Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Saat Benteng Mulai Retak
Zelia dan Are duduk berhadap-hadapan di meja makan kecil. Aroma makanan hangat perlahan memenuhi ruangan setelah Zelia selesai memindahkan hidangan yang ia beli ke dalam mangkuk dan piring.
Are memerhatikan meja itu sejenak, lalu menyipitkan mata.
“Setiap kita makan kamu selalu pesan makanan,” katanya pelan. “Di kulkas cuma ada telur. Peralatan masak di dapur juga sedikit. Nggak ada bumbu apa pun, cuma mi instan.”
Tatapannya kembali pada Zelia, sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Kamu nggak bisa masak?”
Aneh. Ia biasanya tak peduli pada hal-hal kecil seperti ini. Tapi bersama Zelia, tanpa sadar ia memperhatikan segalanya, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ia sendiri tak ingat kapan terakhir kali bisa berbicara sepanjang ini hanya tentang sesuatu yang sepele.
Sendok nasi di tangan Zelia berhenti di udara. Ia lalu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Aku memang nggak bisa masak.”
Are menghela napas pelan, lalu mulai menyendok nasi ke piringnya sebelum mengambil lauk.
“Kenapa ekspresi kamu begitu?” tanya Zelia sambil mulai makan. “Kamu kecewa karena aku nggak bisa masak?”
“Kenapa aku harus kecewa?” sahut Are tanpa menoleh, tenang. “Nggak ada aturan wanita harus bisa memasak.”
Zelia langsung tersenyum makin lebar sambil mengunyah. “Aku makin menyukaimu.”
Namun kebahagiaannya datang terlalu cepat karena Are belum selesai bicara.
“Tapi kalau bisa memasak memang lebih baik,” lanjutnya santai. “Ibuku bilang, kalau istri pandai memanjakan perut suaminya, suaminya akan makin sayang.”
Zelia mengembuskan napas kasar, lalu menyendok nasi di piringnya dengan sedikit lebih keras.
“Iya, iya… aku bakal belajar masak.” Ia menatap Are lagi. Senyumnya kembali muncul, nakal. “Khusus buat suamiku tersayang.”
Ia mengedipkan sebelah matanya.
Are hanya menggeleng pelan sambil menyendok makanannya, tapi di dalam hati rasa gemas itu kembali muncul tanpa diundang.
“Memangnya kamu juga seperti ini saat bersama mantan tunanganmu tadi?”
Sendok Zelia berhenti sebentar. Ia mengernyit, lalu perlahan tersenyum lagi. “Kenapa?” tanyanya ringan. “Suamiku tersayang cemburu?”
Entah kenapa, pertanyaan itu membuat Zelia merasa senang. Seolah-olah pertanyaan Are berarti sesuatu.
“Siapa yang cemburu? Aku cuma bertanya.”
Zelia makin menikmati menggodanya. “Bohong… kalau cemburu bilang aja, Bos.”
Are menatapnya datar. “Kita cuma pasangan di atas kertas. Ini kerja sama saling menguntungkan.”
Senyum Zelia langsung menghilang. Bibirnya mengerucut. “Gak asik.”
Ia makan dengan sedikit cemberut, menyendok nasi tanpa semangat.
Tanpa sengaja Are melirik ke arahnya… dan lagi-lagi rasa gemas itu muncul, sulit ia kendalikan.
Ia menyadari dirinya mulai menikmati suasana seperti ini. Dan ia tahu itu salah.
"Aku nggak boleh menyukai dia. Nggak boleh," batinnya.
Zelia berbeda dari semua wanita yang pernah ia temui. Bukan hanya karena sikapnya yang menggemaskan di mata Are, tapi karena kehangatan yang muncul setiap kali mereka bersama… dan betapa sulitnya ia menolak apa pun permintaan wanita itu.
Are menarik napas pelan, berusaha menegakkan kembali benteng yang mulai retak.
"Are, kau tak boleh goyah. Hanya dia yang boleh memiliki hatiku."
Ia memejamkan mata sesaat.
Bayangan seorang gadis kecil yang pernah menyelamatkannya perlahan muncul kembali dalam ingatannya. Wajah yang selama ini menjadi alasan ia menutup hati.
***
Di kamarnya, Zelia tersenyum-senyum sendiri.Entah kenapa, setiap kali mengingat Are, ada rasa hangat yang membuat hatinya terasa ringan.
“Akh! Kenapa dia begitu tampan?”
Ia memekik kecil sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, menutup wajahnya dengan bantal. Wajah yang tak bisa menyembunyikan binar bahagia.
