NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Kekuatan Tanpa Jiwa

Matahari telah lama tenggelam, meninggalkan kami dalam kelamnya Hutan Silverwood. Bulan purnama menyelinap melalui rimbunnya daun, menciptakan bayangan-bayangan menari yang seolah hidup sendiri. Aku berjalan dengan langkah berat, setiap suara dedaunan bergesek membuat jantungku berdebar kencang.

"Kita harus terus berjalan?" tanyaku, suara agak bergetar. "Mungkin lebih baik cari tempat untuk bermalam."

Eveline yang berjalan di sampingku dengan langkah stabil dan tenang menggeleng. "Hutan ini tidak aman di malam hari. Lebih baik terus menuju pemukiman terdekat."

Kuburan adalah kata yang tepat. Gelapnya malam membuat imajinasiku berjalan liar. Setiap bayangan terlihat seperti sosok mengintai, setiap suara seperti bisikan jahat. Aku merasa sangat berani—tapi juga sangat takut. Keberanianku datang dari kehadiran Eveline di sampingku, namun ketakutanku justru juga berasal dari sana. Bagaimana jika dia tiba-tiba berubah? Atau bagaimana jika ada makhluk lain seperti dia di hutan ini?

Hoo... hoo...

Suara burung hantu bergema di kejauhan, membuatku melompat. "Demi semua yang suci..." gumamku, tangan berkeringat.

Tak lama kemudian, suara lain menyusul—lolongan serigala yang memecah kesunyian malam. Bukan satu, tapi segerombolan. Lolongan itu terdengar semakin dekat, seolah mengitari kami.

"Eveline," bisikku gugup, "apakah... apakah mereka berbahaya?"

Dia berhenti, mendengarkan sejenak. "Mereka lapar. Dan kita adalah mangsa yang mudah di mata mereka."

Tanganku gemetar. Di Jakarta, bahaya terbesarku mungkin preman jalanan atau debt collector. Bukan serigala lapar di hutan gelap!

Eveline memandangiku, matanya yang biru pucat berkilat dalam cahaya bulan. "Kau kedinginan. Dan ketakutan." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

"Duh, iya lah! aku—aku bukan pahlawan fantasy yang terbiasa dengan hal begini!"

Dia mengangguk perlahan, lalu mengangkat tangannya. Dari ujung jari-jarinya yang pucat, muncul percikan kecil berwarna oranye. Percikan itu membesar, menari-nari di udara sebelum akhirnya membentuk bola api kecil yang mengambang di atas telapak tangannya.

Aku terkesiap, mata membelalak. "Apa—bagaimana—kau bisa menggunakan sihir api?!"

Eveline memandang bola api itu dengan ekspresi datar, lalu menatapku. "Tentu saja. Ini sihir dasar. Semua orang bisa melakukannya."

"SEMUA ORANG?!" teriakku, suara meninggi. "Maksudmu, di duniamu, setiap orang bisa membuat api dari tangan mereka?!"

"Ya," jawabnya sederhana. "Seperti halnya kau bisa menyalakan api dengan korek di duniamu. Ini sama saja. Keterampilan dasar."

Bola api itu terus berputar-putar di tangannya, menerangi wajah pucatnya dengan cahaya hangat. Kontras yang aneh—seorang wanita mayat hidup dengan sihir api di tangannya.

"Tapi... kau... kau sudah mati! Harusnya kau tidak bisa menggunakan sihir atau apapun!"

Eveline mengerutkan kening, seolah memikirkan sesuatu yang rumit. "Tubuh ini... masih mengingat. Seperti bernapas. Atau berjalan. Itu ingatan otot. Sihir adalah bagian dari kami sejak lahir."

Dia melambaikan tangannya, dan bola api itu membesar, kemudian terpecah menjadi beberapa bola kecil yang mulai mengitari kami, membentuk lingkaran pelindung. Cahayanya mengusir kegelapan, dan suara lolongan serigala mulai menjauh.

"Mereka takut api," ujarnya. "Kita aman untuk sekarang."

Aku masih terduduk di atas batu, mencoba mencerna semua ini. Tidak hanya terlempar ke dunia fantasy, tapi dunia fantasy dimana sihir adalah hal biasa. Dan mayat hidup pun bisa menggunakannya.

"Jadi..." aku mulai, suara masih gemetar, "apa lagi yang bisa kau lakukan? Selain... api?"

