Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana kamar terasa begitu tenang dan suci setelah prosesi pembersihan diri itu.
Kinan melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah, namun wajahnya tampak jauh lebih bercahaya.
Ia mengenakan gamis sederhana yang tadi dibelikan Adnan, menutupi tubuh kurusnya dengan cara yang sangat terhormat.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena haru, Kinan meraih mukena putih bersih berbahan katun bordir itu.
Ia menyampirkannya ke kepala, merapikan bagian keningnya, dan membiarkan kain putih itu jatuh menjuntai menutupi seluruh tubuhnya.
Saat melihat bayangannya sendiri di yang berselimut kain putih yang suci.
Kinan nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Air matanya menetes satu demi satu.
Di sudut lain kamar, Adnan juga sedang bersiap. Ia melepas jubah mahalnya dan dengan penuh rasa khidmat mengenakan baju koko putih tulang seharga tiga puluh lima ribu pemberian Kinan.
Meskipun kainnya tidak sehalus sutra dan jahitannya sederhana, Adnan memakainya seolah itu adalah pakaian kebesaran seorang raja.
Ia merapikan kerahnya di depan cermin, lalu berbalik menatap Kinan.
Adnan tertegun sejenak saat melihat istrinya dalam balutan mukena putih adalah hal terindah yang pernah ia saksikan.
"Kamu sangat cantik, Kinan. Benar-benar cantik," bisik Adnan tulus.
Kinan menunduk malu, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat Adnan benar-benar memakai baju koko pilihannya.
"Mas juga, baju itu tampak pas di badan Mas. Maaf kalau kainnya agak kasar."
Adnan menggeleng, ia melangkah mendekat dan menggenggam tangan Kinan yang tersembunyi di balik kain mukena.
"Ini adalah pakaian ternyaman yang pernah Mas pakai, karena dibeli dengan ketulusan hatimu."
Adnan kemudian membentangkan dua sajadah di atas lantai kayu kamar mereka.
Ia meletakkan sajadah Kinan tepat di belakang posisi imamnya.
"Kemarilah, Istriku. Berdirilah di belakang Mas. Hari ini, kita akan melapor pada pemilik semesta bahwa kamu sudah pulang. Ikuti saja gerakan Mas, jangan takut salah. Allah Maha Mendengar bisikan hatimu bahkan sebelum lidahmu berucap," ucap Adnan lembut.
Kinan melangkah perlahan, berdiri di atas sajadah hijaunya.
Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia akan bersujud.
Adnan mengangkat kedua tangannya, memulai takbiratul ihram.
"Allahu Akbar..."
Suara Adnan yang berat namun merdu menggetarkan seisi kamar, membawa kedamaian yang belum pernah Kinan rasakan seumur hidupnya.
Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram, suasana mendadak sunyi senyap, menyisakan deru napas dua insan yang sedang menghadap Sang Pencipta.
Adnan berdiri tegak di depan, sementara Kinan di belakangnya mengikuti setiap gerakan dengan kaku namun penuh kesungguhan.
Suara Adnan yang melantunkan ayat-ayat suci terdengar bergetar, seolah setiap huruf yang keluar dari bibirnya adalah rintihan rindu seorang hamba.
Hingga tibalah mereka pada rakaat terakhir, di momen paling dekat antara makhluk dan Penciptanya: Sujud.
"Allahu Akbar..."
Saat dahi Kinan menyentuh dinginnya kain sajadah, seolah seluruh bendungan di hatinya runtuh seketika.
Beban bertahun-tahun hidup di jalanan, hinaan orang-orang di pasar, rasa rendah diri karena tubuhnya yang kurus, hingga memori kelam dunia malam, semuanya tumpah dalam satu sujud itu.
Kinan menangis sejadi-jadinya. Isaknya bukan lagi sekadar tetesan air mata, melainkan raungan jiwa yang selama ini terkunci rapat.
Bahunya yang terbungkus mukena putih itu terguncang hebat.
Ia tak sanggup berucap apa-apa, ia hanya bisa membatin.
"Ya Allah, benarkah Engkau masih mau menerima hamba yang kotor ini?"
Di depannya, Adnan tidak segera bangkit. Ia mendengar tangisan pilu istrinya yang menyayat hati.
Alih-alih merasa terganggu, pertahanan Adnan pun hancur.