“Astaga… apa aku jatuh cinta?” gumamnya pelan. “Bahkan waktu sama Fero aku nggak pernah merasa kayak gini.”
Seolah menjawab pikirannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Fero muncul di layar. Senyumnya langsung pudar.
“Buat apa dia menghubungiku?” Tanpa ragu, Zelia langsung menolak panggilan itu. “Dia pikir aku bakal nerima dia kembali? Mimpi,” gerutunya kesal.
Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering. Nama yang sama muncul lagi, membuat dadanya langsung dipenuhi rasa jengkel mengingat pengkhianatan itu.
Kali ini ia bahkan tidak menunggu. Ia langsung memblokir nomor Fero.
“Mantan nggak boleh disimpan. Nanti malah nyusahin,” gumamnya sambil meletakkan ponsel agak kasar. Ia mendengus pelan.
“Kenapa aku bisa suka sama serigala berbulu domba macam dia… bodoh banget kamu, Zelia,” umpatnya pada diri sendiri.
Namun tiba-tiba ia terdiam, seperti teringat sesuatu. Zelia kembali meraih ponselnya.
Ia membuka galeri, lalu tanpa ragu mulai menghapus semua foto yang menampilkan wajah Fero, Dian, Desti, dan Atyasa.
Satu per satu. Tanpa sisa.
Media sosialnya juga tak luput dari pembersihan. Semua foto, tag, dan kenangan yang berkaitan dengan empat orang itu ia hapus tanpa ragu.
“Kalau mau move on, nggak boleh setengah-setengah,” gumamnya mantap.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar dengan napas lebih ringan dari sebelumnya.
Seolah satu bab dalam hidupnya benar-benar sudah selesai.
***
Di sisi lain, Fero menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
Panggilannya ditolak.
Beberapa detik kemudian, ia mencoba lagi, namun kali ini hanya terdengar nada sambung singkat sebelum terputus.
Zelia memblokir nomornya.
“Zelia…” geramnya pelan, suaranya penuh amarah yang ditahan. “Berani sekali kamu memblokir nomorku.”
Nada sambungan terputus terdengar dingin di telinganya.
Beberapa detik Fero masih menatap layar ponselnya, seolah menunggu panggilan itu tiba-tiba tersambung kembali. Rahangnya mengeras. Urat di pelipisnya menegang.
Tiba-tiba—
BUGH!
Tinju Fero menghantam meja dengan keras.
“Kurang ajar…”
Napasnya memburu. Dadanya naik turun, menahan amarah yang seperti mendidih di bawah kulit. Selama ini tak ada yang berani memperlakukannya seperti ini. Terlebih Zelia.
Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri. Tapi justru semakin terasa panas.
“Baik… kamu mau main seperti ini?”
Matanya menyipit dingin.
Beberapa menit kemudian ia membuka aplikasi media sosial, berniat menghubunginya dari sana. Namun saat mencoba mencari akun Zelia, wajahnya langsung berubah gelap.
Tak ada. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Tetap tak ada.
Zelia bukan hanya memblokir nomornya. Ia menghapus jejaknya sepenuhnya, menutup semua akses untuknya.
Rahang Fero mengeras lebih dalam. Ada sesuatu yang retak di egonya, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Berani sekali kamu…”
Suaranya rendah, nyaris seperti ancaman. Dadanya naik turun menahan frustrasi yang semakin membakar.
***
Malam itu, setelah makan malam, Are kembali ke rumah sakit.
Langkahnya tenang menyusuri koridor yang mulai sepi, hanya terdengar bunyi langkah kaki dan dengungan alat medis dari kejauhan.
Namun saat jaraknya tinggal sekitar satu meter dari pintu ruang rawat ibunya, langkahnya langsung terhenti. Ia melihat seseorang baru saja keluar dari ruangan itu.
Atyasa.
Rahang Are langsung mengeras, tatapannya berubah dingin dalam sekejap.
“Apa yang Anda lakukan di ruangan ini?” tanya Are datar, tapi jelas penuh tekanan.
...✨“Tanpa sadar, ia mulai menikmati hal-hal sederhana… dan itu yang paling menakutkannya.”...
...“Kadang yang paling berbahaya bukan musuh… tapi rasa yang mulai tumbuh tanpa izin.”...
...“Yang paling sulit bukan melupakan masa lalu, tapi mengakui perasaan yang baru.”...
...“Move on bukan tentang melupakan, tapi berani menutup pintu yang tak lagi layak dibuka.”...
...“Beberapa pintu ditutup bukan karena benci, tapi karena akhirnya memilih diri sendiri.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu