Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELINCI PERCOBAAN DAN RAMUAN BAU KAKI
Pagi di, Puncak Awan Putih masih diselimuti embun, tapi Tian Feng sudah dipaksa berdiri di depan sebuah kuali raksasa yang mengeluarkan uap berwarna hijau neon. Wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang lebih gelap dari biasanya.
"Guru, saya rasa ada kesalahpahaman teknis di sini," kata Feng sambil memegang pengaduk kayu yang panjangnya dua meter. "Dalam kontrak imajiner saya sebagai murid pelayan, tidak disebutkan bahwa saya harus mengaduk sup beracun ini pada jam empat pagi. Ini melanggar hak asasi pemalas."
Guru Lin, yang sedang sibuk memotong-motong akar tanaman yang bentuknya menyerupai jari manusia, tidak menoleh sedikitpun. "Diam dan aduk, Feng. Itu bukan sup, itu adalah Ramuan Pembersih Sumsum. Jika kau berhenti mengaduk selama sepuluh detik saja, kuali ini akan meledak dan rambutmu yang berantakan itu akan terbakar permanen."
Feng mendesah berat, lengannya terasa seperti akan copot. "Hanya karena saya sedikit 'meminjam' energi surga kemarin, sekarang saya harus menjadi koki neraka? Surga benar-benar punya selera humor yang buruk dalam hal penagihan hutang."
"Kau beruntung aku masih mau membantumu, bocah nakal!" Guru Lin melemparkan sepotong akar keras tepat ke dahi Feng.
TAK!
"Aduh! Guru, aset berharga saya adalah wajah ini! Kalau saya jadi jelek, bagaimana saya bisa memikat murid perempuan di Puncak Musik nanti?" keluh Feng sambil mengusap dahinya yang merah.
"Puncak Musik? Dengan kemampuanmu sekarang, kau bahkan tidak akan bisa memikat lalat di tempat sampah!" Guru Lin mendekat, matanya menatap tajam ke arah kuali. "Sekarang, masukkan tangan kirimu ke dalam ramuan itu."
Feng melompat mundur seolah melihat hantu. "Apa?! Guru, saya tahu saya berhutang, tapi saya belum ingin menjadi manusia rebus! Tangan saya ini masih sangat berguna untuk memegang bantal!"
"Jangan banyak protes! Cairan itu akan menarik sisa racun karma yang masuk ke lukamu semalam. Jika tidak dibersihkan, tanganmu akan membusuk dan jatuh sendiri dalam dua hari. Pilih mana: panas sebentar atau jadi pendekar bertangan satu?"
Feng menatap tangan kirinya yang memang masih menyisakan garis-garis hitam keunguan. Dengan ragu dan gemetar, ia mencelupkan ujung jarinya ke cairan hijau itu.
"AAAARRGGHH! GURU! INI PANAS! INI BUKAN PEMBERSIH, INI CAIRAN PENCABUT NYAWA!" teriak Feng sambil mencoba menarik tangannya kembali.
"Tetap di sana!" Guru Lin menahan bahu Feng dengan kekuatan yang mustahil dilawan. "Rasakan bagaimana energinya mengalir. Jangan dilawan, biarkan racunnya keluar."
Feng menggertakkan gigi, air mata mulai menggenang karena rasa perih yang luar biasa. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Garis-garis hitam di lengannya perlahan memudar, berganti dengan uap hitam yang keluar dari permukaan kulitnya. Bau yang sangat menyengat—seperti perpaduan kaos kaki basah yang tidak dicuci setahun dan bangkai tikus—langsung memenuhi ruangan.
"Huekk! Guru! Bau apa ini?! Apa Anda mencampurkan kotoran babi ke dalam kuali?" Feng menutup hidungnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih terendam.
"Itu adalah bau dosamu, Feng," jawab Guru Lin datar. "Setiap kali kau mengambil kekuatan secara instan, kau menumpuk kotoran spiritual di tubuhmu. Bau itu adalah bukti betapa 'busuknya' teknik Arus Balik yang kau banggakan itu."
"Kalau begitu, saya lebih baik tetap lemah tapi wangi," gerutu Feng, meskipun ia bisa merasakan beban di pundaknya sedikit berkurang.
Setelah satu jam yang terasa seperti satu abad, Guru Lin akhirnya melepaskan Feng. Feng segera menarik tangannya yang kini tampak memerah tapi bersih dari tanda hitam. Ia terduduk lemas di lantai laboratorium yang dingin.
"Selesai untuk hari ini," kata Guru Lin sambil menuangkan cairan sisa ke dalam botol-botol kecil. "Tapi jangan senang dulu. Kabar tentang hancurnya kamarmu sudah sampai ke telinga para tetua. Tetua Lu dari Puncak Disiplin akan datang sebentar lagi untuk memeriksa 'kecelakaan' ini."
Feng langsung tegak duduknya. "Tetua Lu? Ayahnya Lu Chen yang sombong itu? Habislah saya. Dia bisa mencium kebohongan dari jarak satu mil."
"Itulah sebabnya kita akan menggunakan rencana 'Kelinci Percobaan'," Guru Lin memberikan sebuah pil berwarna abu-abu kusam kepada Feng. "Telan ini. Ini akan membuat auramu terlihat kacau, napasmu pendek, dan detak jantungmu tidak beraturan. Singkatnya, kau akan terlihat seperti murid bodoh yang baru saja gagal melakukan eksperimen berbahaya dan hampir mati."
Feng menimang pil itu. "Jadi, saya harus akting sekarat? Guru, ini adalah spesialisasi saya. Saya bahkan bisa akting mati kalau perlu jatah libur."
"Jangan berlebihan! Cukup terlihat menyedihkan saja."
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar di depan Paviliun Pengobatan. Pintu terbuka, dan masuklah seorang pria paruh baya dengan jubah ungu megah—Tetua Lu. Di belakangnya, tampak Lu Chen yang menatap Feng dengan tatapan merendahkan.
"Lin, aku dengar ada ledakan energi yang tidak stabil di paviliunmu semalam," suara Tetua Lu berat dan penuh selidik. Matanya menyapu ruangan, berhenti pada Feng yang sedang terbaring di atas ranjang kayu dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar (berkat pil abu-abu tadi).
Guru Lin mendengus, berpura-pura kesal. "Hah! Bocah bodoh ini... aku menyuruhnya menjaga suhu tungku, tapi dia malah mencoba memasukkan bahan tambahan karena katanya 'baunya kurang enak'. Akibatnya, tungkunya meledak dan dia terkena arus balik energi medis."
Lu Chen melangkah maju, menatap Feng yang tampak megap-megap. "Hanya karena bau? Kau benar-benar sampah yang tidak punya otak, Tian Feng. Kau hampir menghancurkan paviliun ini hanya karena masalah hidung?"
Feng menatap Lu Chen dengan mata sayu, lalu berbicara dengan suara lemah yang dibuat-buat. "Kakak... Kakak Senior Lu... jangan berteriak... kepala saya... serasa mau pecah seperti bakpao dikukus kelamaan..."
Tetua Lu mendekat, meletakkan tangannya di atas dahi Feng untuk memeriksa energinya. Feng menahan napas, berharap liontin gioknya bekerja maksimal. Benar saja, Tetua Lu hanya merasakan aliran Chi yang berantakan, lemah, dan penuh dengan residu kimia dari ramuan Guru Lin.
"Kacau sekali," Tetua Lu menarik tangannya dengan jijik. "Lin, kau membuang-buang bahan obatmu untuk memberi makan sampah seperti ini. Bakatnya nol, kedisiplinannya negatif. Jika dia bukan cucu dari kawan lamamu, aku sudah mengusirnya dari gunung ini sejak lama."
"Dia pelayan yang rajin, hanya saja otaknya memang agak lambat," jawab Guru Lin sambil terus sibuk dengan botol-botolnya. "Dia akan tetap di sini sebagai peringatan bagi murid lain tentang bahayanya sembarangan mencampur bahan alkimia."
"Terserah kau saja," Tetua Lu berbalik. "Ayo Chen-er, jangan buang waktumu di tempat bau ini. Kita harus menyiapkan latihanmu untuk kompetisi antar puncak bulan depan."
Lu Chen menatap Feng sekali lagi, memberikan senyum menghina yang sangat lebar. "Tetaplah hidup, Tikus Lab. Aku ingin melihat seberapa banyak lagi ledakan yang bisa kau buat sebelum kau benar-benar menjadi debu."
Setelah mereka pergi, Feng langsung bangkit duduk dan meludahkan sisa rasa pahit pil abu-abu itu. "Phew! Akting yang sempurna. Guru, saya rasa saya pantas mendapatkan medali emas untuk kategori 'Korban Malpraktik Terbaik'."
Guru Lin tidak tertawa. Ia menatap ke arah pintu yang tertutup. "Mereka percaya... untuk sekarang. Tapi Lu Chen mulai curiga. Dia tidak sebodoh ayahnya. Mulai besok, latihanmu akan ditingkatkan. Kau harus bisa menguasai dasar-dasar gerakan Tao tanpa mengeluarkan cahaya hijau yang mencolok itu."
Feng kembali merebahkan diri, menatap langit-langit. "Dikejar malaikat maut, dipaksa mandi ramuan bau kaki, dan sekarang jadi aktor drama medis. Hidup malas saya benar-benar sudah berakhir, ya?"
Ia menyentuh liontin gioknya. Di sana, sebuah tulisan emas baru muncul di benaknya.
> "Peringatan: Hutang baru terdeteksi. Penggunaan 'Ramuan Pembersih Sumsum' dianggap sebagai bantuan pihak ketiga. Bunga Hutang meningkat: 10%."
"Sialan!" teriak Feng. "Guru! Ramuan tadi juga dihitung hutang oleh Langit! Kenapa tidak ada diskon untuk murid yatim piatu?!"
Guru Lin hanya tertawa kasar dari balik tungkunya. "Surga tidak mengenal diskon, Feng. Ia hanya mengenal pembayaran tunai."