Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wrong Translation
"Terjemahan satu lagu Jerman sudah harus kamu selesaikan besok."
Fraya menatap layar ponselnya dengan pandangan yang masih buram. Sederet kalimat titah itu masuk tepat pukul tiga pagi, membelah sunyi nya kamar dan sisa-sisa mimpinya.
Ia mengusap matanya berulang kali, memastikan bahwa Damian tidak sedang salah kirim pesan di jam saat manusia normal seharusnya masih sibuk berkelana di alam bawah sadar.
Harusnya Fraya mengabaikan saja pesan itu. Toh, ia memang sudah menyelesaikan terjemahan lagu Jerman yang Damian berikan kemarin. Lagu berjudul Du... yang artinya 'Kamu'.
Namun, seolah jemarinya memiliki kehendaknya sendiri, Fraya justru membalas perintah Damian—jenis titah yang biasanya sanggup membuat tensinya melonjak seketika.
"Kalau banyak yang salah, tolong maklumi ya..."
Mengingat deretan arti lirik lagu itu, Fraya mendadak salah tingkah sendiri. Sejak Florence menyuntikkan teori tentang perasaan Damian ke kepalanya, Fraya jadi hobi memvalidasi setiap tindakan cowok itu—yang jika dipikirkan ulang, memang terasa manis belakangan ini.
Fraya belum pernah berpacaran. Sewaktu sekolah di Jakarta dulu, radar ketertarikannya pada laki-laki seolah mati. Sebelum ada yang berani melangkah terlalu jauh untuk mendekatinya, Fraya sudah membentengi diri dengan menegaskan bahwa fokusnya hanya belajar.
Biasanya kalau sudah begini, para cowok-cowok yang sudah berniat mengejarnya bakal langsung mengambil langkah mundur seribu.
Tapi dengan Damian... semuanya tidak dimulai dengan mudah. Sama sekali tidak ada kesan indah di awal. Namun, cara Damian bertindak posesif dan semena-mena—yang jika direnungkan lagi—jelas bukan perilaku tipikal seorang teman biasa.
"Sepertinya teman biasapun tidak ada yang sampai berani main cium keningku seperti Damian tadi." Fraya membatin sendiri dalam hati sambil menatap langit-langit kamarnya.
Di tengah kantuk yang masih terasa pekat, bibir Fraya menyunggingkan senyum seperti orang gila. Ia segera menepuk pipinya sendiri, memerintah akal sehatnya untuk kembali ke bumi sebelum imajinasinya melantur lebih jauh.
Balasan Damian masuk, membuat jemarinya langsung mengangkat ponsel secepat kilat. Namun bukannya tambah merona bahagia, balasan Damian seketika menghanguskan semu merah di pipi Fraya dalam sekejap.
"Aku sudah memberimu waktu satu minggu. Kalau kamu masih salah juga, artinya kerja otakmu juga bermasalah!"
Fraya tertegun, mencoba mencerna deret kalimat yang jauh dari kata manis itu. Ia berdecak. Perasaan hangat yang tadi menyelimuti hatinya hilang tak berbekas.
Ia sudah bersiap mengetikkan balasan pedas untuk mempertanyakan maksud kalimat sadis Damian, namun sedetik kemudian, ia menghapus semuanya.
Dengan perasaan dongkol, Fraya melempar ponselnya ke sembarang tempat di sisi kasur, lalu menghempaskan diri dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimut.
"Dasar aneh! Tadi saja manis banget, pakai nyium jidat segala. Sekarang tiba-tiba judes. Dasar diktator! Nggak jelas!" gerutunya dalam bahasa ibunya dengan nada yang sangat jengkel.
°°°°
Di sudut lain London yang mulai disapa cahaya pagi, Damian menyesap kopi hitamnya dalam diam. Dalam keheningan yang sama sekali tidak berani diganggu satu makhluk pun karena sosok menyeramkan itu sedang tidak bisa disentuh oleh satu hal pun di dunia ini. Seperti guci yang retak, satu sentuhan saja, Damian bisa hancur berserakan.
