Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12 pelarian di Amsterdam
Dengung mesin pesawat Boeing 777 itu terasa seperti ribuan lebah yang bersarang di kepala Sekar. Selama empat belas jam penerbangan menuju Amsterdam, ia tidak memejamkan mata sedetik pun.
Di balik penutup jendela yang tertutup rapat, ia membayangkan Lukas—bayangan kecil yang kini memiliki nama dan wajah, namun terperangkap dalam sangkar emas yang beracun.
Sekar menggenggam erat tas medisnya di pangkuan. Di dalamnya bukan hanya instrumen bedah, tapi juga harapan yang rapuh.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Schiphol yang dingin dan berangin, Sekar merasakan gelombang adrenalin yang menyesakkan.
Ia tahu, langkah pertamanya di tanah Eropa ini adalah awal dari perburuan di mana ia adalah sang mangsa sekaligus pemburu.
Udara musim gugur Belanda yang menusuk tulang menyambutnya begitu ia keluar dari garbarata. Sekar menarik trench coat hitamnya lebih rapat, menutupi kemeja sutranya yang sudah kusut.
Ia bergerak cepat menuju area pengambilan bagasi, namun matanya terus bergerak secara liar, memindai setiap wajah di kerumunan.
Pesan misterius semalam terus terngiang: "Jangan percaya pada siapa pun yang menjemputmu di Amsterdam."
Siapa pun yang mengirim pesan itu tahu bahwa Sekar tidak akan sampai ke Hamburg tanpa hambatan.
Saat ia berdiri di dekat ban berjalan, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Bukan sentuhan, melainkan sebuah tekanan atmosfer yang akrab.
"Penerbangan yang melelahkan, bukan, Dokter?"
Sekar menoleh dengan cepat. Di sana, bersandar pada pilar beton, berdiri seorang pria bule tinggi dengan setelan jas abu-abu yang tampak terlalu formal untuk seorang pelancong. Ia memegang papan kecil bertuliskan: "DR. SEKAR – WIJAYA FOUNDATION".
"Saya dikirim oleh Tuan Von Hess untuk menjemput Anda," pria itu tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya yang berwarna biru es. "Nama saya Hans. Mobil sudah menunggu di luar untuk membawa Anda langsung ke Hamburg."
Sekar merasakan perutnya melilit. Ini adalah jebakan pertama. Jika ia masuk ke mobil itu, ia tidak akan pernah sampai ke Blankenese.
Ia akan dibawa ke fasilitas rahasia atau dikembalikan secara paksa ke Jakarta sebagai pasien 'gangguan mental'.
"Terima kasih, Hans," kata Sekar, suaranya luar biasa tenang, sebuah keterampilan yang ia asah di depan keluarga pasien yang kritis. "Tapi saya harus mampir ke apotek bandara sebentar. Obat asma saya tertinggal di pesawat dan saya merasa sesak."
Hans mengerutkan kening, tampak ragu. "Tuan Von Hess sudah menyiapkan tim medis lengkap di Hamburg, Dokter. Kita sebaiknya berangkat sekarang."
"Ini darurat medis, Hans. Sebagai sesama profesional di bawah naungan yayasan, Anda tentu tidak ingin saya pingsan di jalan tol, bukan?" Sekar menatapnya dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Hans akhirnya mengangguk. "Baiklah. Lima menit. Saya akan menunggu di depan pintu keluar Schiphol Plaza."
Begitu Hans berbalik, Sekar segera memutar arah. Ia tidak pergi ke apotek. Ia berbaur dengan rombongan turis Tiongkok yang baru saja tiba, menggunakan kerumunan itu sebagai tabir.
Ia masuk ke dalam toilet wanita, mengunci pintu bilik, dan dengan cepat melepas trench coat hitamnya, membaliknya menjadi sisi berwarna beige yang tersimpan di dalam lipatan kain.
Ia melepas kacamata hitamnya dan mengikat rambutnya yang tadi terurai menjadi sanggul rendah yang rapi.
Ia keluar dari toilet dengan penampilan yang berbeda, berjalan cepat menuju stasiun kereta api yang terletak tepat di bawah bandara.
Jantungnya berdebar kencang saat ia melihat Hans sedang berbicara di ponselnya dekat pintu keluar, tampak gelisah.
