Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa Betina
Pesta keluarga Moreno diadakan di kediaman mewah sang Kakek. Yumna sampai speechless. Dia pikir kediaman Evander sudah paling mewah, ternyata di sini lebih tidak masuk akal. Pesta diadakan outdoor, di halaman belakang yang menghadap ke danau buatan yang sangat estetik. Lampu-lampu gantung kristal menghiasi pepohonan, menciptakan suasana yang lebih mirip set film Hollywood daripada sekadar acara keluarga.
"Keren banget kediaman Kakek William, Mas," gumam Yumna sambil tak henti-hentinya memandangi pantulan cahaya di permukaan danau.
"Kenapa? Apa rumah pribadi yang aku siapkan tidak memuaskanmu?" tanya Evander dengan nada datar, namun matanya melirik tajam ke arah Yumna.
"Bukan itu. Ini hanya bentuk kekagumanku semata. Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh Kakek sendirian?"
"Semuanya di sini. Tante Sofia, Tante Martha, Tante Rosa, bahkan Cindy di sini. Ini rumah yang dipersiapkan oleh almarhum kedua orang tuaku."
Yumna menoleh cepat. "Lalu kenapa, Mas Bos... eh, maksudku Mas Evander, nggak tinggal di sini?"
"Aku lebih suka sendiri," jawab Evander singkat, menutup ruang untuk pertanyaan lebih pribadi.
Yumna mengangguk-angguk paham, lalu matanya menyisir kerumunan orang-orang berkelas di depannya. "Terus ngomong-ngomong... para Tante kemarin, kenapa suami mereka pada gak kelihatan ya, Mas?"
"Kakek larang mereka hadir, karena mereka baru saja mengecewakan Kakek soal audit keuangan cabang," jawab Evander dengan nada yang mengisyaratkan bahwa "mengecewakan Kakek" adalah dosa besar di keluarga ini.
"Ooh..." Yumna bergidik ngeri. Pantas saja para Tante itu galak, suaminya saja lagi dihukum Kakek.
Setelah bergabung dengan kerumunan, Evander memperkenalkan Yumna pada beberapa kerabat jauh dan kolega bisnis yang kemarin tidak hadir karena memang tidak diundang Kakek William ke acara pernikahan mereka. Yumna tersenyum sampai giginya kering, berusaha tetap terlihat anggun meski kakinya mulai protes karena memakai heels.
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan membisikkan sesuatu pada Evander.
"Kakek menungguku di ruang kerjanya. Ada dokumen yang harus kutandatangani," ucap Evander pada Yumna. Ia menatap Yumna sejenak, seolah ragu membiarkan istrinya sendirian di tengah kolam hiu ini.
"Jangan berulah. Tetaplah di area yang ramai. Aku tidak akan lama."
"Siap, Mas! Aman!" Yumna melambaikan tangan dengan riang saat Evander melangkah pergi.
Kini, tinggal Yumna sendiri. Ia mengambil segelas jus jeruk dari nampan pelayan yang lewat dan berniat mencari pojokan yang sepi untuk mengistirahatkan kakinya. Namun, baru saja ia berbalik, sebuah suara yang sangat ia kenali menginterupsi ketenangannya.
"Wah, sendirian saja, Nyonya Besar?"
Yumna menoleh dan mendapati Tante Martha dan Cindy sudah berdiri di belakangnya. Di samping mereka, ada seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan... Tante Lastri?
Yumna membelalak. Ternyata dugaannya benar. Cindy benar-benar "mengimpor" Tante Lastri, tante kandungnya yang baru tadi sore ke rumahnya dengan penuh sikap manis palsunya. Dan sekarang malah diundang ke pesta eksklusif ini.
Tante Lastri tampak mengenakan kebaya yang terlalu ketat dan perhiasan yang terlalu mencolok, terlihat sangat kontras dengan tamu-tamu Moreno yang minimalis-elegan.
"Yumna sayang! Duh, Tante seneng banget bisa diajak Nona Cindy ke sini!" seru Tante Lastri tanpa malu, suaranya yang cempreng mengundang beberapa pasang mata menoleh.
Cindy tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kasihan kan kalau Tante kamu nggak diajak pesta semewah ini? Jadi aku jemput tadi. Oh iya, Tante Lastri tadi banyak cerita lho soal kamu... termasuk soal bagaimana kamu dulu sering meminjam uang untuk bayar kosan karena gajimu habis buat bayarin cicilan motor Desta. Benar begitu, Yumna?"
Yumna mengepalkan tangannya di balik gelas jus. Ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai tanpa Evander di sisinya.
