Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Fakta tentang Regan
Ziya berjalan di samping Asep, sepanjang jalan senyum tipis senantiasa menghiasi bibirnya. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai, di depan sebuah bangunan seperti gudang beratap kaca.
Saat memasukinya, ternyata banyak Ibu-ibu yang bekerja disana, ada yang tengah menanam bibit, ada yang tengah mencampur tanah dengan pupuk dan lain sebagainya.
“Ini tempat saya kerja Neng, kalau gak nyaman Neng bilang aja,” bukannya merasa tak nyaman Ziya justru terlihat antusias.
“Eh Jang Asep bawa istrinya, tumben atuh,” sapa seorang Ibu yang bekerja disana.
“Muhun Ce, katanya mau lihat tempat kerja saya,” sahut Asep.
“Istrinya Jang Asep mani gelis pisan,” puji yang lain, kata-kata pujian itu membuat Ziya sedikit malu.
“Bu saya boleh ikutan nanem bibitnya?” tanya Ziya.
“Boleh atuh Neng silahkan,” Ziya duduk bergabung bersama Ibu-ibu tersebut, total ada sekitar sepuluh orang yang bekerja disini.
“Jang Asep beruntung pisan atuh dapat istri dari kota, mana cantik lagi,” komentar salah satu dari mereka, Ziya hanya membalas dengan senyuman, begitu pun dengan Asep.
“Belum mau ngisi Neng?”
“Ngisi apa Bu?” Ziya menatap bingung.
“Hamil, maksudnya. Belum ada tanda-tandanya kah?”
Wajah Ziya bersemu merah saat membayangkan dia dan Asep melakukan hal itu bahkan sampai punya anak, “be-belum Bu,” sahutnya tergagap.
Ziya melirik kearah Asep, Pria itu anteng saja ikut menanam bibit di sebelah Ibu-ibu yang lain.
“Mungkin usahanya kurang Neng. Neng mau Ibu kasih tahu gaya yang bagus?” mendengar itu Asep yang sebelumnya tak peduli dengan percakapan Ziya dan Ibu itu sontak menoleh.
Untuk beberapa detik pandangan Ziya dan Asep saling bertemu, namun Ziya lekas memalingkan wajahnya karena tak kuat menahan malu.
“Naon Ce, jangan bahas hal kayak gitu sama Neng Ziya atuh,” wajahnya juga nampak malu.
“Aduh kalian teh gak usah malu-malu atuh, kan udah nikah,” komentar yang lain sambil tertawa.
Hahaha, Ziya ikut tertawa meski terdengar canggung. Asep bangkit, sepertinya dia tak nyaman dengan arah pembicaraan Ibu-ibu yang menjurus ke masalah ranjang.
“Neng, mau cepet hamil gak?” upaya si Ibu tadi masih berlanjut, sepertinya itu masih dapat terdengar oleh telinga Asep, Pria itu pun memutuskan untuk pergi keluar saja.
Ziya hanya tersenyum untuk membalasnya, sumpah pembicaraan ini membuat dia benar-benar tak nyaman, tapi bagi mereka sepertinya itu hal biasa karena yang lain pun ikut tertawa.
“Ibu punya satu gaya andalan,” dia membisikkannya ke telinga Ziya, blus... Wajah Ziya berubah merah padam, dia bangkit seketika.
“S-saya permisi dulu Bu,” Dia langsung berlalu keluar ruangan, sedang Ibu-ibu itu masih terdengar berceloteh hal yang sama sambil tertawa.
“Gila pembahasan mereka vulgar banget, astaga,” ujar Ziya sambil mengipasi wajahnya dengan tangan, entah mengapa hawa di tempat ini tiba-tiba berubah menjadi panas.
Tampak Asep berdiri tak jauh dari gudang, dia nampak berdiri sambil mengawasi pekerja Pria di ladang. Ziya berjalan menghampirinya.
“Maaf ya Neng soal pembahasan Ibu-ibu tadi,” ucapnya tanpa menoleh.
“Santai aja kali, gue tahu mereka cuma bercanda,” sahut Ziya, “tapi kayanya yang paling gak nyaman itu elu,” kekeh Ziya.
“Iya, kaya gak wajar aja sih hal kaya gitu dibuat bercandaan, tapi bagi mereka itu adalah hal biasa,” komentarnya.
“Ya udah sih, mungkin itu cuma Jokes mereka, lagian gue orangnya santai ko.”
“Ya tapi saya gak enak atuh, Neng harus denger hal-hal kaya gitu, padahal kita cuma–,” tiba-tiba Ziya membekap mulut Asep dengan telapak tangannya.
“Shut! Elu mau mereka denger soal kita yang sebenarnya?” tanya Ziya dengan suara rendah, tanpa sadar wajahnya hanya berjarak beberapa Inci dari wajah Asep.
