NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Kepulangan

...— ✦ —...

Kirana tidak tidur nyenyak malam sebelum Xavier pulang.

Bukan karena kamarnya tidak nyaman — ranjang itu masih terlalu mewah untuk ukuran seseorang yang terbiasa tidur di kasur tipis dengan satu bantal yang sudah kempes. Bukan pula karena ada suara aneh di rumah itu. Rumah itu justru terlalu sunyi, terlalu sempurna, seperti set panggung yang menunggu para aktornya kembali mengisi peran.

Masalahnya adalah ia tidak tahu bagaimana caranya menjadi istri Xavier Zhang.

Direktur Hansel bisa ia tangani dengan kombinasi pengetahuan plot dan kecerdasan situasional. Tapi Xavier — Xavier adalah orang yang hidup bersama Gwyneth selama bertahun-tahun. Yang mengenal setiap lekuk kepribadiannya. Yang mungkin tahu cara Gwyneth menuangkan kopinya, cara Gwyneth membaca surat kabar, bahkan mungkin cara Gwyneth bernapas saat tidur.

Kirana menarik selimut hingga ke dagu dan menatap langit-langit.

Dalam novelnya, ia menulis Xavier sebagai suami yang memuja istrinya — buta terhadap sisi gelap Gwyneth karena Gwyneth sangat pandai menyembunyikannya. Di depan suaminya, Gwyneth selalu sempurna: hangat, anggun, penuh perhatian. Monster itu hanya muncul ketika Xavier tidak ada.

Artinya — Kirana menutup matanya — artinya selama ini Xavier tidak tahu. Tidak tahu tentang memar-memar itu. Tidak tahu tentang ketakutan yang tertanam di mata ungu putrinya. Tidak tahu bahwa di balik rumah sempurna yang ia tinggalkan dengan tenang setiap kali pergi bisnis, ada cerita lain yang berlangsung dalam kegelapan.

Itu berarti Kirana tidak hanya harus menjadi Gwyneth yang berbeda — ia juga harus memutuskan seberapa banyak kebenaran yang akan ia biarkan Xavier ketahui, dan seberapa cepat.

Terlalu cepat, dan ia tidak tahu bagaimana Xavier akan bereaksi. Terlalu lambat, dan ia membiarkan luka Amethysta terus tersembunyi tanpa penanganan.

Ia tidak punya jawaban untuk itu malam ini.

Maka ia menutup matanya, mengatur napasnya, dan memutuskan untuk membiarkan besok menjawab sebagian pertanyaannya sendiri.

...✦  ✦  ✦...

Xavier Zhang tiba pukul tiga sore.

Kirana mendengarnya dari ruang baca di lantai dua — suara mobil yang berhenti, suara pintu yang dibuka, suara langkah yang ia kenali meski belum pernah benar-benar mendengarnya sebelumnya. Ada berat tertentu dalam cara orang berjalan masuk ke rumah mereka sendiri setelah lama pergi — campuran antara kelegaan dan antisipasi.

Ia turun dengan langkah yang ia harap terlihat biasa.

Xavier sudah berdiri di aula utama, jas hitamnya sedikit kusut setelah perjalanan panjang, koper besar di sampingnya yang sudah diambil alih oleh seorang staf. Ia melepas jam tangannya saat mendengar langkah Kirana — dan saat kepalanya terangkat, untuk sepersekian detik Kirana melihat ekspresi yang ia tidak siapkan untuk menghadapinya.

Senyum.

Bukan senyum sopan. Bukan senyum profesional. Tapi senyum yang muncul dari sudut bibir seorang pria yang baru saja melihat orang yang paling ia rindukan setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

"Gwyneth."

Satu kata. Nama yang bukan namanya. Tapi cara ia mengucapkannya — dengan nada yang tidak bisa disebut apa-apa selain lembut — membuat dada Kirana melakukan sesuatu yang aneh dan tidak ia harapkan.

"Xavier," jawabnya. Suara Gwyneth. Tapi hangat — sedikit lebih hangat dari yang biasa mungkin keluar dari bibir itu.

Ia melangkah turun, dan Xavier melangkah maju, dan sebelum Kirana sempat memproses apa yang terjadi, pria itu sudah memeluknya.

Pelukan yang tidak ragu-ragu. Pelukan orang yang sudah sangat terbiasa melakukannya — tangan yang besar di punggungnya, dagu yang bersandar sebentar di puncak kepalanya, tarikan napas yang panjang seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempatnya pulang.

