Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding yang Kembali Tegak
Kehangatan yang sempat menyelimuti rumah itu menguap dalam semalam, digantikan oleh hawa dingin yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Devan mengunci diri di ruang kerja sejak fajar menyingsing. Ia tidak lagi menyentuh sarapan yang disiapkan Ara. Di hadapannya, layar monitor menampilkan rekaman CCTV rumah selama tiga bulan terakhir yang berhasil ia pulihkan sebagian.
Setiap kali ia melihat siluet Alaska Jasper masuk ke rumahnya atau berdiri terlalu dekat dengan Ara, rahang Devan mengeras hingga urat lehernya menegang.
"Jadi, sementara aku sibuk dengan kematian, kalian merayakan kehidupan di belakangku?" desis Devan. Memorinya yang terfragmentasi hanya menunjukkan satu kesimpulan pahit: ia adalah orang asing di rumahnya sendiri.
Tok! Tok!
Suara ketukan pelan di pintu membuat mata Devan menyipit.
"Mas... ini aku. Aku bawakan kopi dan obatmu," suara Ara terdengar dari balik pintu, lembut namun bergetar.
"Letakkan saja di depan pintu, Ara. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu," sahut Devan dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, persis seperti Devan yang dulu membuat Ara merasa tidak berharga.
Ara terdiam di balik pintu. Air matanya jatuh mengenai baki kayu yang ia bawa. "Mas, kau harus minum obatnya. Dokter bilang—"
"Dokter bilang aku amnesia, bukan bodoh!" Devan tiba-tiba membuka pintu dengan sentakan kasar. Ia berdiri menjulang di depan Ara, menatap istrinya dengan tatapan menghakimi. "Kenapa kau masih di sini? Kenapa kau tidak pergi saja ke tempat pria yang 'mencintaimu lebih dari sekadar sahabat' itu?"
"Mas, suara Alaska yang kau dengar itu... itu di saat kau sedang kritis! Dia tidak bermaksud—"
"Cukup, Ara! Aku melihat bagaimana kau menatapnya di rumah sakit. Aku melihat bagaimana kau lebih percaya padanya daripada suamimu sendiri!" Devan merampas gelas kopi di baki hingga isinya tumpah sedikit mengenai tangan Ara. "Kau menggunakan amnesiaku untuk bermain peran sebagai istri yang setia? Menjijikkan."
Ara ternganga, rasa sakit di hatinya jauh lebih panas daripada tumpahan kopi di tangannya. "Kau pikir aku berakting? Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkanmu dari kakekmu, Devano! Aku—"
"Kakekku?" Devan tertawa hambar. "Satu lagi cerita karanganmu? Aku hanya ingat kau ingin cerai dan Alaska ingin memilikimu. Itu fakta yang cukup bagiku."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang sangat dikenal berhenti di depan rumah. Disusul oleh suara pintu depan yang dibuka paksa.
"ARABELLA! ARA!"
Itu suara Alaska.
Devan tersenyum miring, sebuah senyuman yang penuh luka. "Lihat? Pangeran penyelamatmu sudah datang menjemput."
Alaska merangsek masuk ke lantai dua, wajahnya merah padam. Ia masih mengenakan kain penyangga di perutnya, namun amarahnya seolah memberikan kekuatan tambahan. Saat melihat Devan berdiri di depan Ara dengan tatapan mengancam, Alaska langsung menarik Ara ke belakang tubuhnya.
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu, Devan!" teriak Alaska.
"Kotak? Dia masih istriku secara hukum, Alaska. Kau lupa itu?" Devan melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana, bersikap seolah ia tidak terpengaruh. "Atau kau ingin aku menyerahkan surat cerai yang kau idam-idamkan itu sekarang juga?"
"Mas Devan, tolong hentikan!" Ara mencoba menengahi.
"Diam, Ara!" bentak Alaska dan Devan secara bersamaan.
Alaska menatap Devan dengan tatapan jijik. "Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau ingat dia ingin cerai, tapi kau lupa kenapa dia melakukannya? Kau lupa bagaimana kau membiarkannya hancur sendirian? Baiklah, jika kau ingin menjadi monster dingin lagi, silakan. Tapi jangan bawa Ara bersamamu."
Alaska mencengkeram tangan Ara. "Ayo, Ra. Kita pergi. Rumah ini bukan tempat untuk manusia yang punya perasaan. Biarkan dia membusuk bersama mayat-mayat kesayangannya."
"Alaska, lepaskan... ini bukan cara yang benar," bisik Ara, namun matanya menatap Devan, berharap suaminya itu akan menahannya, memohonnya untuk tinggal, atau setidaknya menunjukkan satu percikan cinta yang ia lihat kemarin.
Namun Devan hanya diam. Ia menatap tangan Alaska yang menggenggam Ara dengan pandangan kosong. "Pergilah. Bukankah itu yang kau tulis di surat ceraimu? Kau ingin bebas. Sekarang kau bebas, Ara."
Dunia Ara seolah runtuh. Kalimat itu adalah pengusiran paling kejam yang pernah ia dengar.
"Kau benar-benar ingin aku pergi, Mas?" tanya Ara, suaranya nyaris hilang.
Devan memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap mata Ara yang basah. "Pintu keluar tidak pernah dikunci. Silakan."
Alaska menarik Ara dengan tegas. "Ayo, Ra. Jangan menoleh lagi."
Saat langkah kaki Alaska dan Ara menjauh menuruni tangga, Devan mencengkeram pinggiran kusen pintu hingga kuku-kukunya memutih. Di dalam dadanya, ada badai yang mengamuk, sebuah rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu medis mana pun. Ia ingin berteriak, ingin mengejar, namun memorinya yang rusak terus membisikkan bahwa ia telah dikhianati.
Begitu suara mobil Alaska menjauh, Devan jatuh terduduk di lantai. Ia menoleh ke arah baki kopi yang terjatuh tadi. Di sana, di bawah cangkir yang pecah, terselip sebuah foto lama. Foto saat mereka pertama kali pindah ke rumah ini, di mana Ara tertawa sambil memegang kunci rumah.
"Kenapa..." gumam Devan, air mata pertama setelah amnesianya jatuh di atas foto itu. "Kenapa aku merasa seperti baru saja membunuh diriku sendiri?"
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/