seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Mukjizat di Ujung Badai
Lorong VVIP rumah sakit malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bau antiseptik yang tajam seolah menusuk hingga ke relung paru-paru, mengiringi langkah terburu-buru Dave, Shafira, dan Ibu Maryam. Suara pantofel Dave yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis, kontras dengan langkah Shafira yang nyaris tak terdengar namun sarat dengan kecemasan.
Di depan ruang isolasi, Rio sudah menunggu dengan wajah kuyu. Ia segera berdiri saat melihat bosnya datang. "Dokter sedang di dalam, Pak. Detak jantung Pak Rahman sempat melemah drastis sepuluh menit yang lalu."
Shafira luruh di kursi tunggu. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ibu Maryam segera memeluk putrinya, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehabisan. Dave berdiri mematung di depan kaca besar yang memperlihatkan sosok Pak Rahman yang terbaring kaku dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
Pria tua itu tampak begitu rapuh. Dave teringat bagaimana Pak Rahman selalu menyapanya dengan senyum tulus setiap pagi di taman, sebuah ketulusan yang selama ini Dave anggap remeh. Kini, Dave menyadari bahwa nyawa pria ini adalah satu-satunya jembatan sisa yang menghubungkannya dengan kemanusiaan yang baru saja ia temukan.
"Pak Dave," suara Shafira memecah keheningan. Ia mendongak, matanya merah namun tetap memancarkan ketegasan yang sama. "Bapak sudah melakukan banyak hal. Konferensi pers tadi, perlindungan ini... itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, biarkan saya dan keluarga yang menghadapi sisanya."
Dave berbalik, menatap Shafira dengan intens. "Shafira, aku tidak akan pergi. Ayahmu adalah tanggung jawabku. Bukan karena aku CEO-nya, tapi karena aku berutang nyawa padanya atas kejujuran yang ia wariskan padamu."
Tak lama kemudian, dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca. "Keluarga Pak Rahman?"
Ibu Maryam dan Shafira segera mendekat. "Bagaimana suami saya, Dok?"
"Kondisinya kritis karena adanya komplikasi pada paru-paru akibat benturan keras saat kecelakaan. Kami perlu melakukan tindakan drainase cairan segera. Namun, tubuhnya sangat lemah. Ada risiko besar di atas meja operasi," jelas dokter tersebut.
Shafira terdiam. Ia menatap ibunya, lalu menatap Dave. Di saat-saat seperti ini, keputusan terasa seperti beban seberat gunung. Dave melangkah maju, tangannya merogoh saku, namun ia berhenti. Ia menyadari kali ini ia tidak bisa menggunakan "variabel keadilan" atau "kalkulasi keuntungan". Hidup bukan tentang angka.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Gunakan semua fasilitas yang ada. Saya yang bertanggung jawab penuh," ujar Dave tegas.
Sembari menunggu operasi dimulai, Shafira mengajak ibunya ke mushaf rumah sakit untuk menenangkan diri. Dave duduk sendirian di lorong yang kini sepi. Pikirannya melayang pada ibunya, Bu Sarah. Ia tahu ibunya tidak akan menyerah begitu saja.
Benar saja, sebuah panggilan masuk ke ponsel Dave. Itu adalah nomor rumah utama.
"Dave," suara Bu Sarah terdengar aneh. Tidak ada lagi nada melengking penuh kemarahan, hanya ada kedinginan yang hampa. "Kau baru saja menghancurkan apa yang kubangun selama tiga puluh tahun. Kau pikir dengan memuja gadis itu kau akan bahagia? Kau hanya sedang menggali kuburanmu sendiri."
"Ma, berhentilah," jawab Dave lelah. "Aku tidak memuja siapa pun. Aku hanya sedang mencoba tidak menjadi monster seperti yang Mama inginkan."
