Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demo berujung kerusuhan
Setelah mendengarkan penjelasan Layla, Sari kemudian mengajukan pertanyaan. "Tapi Kipli adalah orang yang paling dekat dengan bos!"
"Apa bos tidak akan marah kalau kita macam-macam dengan si Kipli!?" Pertanyaan Sari mendapatkan anggukan dari Layla.
Layla puk menjawab. "Tentu bos akan marah kalau kita menyingkirkan si Kipli karena si Kipli sampai sekarang selalu bisa di andalkan!"
"Tapi... Selama ada orang lain yang lebih bisa di andalkan, apakah bos masih akan keberatan!?"
"Jangan lupa. Kita ini kriminal, kita tidak bekerja menggunakan perasaan tapi dengan perhitungan!"
"Selama ada yang lebih menguntungkan, yang lama bisa kita tinggalkan!" Sari masih terdiam mendengarkan.
Dalam hatinya, Sari merasa kalau yang di katakan Layla itu masuk akal dan juga sangat menarik.
Kalau mereka berhasil mereka tentu bisa menyingkirkan sekaligus mengambil alih tempatnya Kipli.
Tapi... Rencananya ini juga masih memiliki resiko kalau gagal.
Jadi Sari tidak bisa dengan lantang menjawab, iya atau tidak.
Layla tentu juga menyadari kebimbangan yang Sari rasakan pada saat ini.
Untungnya, Layla sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat Sari langsung berubah pikiran seketika.
"Aku tahu kamu bimbang, tapi... Percayalah, ini tidak akan gagal!" Layla menyerahkan sebuah kertas pada Sari.
Kertas itu langsung di baca...
"... Apa ini benar!?" Ekspresi Sari bertubuh drastis setelah membaca kertas itu.
"Tentu saja itu benar. Kamu pikir aku akan mengajakmu memberontak kalau aku tidak memiliki rencana yang matang seperti ini!" Layla tersenyum penuh keyakinan.
Sari yang tadinya bimbang kini mulai berubah pikiran.
Ia mengulurkan tangannya pada Layla. "Baiklah. Aku terik kerjasama ini!" Keduanya berjabat tangan karena mereka sudah sepakat akan saling membantu.
Beralih ke tempat lain.
Di jalan, tampak para pendemo masih memenuhi setiap jalan hingga kemacetan parah terjadi.
Semakin lama aksi demo berlangsung, keadaannya menjadi semakin tidak kondusif.
Bintik-bintik kerusuhan mulai terlihat dimana beberapa pendemo malah saling berkelahi karena saling senggol.
Tak lama, kerusuhan itu merembet dan membesar hingga seakan-akan terjadi tauran antara para pendemo.
Hal ini bisa terjadi tentu saja karena ada campur tangan provokator yang ingin mengadu domba para pendemo.
Dan mereka benar-benar berhasil melakukan tugas mereka.
Pihak keamanan di turunkan untuk mengendalikan kerusuhan tapi itu tidak berguna sama sekali.
Kerusuhan malah semakin membesar hingga beberapa pendemo bersikap anarkis dan menjadi bandit.
Mereka mendobrak pintu warung dan tokoh-tokoh di sekitar area demo kemudian menjarah apapun yang ada di dalamnya.
Beberapa rumah dan fasilitas juga di bakar hingga suasana di tempat demo menjadi semakin gelap dan mencekam.
Di atas sebuah gedung yang cukup tinggi, tampak ada siluet bayangan dua orang sedang berdiri melihat ke arah para pendemo.
Dua orang itu adalah Wawan dan mentornya yaitu agen Rambut Panjang.
"Keadaannya jauh lebih parah dari apa yang kita dengar!" Kata agen Rambut Panjang dengan ekspresi cemas.
"Ya.... Dan mungkin akan menjadi lebih parah lagi kalau tidak di tangani dengan cepat!" Timpal Wawan.
"Ayo kita kembali dan laporkan pada komandan!" Keduanya langsung kembali ke tempat mereka berkumpul untuk melaporkan semua yang terjadi.
Komandan yang mendengar itu semakin di buat pusing.
"Tsk! Kalau separah itu kejadiannya bisa-bisanya berkembang menjadi darurat militer!"
"Kita tidak boleh membiarkan kerusuhan berkembang sampai menjadi darurat militer, kita harus segera menuntaskan tugas kita dan menenangkan masa!" Kata komandan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bergerak malam ini juga!?" Usul wakil komandan.
"Ide bagus!"