Dan sejak semalam itu pula, kini hobi barunya adalah menggeser layar ponsel, meneliti dua foto kiriman entah dari siapa yang sukses menghancurkan kedamaiannya.
Ia pikir kekesalannya akan luruh saat fajar tiba, namun ternyata nyanyian burung yang terdengar merdu pun cukup untuk membuat Damian jadi ingin marah-marah.
Akibatnya, pelayan rumah dan supir pribadinya harus menjadi sasaran mood Damian yang kacau balau karena alasan yang sangat sepele.
Pelayannya dimarahi habis-habisan hanya karena menyuguhkan teh kamomil—minuman yang sangat ia benci. Bagi ukuran orang Inggris, Damian memang bukan pemuja teh.
Sementara Adam Whitmore, supirnya yang selalu tabah, juga tidak luput dari amukan. Damian mengomeli pria itu untuk memacu mobil secepat mungkin karena ia ingin sampai di sekolah lebih awal.
Dalam hati, Adam merasa bingung. Kemarin, saat mengantar tuan mudanya ke rumah gadis bernama Fraya, Damian tampak seperti baru saja terkena panah Cupid. Wajahnya berseri-seri setiap kali menceritakan gadis Indonesia itu.
Bahkan semalam, melalui kaca spion, Adam melihat Damian Harding tersenyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Tapi sekarang, Damian kembali ke versi lamanya—dingin dan meledak-ledak—seperti sebelum mengenal Fraya Alexandrea.
Damian sudah berada di ruang rekreasi, tempat favorit yang disediakan Milford Hall khusus untuk Damian gunakan jadi titik kumpul para anggota geng nya untuk sekedar bersantai.
Pagi ini, baru dia yang datang. Ia meminta pelayan sekolah membawakannya secangkir kopi hitam lagi, berharap kepekatannya mampu membantunya menghadapi apa pun yang akan terjadi hari ini.
Namun, dasarnya Damian, kadang ia suka lupa kalau dewi fortuna lebih sering tidak berpihak padanya, karena anggota kedua yang muncul melalui pintu ruang rekreasi justru orang yang membuat tensi Damian jadi melonjak tinggi pagi ini.
Louis Partridge melenggang masuk dengan santai, melempar tasnya ke sofa, lalu mengangguk sekilas sambil membuka amplop putih yang dibawanya.
Louis sama sekali tidak menyadari mendung hitam yang menaungi wajah Damian. Ia bahkan tidak merasakan tatapan sadis yang dilayangkan sahabatnya itu.
"Where have you been, Capt?" Louis akhirnya buka suara tanpa menoleh.
Damian bungkam. Pusaran emosi dalam dirinya sudah mencapai titik didih, namun ia tahu ini masih terlalu pagi untuk menyulut keributan, apalagi dengan Louis—orang paling santai yang tidak pernah mencari masalah dengannya bahkan sejak mereka masih bersekolah di taman kanak-kanak.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Louis menoleh. Ia mendapati Damian masih menyesap kopi tanpa memedulikan kehadirannya.
"You okay, man?" tanya Louis, menangkap sarat kekesalan di mata Damian.
Damian meneguk habis kopinya dalam sekali tenggak, lalu bangkit dengan gerakan cepat. Ia menyambar tasnya, berjalan melewati Louis sambil melempar senyum keramahan yang sangat dipaksakan.
"Sure, I'm fine," ujar Damian tajam saat melintas. Ia membuka pintu tanpa menoleh, meninggalkan Louis yang termangu sebelum akhirnya tubuh Louis nyaris terpelanting karena Damian membanting pintu ruangan itu dengan sangat keras.
°°°°
Your... eyes they tell me...
All the things you~ mean to say..
I... feel the same way, as you...
You... are the first girl
to count in my life..
I..., I live only for you...
(Du - Peter Mayfay)
°°°°
BRAKKK!
"Masih banyak yang salah!"
Fraya mengerutkan kening. Ia berada di antara rasa kaget karena Damian menggebrak meja dengan keras, dan bingung saat Damian melempar lembar tugas terjemahannya begitu saja.