"Monster?" Bu Sarah tertawa sinis. "Dunia ini hanya milik para monster, Dave. Lihatlah dirimu sekarang, duduk di rumah sakit kumuh untuk menunggu tukang kebun mati. Kau menyedihkan. Jangan harap aku akan melepaskan hak suaraku di dewan komisaris tanpa perlawanan. Aku akan menuntut balik atas pencemaran nama baik."
Dave mematikan teleponnya. Ia tidak ingin lagi mendengar racun itu. Ia merasa seolah-olah seluruh kekayaannya adalah kutukan yang menjauhkannya dari kedamaian yang dimiliki Shafira.
Dua jam berlalu. Shafira kembali dari mushaf, wajahnya tampak lebih tenang setelah bersujud panjang. Ia melihat Dave yang masih setia menunggu. Shafira duduk di sampingnya, menjaga jarak satu jengkal yang selalu ia patuhi.
"Kenapa Bapak masih di sini? Bapak punya rapat besar besok pagi untuk menyelamatkan posisi Bapak di perusahaan," ujar Shafira pelan.
Dave menoleh sedikit. "Perusahaan itu hanya sekumpulan gedung dan kertas, Shafira. Di sini... di sini ada sesuatu yang lebih nyata. Aku belajar sesuatu darimu tadi saat di lobi apartemen. Tentang amanah."
Dave terdiam sejenak, menatap ujung sepatunya. "Jika aku kehilangan jabatan CEO besok pagi, apakah kau masih akan menganggapku sebagai orang yang sama?"
Shafira tersenyum kecil, sebuah senyum yang membuat hati Dave bergetar lebih hebat daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah. "Pak Dave, harta itu hanya pinjaman. Jabatan itu hanya pakaian. Yang saya lihat sekarang bukan CEO Mahesa Group, tapi seorang pria yang sedang belajar cara memanusiakan manusia. Dan bagi saya, itu jauh lebih berharga daripada semua aset Bapak."
Tiba-tiba, lampu ruang operasi padam. Dokter keluar dengan sisa-sisa keringat di dahi. Wajahnya kali ini tampak lebih lega.
"Operasinya berhasil. Cairan sudah dikeluarkan, dan detak jantungnya stabil. Beliau adalah pejuang yang kuat," ujar dokter tersebut.
Ibu Maryam menangis syukur, memeluk Shafira erat. Dave menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Ia melihat ke arah Shafira yang kini menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.
Namun, di ujung lorong, Rio datang dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tampak pucat. "Pak Dave... ada masalah di kantor pusat. Bu Sarah mengumpulkan para pemegang saham malam ini juga. Mereka melakukan pemungutan suara darurat untuk memecat Bapak secara tidak hormat dengan alasan ketidakstabilan mental dan skandal publik."
Dave berdiri tegak. Ia merapikan jasnya yang sudah kusut. Perang di rumah sakit mungkin berakhir dengan kemenangan, namun perang di menara gading baru saja dimulai.
"Rio, siapkan mobil," ujar Dave dingin. "Shafira, tetaplah di sini bersama keluargamu. Aku harus menyelesaikan urusan yang belum tuntas."
Shafira berdiri, menatap Dave dengan penuh kekhawatiran. "Pak Dave... berhati-hatilah. Emas tetaplah emas meski berada di dalam lumpur. Jangan biarkan mereka mengubah Bapak kembali menjadi orang yang dulu."
Dave mengangguk perlahan. "Aku tidak akan berubah, Shafira. Karena sekarang, aku tahu apa yang sebenarnya layak untuk diperjuangkan."
Dave melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, menuju badai yang sudah menunggunya di Mahesa Group. Ia tidak tahu bahwa Bu Sarah telah menyiapkan satu rahasia terakhir tentang Pak Rahman yang bisa menghancurkan hubungan Dave dan Shafira selamanya—sebuah rahasia dari masa lalu yang terkubur dalam-dalam di taman belakang rumah Mahesa.
.