NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Nama

Laporan final itu datang tiga hari kemudian.

Bukan dalam bentuk email singkat atau pesan singkat yang bisa diabaikan. Auditor independen datang langsung ke kantor Ardhana Capital, membawa map tebal bersegel resmi.

Alina menatap map itu beberapa detik sebelum membukanya.

Arsen duduk di sampingnya. Tidak berbicara. Hanya hadir.

Halaman demi halaman dibalik perlahan.

Analisis grafologi.

Jejak transfer dana.

Keterkaitan perusahaan cangkang.

Dan di bagian akhir, kesimpulan yang tidak lagi samar:

Tanda tangan Direktur Utama saat itu diduga kuat dipalsukan. Dana dialihkan ke perusahaan konsultan yang terafiliasi dengan anggota dewan keluarga.

Nama pamannya tercantum.

Juga sepupunya.

Napas Alina terasa berat.

Bukan karena terkejut.

Ia sudah menduga.

Tapi melihatnya tertulis resmi adalah sesuatu yang berbeda.

Ini bukan lagi konflik pribadi.

Ini kejahatan.

Arsen memecah keheningan. “Kau punya dua pilihan.”

Alina menutup map perlahan.

“Umumkan ke publik,” lanjut Arsen, “atau selesaikan secara internal dan lindungi nama keluarga.”

Alina tersenyum pahit.

“Jika aku menyelesaikan secara internal, aku sama saja melanjutkan kebohongan.”

“Dan jika kau umumkan, saham bisa anjlok. Dewan bisa pecah. Kau mungkin kehilangan sebagian dukungan.”

Alina berdiri dan berjalan ke jendela.

Di bawah sana, kota berjalan seperti biasa.

Tak ada yang tahu bahwa keputusan seorang wanita di lantai atas bisa mengguncang pasar esok pagi.

“Ayahku kehilangan segalanya karena ini,” katanya pelan. “Reputasi. Kesehatan. Kepercayaan diri.”

Ia menoleh ke arah Arsen.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi hanya demi menjaga wajah keluarga.”

Arsen mengangguk perlahan.

“Kalau begitu kita siapkan strategi komunikasi.”

Rapat dewan kembali digelar.

Kali ini suasananya jauh lebih tegang.

Pamannya duduk seperti biasa, tapi ada sesuatu di sorot matanya—kewaspadaan.

Alina berdiri di ujung meja, memegang laporan audit.

“Saya sudah menerima hasil audit independen,” katanya tenang.

Beberapa anggota dewan terlihat gelisah.

“Saya tidak akan berputar-putar,” lanjutnya. “Ditemukan indikasi kuat pemalsuan tanda tangan Direktur Utama saat itu dan pengalihan dana ke perusahaan terafiliasi.”

Ruangan seketika sunyi.

Tatapannya beralih ke pamannya.

“Nama Anda tercantum dalam keterkaitan tersebut.”

Seseorang menjatuhkan pena.

Pamannya tersenyum tipis. “Indikasi bukan bukti.”

“Bukti grafologi dan jejak transaksi sudah diverifikasi,” jawab Alina. “Dan akan kami serahkan ke pihak berwenang.”

Riuh langsung pecah.

“Kau gila!” seru salah satu anggota dewan senior. “Ini akan menghancurkan Ardhana!”

“Tidak,” jawab Alina tegas. “Yang menghancurkan Ardhana adalah kebohongan yang dibiarkan.”

Pamannya berdiri.

“Kau berani mempermalukan keluargamu sendiri di depan hukum?”

Alina menatapnya tanpa berkedip.

“Keluarga tidak seharusnya saling menjatuhkan demi kekuasaan.”

Suasana memanas.

Beberapa anggota dewan mulai berbisik, menghitung risiko.

“Audit ini juga menunjukkan bahwa keputusan investasi agresif beberapa tahun terakhir berisiko tinggi dan tidak melalui persetujuan penuh pemegang saham mayoritas,” lanjut Alina.