Kirana membeku selama satu detik.

Lalu, karena tidak ada pilihan lain yang masuk akal, ia membalas pelukan itu.

Dan ada sesuatu yang sangat tidak adil dari cara pelukan seorang pria yang mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya — bahkan ketika orang yang dipeluknya bukan benar-benar orang yang ia cintai.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Xavier saat melepaskan pelukan itu. Tangannya masih di bahunya, matanya — cokelat gelap, tajam tapi hangat — memperhatikan wajahnya dengan cara yang membuat Kirana ingin memalingkan pandangan.

"Baik," jawab Kirana. "Perjalanannya bagaimana?"

"Panjang." Ia menghela napas singkat. "Tapi berhasil. Hansel menghubungiku — katanya kamu menyambutnya dengan baik kemarin."

"Saya hanya melakukan yang seharusnya."

Xavier menatapnya sebentar lebih lama dari yang terasa nyaman. Ada sesuatu di ekspresinya — bukan kecurigaan, lebih kepada... perhatian yang memperhatikan sesuatu yang berbeda, tapi belum yakin apa.

"Amethysta di mana?" tanyanya kemudian.

"Di taman, sepertinya. Seren bersamanya."

Dan sesuatu berubah di wajah Xavier — senyumnya kembali, kali ini lebih lembut. "Izinkan aku menyapanya dulu sebelum membersihkan diri."

Kirana mengangguk dan mengikutinya ke arah pintu belakang.

...✦  ✦  ✦...

Amethysta sedang duduk di atas batu besar favoritnya — batu yang kemarin ia tunjukkan pada Kirana — dengan buku bergambar terbuka di pangkuannya, ketika ia mendengar langkah dari arah rumah. Ia mengangkat kepalanya.

Dan ekspresinya berubah seketika.

"Ayah!"

Kirana belum pernah mendengar suara itu sebelumnya — suara Amethysta yang tidak ragu-ragu, tidak berhati-hati, tidak dipenuhi kalkulasi tentang apakah aman untuk berbicara. Gadis kecil itu melompat turun dari batunya dan berlari dengan kecepatan yang mengesankan untuk ukuran kakinya yang pendek.

Xavier berjongkok tepat sebelum Amethysta menabraknya, menangkap tubuh kecil itu dengan kedua tangannya dan mengangkatnya berdiri, tertawa pelan saat Amethysta memeluknya dengan erat di sekitar lehernya.

"Aku kangen Ayah," terdengar suara kecil itu, muffled karena wajahnya terkubur di bahu Xavier.

"Ayah juga kangen kamu, tuan putri." Xavier mengelus rambut hitam yang dikepang dua itu. "Sudah jadi anak baik?"

"Sudah." Lalu Amethysta mengangkat kepalanya, dan mata ungu itu melirik ke arah Kirana yang berdiri beberapa langkah di belakang Xavier. Ada sesuatu yang bergerak di ekspresinya — sesuatu yang kompleks dan tidak mudah dibaca.

Xavier mengikuti arah pandangnya dan menoleh ke Kirana.

"Mama ikut ke taman juga?" tanyanya, dan nada suaranya ringan, tidak ada maksud tersembunyi di sana — tapi Kirana melihat mata Amethysta, dan di mata ungu itu ia melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas sebentar.

Keheranan. Masih ada keheranan di sana. Tapi di bawahnya — sangat tipis, sangat rapuh, seperti lapisan es pertama di awal musim dingin — ada sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai kepercayaan yang sedang mencoba tumbuh.

"Mama yang mengajak aku ke taman kemarin," kata Amethysta pada ayahnya, pelan. "Dan tadi pagi juga."

Xavier menoleh lagi ke Kirana. Kali ini ada pertanyaan sungguhan di matanya — bukan kecurigaan, tapi sesuatu yang lebih mirip rasa ingin tahu yang hangat.

Kirana mengangkat bahu sedikit. "Tamannya bagus. Sayang kalau tidak dimanfaatkan."

...✦  ✦  ✦...

Makan malam berlangsung dengan cara yang belum pernah Kirana bayangkan saat ia menulis keluarga ini.

