NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Malam di Desa Asih selalu membawa suasana yang berbeda—lebih sunyi, lebih dingin, dan aroma tanah basah setelah embun turun terasa sangat pekat. Mika, yang baru saja menyelesaikan laporan mingguan di laptopnya, merasa perutnya keroncongan hebat. Karena teman-temannya sudah terlelap kelelahan setelah seharian di dermaga, ia memutuskan untuk mencari makan sendirian.

Penampilannya malam ini sangat jauh dari kata "mahasiswi hits". Ia hanya mengenakan piyama katun berlengan panjang dengan motif kotak-kotak biru, rambutnya dicepol asal-asalan hingga beberapa anak rambut keluar di sana-sini. Dan yang paling mencolok, wajahnya tertutup penuh oleh masker clay mask berwarna hitam pekat yang sudah mengering, menyisakan hanya lubang untuk mata dan bibirnya.

"Bodo amat deh kalau ada warga yang liat. Udah jam sepuluh ini, lagian gue laper banget," gumam Mika sambil melangkah keluar dari teras posko.

Namun, baru saja ia mengunci pintu dan berbalik badan, langkahnya terhenti seketika. Sebuah sosok tinggi besar berdiri bersandar pada pagar bambu posko. Sosok itu mengenakan jaket denim ikoniknya, tangannya terlipat di depan dada, dan matanya menatap Mika dengan sorot yang benar-benar tidak bisa dijelaskan—antara ngeri, bingung, dan ingin tertawa.

Itu Alvaro.

"ASTAGA!" Alvaro tersentak mundur satu langkah, tangannya refleks memegang dadanya sendiri. "Mikayla? Kamu... sedang jadi apa malam-malam begini? Kamu mau menakut-nakuti warga saya atau sedang menyamar jadi maling?"

Mika mendengus, meski gerakan itu membuat masker kering di wajahnya terasa kaku dan retak-retak. "Ihh, apaan sih! Ini itu masker, Pak! Masker kecantikan! Bapak nggak pernah liat orang perawatan apa?"

Alvaro mendekat sedikit, menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa makhluk di depannya ini benar-benar manusia. "Masker? Saya kira tadi ada hantu hutan yang turun ke pemukiman. Kenapa harus warna hitam? Kenapa kamu tidak pakai di dalam saja?"

"Bapak mau ngapain sih di sini? Ngalangin jalan aja! Minggir, saya mau beli nasi di warung depan. Perut saya udah demo ini!" Mika mencoba menerobos jalan, tapi Alvaro tetap bergeming di tempatnya berdiri.

"Warung Bu Ida sudah tutup sepuluh menit yang lalu," ucap Alvaro datar.

Langkah Mika terhenti. "Hah? Tutup? Terus saya makan apa? Masa saya harus makan rumput?"

Alvaro menatap jam tangannya, lalu kembali menatap Mika. "Saya sedang patroli rutin untuk memastikan keamanan desa. Dan sepertinya keamanan perutmu lebih genting sekarang. Ayo ikut saya."

"Ikut ke mana? Bapak jangan macam-macam ya, saya ini bawa masker item, bapak nggak bakal berani macem-macem sama saya!" tantang Mika sambil berkacak pinggang, meski suaranya terdengar lucu karena ia berusaha agar maskernya tidak pecah lebih banyak.

Alvaro menghela napas panjang, lalu menarik lengan piyama Mika pelan. "Jangan banyak bicara. Di dekat dermaga ada warung kopi Pak Kumis yang buka sampai subuh. Dia punya nasi goreng paling enak di desa ini. Kalau kamu mau pingsan karena lapar, silakan tetap di sini."

Mika terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan. "Tapi... saya kayak gini penampilannya, Pak."

"Tidak apa-apa. Pak Kumis matanya sudah sedikit kabur, dia tidak akan sadar kalau kamu itu manusia atau bayangan hitam. Ayo," Alvaro berjalan lebih dulu menuju motor Ninjanya.

"Naik," perintah Alvaro sambil menyalakan mesin motornya.

"Hah? Naik motor ini? Bapak mau saya naik motor sport pake piyama begini? Yang bener aja!"

"Naik, Mikayla. Atau saya tinggal," ancam Alvaro dengan nada dingin andalannya.

Dengan penuh gerutuan, Mika naik ke jok belakang motor Ninja itu. Karena joknya tinggi, mau tidak mau ia harus condong ke depan. Tangannya ragu-ragu hendak berpegangan pada pundak Alvaro.

"Pegangan yang kuat. Jalanan ke dermaga banyak lubangnya," ucap Alvaro. Tanpa menunggu persetujuan, ia menarik tangan Mika dan melingkarkannya ke pinggangnya.

Mika membeku. Telapak tangannya menyentuh jaket denim Alvaro yang kasar tapi hangat. Ia bisa merasakan detak jantung Alvaro dari punggung pria itu, atau mungkin itu adalah detak jantungnya sendiri yang mulai menggila. Di bawah sinar bulan yang temaram, mereka melaju menyusuri jalanan desa yang sepi. Angin malam menerpa wajah Mika, membuat masker hitamnya semakin terasa kencang.

