Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status yang Terpisah
Pagi di Aeryon International Academy tidak pernah terasa sedingin ini bagi Seraphina Aeru. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar koridor tampak pucat, seolah ikut kehilangan gairah. Sera berjalan dengan langkah lambat, namun matanya terus tertuju pada sosok pria yang berjalan tepat dua meter di depannya.
Dareen Christ.
Tidak ada lagi jaket universitas yang hangat. Tidak ada lagi kacamata perak yang membuatnya terlihat seperti kutu buku yang brilian. Pria itu kembali mengenakan setelan pengawal lengkap—jas hitam yang kaku, kemeja putih yang dikancing hingga ke leher, dan earpiece yang terpasang di telinga kanannya. Wajahnya yang kemarin sempat melunak di bawah hujan Skytown kini telah membatu, kembali menjadi topeng porselen yang tak tertembus.
Saat mencapai ruang kelas Hukum Bisnis, Dareen tidak menarik kursi di samping Sera seperti biasanya. Ia justru berhenti di ambang pintu.
"Apa yang kau lakukan? Duduklah, kuliah akan dimulai," ujar Sera, suaranya sedikit gemetar saat ia berhenti di depan pria itu.
Dareen tidak menatap matanya. Pandangannya lurus ke depan, melewati bahu Sera seolah gadis itu hanyalah udara. "Tugas saya adalah menjaga pintu ini, Nona. Saya bukan lagi mahasiswa di kelas ini."
"Tapi kau belum dikeluarkan secara resmi! Kau masih bisa masuk!" Sera mencengkeram lengan jas Dareen, namun pria itu segera menarik lengannya dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas.
"Jangan menyentuh personel keamanan di depan publik, Nona. Itu tidak pantas bagi reputasi Anda," suara Dareen terdengar datar, tanpa emosi, seperti suara mesin.
Sera merasakan dadanya sesak. Ia masuk ke dalam kelas dan duduk sendirian di meja panjang yang biasanya mereka tempati bersama. Kursi di sampingnya kosong, meninggalkan ruang hampa yang terasa mencekik.
Sepanjang kuliah, Sera tidak bisa fokus. Setiap kali ia menoleh ke arah pintu, ia melihat Dareen berdiri mematung di sana—seperti patung marmer yang menjaga kuil. Pria itu benar-benar mengabaikan keberadaannya, mengabaikan setiap lirikan memohon yang Sera berikan.
Saat jam istirahat, Sera mencoba mendekati Dareen di area taman yang sepi. Ia membawa dua botol kopi, berharap bisa mencairkan suasana.
"Babe ... kumohon, berhentilah bersikap seperti ini," bisik Sera saat ia berdiri di depan Dareen yang sedang bersandar di pilar.
Dareen segera berdiri tegak, tangannya berada di belakang punggung. "Nona, saya sudah meminta Anda untuk tidak menggunakan panggilan itu. Saya adalah pengawal Anda. Tidak lebih."
"Kau bohong! Kau menciumku, kau memelukku, kau melindungiku lebih dari sekadar tugas!" Sera meletakkan kopi itu dengan kasar di atas tembok pembatas. "Hanya karena Seldin merobek kertas itu, bukan berarti perasaanmu ikut robek, kan?"
Dareen akhirnya menatap Sera. Namun, bukan tatapan penuh gairah yang Sera temukan, melainkan tatapan yang penuh dengan kelelahan dan kepahitan.
"Perasaan adalah kemewahan yang tidak bisa saya beli, Nona," ujar Dareen lirih. "Setiap kali saya mencoba menjadi 'manusia' untuk Anda, saya justru kehilangan potongan hidup saya. Seldin tidak hanya merobek kertas beasiswa saya; dia mengingatkan saya bahwa di rumah itu, saya hanyalah properti. Dan properti tidak seharusnya jatuh cinta pada pemiliknya."
"Aku akan bicara pada Seldin! Aku akan memintanya mengembalikan beasiswamu!"