Bayangan betapa beratnya perjuangan Kinan untuk sampai di titik ini, betapa tegarnya ia mengembalikan jam tangan ibunya meski sedang lapar, membuat dada Adnan sesak.
Adnan pun ikut menangis sesenggukan dalam sujudnya.
Air matanya membasahi kain sajadah yang ia beli bertahun-tahun lalu.
Inilah tangisan syukur sekaligus permohonan agar ia dimampukan menjaga amanah ini.
Suara tangis mereka bersahutan di dalam kamar, menjadi saksi bisu sebuah taubat yang paling murni.
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi sujud itu.
Adnan membiarkan Kinan menumpahkan segala duri di hatinya.
Sujud itu seolah menjadi jembatan bagi Kinan untuk menyeberang dari masa lalu yang kelam menuju cahaya yang baru.
Setelah beberapa menit yang terasa abadi, Adnan perlahan bangkit dan mengakhiri sholat dengan salam.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi... Assalamu’alaikum warahmatullahi..."
Adnan berbalik. Ia melihat Kinan masih bersimpuh di atas sajadah, wajahnya terkubur di balik kedua telapak tangannya.
Mukena putihnya tampak basah di bagian mata. Tanpa sepatah kata pun, Adnan bergeser mendekat, lalu menarik Kinan ke dalam pelukannya yang paling erat.
"Sudah, Kinan. Allah sudah mendengar. Allah sudah memelukmu," bisik Adnan, suaranya masih serak karena sisa tangisnya sendiri.
Kinan memeluk erat baju koko tiga puluh lima ribu yang dikenakan Adnan, mencari perlindungan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun.
Adnan masih merangkul bahu Kinan yang masih bergetar sisa tangis tadi.
Ia menyeka air mata di pipi istrinya dengan sangat lembut, lalu menuntun Kinan untuk duduk bersimpuh menghadap ke arah kiblat.
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana terasa begitu sakral.
Adnan meraih tangan Kinan, menggenggamnya seolah ingin menyalurkan seluruh ketenangan yang ia miliki.
"Kinan, mari kita mulai langkah pertama," bisik Adnan rendah.
"Ikuti kata-kata Mas pelan-pelan. Rasakan setiap hurufnya masuk ke dalam hatimu."
Adnan memejamkan mata, menarik napas dalam, lalu memulai dengan suara yang sangat merdu dan meneduhkan.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Kinan terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat oleh haru. Ia mencoba menggerakkan bibirnya yang masih gemetar.
"Bis... millah... hirrahma... nirrahim..."
Adnan tersenyum tipis, sebuah binar bangga terpancar dari matanya. Ia mengangguk kecil, memberi semangat pada istrinya.
"Pintar. Sekali lagi, pelan saja," puji Adnan.
"Sekarang ayat selanjutnya. Alhamdulillahirabbil 'alamin..."
"Alhamdu... lilla... hirabbil... 'alamin," tiru Kinan. Suaranya kecil dan ragu, namun terdengar sangat tulus di telinga Adnan.
"Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam," bisik Adnan menjelaskan.
"Kalimat ini adalah cara kita berterima kasih karena Allah sudah mempertemukan kita, Kinan. Karena Allah sudah membawamu pulang ke sini."
Kinan menunduk, meresapi arti kata-kata itu. Selama ini ia hanya mengenal caci maki dan kata-kata kotor di jalanan.
Mendengar kalimat suci itu mengalir dari bibir suaminya, ia merasa seolah jiwanya yang kering sedang disiram air pegunungan yang sangat sejuk.
Satu per satu potongan ayat itu dibisikkan Adnan di samping telinga Kinan.
Adnan tidak terburu-buru. Ia dengan sabar membetulkan pelafalan Kinan yang masih kaku.
Berkali-kali Kinan salah ucap karena lidahnya yang tidak terbiasa, namun Adnan justru mengusap punggung tangan Kinan untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Kinan. Allah tidak melihat sempurnanya lisanmu, tapi Allah melihat sungguhnya usahamu," ucap Adnan menyemangati.
Di dalam kamar itu, beralaskan sajadah yang masih basah oleh air mata taubat, Kinan mulai mengeja jalan pulangnya.
Baju koko tiga puluh lima ribu yang dikenakan Adnan tampak bersinar di mata Kinan.
Bukan karena harganya, tapi karena lelaki di balik baju itu adalah malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untuk menuntunnya keluar dari kegelapan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