Sekar membeli tiket mesin menuju Amsterdam Centraal. Ia harus menghilang di dalam labirin kanal kota itu sebelum mengambil kereta api menuju Hamburg.
Di dalam kereta yang bergerak menuju pusat kota, Sekar duduk di sudut paling gelap. Ia mengeluarkan ponsel cadangan yang diberikan Alvin. Ada satu pesan baru dari nomor yang sama dengan sebelumnya.
"Hans adalah mantan agen keamanan korporasi Von Hess. Kamu cerdas karena menghindarinya. Tapi waspadalah, mereka bisa melacak paspormu setiap kali kamu melewati gerbang otomatis."
Sekar mematikan ponsel itu. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menggunakan paspor aslinya untuk check-in di hotel atau membeli tiket kereta lintas batas. Ia harus bergerak dalam bayang-bayang.
Setibanya di Amsterdam Centraal, ia turun dan segera menghilang di antara ribuan orang yang memadati stasiun kuno yang megah itu.
Ia berjalan kaki menuju kawasan Jordaan, menyusuri tepi kanal yang dingin. Ia membutuhkan tempat untuk bersembunyi selama beberapa jam sambil menyusun rencana masuk ke Jerman.
Sementara itu, di Jakarta, malam baru saja dimulai. Rahman berdiri di balkon kantornya, menatap hujan yang turun semakin lebat.
Di atas mejanya, berserakan dokumen-dokumen internal yayasan yang menunjukkan aliran dana dari Von Hess ke rekening pribadi Tuan Wijaya selama sepuluh tahun terakhir.
Pintu kantor terbuka. Nyonya Wijaya masuk dengan wajah yang penuh kemenangan.
"Sekar sudah mendarat di Amsterdam," kata nyonya Wijaya dingin. "Hans sudah menjemputnya. Dia akan segera dikirim ke fasilitas rehabilitasi di pinggiran Munich. Dia tidak akan pernah mengganggu Lukas lagi."
Rahman berbalik, senyum tipis yang mematikan tersungging di bibirnya. Senyum yang membuat nyonya Wijaya sedikit tersentak.
"Mama pikir Hans berhasil?" Rahman mengambil tabletnya dan menunjukkan sebuah titik merah yang bergerak di peta Amsterdam.
"Hans kehilangan dia di Schiphol. Sekar sedang menuju Hamburg dengan caranya sendiri. Dan sementara mama sedang sibuk memburunya, aku sudah mengirimkan seluruh audit keuangan yayasan ini ke otoritas pajak dan komisi pemberantasan korupsi."
Wajah Nyonya Wijaya memucat. "Apa yang kamu lakukan, Rahman? Kamu akan menghancurkan namamu sendiri!"
"Aku sudah hancur sejak sepuluh tahun lalu, Ma," sahut Rahman, suaranya rendah dan penuh dendam.
"Jika Sekar tidak bisa memiliki anaknya, maka Mama juga tidak akan memiliki yayasan ini." Rahman menarik nafas dalam. Tatapan kecewa sangat kentara di wajahnya, "Aku sudah memulai sabotase pada sistem distribusi obat Von Hess di Asia Tenggara. Kita akan bangkrut dalam empat puluh delapan jam, kecuali Mama memberitahuku di mana tepatnya Lukas berada."
"Kamu gila! Kamu mencintai wanita itu lebih dari Mama!" teriak nyonya Wijaya.
"Dia adalah keluargaku, Ma. Satu-satunya keluarga yang tersisa setelah Mama membunuh nuraniku."
Rahman melangkah keluar, meninggalkan ibunya yang gemetar karena amarah dan ketakutan. Ia segera menelepon Alvin.
"Alvin, pastikan Sekar sampai di Hamburg. Aku sudah mengalihkan perhatian orang-orang Von Hess di sini. Sekarang giliranmu untuk menepati janji."
Dua belas jam kemudian, setelah melalui perjalanan darat yang melelahkan dengan bus malam dan kereta lokal untuk menghindari pelacakan paspor, Sekar akhirnya menginjakkan kaki di Hamburg.
Kota pelabuhan ini terasa sangat berbeda dengan Berlin. Udaranya lebih lembap, berbau garam dan besi.
