NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Matahari Los Angeles mulai turun, menyisakan semburat oranye yang kontras dengan dinding beton abu-abu markas The High-Liners. Di sekolahnya, Beverly Hills High, Alistair adalah sosok yang misterius dan penyendiri.

Meski Berry Klatten selalu mengejarnya, Alistair jarang terlihat bergabung dengan kelompok-kelompok populer di kantin. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di markas Long Beach, aura dingin itu luruh. Alistair tidak benar-benar sendirian.

Di markas ini, ia memiliki empat sahabat karib yang sudah seperti saudara sedarah: Ethan, Rhys, James, dan Thomas. Mereka semua berumur 16 tahun, namun berasal dari sekolah menengah yang berbeda-beda di penjuru LA.

"Alistair! Akhirnya si Pangeran Berlin datang juga," seru James sambil melemparkan kaleng soda dingin ke arah Alistair. Alistair menangkapnya dengan satu tangan tanpa menoleh, gerakan refleks yang sudah terlatih.

"Berhenti memanggilku begitu, James," gumam Alistair sambil duduk di sofa kulit yang sudah agak mengelupas.

Thomas, yang sedang asyik bermain game di ponselnya, menyahut tanpa mendongak. "Wajahmu itu terlalu mahal untuk markas ini, Al. Kau harusnya ada di iklan parfum, bukan di sini menghirup bau knalpot."

"Diamlah, Tom," timpal Rhys pendek. Rhys adalah yang paling mirip dengan Alistair—pendiam, serius, dan jarang bicara jika tidak penting. Ia sedang sibuk mengelap bagian motornya dengan ketelitian seorang ahli bedah.

Markas The High-Liners bukan sekadar gudang tua. Daniels, sang ketua yang visioner, telah mengubah tempat ini menjadi oase elit bagi para anggotanya yang kini mencapai lebih dari 50 orang, mulai dari remaja ingusan hingga pria dewasa berumur 25 tahun.

Ada sepuluh kamar pribadi di lantai dua, lengkap dengan pendingin ruangan, yang sering digunakan anggota untuk menginap jika pulang terlalu larut. Bahkan, Daniels mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi untuk membersihkan dapur, mencuci handuk, dan memastikan lantai markas tidak licin oleh tumpahan oli. Daniels ingin anak-anaknya merasa nyaman, karena baginya, markas ini adalah pelarian dari rumah-rumah mewah yang terkadang terasa sangat dingin.

"Kudengar The Iron Vultures mulai sering berputar-putar di area Sunset Boulevard," ucap Ethan sambil menyisir rambutnya yang klimis di depan cermin kecil.

Sebagai seorang playboy di grup mereka, Ethan lebih peduli pada penampilannya daripada performa mesinnya. "Tadi malam, mereka mencoba memprovokasi salah satu anggota junior kita."

Mendengar nama The Iron Vultures, suasana candaan langsung mereda. Klub rival itu dikenal suka mencari gara-gara dan melakukan balapan liar yang kotor.

"Mereka cuma kumpulan orang frustasi yang butuh perhatian," sahut James dengan nada mengejek. "Mereka benci karena motor-motor kita lebih bagus, dan kita tidak perlu mencuri untuk membangunnya."

"Ini bukan cuma soal motor, James," Rhys memotong, suaranya dingin. "Mereka mengincar markas ini. Mereka pikir kita anak-anak kaya yang hanya bisa bermanja-manja dengan uang orang tua."

Alistair menyesap sodanya, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk markas. "Daniels sudah tahu?"

"Aku sudah tahu," suara berat Daniels terdengar dari balik tangga. Sang ketua berjalan turun dengan kaos hitam yang kotor. "Biarkan saja dulu. Selama mereka tidak masuk ke wilayah kita, jangan diladeni. Kita bukan klub sampah yang mencari keributan di jalanan."

Untuk mencairkan suasana yang mulai tegang, Ethan tiba-tiba merangkul bahu Alistair. "Omong-omong soal wilayah... bagaimana dengan si cantik Berry Klatten? Kudengar dia hampir menangis karena kau menolak ajakannya ke pesta kemarin?"

Thomas dan James langsung bersorak heboh. "Wah, Al! Kau ini benar-benar tidak punya hati ya? Gadis secantik Berry kau buang-buang?" goda James sambil memeragakan gaya wanita merayu.

"Dia hanya teman, James," jawab Alistair datar, meski telinganya sedikit memerah.

"Teman katanya!" Ethan tertawa keras. "Dengar ya, kawan-kawan. Di dunia Ethan, tidak ada istilah 'hanya teman' untuk gadis yang rela mengejarmu sampai ke parkiran sekolah. Itu namanya magnet cinta!"

"Kau bicara begitu karena semua gadis kau anggap magnet," sahut Thomas sambil melemparkan bantal ke arah Ethan.

"Hei! Rambutku baru saja tertata rapi!" Ethan berseru protes, yang langsung memicu perang bantal kecil di ruang tengah markas.

Rhys hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Ia menoleh ke Alistair. "Kau tidak tertarik sama sekali padanya?"

Alistair terdiam sejenak. "Aku hanya tidak paham, Rhys. Dad dan Mom... mereka punya cerita yang sangat kuat. Aku merasa apa yang kurasakan pada Berry belum sampai ke sana. Aku tidak mau memulainya jika aku tidak yakin."

Rhys mengangguk paham. Di antara mereka berlima, hanya Rhys yang mengerti kerumitan pemikiran Alistair.

"Sudahlah!" James berteriak, menghentikan perang bantal. "Daripada bahas cinta yang membosankan, lebih baik kita bahas rencana touring ke pegunungan Minggu depan. Alistair, kau harus bawa gitarmu. Kita butuh musik saat berkemah nanti."

"Dan Ethan harus bawa koleksi parfumnya untuk mengusir nyamuk!" tambah Thomas, yang disambut tawa ledak oleh seluruh anggota di dalam markas.

Sore itu, di bawah perlindungan Daniels dan persaudaraan yang kuat, Alistair Caleb merasa hidup.

Di sini, di antara deru mesin dan candaan kasar sahabat-sahabatnya, ia tidak perlu menjadi pangeran. Ia hanya seorang remaja 16 tahun yang memiliki tempat untuk pulang, sebelum besok pagi ia harus kembali ke dunia nyata yang penuh dengan tuntutan nama besar dan kejaran cinta Berry Klatten.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!