"Maaf, kupikir pola kalimatnya sudah benar," Fraya mengerjapkan mata seraya hendak menarik kembali kertasnya. Namun, telapak tangan Damian menahannya dengan kuat di atas meja.
Sambil menarik napas panjang, jari Damian menunjuk susunan kata yang ia anggap keliru.
"Kamu bilang sudah mengeceknya dua kali, tapi lihat baris ketiga ini. 'Du bist alles, was ich habe auf der Welt' bukan berarti 'Kamu adalah segalanya yang ada di dunia'. Struktur kalimatmu masih berantakan sekali!"
Fraya tersentak sedikit, mencoba mengabaikan nada ketus Damian yang mulai menyulut kegeramannya. Ia menatap kertas di depannya lalu melayangkan protes.
"Tapi, Damian... secara konteks itu hampir benar. Aku cuma kurang menghaluskan padanan katanya sedikit—"
"Salah ya tetap salah!" Damian memotong cepat. "Kalau kamu tidak bisa fokus pada satu kalimat sederhana, bagaimana mau mengerjakan ujian Horverstehen yang lain?! Atau sebenarnya minatmu sudah tidak di sini? Apa harus Louis Partridge yang jadi tutormu supaya kamu lebih cepat menangkap pelajaran?"
Fraya mengerutkan kening seketika.
"Hold that fucking on, what is that mean? Kenapa tiba-tiba kamu bawa-bawa Louis?"
Damian mengembuskan napas kasar dengan tatapan tajam yang menghunus.
"Baru ku tinggal beberapa hari saja kamu sudah nempel ke sana-sini, Fraya. Dalam sehari kamu bisa meladeni dua laki-laki sekaligus. Pagi dengan Mr. Harrington, siangnya dengan Louis Partridge. Dan di tempat ini pula! Bisa-bisanya kamu membawa gebetanmu ke tempat yang seharusnya tidak terjamah siapa pun selain kita berdua? Dan seorang guru? Astaga, Fraya. Hanya karena guru fisika itu sedang jadi perbincangan hangat, bukan berarti kamu harus ikut tren mereka!"
Ucapan Damian terasa seperti ribuan belati yang menghujam hati Fraya secara bersamaan. Ia ingin sekali menampar mulut cowok itu sekarang juga.
Namun, kemarahannya seolah luruh oleh rasa terluka yang mendalam.
"Kamu bilang... apa? Aku meladeni dua laki-laki sekaligus?" Suara Fraya lirih, sarat akan rasa sakit yang nyata.
Kerutan di dahi Damian memudar sekilas, digantikan kesadaran bahwa kalimatnya barusan sudah terlampau jauh menyayat hati Fraya dengan telak.
"Fraya, aku tidak bermaksud—"
"Damian," Fraya mengangkat telapak tangannya, meminta waktu agar Damian berhenti bicara.
"Aku tidak tahu hubungan kita ini apa. Tapi yang jelas, bukan tugasmu untuk marah seperti ini hanya karena aku berteman dengan Louis. Aku tidak tahu bagaimana kamu tahu aku makan siang dengannya kemarin, tapi siapa pun informan sialan yang kamu perintahkan untuk mengawasi ku, aku akan dengan senang hati bilang kalau tidak ada yang terjadi antara aku dan Louis. Dan untuk Mr. Harrington?"
Fraya mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi simpan didalam tas, kemudian menunjukkan beberapa baret di ujung benda itu tepat didepan manik mata Damian, "Kamu lihat ini? Ini baret karena ponselku jatuh kemarin saat Mr. Harrington tidak sengaja menabrak ku. Ponselku mati total, dan dia hanya membantuku menghidupkannya kembali. Tidak semua orang seperti kamu, Damian, yang mampu membeli ponsel dengan uang sakunya sendiri yang tidak seberapa, jadi aku menyanggupi pertolongan Mr. Harrington supaya aku tidak perlu harus memangkas uang sakuku lagi kalau-kalau ponselku memang sudah tidak dapat berfungsi. Hanya sebatas itu. Apa informanmu tidak melaporkan itu juga? Atau mereka malah mengarang cerita kalau aku mencium Louis atau menggoda Mr. Harrington? Iya? Itu yang membuatmu semarah ini?"