Eveline memandangiku, bola-bola api kecil masih berputar-putar di sekelilingnya, membuatnya terlihat seperti dewi kematian yang anehnya menenangkan.

"Banyak hal," jawabnya. "Tapi untuk sekarang, mari kita terus berjalan. Api ini akan melindungi kita."

Aku mengangguk, berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar. Mungkin—hanya mungkin—terjebak di dunia fantasy dengan mayat hidup yang bisa menggunakan sihir tidak seburuk yang kubayangkan.

Setidaknya selama dia berada di sisiku.

Setelah berjalan sekitar dua jam, tenggorokanku terasa kering dan perih. "Aku... haus," keluhku, suara serak. Dinginnya malam ternyata tak mengurangi rasa haus, justru membuatku semakin dehidrasi.

Kebetulan, di pinggir jalan setapak terdengar gemericik air. Kami menemukan sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Tanpa pikir panjang, aku langsung merebahkan diri di tepi sungai dan meminum airnya langsung dengan tangan.

"Tunggu," ujar Eveline tiba-tiba. Dia mengeluarkan semacam kantong kulit dari dalam jubahnya. Benda itu terlihat sederhana, terbuat dari kulit hewan yang dijahit rapat.

"Apa itu?" tanyaku penasaran.

"Ini waterkin," jawabnya sambil mencelupkannya ke sungai. Kantung kulit itu mengembang saat menyerap air. "Untuk menyimpan air minum."

"Wah, bagus itu! Isi sampai penuh, ya. Perjalanan kita masih panjang."

Setelah memuaskan dahaga dan mengisi waterkin hingga penuh, kami beristirahat sebentar di tepi sungai. Tapi baru sepuluh menit berjalan lagi, tubuhku mulai menggigil tak terkendali. Dingin yang awalnya hanya menusuk kulit, kini merasuk sampai ke tulang. Kakiku sempat terpeleset di bebatuan licin.

"G-G-G... ini d-dingin sekali," gigilku makin menjadi.

Eveline memandangiku dengan tatapan analitis. "Kita sudah memasuki awal musim dingin. Suhu akan semakin turun."

"D-Di I-Indonesia... p-paling dingin-dinginnya 17 d-derajat!" keluhku sambil menggigit gigi yang berdetuk.

Dengan sigap, Eveline menuntunku ke bawah pohon besar yang rindang. Tangannya yang biasa terasa dingin kini justru terasa... hangat? Dia mengumpulkan daun-daun kering dan ranting, lalu sekali lagi mengeluarkan sihir apinya. Kali ini, api unggun kecil menyala dengan stabil.

"Kau mengalami hipotermia ringan," ujarnya sambil mendudukkanku dekat api. "Tubuhmu tidak terbiasa dengan suhu di sini."

Sambil mengepalkan tangan dekat api, aku memperhatikan Eveline yang sama sekali tidak terganggu oleh dinginnya malam. "K-Kenapa kau tidak kedinginan? Padahal... tubuhmu..."

Dia duduk di seberangku, matanya memantulkan cahaya api. "Karena aku sudah mati. Tapi ada alasan lain." Dia menjulurkan tangannya, menyentuh tanganku yang masih menggigil. "Saat pertama kali kita bersentuhan, saat kau membangkitkanku... terjadi sesuatu."

"Apa maksudmu?"

"Ketika kulit kita bersentuhan untuk pertama kali, bukan hanya bahasamu yang ku serap," jelasnya dengan suara datar. "Tapi semua yang ada dalam dirimu—ingatan, pengetahuan, cara berpikirmu—mengalir padaku. Layaknya dua kendi yang disatukan, air dari kendimu mengisi kendiku yang kosong."

Aku tertegun. "Jadi... kau tahu semua tentangku? Tentang Jakarta? Tentang dunia asalku?"

"Dia mengangguk perlahan. "Seperti membaca buku yang sangat panjang dalam sekejap. Aku mengerti mengapa kau kedinginan, karena aku tahu iklim tropis tempatmu berasal. Aku mengerti kata-kata aneh yang kadang kau ucapkan, karena aku memahami bahasamu sepenuhnya."

Api unggun terus berkobar, menghangatkan tubuhku yang kaku. Perlahan-lahan, gigilku mulai mereda.

"Jadi itulah sebabnya kau bisa berbahasaku dengan lancar," gumamku. "Bukan sekadar terjemahan, tapi benar-benar memahami."

