NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Permainan Sesungguhnya

Alarm masih meraung ketika layar-layar di aula menampilkan data yang terus bergulir tanpa henti. Anggota Konsorsium panik. Beberapa mencoba keluar ruangan, yang lain sibuk menelepon seseorang yang entah siapa.

Di tengah kekacauan itu, hanya tiga orang yang berdiri diam.

Adrian Pratama.

Arkan Wijaya.

Dan Aluna.

“Matikan sistemnya!” Adrian berteriak pada tim teknisnya.

“Tidak bisa, Tuan!” salah satu pria menjawab dengan wajah pucat. “Akses utama terkunci oleh verifikasi biometrik!”

Semua mata perlahan beralih pada Aluna.

Udara terasa berat.

Arkan berdiri di sampingnya, bahunya tegang. “Ini jebakan dua lapis,” gumamnya pelan. “Raisa sengaja membiarkan dirinya ditangkap.”

Surya mengangguk dari belakang. “Begitu Aluna masuk dan sistem mengenalinya sebagai pewaris sah, protokol inti aktif. Dan seseorang sudah menanam skrip pelepas data di dalamnya.”

“Raisa,” Arkan mendesis.

Di layar, wajah Raisa kembali muncul. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi senyumnya stabil.

“Jika kalian sedang mencari tombol darurat,” katanya ringan, “sayangnya tidak ada. Sistem ini dirancang untuk melindungi garis darah pendiri. Dan sekarang garis darah itu sudah kembali.”

Tatapan Adrian berubah tajam. “Kau mengkhianati Konsorsium.”

Raisa tersenyum. “Tidak. Aku menyelamatkannya dari pembusukan.”

Aluna merasa kepalanya berdenyut. “Apa yang sebenarnya kau lakukan, Raisa?”

Raisa menatap lurus ke kamera, seolah menatap langsung pada Aluna. “Aku memaksamu memilih.”

“Memilih apa?”

“Menjadi korban… atau pengendali.”

Layar kembali menampilkan data: rekening luar negeri, rekaman rapat rahasia, kontrak manipulatif. Bukti cukup untuk menjatuhkan setengah ruangan itu ke penjara.

Beberapa anggota mulai berteriak pada Adrian.

“Ini semua karena Anda!”

“Anda bilang sistem aman!”

“Kita harus kabur!”

Kekuasaan yang dibangun puluhan tahun retak dalam hitungan menit.

Adrian memukul tongkatnya ke lantai marmer. “Diam!”

Suara itu memantul keras.

Ia menatap Aluna dengan tatapan yang tak lagi menyembunyikan amarah. “Hentikan ini.”

“Aku tidak tahu caranya,” Aluna menjawab jujur.

“Kau pemilik sistemnya!” Adrian melangkah mendekat. “Perintahkan untuk berhenti!”

Arkan langsung berdiri di depan Aluna. “Jangan sentuh dia.”

Adrian tertawa dingin. “Kau pikir kau melindunginya? Sejak awal kau hanya membawanya kembali ke sini.”

Kalimat itu menusuk.

Arkan tidak menjawab.

Karena sebagian dari itu benar.

Tim teknis akhirnya menemukan satu fakta penting.

“Tuan!” salah satu dari mereka berseru. “Sistem hanya bisa dihentikan oleh otorisasi tingkat tertinggi!”

“Siapa?” Adrian membentak.

Pria itu menelan ludah. “Ketua aktif.”

Semua orang membeku.

“Ketua aktif?” Surya mengulang pelan.

“Ya, Tuan. Sistem menunjuk satu nama sebagai Ketua sah per malam ini.”

Perlahan, layar besar berubah.

Semua data menghilang.

Digantikan satu tampilan hitam dengan tulisan putih besar:

KETUA SAH TERDETEKSI

Beberapa detik kemudian—

Nama itu muncul.

ALUNA PRATAMA WIJAYA

Napas Aluna berhenti.

Pratama.

Nama keluarga Adrian.

Bukan hanya cucu.

Secara sistem.

Ia adalah Ketua.

Ruang aula jatuh dalam keheningan yang nyaris sakral.

Arkan menatap layar itu dengan campuran keterkejutan dan ketakutan.

“Raisa…” gumamnya.

Ia tidak sekadar membocorkan data.

Ia memindahkan takhta.

Adrian mundur satu langkah.

Wajahnya kehilangan warna.

“Tidak mungkin…”

Surya berbisik pelan, “Begitu sistem mengenali garis darah langsung pendiri utama… otomatis kepemimpinan berpindah.”

“Tanpa voting,” Arkan menambahkan.

“Tanpa persetujuan.”

Aluna merasa dunia berputar terlalu cepat.

“Aku tidak mau ini,” bisiknya.

Namun sistem tidak peduli.

Layar berubah lagi.

OTENTIKASI FINAL DIPERLUKAN

“Untuk mengunci status Ketua,” Surya membaca, “diperlukan konfirmasi sidik jari dan perintah verbal.”