"Kita akan melakukan penyerangan ke markas atau pabrikan si Yanto malam ini juga, jadi kalian semua harus bersiap-siap!" Kata komandan serius.
Semua orang mengangguk dan mulai menyiapkan diri.
Beberapa ada yang keluar dan memantau keadaan di luar agar mereka tahu perkembangan kerusuhan di luar.
Kala itu, Wawan terlihat sedang berjalan-jalan di antara kerusuhan dengan cara berjalan santai.
Ia tidak terlihat takut meksipun tindakan anarkis sedang terjadi di sekitarnya.
"Wah, wah, wah!"
"Ini parah sekali. Beberapa orang malah jadi Bandit dan menjarah toko orang tanpa memperdulikan perasaan yang punya toko!" Kata Wawan bergumam.
Wawan tak melakukan apapun pada saat itu.
Selain karena sudah terlambat, Wawan juga tidak sebodoh itu untuk menegur orang-orang yang masih tersulit emosi.
Wawan terus berjalan hingga tiba-tiba saja Wawan merasa ada sesuatu yang aneh di balik seng yang bersandar pada sebuah gedung.
Terdengar suara isakan dari arah sana.
Wawan yang penasaran tentang saja langsung menghampiri seng yang cukup besar itu dan...
"Hm?!...." Di balik seng itu ternyata ada beberapa anak kecil yang sedang bersembunyi.
Mereka terlihat sangat ketakutan ketika Wawan tiba-tiba membuka tempat persembunyian mereka.
Sejenak Wawan terdiam sambil menatap anak-anak yang ketakutan itu.
Tapi tak lama, Wawan memutuskan untuk mengevakuasi anak-anak tadi ke tempat yang aman.
Yaitu tempat di mana kelompoknya berada sekarang.
"Kenapa kamu malah membawa anak-anak ke sini, Wawan!?" Tanya agen Kepala Botak yang kala itu sedang duduk di depan markas sementara mereka.
"Aku menemukan anak-anak ini bersembunyi di balik seng. Tampaknya mereka korban dari kerusuhan ini, makannya aku bawa ke sini agar mereka aman!" Jelas Wawan.
"Oh, begitu... " Agen Kepala Botak sejenak menatap anak-anak yang masih sangat ketakutan itu.
Ia mengerti mengapa Wawan memutuskan untuk membawa anak-anak itu ke sana.
"Bawa anak-anak itu menemui komandan, biar nanti komandan yang putuskan anak-anak ini akan di amankan ke mana!" Kata agen Kepala Botak.
Wawan hanya mengangguk dan membawa anak-anak tadi masuk menemui komandan.
Sayangnya, pada saat itu komandan sedang tidak ada.
"Hm?... Mana komandan!?" Wawan merasa heran ketika di ruangan komandan orangnya malah tidak ada.
Kebetulan Raisya lewat sana jadi ia langsung memberitahukan kepada Wawan kalau komandan tidak ada.
"Kamu mencari komandan ya?!"
"Komandan tadi pergi bersama wakilnya untuk menemui seseorang, jadi dia tidak ada di sini!" Kata Raisya.
Raisya tampak agak terkejut ketika masuk ke ruangan ternyata di sana ada anak-anak kecil yang asing baginya.
"Begitu kah?... Lalu harus aku kemanakan anak-anak ini!?" Kata Wawan
"Ngapain kamu bawa anak kecil ke sini!?"
"Aku temukan di jalan tadi. Mereka tampaknya adalah korban dari kerusuhan ini dan terlihat sangat syok!"
"Daripada nanti mereka kenapa-kenapa di tengah-tengah kerusuhan, lebih baik aku bawa ke sini!"
"Oh, begitu....!" Raisya pun berpikir apa yang harus mereka lakukan pada anak-anak kecil itu.
Hingga Raisya mendapatkan sebuah ide.
"Oh, benar. Ada satu ruangan kosong di tempat ini. Bagiamana kalau kamu tempatkan saja anak-anak ini di sana untuk sementara!?" Raisya menunjukan tempatnya pada Wawan.
Akhirnya, anak-anak tadi di tempatkan di ruangan itu.
Sebelum di tinggal, Wawan terlebih dahulu menenangkan mereka dan memberi peringatan untuk jangan kemana-mana karena di luar sedang di penuhi kerusuhan.
Untungnya anak-anak tadi bisa mengerti meskipun mereka takut.
Mereka mau diam di ruangan itu dan tidak akan pergi keluar.
Wawan pun bisa meninggalkan mereka dengan tenang setelah itu.