"Ya," katanya. "Dan karena koneksi itu, aku bisa merasakan ketidaknyamananmu tadi. Seperti... gema dari perasaanmu."

Duduk di sini, di tengah hutan asing yang gelap, dengan seorang putri mayat hidup yang ternyata menyimpan semua ingatanku, aku merasa semakin kecil. Dunia ini bukan hanya asing secara fisik, tapi juga secara spiritual.

"Kalau begitu," kataku sambil menarik napas, "kau pasti tahu betapa tidak siapnya aku untuk semua ini."

Eveline mengangguk, untuk pertama kalinya ada semacam emosi dalam tatapannya—bukan simpati, tapi semacam pengertian. "Ya. Tapi kau sudah di sini. Dan kita terikat."

Dia benar. Apapun yang terjadi, kami sekarang terhubung—bukan hanya oleh ikatan sihir, tapi oleh pengetahuan yang dia miliki tentang diriku. Dan entah mengapa, meski menakutkan, hal itu justru memberiku sedikit ketenangan.

"Yok lanjut lagi perjalanannya," ujarku sambil berdiri, tubuhku sudah terasa lebih hangat berapi unggun dan penjelasan Eveline. Meski kakiku masih pegal dan udara masih menusuk tulang, berhenti terlalu lama justru terasa lebih berbahaya.

Eveline memandangiku dengan tatapan analitis. "Apakah kau yakin? Tubuhmu masih lemah."

Aku menghela napas, mengamati tanganku yang masih sedikit bergetar. "Tidak ada pilihan lain. Berhenti di sini berarti mati kedinginan atau dimangsa binatang buas. Paling tidak dengan terus bergerak, tubuhku tetap hangat."

Dia mengangguk perlahan, lalu memadamkan api unggun dengan gerakan tangan yang sederhana. Asap tipis mengepul sebelum akhirnya menghilang dalam kegelapan. Kami kembali berjalan di jalan setapak yang semakin menyempit, diterangi hanya oleh cahaya bulan yang kadang tertutup awan.

Sepanjang perjalanan, aku diam-diam mengamati Eveline yang berjalan di sampingku dengan langkah pasti. Di balik wajahnya yang pucat dan tatapan matanya yang kadang kosong, tersimpan ingatanku seluruhnya. Rasanya aneh - ada makhluk yang tahu semua rahasiaku, semua malu dan kegagalanku, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Keinginan untuk bertanya sudah menggelitik sejak tadi, tapi rasa takut menghentikanku. Takut mengungkap luka lama, takut mengetahui sesuatu yang sebaiknya tidak kuketahui. Tapi akhirnya, rasa penasaran mengalahkan segalanya.

"Eveline," mulailku, suara agak bergetar. "Boleh aku tanya sesuatu yang pribadi?"

Dia menengok, mata birunya yang pucat bersinar lemah dalam gelap. "Tanyakan saja."

"Apakah... apakah kau pernah mencintai seseorang? Sebelum... semuanya terjadi?"

Ada keheningan sebentar, hanya diisi suara daun-daun kering yang terinjak. Lalu, dengan suara yang tetap datar namun seolah ada gema kesedihan di dalamnya, dia menjawab.

"Ya. Aku pernah."

Aku terkejut. Jawabannya begitu langsung, tanpa keraguan.

"Dia adalah putra dari Adipati tetangga," lanjut Eveline, matanya menerawang ke kejauhan seolah melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat. "Kami bertunangan secara politik, tapi... perasaannya tulus. Dia baik, dan kami saling mencintai."

"Lalu... apa yang terjadi?"

"Saat penyakitku diketahui, keluarganya segera membatalkan pertunangan itu. Tapi dia... diam-diam masih mengirimiku surat." Suara Eveline untuk pertama kalinya terdengar bergetar, meski sangat halus. "Dia berjanji akan menungguku sembuh. Bahkan setelah aku diisolasi di rumah kayu itu, seorang pelayan setia masih menyelundupkan surat-suratnya."

Aku bisa merasakan sakit di dadaku. "Dan kemudian?"

"Kemudian surat-suratnya berhenti datang. Aku tahu... dia pasti dipaksa menikah dengan orang lain. Atau mungkin... dia akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa aku tidak akan pernah sembuh." Dia memutar pergelangan tangan kirinya yang kurus. "Aku menyimpan surat terakhirnya selama berbulan-bulan, sampai aku terlalu lemah untuk membacanya lagi."