Damian terpaku, kehilangan kata-kata. Dan sebelum mulut keparatnya ini berucap, ia melihat Fraya berdiri, menekan kedua tangannya ke meja agar bisa condong ke arah Damian.
"Karena kalaupun aku melakukan itu semua, kamu tidak berhak marah seluar biasa ini kepadaku, Damian. Karena apa? Karena kamu bukan pacarku."
Kalimat itu memantik api kemarahan yang sejak pagi tadi berusaha Damian redam. Fraya tidak peduli pada sorot tajam itu. Ia segera membereskan anekdotnya yang berserakan di atas meja dan melangkah pergi secepat mungkin tanpa sudi menoleh lagi ke wajah kaku Damian.
Damian terpaku menatap punggung Fraya yang menjauh. Namun, seolah digerakkan oleh insting, tubuhnya bergerak mengejar. Ia meraih tangan Fraya dengan kasar, membuat cewek itu memekik terkejut sekaligus menarik tangannya lepas dari genggaman Damian.
"Damian, kamu mau apa lagi, sih!" Fraya meronta, namun cengkeraman Damian lebih erat dari usahanya untuk melepaskan diri. Damian menariknya dengan langkah lebar, membuat Fraya kelimpungan menyejajarkan langkah mereka.
Setelah menyeret paksa Fraya dengan langkah Damian yang tidak tahu mau dibawa kemana ini, Damian berhenti di undakan tengah tangga yang saat itu sedang dipenuhi banyak siswa.
Puluhan pasang mata yang menyaksikan kemunculan mereka dari ujung koridor langsung heboh untuk berebutan menonton drama sekolah yang sudah jadi favorit mereka selama lebih dari sepekan ini.
Damian berbalik, menatap Fraya dengan intensitas yang sanggup mengunci napas.
"LISTEN UP, EVERYONE!" Suara Damian menggelegar, sukses menyedot seluruh perhatian di koridor utama.
"YOU SEE THIS GIRL RIGHT HERE?"
Damian berteriak lagi, memekakkan telinga Fraya yang sudah menegang di tempat. "Mulai sekarang, perhatikan wajahnya baik-baik. Bagi yang belum tahu, namanya Fraya Alexandrea dari kelas akselerasi Oxford. Simpan wajah ini baik-baik dalam ingatan kalian. Jangan sampai ada yang berani mendekatinya, atau kupastikan hidup kalian di sini dan di luar Milford tidak akan selamat!"
Damian menarik napas dalam, menatap Fraya yang sudah melongo menahan emosi yang campur aduk.
Namun Damian tidak peduli. Dalam satu tarikan napas panjang, ia menyerukan sebuah proklamasi yang sanggup membuat setiap mata yang sedang menonton mereka membelalak tak percaya.
"KARENA MULAI HARI INI, GADIS INI ADALAH KEKASIHKU. KEKASIH DAMIAN HARDING!"
Keheningan sesaat pecah oleh keterperangahan masal.
Fraya, yang berdiri kaku didepan Damian, tak mampu bergerak sedikit pun di tempatnya.
°°°°
Di kejauhan, Axel Rosewood menyaksikan kegemparan itu dari koridor utama. Kebisingan yang pecah di lorong tangga aula utama itu terdengar seperti musik di telinganya. Axel tidak ikut larut dalam kehebohan; ia tetap bersandar santai sambil menghisap rokoknya, menikmati tontonan drama nyata ini.
Begitu ia menikmati permainan yang memang sudah dinantikannya, tanpa ada keinginan untuk beranjak sedikit pun.
Alih-alih pergi, Axel meraih ponselnya yang bergetar didalam saku celana.
Sebuah nama yang sangat familier muncul di layar ponselnya. Sambil menekan puntung rokoknya ke dinding sekolah sampai padam, Axel menjawab panggilan itu dengan suara semerdu kicauan burung.
"About time, Alana. About time," ujar Axel dengan senyum picik yang merekah sempurna di bibirnya.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit