasan yang tidak bersumber dari materi, melainkan dari kebermanfaatan diri bagi orang-orang yang membutuhkan perlindungan.

"Gue harus bener-bener bantu mereka soal lahan itu. Nggak peduli sesulit apa, gue nggak boleh biarin senyum anak-anak ini hilang," tekad Bayu dalam hati sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!