"Maaf," bisikku. "Aku tidak seharusnya membuka luka lama."

"Tidak apa-apa," jawabnya. "Kini aku mengerti perasaanmu ketika dicampakkan oleh Yuni. Aku bisa memahami sakit yang kau rasakan."

Aku terdiam, tersentak oleh pengakuannya. Dia tidak hanya tahu tentang Yuni, tapi juga memahami tepat bagaimana perasaanku. Rasanya aneh - memiliki seseorang yang benar-benar mengerti tanpa perlu banyak penjelasan.

"Jadi kita berdua... sama-sama pernah patah hati," gumamku.

Dalam kegelapan hutan yang sunyi, dengan napas yang membentuk kabut putih di udara dingin, kami terus berjalan. Dua makhluk dari dunia yang berbeda, dipersatukan oleh kesedihan yang sama dan ikatan yang tak terduga. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku merasa tidak begitu kesepian.

Saat dalam perjalan itu tiba-tiba saja aku mendengar suara kresek-kresek yang  memecah kesunyian malam dari balik semak-semak di samping kami. Aku langsung menegakkan badan, jantung berdebar kencang. "Apa itu?" bisikku, mencoba menatap kegelapan yang tampak semakin mengancam.

Eveline langsung bergerak mendekatiku, posisinya berubah dalam sekejap. Tubuhnya yang biasanya terlihat anggun kini tegang seperti kucing yang siap menerkam. Matanya yang biru pucat menyapu sekeliling, seolah bisa menembus kegelapan.

"Kita dikepung," bisiknya dengan suara datar namun penuh peringatan. "Lima laki-laki. Dari bau mereka... pencuri dan pemerkosa yang berkeliaran di hutan ini."

Darahku langsung berhenti mengalir. Lima? Pemerkosa? Otakku langsung bekerja cepat, menganalisis situasi dengan kalkulasi orang kota yang terbiasa dengan bahaya—tapi bukan bahaya seperti ini.

"Lari!" teriakku, mengambil keputusan secepat kilat. "Cepat!"

Aku berbalik dan melesat menyusuri jalan setapak, kaki-kaki yang tadinya lelah kini digerakkan oleh adrenalin murni. Tapi yang membuatku terkejut adalah, Eveline justru berlari lebih cepat. Jauh lebih cepat. Dia seperti angin yang menyusur tanah, meninggalkanku dalam beberapa detik saja.

"Tunggu!" teriakku, tapi suaraku tertahan saat kakiku tersandung akar pohon. Aku jatuh berat, dan sebelum sempat bangun, tangan-tangan kasar sudah menangkapku dari belakang.

"Hei, lihat apa yang kita dapatkan!" sorak seorang laki-laki berbau busuk, menahan lenganku dengan kuat.

Dua lainnya muncul dari balik semak, mata mereka berkilat liar dalam kegelapan. "Yang perempuan itu lari terlalu cepat. Tapi yang ini... cukup untuk kita habiskan malam ini."

Aku berjuang, tapi mereka terlalu kuat. Lima lawan satu. Napas mereka yang bau alkohol menusuk hidungku. Dalam kepanikan, aku berteriak, "Eveline!"

Dan itu seperti memicu sesuatu.

Dari kegelapan, sesuatu bergerak lebih cepat daripada yang bisa kulihat. Ada suara retakan keras, diikuti jeritan pendek. Laki-laki yang menahanku tiba-tiba lemas, kepalanya terputar ke sudut yang tidak wajar.

Eveline berdiri di sana, wajahnya masih tanpa ekspresi, tapi matanya kini bersinar dengan cahaya biru pucat yang mengerikan. Darah menetes dari tangannya yang sekarang terlihat seperti cakar.

"Setan!" teriak salah satu bandit lainnya, mengeluarkan pisau.

Tapi dia bahkan tidak sempat melangkah. Eveline bergerak seperti bayangan, tangannya menembus dada bandit itu dan keluar dari punggungnya, memegang sesuatu yang masih berdenyut. Bandit itu terbatuk darah sebelum roboh.

Aku terduduk lemas, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dua bandit tersisa berusaha melarikan diri, tapi Eveline sudah berada di depan mereka. Tangannya yang berlumuran darah bergerak cepat—satu decapan, dan kepala bandit pertama terlepas dari tubuhnya. Bandit terakhir berteriak minta ampun, tapi Eveline hanya menatapnya dengan tatapan kosong sebelum meremukkan tengkoraknya dengan satu pukulan.