Mereka bertiga duduk di meja makan — Xavier yang baru selesai membersihkan diri dan tampak jauh lebih segar, Amethysta yang masih sesekali mencuri pandang ke Kirana dengan ekspresi yang sulit diartikan, dan Kirana sendiri yang berusaha keras untuk tidak terlihat seperti seseorang yang sedang memainkan peran yang ia pelajari dari buku catatannya sendiri.

Xavier bercerita tentang perjalanannya — pertemuan-pertemuan panjang, negosiasi yang alot, satu malam ketika penerjemahnya mendadak sakit dan ia harus mengandalkan kamus di ponselnya untuk berkomunikasi. Amethysta mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali bertanya dengan pertanyaan anak-anak yang polos dan tepat sasaran.

Dan Kirana — Kirana hanya duduk dan mendengarkan, dan perlahan menyadari sesuatu yang tidak ia tulis dalam novelnya.

Keluarga ini bisa bahagia.

Bukan kebahagiaan yang dipaksakan, bukan kebahagiaan performatif untuk keperluan citra. Di meja makan ini, dengan ayah yang bercerita dengan antusias dan anak yang tertawa pada bagian yang lucu — ada sesuatu yang nyata. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang, jika saja variabel Gwyneth yang asli tidak ada di tengah-tengahnya selama bertahun-tahun, mungkin sudah jauh lebih utuh dari ini.

"Gwyneth."

Ia tersadar dari lamunannya. Xavier menatapnya dari seberang meja dengan ekspresi yang memperhatikan.

"Maaf," katanya. "Melamun."

"Tidak apa." Tapi ada sesuatu di cara Xavier memandangnya — tenang, penuh perhatian, seperti seseorang yang sedang membaca buku yang ia kenal di luar kepala tapi menemukan halaman baru yang tidak ia duga ada. "Kamu terlihat berbeda."

Jantung Kirana berhenti selama satu detik.

"Berbeda bagaimana?" tanyanya, menjaga suaranya tetap ringan.

Xavier memikirkannya sejenak. "Lebih... tenang," katanya akhirnya. "Biasanya kamu—" ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati. "Biasanya ada sesuatu di matamu saat aku baru pulang. Seperti daftar hal yang perlu dibicarakan, keputusan yang menunggu. Tapi malam ini kamu terlihat..." ia mencari katanya lagi.

"Hadir," isi Amethysta tiba-tiba, dengan nada polos seorang anak yang tidak tahu betapa tepatnya kata yang baru ia ucapkan.

Keheningan singkat.

Xavier menatap putrinya, lalu menatap Kirana, dan tersenyum dengan cara yang membuat mata cokelat gelapnya tampak lebih hangat dari biasanya. "Ya," katanya pelan. "Tepat sekali. Hadir."

Kirana tidak tahu harus menjawab apa. Maka ia tidak menjawab apa-apa — ia hanya membalas senyum itu dengan senyum yang ia harap terlihat wajar, dan mengalihkan perhatian dengan menuangkan air ke gelasnya.

Tapi kata itu — *hadir* — mengikutinya hingga ia naik ke kamar malam itu, hingga ia berbaring di ranjang dan menatap langit-langit putih yang sudah mulai terasa familiar.

Hadir.

Selama bertahun-tahun, Gwyneth yang asli ada di sini secara fisik tapi tidak pernah benar-benar hadir — tidak untuk putrinya, mungkin tidak juga untuk suaminya. Dan Kirana, yang masuk ke tubuh ini dengan tidak sengaja dan tidak meminta, justru tanpa sadar memberikan sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.

Kehadirannya sendiri. Apa adanya.

Di kamar sebelah, melalui dinding, ia bisa mendengar suara Xavier membacakan cerita untuk Amethysta sebelum tidur — suara rendahnya yang pelan, diselingi tawa kecil gadis itu pada bagian yang lucu.

Kirana memejamkan matanya.

Ia masih belum punya jawaban untuk semua pertanyaan yang menunggunya. Bagaimana menjelaskan perubahan ini pada Xavier, kapan waktunya yang tepat. Bagaimana menyembuhkan luka Amethysta yang sudah terlanjur dalam. Bagaimana menjalani hari-hari ke depan dalam tubuh dan kehidupan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri di prosesnya.

Tapi malam ini, untuk pertama kali sejak ia terbangun dalam tubuh yang bukan miliknya, Kirana Seo tidak merasa sendirian.

Dan untuk malam ini — itu sudah lebih dari cukup.

...✦ ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!