Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter
Istana Api Abadi dihias megah untuk pernikahan resmi kedua Ling Chen. Karpet merah darah membentang dari gerbang utama hingga aula pernikahan, lentera api mengapung membentuk pola naga dan phoenix, dan aroma dupa suci memenuhi udara. Seluruh kekaisaran diundang: para elder, jenderal, pejabat tinggi, dan bahkan utusan dari kerajaan tetangga. Ini bukan hanya pernikahan—ini pembuktian kekuatan Ling Chen yang baru, dan penerimaan Qing Lin sebagai anggota keluarga kekaisaran.
Ling Chen berdiri di depan altar, mengenakan jubah hitam merah dengan sulaman api emas dan ombak biru—simbol gabungan kekuatan barunya. Yue Yan berdiri di sisi kirinya, jubah merah menyala seperti api mahkotanya, wajahnya penuh senyum bangga. Qing Lin di sisi kanannya, gaun biru lautnya dihiasi sulaman api merah tipis, tubuh sempurnanya—kulit putih mulus, pinggang ramping yang melengkung indah, dan lekuk dada penuh—terlihat anggun seperti dewi dari lautan yang datang ke dunia api.
Kaisar Huo Tian memimpin upacara, suaranya bergema. “Hari ini, di hadapan langit dan leluhur Api Agung, aku, Kaisar Huo Tian, meresmikan pernikahan Ling Chen dengan Qing Lin sebagai istri keduanya. Yue Yan, putriku, telah memberikan restu. Semoga ikatan ini memperkuat kekaisaran kita.”
Ibu Suri Huo Lian maju, membawa dua gelang api biru—gelang khusus yang dibuat dari kristal laut dan api suci. “Ini adalah Gelang Ombak Api Abadi. Saat dipakai, jiwa kalian akan terikat lebih dalam dengan Yue Yan juga. Tiga menjadi satu—kekuatan yang tak terkalahkan.”
Ling Chen memasangkan gelang ke pergelangan Qing Lin, lalu Qing Lin ke Ling Chen. Saat gelang itu menyentuh kulit, cahaya jingga biru meledak pelan, membentuk pola ombak dan api yang melingkar di sekitar mereka bertiga, termasuk Yue Yan. Qi mereka menyatu: api merah Yue Yan, api jingga Ling Chen, dan air biru Qing Lin—membentuk harmoni sempurna.
Kaisar mengangkat tangan. “Dengan ini, kalian resmi menjadi satu keluarga. Ling Chen, kau bukan lagi menantu biasa—kau adalah Pangeran Api Laut Agung, dengan hak penuh atas pasukan elit.”
Tepuk tangan meriah menggema. Yue Yan mencium pipi Ling Chen, lalu pipi Qing Lin. “Sekarang… kita benar-benar satu.”
Qing Lin tersenyum malu-malu, tapi bahagia. “Terima kasih, Kak Yue Yan… Suamiku.”
Malam itu, setelah pesta selesai, ketiganya kembali ke paviliun pribadi Yue Yan yang luas—kini menjadi rumah mereka bertiga. Kamar tidur megah dengan tempat tidur besar berukir naga api dan ombak, diterangi lentera kristal biru-merah yang lembut.
Yue Yan duduk di tepi tempat tidur, jubahnya melorot pelan dari bahu, memperlihatkan kulit putihnya yang bercahaya seperti api hangat. “Malam pertama kita bertiga… aku tak sabar.”
Qing Lin mendekat, tubuh sempurnanya—pinggang ramping, payudara penuh, dan paha mulus—terlihat indah di bawah cahaya samar. Dia mencium bibir Yue Yan pelan, lalu berbalik ke Ling Chen. “Suamiku… aku siap.”
Ling Chen memeluk keduanya dari belakang, tangannya menyusuri punggung Yue Yan yang halus dan pinggang Qing Lin yang lembut. “Kalian berdua… adalah milikku selamanya.”
Malam itu, mereka bertiga menyatu dalam pelukan penuh kasih. Ciuman Yue Yan panas seperti api, sentuhan Qing Lin lembut seperti air—membuat Ling Chen merasakan keseimbangan sempurna. Tubuh Yue Yan menempel di depan, dada penuhnya menekan dada Ling Chen, sementara Qing Lin di belakang, tangannya menyusuri tubuh suaminya dengan kelembutan yang menggoda. Mereka bergantian, bergerak selaras seperti teknik kultivasi mereka—api dan air menyatu dalam ekstasi yang mendalam, qi mereka melonjak bersama.
Desahan Yue Yan dan Qing Lin bercampur, tubuh mereka yang sempurna saling menyentuh dalam harmoni. Ling Chen berada di tengah, merasakan kehangatan dari kedua istrinya yang tak terlupakan—momen intim yang memperkuat ikatan jiwa mereka.
Pagi harinya, mereka bertiga bangun saling berpelukan, qi mereka lebih kuat dari sebelumnya. Yue Yan tersenyum, mencium bibir Ling Chen dan Qing Lin. “Ini baru permulaan. Kita akan jadi legenda kekaisaran.”
Qing Lin mengangguk, tangannya di perut Yue Yan. “Ya… dan mungkin suatu hari… anak kita.”
Ling Chen memeluk keduanya erat. “Ya. Tapi dulu, kita harus selesaikan urusan yang tersisa. Huo Zhan… dan musuh lain yang mungkin datang.”
Di luar paviliun, angin pagi bertiup, membawa hembusan baru—kekaisaran telah berubah, dan Ling Chen kini berdiri di puncaknya, dengan dua istri di sisinya.
Tapi di penjara, Huo Zhan tersenyum dingin dalam gelap. “Aku akan bebas… dan kau akan jatuh, Ling Chen.”