Asep menggeleng pelan dengan pupil mata melebar, “kalau gitu jangan ngomong sembarangan,” Ziya melepaskan tangannya kemudian mundur kebelakang.
Asep menggaruk tengkuknya yang tak gatal, matanya menatap sekeliling tak fokus.
Tring. Suara notifikasi pesan terdengar di ponsel Ziya, dia merogoh sakunya kemudian membuka pesan tersebut.
‘Ya, lu ko susah banget di hubungin sih, gue punya berita penting buat lu,’ isi pesan tersebut yang ternyata dari Zahra.
‘Berita penting apaan coba? Sial mana disini gak ada sinyal lagi,’ Ziya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
“Kenapa Neng, gak ada sinyal ya?” tanya Asep.
“Iya Sep, temen gue ngechat katanya ada hal penting yang pengen dia omongin,” ucap Ziya masih mengangkat ponselnya ke udara, berharap ponselnya bisa mendapatkan sinyal.
“Saya tahu tempat yang sinyalnya bagus Neng,” ucapnya.
“Ya udah ayo kita pergi kesana,” sahut Ziya penuh semangat.
“Tapi tempatnya agak menanjak, Neng bisa?”
“Kita coba aja dulu."
Ziya mengikuti langkah Asep menuju jalan setapak, awalnya jalan yang mereka lalui datar seperti biasa namun lambat laun jalan setapaknya berubah menanjak, bahkan beberapa kali Ziya minta beristirahat untuk mengatur napas.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di puncak bukit, “Argh... Gue capek Sep,” keluh Ziya sambil duduk di tanah saking tak kuatnya menahan lelah.
“Jangan duduk disitu atuh Neng kotor,” ucap Asep sambil mencari sesuatu untuk alas duduk Ziya.
“Gak papa lah, nanti kan bisa di cuci,” ucapnya tak peduli.
“Capek banget ya Neng?” tanya Asep, Ziya mengangguk tanpa suara, “harusnya saya tadi bawa air minum.”
“Udah gak papa, tapi elu gak ngerasa capek apa Sep, padahal ini lumayan jauh mana jalannya nanjak pula.”
“Saya sering datang kesini, jadi udah biasa,” ungkap Asep.
“Pantes, eh iya gue lupa gue kan mau nelpon tadi,” ujar Ziya sambil mengeluarkan ponselnya kembali dari saku, dan benar saja di tempat ini sinyal ponselnya tampak penuh.
“Sok atuh kalau Neng mau nelpon, saya nunggu di sana,” ujarnya seraya bangkit dan berjalan sedikit menjauh dari posisi Ziya.
Ziya menekan nama yang tertera di ponselnya, “halo,” telponnya langsung di angkat oleh Zahra.
“Halo Ra, lu apa kabar?” tanya Ziya.
“Gue baik, lu sendiri?” balas Zahra.
“Gue juga baik ko. Btw katanya elu mau ngasih informasi penting ke gue, tentang apa Ra?” tanya Ziya langsung pada intinya.
“Gimana ya cara ngomongnya,” Zahra bergumam pelan, “emh gini Ya, ini soal cowok lu,” ungkapnya.
“Regan, kenapa emangnya dia?”
“Lu masih berhubungan sama dia?” tanyanya.
“Masih, hubungan gue ama dia baik-baik aja ko,” ujar Ziya.
“Gini Ya, gue bukan mau jelek-jelekin cowok lu ya, cuma gue pengen lu lebih berhati-hati deh dan cari tahu lagi tentang keseharian dia, apa pekerjaannya dan sama siapa aja dia ketemu,” ujarnya terdengar ragu.
“Gue pengen lu ngomong lebih spesifik Ra, gue males sama kata-kata yang bertele-tele apa lagi nyari sinyal susah disini. So jelasin ke gue ada apa sama si Regan, dan gue pengen lu ngomong sejujur-jujurnya.”
“Lu yakin lu gak papa, gue tahu lu tuh bucin banget kan ama si Regan itu,” ucap Zahra.
“Yakin gue, udah lu ngomong aja cepet.”
“Gue pernah liat cowok lu jalan ama cewek lain, bukan hanya sekali tapi tiga kali, awalnya gue ragu mau cerita ini ke elu, takut kalau elu sakit hati. Tapi kemarin gue nemuin fakta yang lebih parah tentang dia–,” Zahra menjeda ucapannya.
“Fakta?”
“Hem fakta, ternyata dia jadi simpan Tante-tante, Ziya,” Ucapnya dengan nada tinggi.
“What? Elu yakin Ra, elu gak lagi ngarang cerita kan?” Ziya benar-benar terkejut mendengar ucapan Zahra barusan.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