"Jangan," potong Dareen cepat, suaranya naik satu oktav. "Setiap kali Anda mencoba 'membantu', keadaan justru menjadi lebih buruk bagi saya. Jika Anda benar-benar peduli pada saya, biarkan saya melakukan tugas saya dengan tenang. Biarkan saya menjadi robot yang dia inginkan, agar saya bisa bertahan hidup."
Sera terisak. Ia merasa seperti monster yang telah menghancurkan satu-satunya hal berharga milik Dareen. Ia berbalik dan lari meninggalkan taman itu, tidak sanggup melihat wajah Dareen yang begitu hampa.
Sore harinya, saat mereka berjalan menuju tempat parkir, seorang mahasiswa dari kelompok Julian—pria yang kemarin nyaris dipatahkan tangannya oleh Dareen di pesta—muncul dengan beberapa teman lainnya. Mereka melihat Dareen yang kini tidak lagi membawa tas buku, melainkan hanya berdiri siaga di samping mobil.
"Hei, lihat! Si jenius beasiswa ternyata sudah turun kasta!" ejek mahasiswa itu sambil tertawa. "Kenapa, Dareen? Apa otakmu sudah tidak sanggup lagi mengikuti pelajaran hukum, sehingga kau kembali menjadi anjing penjaga?"
Dareen tidak bereaksi. Ia membuka pintu mobil untuk Sera tanpa melirik ke arah mereka.
"Wah, dia benar-benar jadi bisu," ejek yang lainnya. Salah satu dari mereka sengaja menabrak bahu Dareen dengan keras saat berjalan lewat. "Jaga pintunya yang benar, Anjing. Jangan sampai ada lalat masuk."
Sera yang sudah berada di dalam mobil tidak tahan lagi. Ia keluar dan berteriak, "Tutup mulut kalian atau aku akan pastikan kalian semua dikeluarkan besok pagi!"
"Kenapa kau membela anjingmu, Sera? Dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Kau terlalu jauh memperlakukannya," sahutnya.
"Aku tidak akan pernah diam ketika ada yang memaki pengawalku! Aku akan memastikan orang itu lenyap karena telah mengganggu milikku!" teriak Sera dengan amarah yang sudah di ujung batas.
Baru kali ini Dareen melihat Seraphina membelanya sampai seperti itu. Padahal sebelumnya, Sera bahkan ikut merundungnya seperti saat ia menumpahkan kopi di atas lembar makalah yang sudah Dareen tulis tangan semalaman, menginjak punggung tangan Dareen hingga memar, dan juga beberapa tindakan lain.
Para mahasiswa itu mencibir namun segera pergi karena takut pada ancaman Sera. Sera menoleh pada Dareen, berharap melihat setidaknya sedikit kemarahan atau reaksi manusiawi di wajahnya.
"Kenapa kau diam saja saat mereka menghinamu?" tanya Sera dengan nada frustrasi.
Dareen menutup pintu mobil setelah Sera masuk, lalu ia sendiri masuk ke kursi pengemudi. "Karena kata-kata mereka benar, Nona. Saya memang di sini untuk menjaga pintu. Tidak ada gunanya marah pada kebenaran."
Di dalam mobil yang melaju pulang, keheningan di antara mereka terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mana pun. Sera menatap punggung kepala Dareen, menyadari bahwa jarak dua meter yang selalu dijaga Dareen di kampus adalah simbol dari jurang status yang kini benar-benar memisahkan mereka.
Dareen tetaplah pengawal yang sempurna. Ia mengemudi dengan hati-hati, memastikan Sera aman. Namun, bagi Sera, pria yang berada di balik kemudi itu terasa seperti mayat hidup. Jiwa mahasiswa yang cerdas dan penuh mimpi itu telah mati, dibunuh oleh ambisi kakaknya dan keegoisan cintanya sendiri.
Sera mengepalkan tangannya di pangkuan. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan Dareen hancur seperti ini. Jika Dareen memilih untuk menyerah demi keselamatannya, maka Sera-lah yang harus berjuang untuk mengembalikan nyawa pria itu—meskipun itu berarti ia harus melakukan sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar memalsukan laporan.