Warung kopi Pak Kumis hanya berupa gubuk kecil dengan lampu kuning yang redup di pinggir sungai. Seperti kata Alvaro, Pak Kumis hanya menyapa mereka dengan ramah tanpa mengomentari wajah hitam Mika.

"Dua nasi goreng, Pak. Pedas untuk saya, dan... kamu mau apa?" tanya Alvaro pada Mika.

"Sama deh, tapi jangan terlalu pedas," jawab Mika pelan.

Mereka duduk di kursi kayu panjang yang menghadap langsung ke arah sungai. Suara air mengalir menjadi musik pengiring malam itu. Mika merasa sangat canggung. Ia duduk agak menjauh, mencoba menunduk agar maskernya tidak terlihat terlalu jelas di bawah lampu.

"Kenapa kamu sendirian keluar? Mana teman-temanmu yang kaku itu?" tanya Alvaro sambil membuka jaket denimnya, menyisakan kaos hitam polos.

"Mereka udah tidur. Saya doang yang jam tidurnya berantakan gara-gara mikirin parameter pH air Bapak yang nggak stabil itu," balas Mika jujur.

Alvaro menoleh, menatap Mika cukup lama. "Hanya mikirin parameter air? Atau mikirin hal lain?"

Mika menoleh cepat, membuat sedikit retakan masker jatuh ke piyamanya. "Maksud Bapak apa?"

Alvaro tersenyum tipis—kali ini sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus. "Kamu tahu, Mikayla... kamu adalah mahasiswi paling berisik yang pernah saya temui. Tapi kamu juga yang paling berani. Biasanya, mahasiswa kota ke sini cuma buat cari foto estetik untuk media sosial mereka. Tapi kamu? Kamu beneran nyemplung ke lumpur dan pake masker hantu malam-malam buat cari makan."

Mika terdiam. Pujian (atau hinaan?) itu terasa berbeda kali ini. "Bapak sendiri... kenapa mau jadi kades di sini? Padahal bapak kayaknya punya pendidikan tinggi. Bapak bisa kerja di kota besar, pake jas, duduk di ruangan ber-AC."

Alvaro menatap lurus ke arah sungai. "Desa ini tempat saya tumbuh besar. Ayah saya dulu kades di sini juga. Beliau meninggal karena kelelahan mengurus konflik irigasi warga. Saya kembali untuk menyelesaikan apa yang beliau mulai. Saya tidak butuh jas atau gedung tinggi, saya cuma butuh desa ini tetap hidup."

Mika terpaku. Ada sisi rapuh dan tanggung jawab besar yang baru saja ia lihat dari balik sosok "Kades Dajjal" ini. Ternyata, di balik jaket denim dan motor Ninjanya, Alvaro adalah seorang putra yang sedang menjaga amanah ayahnya.

Nasi goreng datang. Mika baru tersadar bahwa ia tidak bisa makan dengan masker kering ini. Ia buru-buru mengambil botol air mineral dan menyiram tangannya, lalu mencoba mengusap wajahnya.

"Aduh, perih!" pekik Mika saat masker yang sudah mengeras itu ditarik paksa.

"Sini," Alvaro tiba-tiba mengambil sapu tangan bersih dari sakunya, membasahinya dengan sedikit air mineral, lalu mendekat ke arah Mika.

Mika terdiam saat tangan besar Alvaro mulai mengusap lembut dahi dan pipinya. Gerakan Alvaro sangat hati-hati, seolah-olah Mika adalah barang pecah belah. Jarak mereka sangat dekat, Mika bisa mencium aroma kopi dan sabun maskulin dari tubuh Alvaro.

"Bapak... nggak usah repot-repot," bisik Mika, suaranya melemah.

"Diamlah. Kalau kamu bersihkan sendiri, kulitmu bisa lecet," sahut Alvaro tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Mika yang mulai terlihat kembali kulit aslinya.

Saat masker di area pipi bersih, Alvaro berhenti sejenak. Ia menatap wajah Mika yang kini terlihat segar dan kemerahan di bawah lampu temaram. Tangannya masih tertahan di pipi Mika selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Kamu... terlihat lebih baik tanpa topeng hitam itu," ucap Alvaro rendah.

Mika merasa wajahnya panas bukan main. "Bapak cari kesempatan lagi ya?" tuduhnya, tapi kali ini tanpa nada marah, hanya suara yang gemetar.

Alvaro tertawa kecil, ia menarik kembali tangannya dan menyodorkan sendok pada Mika. "Makanlah. Sebelum nasi gorengnya sedingin sikap saya di kantor tadi siang."

Mika mulai makan dengan lahap, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik piring nasi goreng. Malam itu, di pinggir sungai Desa Asih, Mika menyadari bahwa piyama kotak-kotak dan masker hitamnya telah membawanya ke sebuah petualangan perasaan yang paling tak terduga dalam hidupnya.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!