NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

BAB 19

TRANSFORMASI DALAM SENYAP

​Adrian Aratama adalah pria yang terbiasa menguasai subjek apa pun dalam waktu singkat. Ketika ia ingin menguasai pasar properti di Singapura, ia melahap ratusan jurnal ekonomi dalam semalam. Namun, mempelajari cara menjadi pria yang "pantas" bagi Aisha Humaira ternyata jauh lebih sulit daripada membedah laporan audit tahunan. Ini bukan tentang menghafal angka, melainkan tentang mendekonstruksi seluruh kepribadiannya.

​Satu minggu telah berlalu sejak diskusi mendalam mereka tentang Tuhan. Di apartemennya yang mewah, rak buku yang biasanya dipenuhi oleh biografi para miliarder dan buku strategi perang Sun Tzu, kini memiliki penghuni baru. Beberapa buku tentang dasar-dasar Islam, etika berpakaian, hingga tafsir singkat, terselip di antara buku-buku desain arsitektur.

​Adrian tidak mencari pembenaran untuk menjadi religius secara instan—itu akan terasa palsu baginya. Ia memulai dari apa yang paling logis: Etika.

​"Sarah," panggil Adrian melalui telepon internal pagi itu.

​"Ya, Pak?"

​"Mulai hari ini, jika ada rapat di ruanganku yang melibatkan Aisha, pastikan pintu ruangan selalu terbuka sedikit. Dan jangan biarkan aku berada di dalam ruangan hanya berdua dengannya tanpa ada staf lain di meja depan."

​Di ujung telepon, Sarah terdiam cukup lama. "Maaf, Pak? Anda ingin pintu terbuka? Biasanya Anda sangat menjaga privasi."

​"Lakukan saja, Sarah. Dan satu lagi, beritahu seluruh staf pria di lantai ini: tidak ada lagi gurauan kasar atau kontak fisik yang tidak perlu dengan staf wanita, terutama Aisha. Jika ada yang melanggar, mereka berurusan langsung denganku."

​"Baik, Pak. Tapi... boleh saya tahu alasannya?"

​Adrian menatap pantulan dirinya di jendela. "Aku baru menyadari bahwa rasa hormat tidak diukur dari seberapa besar gaji yang kita bayar, tapi dari seberapa nyaman kita membuat orang lain merasa aman di sekitar kita."

​Pagi itu, Aisha masuk ke ruangan Adrian untuk menyerahkan laporan mingguan. Ia sudah bersiap untuk menjaga jarak seperti biasa, namun ia menyadari sesuatu yang berbeda. Pintu ruangan Adrian tidak tertutup rapat. Sarah berada di meja sekretaris yang posisinya digeser agar bisa melihat ke dalam ruangan.

​Saat Aisha masuk, Adrian tidak berdiri terlalu dekat. Ia tetap berada di balik mejanya, kedua tangannya diletakkan di atas meja—bukan di saku celana atau menyilang di dada yang biasanya memberikan kesan intimidasi.

​"Laporannya, Pak," kata Aisha, meletakkan map di meja.

​"Terima kasih, Aisha. Silakan duduk," jawab Adrian. Suaranya tidak lagi dingin dan menuntut, melainkan tenang dan penuh pertimbangan.

​Aisha duduk, namun matanya tak sengaja menangkap sesuatu di bawah tumpukan dokumen Adrian. Sebuah buku kecil dengan sampul hijau bertuliskan Adab dan Akhlak. Adrian yang menyadari arah pandangan Aisha, segera menutupinya dengan berkas lain, telinganya sedikit memerah—sebuah tanda malu yang sangat jarang terlihat pada seorang Adrian Aratama.

​"Aku sedang... meriset preferensi budaya untuk ekspansi kita ke pasar Timur Tengah," dalih Adrian cepat. Sebuah kebohongan yang sangat tidak meyakinkan.

​Aisha tidak berkomentar, namun hatinya bergetar. Ia tahu Adrian sedang berbohong. Ia melihat bagaimana Adrian sekarang sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata. Tidak ada lagi sindiran tentang cadarnya, tidak ada lagi pertanyaan sinis tentang waktu sholatnya.