Ia tidak hanya membuka satu luka.

Ia membuka semuanya.

“Saya mengajukan mosi untuk memberhentikan sementara anggota dewan yang terlibat sampai proses hukum selesai.”

Hening.

Pamannya menatapnya dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

“Kau pikir kau bisa memimpin tanpa kami?”

“Aku tidak memimpin sendirian,” jawab Alina tenang. “Aku memimpin dengan integritas.”

Pemungutan suara dilakukan.

Hasilnya tipis.

Tapi cukup.

Pamannya diberhentikan sementara.

Sepupunya juga.

Keputusan itu seperti gempa kecil yang mengguncang fondasi lama.

Berita menyebar cepat.

Media kali ini tidak menyerang Alina.

Sebaliknya, ia dipuji sebagai pewaris yang berani membersihkan perusahaannya sendiri.

Namun pujian tidak membuatnya lega.

Malam itu, ia duduk di ruang tamu rumahnya, menatap kosong ke depan.

Arsen datang membawa dua gelas air.

“Kau menang,” katanya pelan.

Alina tersenyum lemah. “Tidak terasa seperti menang.”

“Kenapa?”

“Karena tidak ada yang benar-benar bahagia.”

Ia menunduk.

“Pamanku tetap keluarga. Sepupuku juga.”

Arsen duduk di sampingnya.

“Kebenaran jarang terasa nyaman.”

Alina menyandarkan kepala di bahunya.

“Aku takut,” bisiknya.

Arsen terdiam.

“Kau tidak terlihat takut di ruang rapat tadi.”

“Itu karena aku tidak punya pilihan.”

Ia menarik napas dalam.

“Aku takut setelah semua ini selesai, aku berubah menjadi orang yang hanya melihat dunia sebagai medan perang.”

Arsen memegang tangannya.

“Kau tidak akan berubah menjadi seperti mereka.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena kau masih merasa bersalah setelah menegakkan kebenaran.”

Alina terdiam.

Mungkin itu benar.

Beberapa hari kemudian, ayah Alina datang ke rumahnya.

Wajahnya tampak lebih ringan dari biasanya.

“Aku melihat berita,” katanya pelan. “Kau melakukan apa yang dulu tidak bisa kulakukan.”

Alina menunduk. “Aku hanya menyelesaikan apa yang tertunda.”

Ayahnya tersenyum.

“Aku bangga padamu.”

Kalimat sederhana itu membuat matanya berkaca-kaca.

Selama ini ia berjuang bukan hanya untuk reputasi perusahaan.

Tapi untuk kalimat itu.

Arsen berdiri tidak jauh, memperhatikan momen itu dengan diam.

Ia melihat sesuatu berubah dalam diri Alina.

Bukan menjadi lebih keras.

Justru lebih jernih.

Namun badai belum benar-benar selesai.

Malam itu, saat mereka bersiap tidur, ponsel Arsen bergetar.

Pesan singkat dari nomor tak dikenal:

Permainan belum selesai. Kalian baru membuka bab pertama.

Arsen menunjukkan pesan itu pada Alina.

Ia membaca tanpa ekspresi.

“Apa kau takut?” tanya Arsen.

Alina menatapnya.

“Kali ini tidak.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu siapa yang berdiri di sampingku.”

Arsen tersenyum tipis.

Di luar, angin malam berembus pelan.

Skandal telah dibuka.

Kebenaran telah diumumkan.

Nama Ardhana mulai dibersihkan dengan cara yang menyakitkan.

Namun satu hal menjadi jelas

Harga sebuah nama memang mahal.

Dan Alina sudah mulai membayarnya.

Tapi ia belum tahu, bahwa ancaman berikutnya tidak akan datang dari keluarganya sendiri.

Melainkan dari luar.

Dari seseorang yang sejak awal mengamati, menunggu celah…

Dan siap menyerang ketika mereka merasa paling kuat.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!