Sekar menyewa mobil tua dari seorang penyedia jasa lokal yang tidak meminta identitas lengkap, hanya tumpukan uang tunai Euro.
Ia berkendara menuju Blankenese, kawasan elit di pinggiran Hamburg yang dipenuhi vila-vila putih di lereng bukit yang menghadap ke Sungai Elbe.
Ia memarkir mobilnya agak jauh dari sebuah gerbang besi tinggi yang dijaga ketat. Di sana, sebuah plakat kuningan kecil bertuliskan: "Hess Institute for Vascular Research".
Sekar mengeluarkan teropong kecil dari tasnya. Ia menunggu dalam diam selama berjam-jam, menahan lapar dan kantuk yang mulai menyerangnya. Hingga akhirnya, pada pukul sepuluh pagi, sebuah mobil van medis berwarna putih keluar dari gerbang.
Mobil itu berhenti sejenak di pos penjagaan. Sekar mengatur fokus teropongnya. Di kursi belakang van, ia melihat seorang anak laki-laki.
Anak itu mengenakan piyama rumah sakit bermotif garis-garis, wajahnya sangat pucat, hampir transparan. Di lengannya, terpasang sebuah alat yang tampak seperti monitor glukosa, namun jauh lebih besar dan kompleks.
Anak itu menempelkan wajahnya ke kaca jendela, menatap pepohonan dengan pandangan yang kosong dan layu.
"Lukas..." bisik Sekar.
Tangisnya pecah di dalam mobil yang sunyi itu. Itu adalah anaknya. Anaknya yang selama ini ia kira sudah menyatu dengan tanah, kini ada di depannya, namun tampak seperti bunga yang sedang layu di dalam laboratorium.
Sekar menyadari sesuatu yang mengerikan. Lukas tidak terlihat seperti anak sehat yang diadopsi. Ia terlihat seperti pasien terminal. Kulitnya menunjukkan tanda-tanda vaskulitis akut—penyakit yang sama yang menyerang ayah kandung Sekar sebelum meninggal.
Keluarga Von Hess bukan hanya meneliti Lukas. Mereka membiarkan penyakit itu berkembang di dalam tubuh anak itu untuk menguji serum-serum baru mereka.
Amarah Sekar mendidih. Ia mencengkeram kemudi mobilnya hingga buku-bukunya memutih. Ia tidak bisa hanya sekadar menculik Lukas. Anak itu butuh penanganan medis yang sangat spesifik, atau ia akan meninggal dalam perjalanan pelarian.
Sekar meraih ponselnya, menelepon nomor yang mengirimnya pesan misterius tadi.
"Siapa pun kamu, aku tahu kamu mendengarkan," kata Sekar, suaranya sekarang penuh dengan kedinginan seorang algojo.
"Aku sudah melihatnya. Lukas sedang sekarat. Aku butuh akses ke dalam laboratorium itu malam ini, atau aku akan meledakkan tempat ini dan membiarkan dunia tahu apa yang dilakukan Von Hess."
Sebuah suara berat menjawab di ujung telepon. Suara yang sangat akrab bagi Sekar.
"Dokter Sekar... Saya sudah menunggu Anda di sini selama sepuluh tahun."
Sekar tertegun. Suara itu bukan milik Rahman, bukan pula Alvin. Itu adalah suara dokter senior yang dulu membantunya melahirkan di Berlin. Seseorang yang ia kira sudah meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu.
"Dr. Steiner?"
"Masuklah lewat pintu belakang gudang kimia, Sekar. Waktu kita tidak banyak. Lukas tidak akan bertahan sampai minggu depan jika kita tidak bertindak sekarang."
Sekar menutup ponselnya. Ia memeriksa tas medisnya sekali lagi. Pisau bedah, klem, antibiotik.
Malam ini, ia tidak akan melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa atas perintah rumah sakit. Malam ini, ia akan melakukan operasi untuk mencuri kembali apa yang menjadi miliknya, di jantung wilayah musuh.
Dendam manis ini sekarang menjadi misi bunuh diri. Dan Sekar siap untuk tidak pernah kembali, asalkan Lukas bisa melihat matahari esok hari tanpa rasa sakit.