​"Pak Adrian," panggil Aisha pelan. "Perubahan ini... terima kasih."

​Adrian menatap Aisha, kali ini dengan tatapan yang lebih jernih. "Aku hanya sedang mencoba memahami 'presisi' yang kau bicarakan, Aisha. Jika sebuah gedung butuh struktur yang benar agar tidak runtuh, mungkin seorang pria juga butuh aturan yang benar agar tidak menjadi monster."

​Adrian kemudian bangkit, namun ia berhenti sebelum mendekati Aisha. Ia menjaga jarak sekitar dua meter. "Aku juga ingin memberitahumu, aku sudah menyumbangkan jam tangan itu. Dan aku sudah meminta tim hukumku untuk meninjau kembali kontrak kerja sama dengan perusahaan Ayah Bianca. Kita akan memutus hubungan dengan mereka secara bertahap."

​"Kenapa?" tanya Aisha terkejut. "Itu akan merugikan Aratama Group."

​"Ada harga yang lebih mahal daripada kerugian finansial, Aisha. Dan itu adalah integritas. Aku tidak ingin bekerja sama dengan orang yang mencoba merusak kehormatan arsitekku," jawab Adrian tegas.

​Sore harinya, kejutan lain datang. Adrian mengundang Aisha untuk meninjau progres di lapangan, namun kali ini ia tidak membiarkan mereka pergi hanya berdua di dalam SUV. Ia meminta Barja dan seorang staf wanita dari bagian logistik untuk ikut serta.

​Di lokasi proyek, Adrian bersikap sangat formal namun sangat protektif. Saat mereka harus melewati area yang licin karena bekas hujan, Adrian tidak menawarkan tangannya secara langsung. Ia melihat sekeliling, lalu mengambil sebatang kayu panjang yang bersih.

​"Pegang ujung kayu ini, Aisha. Lantainya licin," ucap Adrian sambil memegang ujung yang lain.

​Aisha menatap kayu itu, lalu menatap Adrian. Sebuah tindakan yang sangat sederhana, namun menunjukkan bahwa Adrian telah mempelajari tentang batasan fisik (mahram) dengan sangat detail. Ia memilih solusi yang praktis tanpa harus melanggar prinsip Aisha.

​"Terima kasih, Pak," bisik Aisha sambil memegang kayu tersebut.

​Selama peninjauan, Adrian lebih banyak mendengarkan. Ia tidak lagi memotong pembicaraan Aisha dengan egonya. Ia memperhatikan bagaimana Aisha berinteraksi dengan para pekerja, dan ia mencoba meniru ketenangan itu.

​Saat mereka beristirahat di tenda proyek, Adrian mengeluarkan sebuah termos kecil. "Ini teh herbal. Bukan wiski atau kopi hitam. Aku dengar ini baik untuk menenangkan saraf."

​Ia menuangkannya ke dalam dua cangkir kertas dan meletakkannya di atas meja, memastikan tangannya tidak bersentuhan dengan tangan Aisha.

​"Pak Adrian," Aisha memulai, suaranya terdengar emosional di balik cadarnya. "Kenapa Anda melakukan semua ini? Mempelajari adab kami, merubah sikap Anda... Anda tidak perlu melangkah sejauh ini hanya untuk mempertahankan saya di proyek ini."

​Adrian menatap hamparan beton yang sedang mengeras di depan mereka. "Awalnya, aku memang ingin mempertahankanmu. Tapi sekarang, aku menyadari bahwa aku sedang mencoba mempertahankan diriku sendiri. Aku takut jika aku tetap menjadi Adrian yang lama, aku akan kehilangan kesempatan untuk melihat dunia dengan cara yang kau lihat."

​Adrian menoleh ke arah Aisha. "Aku belum menjadi orang beriman, Aisha. Logikaku masih sering memberontak. Tapi aku mulai percaya bahwa ada keindahan dalam disiplinmu. Dan aku ingin menjadi pria yang cukup layak untuk setidaknya berdiri di dekatmu tanpa membuatmu merasa terancam."