Tante Lastri berdehem kencang, sengaja memancing perhatian tamu-tamu sosialita di sekitar mereka. Dengan gaya bicara yang dibuat-buat sedih, ia mulai melancarkan aksinya yang sudah dibayar mahal oleh Cindy.
"Aduh, Jeng-jeng sekalian," Tante Lastri memulai sandiwaranya. "Saya ini tantenya, saya tahu betul siapa Yumna. Jangan tertipu sama wajah polosnya. Dia ini penuh kamuflase, licik! Kasihan Nak Desta, mantan tunangannya itu... dia sampai lari karena nggak kuat sama tabiat buruk Yumna. Yumna ini... aduh, tega banget sama keluarga sendiri saja perhitungan, apalagi sama orang lain!"
Tante Martha dan Tante Sofia berpura-pura terkejut, sementara Cindy melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan. "Dengar itu? Ternyata kakak iparku ini punya masa lalu yang lebih gelap dari kopi hitam," sindir Cindy.
Yumna hanya diam, memutar-mutar gelas jus jeruknya. Ia tidak terlihat panik sedikit pun. Sebaliknya, ia justru merogoh ponsel di tas kecilnya dan menekan tombol play pada sebuah rekaman video yang baru saja ia minta ke sistem 'Vera' lewat ponselnya beberapa menit yang lalu.
"Tante Lastri," potong Yumna dengan suara tenang namun berwibawa. "Sebelum Tante lanjut mendongeng, mungkin Tante mau lihat video ini? Menarik lho. Judulnya: 'Transaksi di Parkiran Belakang Antara Nona Manja dan Tante Mata Duitan'."
Wajah Tante Lastri dan Cindy seketika memucat.
Yumna memutar video itu. Di layar, terlihat jelas Cindy sedang menyerahkan amplop cokelat tebal kepada Tante Lastri di dalam mobil beberapa jam sebelum pesta dimulai. Suara mereka pun terdengar jernih berkat teknologi mikrofon tersembunyi di gerbang kediaman Moreno. Beneran kediaman yang canggih.
"Ini uang mukanya, Tante. Pastikan buat Yumna malu sampai dia nggak berani angkat muka di depan keluarga terutama Kakek," suara Cindy
terdengar sangat jelas di video itu.
Tamu-tamu di sekitar mereka langsung berbisik-bisik sinis. Kali ini, bisikan itu bukan ditujukan untuk Yumna, melainkan untuk Cindy dan Tante Lastri.
"Lancang sekali!" Tante Martha mencoba membela, tapi suaranya bergetar.
"Belum selesai, Tante," Yumna tersenyum dingin. Ia menoleh ke arah dua petugas keamanan bertubuh kekar yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, atas perintah rahasia Evander melalui sistem komunikasi rumah untuk selalu siaga menjaga istrinya saat ia menemui sang Kakek di dalam rumah.
"Pak, tolong antarkan dua tamu 'istimewa' ini keluar. Yang satu tamu tak diundang, dan yang satu lagi... sepertinya butuh waktu untuk merenung di luar gerbang karena sudah mencoba merusak acara Kakek."
"Yumna! Kamu nggak bisa usir aku! Ini rumah kakekku!" teriak Cindy histeris.
"Ini perintah dari Tuan Evander melalui saya, Nona Cindy," sahut salah satu petugas keamanan dengan tegas. "Mari, silakan ikut kami."
Tante Lastri yang ketakutan langsung mencoba kabur, tapi tangannya segera dicekal. "Aduh! Yumna! Tante cuma bercanda tadi! Yum!"
Yumna hanya melambaikan tangan dengan anggun saat Tante Lastri dan Cindy diseret keluar di depan mata para tamu undangan. Keheningan melanda sejenak, sampai Yumna berbalik ke arah Tante Martha dan Tante Sofia yang masih mematung.
"Ada yang mau lanjut bahas masa lalu aku? Atau kita lanjut menikmati hidangan penutup?" tanya Yumna sambil menyunggingkan senyum paling mematikan yang pernah ia miliki.
Tepat saat itu, Evander muncul dari arah koridor. Ia berjalan mendekati Yumna, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, dan menatap dingin ke arah kerumunan. "Ada masalah di sini?"
"Nggak ada, Mas," jawab Yumna santai sambil menyandarkan kepalanya di bahu Evander. "Cuma tadi ada sedikit 'sampah' yang mengotori taman, tapi sudah dibersihkan sama petugas keamanan."
Evander mengangguk kecil, menatap bangga pada istrinya yang ternyata bisa menjadi singa betina saat dibutuhkan.
"Bagus. Kakek ingin bicara denganmu. Ayo."
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...