Dalam waktu kurang dari satu menit, lima bandit itu sudah berbaring tak bernyawa di sekitar kami, dengan cara-cara yang begitu mengerikan hingga aku hampir muntah.

Eveline berbalik menujuiku, tubuhnya masih dalam posisi siaga, darah menetes dari jari-jarinya. Matanya yang biru bercahaya masih menatapku.

"Kau... tidak apa-apa?" tanyanya, suaranya masih sama datarnya, seolah dia baru saja memetik bunga, bukan merenggut nyawa.

Aku hanya bisa mengangguk, gemetar tak terkendali, tidak bisa mengalihkan pandangan dari pembantaian di sekelilingku. Aku baru menyadari—benar-benar menyadari—bahwa wanita yang selama ini berjalan di sampingku bukan hanya sekadar mayat hidup, tapi mesin pembunuh yang sempurna.

Aku terduduk lemas di antara mayat-mayat yang tersebar dengan cara yang begitu mengerikan. Bau darah segar menusuk hidungku, membuat perutku mual. Aku tak bisa melepas pandangan dari tubuh seorang bandit yang kepalanya hampir terlepas dari badannya.

"Eveline..." ucapku, suara bergetar. "Kenapa... harus sesadis ini?"

Eveline mendekat, matanya yang biru bercahaya mulai meredup. Darah di tangannya mulai menghilang, diserap oleh kulit pucatnya seolah tak pernah ada.

"Itu refleks alami dari kekuatan tanpa jiwa," jawabnya dengan suara datar, seperti seorang profesor yang menjelaskan teori fisika. "Bayangkan sebilah pedang tajam yang diayunkan oleh angin—ia tidak memiliki niat, tidak memiliki emosi, hanya memotong apa saja yang menghalanginya sesuai dengan sifat dasarnya yang tajam. Aku seperti itu."

Dia menatap tangannya sendiri. "Tanpa jiwa yang mengendalikan, kekuatan ini bergerak dengan efisiensi tertinggi. Membunuh dengan cara paling efektif, tanpa pertimbangan moral atau belas kasihan. Seperti air yang mengalir mencari jalan termudah."

Aku menarik napas dalam, mencoba memahami. Jadi seperti robot yang diprogram untuk menghancurkan—tanpa filter kemanusiaan, tanpa pertimbangan etika. Murni efisiensi mematikan.

"Aku paham," gumamku perlahan. "Jadi tanpa jiwa, kekuatan itu berubah menjadi... monster."

"Tepat," dia mengangguk. "Kekuatan tanpa pengekang."

Aku berdiri, masih sedikit gemetar. "Dengarkan, Eveline. Mulai sekarang, jika ada situasi seperti ini lagi... tolong jangan terlalu sadis. Cukup lumpuhkan saja. Buat mereka tidak bisa melawan, tapi... biarkan mereka hidup."

Eveline memandangiku dengan tatapan kosong yang biasa, lalu sedikit menunduk. "Aku minta maaf telah menakutimu. Aku akan berusaha... mengendalikan refleks itu. Tidak akan mengulanginya."

"Aku... aku mengakui," ucapku jujur, "aku sedikit—tidak, sangat—terkejut dan takut dengan apa yang baru saja kaulakukan."

"Aku mengerti," katanya. "Tapi ingat, selama kau yang memerintahkan, aku akan mencoba mengikuti caramu. Meski... mungkin tidak akan seefektif tadi."

Dia mengulurkan tangannya yang kini bersih, membantu ku berdiri. Tangannya terasa dingin, tapi tidak semenakutkan beberapa menit yang lalu. Justru sekarang aku merasa... agak aman. Meski menakutkan, setidaknya kekuatan itu ada di pihakku.

"Mari kita lanjutkan perjalanan," ujarku, berusaha tidak melihat ke arah pembantaian di belakang. "Dan... terima kasih telah menyelamatkanku."

Eveline mengangguk, dan kami kembali berjalan—aku dengan langkah sedikit goyah, dia dengan langkah pasti seperti biasa. Tapi sekarang aku menyadari sesuatu: di dunia yang asing dan berbahaya ini, memiliki 'pedang tajam' di sampingku mungkin bukan hal yang buruk. Asalkan aku bisa mengendalikan arah tebasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!