​Aisha merasakan air mata hangat mengalir di pipinya. Perubahan Adrian jauh lebih menyentuh hatinya daripada ribuan berlian. Pria ini, dengan segala kekuasaan dan kekayaannya, bersedia merendahkan egonya untuk mempelajari hal-hal yang sebelumnya ia anggap remeh.

​"Perubahan Anda adalah jawaban atas doa-doa saya, Pak," ucap Aisha tulus.

​Adrian tertegun. "Kau... mendoakanku?"

​"Setiap hari. Agar Allah menunjukkan kepada Anda bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar angka di neraca laba-rugi."

​Adrian terdiam lama. Ia merasa ada sesuatu yang hangat menyelimuti hatinya—sebuah perasaan yang jauh lebih kuat daripada adrenalin kesuksesan bisnis. Mengetahui bahwa seseorang seperti Aisha mendoakannya memberikan sebuah kekuatan yang tak bisa dijelaskan.

​Namun, momen tenang itu terganggu oleh kedatangan sebuah mobil sedan hitam yang tidak dikenal masuk ke area proyek. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria muda mengenakan baju koko putih bersih, sarung yang rapi, dan peci hitam turun dari mobil. Wajahnya berseri, memancarkan ketenangan yang berasal dari tahun-tahun di pesantren.

​Aisha tersentak. Tangannya gemetar. "Ustadz Salman..."

​Pria itu adalah Ustadz Salman, pria yang dijodohkan dengan Aisha. Ia datang lebih awal dari yang dijanjikan, mungkin atas desakan ayah Aisha yang ingin segera memastikan hubungan ini.

​Adrian berdiri, tubuhnya seketika menegang. Ia melihat Salman mendekat dengan senyum yang sangat sopan. Adrian merasakan insting teritorialnya bangkit, namun ia segera menahannya. Ia teringat buku adab yang ia baca: Tetaplah tenang dan bersikap ksatria.

​Salman berhenti di depan mereka. Ia memberikan salam dengan suara yang sangat merdu. "Assalamu'alaikum, Aisha. Maaf saya mengganggu pekerjaanmu. Ayahmu meminta saya menjemputmu karena ada tamu di rumah."

​Aisha menatap Adrian dengan pandangan penuh ketakutan dan kebimbangan.

​Adrian melangkah maju, menghadap Salman. Ia tidak menjabat tangan pria itu karena ia melihat Salman juga menjaga tangannya. Adrian mengangguk hormat, sebuah gerakan yang sangat elegan dan terkontrol.

​"Wa'alaikumussalam," jawab Adrian, mengejutkan Aisha karena ia menggunakan salam yang benar. "Saya Adrian Aratama, atasan Aisha. Silakan, jika ada urusan keluarga yang mendesak, Aisha bisa pulang lebih awal hari ini."

​Salman menatap Adrian dengan rasa ingin tahu. "Terima kasih, Pak Adrian. Saya banyak mendengar tentang kebaikan Anda dalam menjaga Aisha di proyek ini."

​Adrian tersenyum tipis—senyum yang penuh rahasia. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria yang menghargai prinsip orang lain."

​Saat Aisha berjalan menuju mobil Salman, ia menoleh sekali lagi ke arah Adrian. Adrian berdiri tegak di tengah lokasi proyek, angin meniup kemejanya, matanya menatap Aisha dengan sebuah janji yang tak terucap: Aku tidak akan menyerah, tapi aku akan bertarung dengan caramu.

​Adrian memperhatikan mobil itu pergi. Dadanya terasa sesak, namun ia tidak lagi merasa hancur. Ia kembali ke kantor lapangan, mengambil buku adabnya, dan melanjutkan membacanya.

​"Bab selanjutnya: Tentang Kesabaran," gumam Adrian. "Sepertinya aku akan membutuhkan bab ini lebih banyak daripada yang kukira."

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!