Semua orang menatap Aluna.

Jika ia melakukannya—

Ia resmi memimpin Konsorsium.

Jika tidak—

Statusnya menggantung. Dan sistem mungkin tetap terbuka.

Adrian melangkah mendekat lagi, kali ini lebih pelan.

“Kau tidak tahu cara memimpin organisasi sebesar ini,” katanya lembut namun penuh tekanan. “Serahkan padaku. Kita bisa mengatur ini bersama.”

Arkan mendesis, “Jangan dengarkan dia.”

Aluna menatap Adrian.

“Apakah ibuku melarikan diri karena ini?” tanyanya.

Adrian terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

“Ia tidak ingin warisan ini,” Aluna melanjutkan.

“Dia lemah,” Adrian menjawab dingin. “Kau tidak.”

Kata-kata itu terasa seperti rantai.

Layar masih menunggu.

SENTUH UNTUK KONFIRMASI

Aluna melangkah maju.

Arkan memegang pergelangan tangannya.

“Jika kau lakukan ini, tidak ada jalan kembali.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu.”

“Aku juga tidak bisa terus lari.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka menghilang.

“Apa pun yang kau pilih,” Arkan berkata pelan, “aku tetap di sisimu.”

Aluna menarik napas dalam.

Lalu menempelkan telapak tangannya pada panel kaca di bawah layar.

Sensor menyala biru.

“Konfirmasi verbal,” suara sistem berbunyi datar.

Ruang aula sunyi.

Aluna menutup mata sejenak.

Ia bisa menghentikan semua ini.

Atau mengambil alihnya.

Perlahan, ia membuka mata.

“Aku, Aluna Pratama Wijaya—”

Suara Adrian tercekat.

“—menerima akses penuh sistem inti.”

Cahaya biru menyala terang.

Data berhenti mengalir.

Alarm mati.

Semua layar kembali stabil.

Namun satu pesan muncul besar di tengah layar:

AKSES PENUH DIBERIKAN

Aluna menurunkan tangannya.

Sunyi.

Adrian menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca.

“Kau baru saja mengambil tanggung jawab atas semuanya,” katanya pelan.

Aluna membalas tatapannya.

“Tidak.”

Ia menoleh pada Surya.

“Siapkan tim investigasi.”

Lalu pada seluruh ruangan.

“Semua transaksi ilegal yang muncul di sistem akan diserahkan pada otoritas hukum.”

Keributan meledak.

“Kau tidak bisa—”

“Ini organisasi privat!”

“Kau menghancurkan kita!”

Aluna menatap mereka satu per satu.

“Aku tidak menghancurkan apa pun. Aku membersihkannya.”

Arkan tersenyum tipis di sampingnya.

Adrian memejamkan mata sejenak.

Ketika membukanya kembali, tatapannya berubah.

Bukan marah.

Melainkan… menghitung.

“Kau pikir ini akhir?” tanyanya pelan pada Aluna.

Aluna menatap balik.

“Aku tahu ini baru awal.”

Beberapa jam kemudian, gedung mulai dikosongkan.

Beberapa anggota ditahan.

Beberapa diinterogasi.

Namun Adrian tidak diborgol.

Ia berdiri di balkon lantai atas, memandang kota malam.

Aluna mendekatinya.

“Kau tidak lari?” tanyanya.

Adrian tersenyum samar. “Ini masih milikku.”

“Tidak lagi.”

Ia menatapnya dalam.

“Kau pikir sistem adalah segalanya?”

Aluna terdiam.

Adrian melangkah mendekat, suaranya merendah.

“Kekuasaan bukan di server. Bukan di data. Tapi di orang-orang yang setia.”

Darah Aluna mendingin.

“Kau masih punya orang di dalam?” tanyanya pelan.

Adrian tidak menjawab langsung.

Ia hanya tersenyum.

Di bawah, Arkan memperhatikan dari kejauhan.

Naluri bahaya dalam dirinya menyala.

Aluna menatap Adrian.

“Apa pun rencanamu, aku tidak akan jadi boneka.”

Adrian tertawa kecil.

“Kau bukan boneka.”

Ia menepuk bahunya pelan.

“Kau pewaris.”

Kalimat itu terasa seperti ancaman.

Saat Adrian melangkah pergi, ponsel Aluna bergetar.

Pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Ia membukanya.

Satu foto.

Arkan.

Beberapa jam lalu.

Di sebuah ruangan gelap.

Berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat jelas.

Di bawah foto itu ada pesan singkat:

Percaya padanya sepenuhnya?

Napas Aluna tercekat.

Ia menoleh cepat ke arah Arkan di bawah.

Arkan sedang menatapnya.

Wajahnya tenang.

Namun kini—

Untuk pertama kalinya—

Aluna tidak yakin ia tahu seluruh kebenaran.

Dan permainan sesungguhnya mungkin bukan tentang Konsorsium.

Melainkan tentang siapa yang benar-benar berada di sisinya.

END BAB 22 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!